LOGINGara-gara anting nyangkut, Hayu dan Aksa terpaksa menikah karena dianggap berbuat asusila. Padahal usia mereka terpaut jauh. Hayu yang lebih tua, tak mungkin memilih Aksa menjadi pendamping hidup karena bocah itu labil dan masih kuliah. Namun, jalan takdir jodohnya tenyata berbeda. Bagaimanakah kisah mereka?
View More"Lin, bukannya itu Tara, ya, suami kamu. Tapi kok jalan dengan wanita," ucap Monica seraya menunjuk ke belakang.
Seketika aku menoleh ke belakang, mencari sosok Mas Tara.Aku masih menoleh ke kanan dan kiri karena situasi foot court ramai. Maklum saja ini hari sabtu, banyak pasangan kekasih atau anak muda yang menghabiskan waktu di akhir pekan.Mataku melotot kala melihat sepasang manusia berbeda jenis kelamin bergandengan mesra dengan posisi membelakangiku. Ya, dia Mas Tara, suamiku. Tapi siapa wanita muda yang dirangkul mesra.Kenapa wanita muda? Karena dia masih mengenakan seragam sekolah. Khas anak SMA.Dadaku bergemuruh, mataku mengembun, perlahan bulir demi bulir jatuh membasahi pipi."Suami kamu selingkuh, Lin?"Aku diam, ingin mengatakan bukan. Namun fakta berkata lain. Tidak mungkin berpelukan mesra jika buka sepasang kekasih. Tapi kenapa anak SMA?"Hapus air mata kamu, Lin! Jangan cengeng! Kita ikuti mereka!" Monica menarik tanganku hingga aku nyaris jatuh berciuman dengan lantai. Untung saja kakiku bisa menopang dengan cepat."Ayo!" Monica kembali menarik tanganku.Aku dan Monica sedikit berlari mengejar Mas Tara. Namun entah ke mana perginya lelaki itu. Mereka seakan hilang di telan bumi. Bahkan bayangnya saja tidak nampak. Kami kehilangan jejak.Kakiku lemas, bumi yang kupijak seolah bergoyang. Aku luruh di lantai mall, air mataku jatuh tanpa bisa kubendung lagi.Pengkhianatan adalah hal yang paling aku takutkan dalam sebuah hubungan, terlebih pernikahan. Rasanya masih tak percaya jika suamiku memiliki kekasih lain. Namun mata ini tak bisa menampik kenyataan yang ada."Jangan cengeng, Lin! Ayo, bangun!" Monica menarik tubuhku. Terseok-seok aku mengikuti langkahnya.Tatapan penasaran bahkan mengejek tergambar di sorot mata orang-orang yang kami lewati. Ada pula yang berbisik-bisik, mereka seolah mentertawakan aku. Ah, aku tak perduli, saat ini hanya Mas Tara yang memenuhi isi kepalaku.Apa dia benar-benar tega mengkhianati ikatan suci ini?Monica membuka pintu mobil sedikit kasar. Dengan kedipan mata ia memintaku duduk di samping kursi pengemudi. Perlahan aku menjatuhkan bobot, kulirik Monica yang tengah menatapku tajam. Tak lama sahabatku itu membuang napas kasar."Masih mau nangis?" tanyanya dengan nada suara sedikit pelan. Tidak segalak saat menarik tanganku tadi."Mas Tara... Mas Tara selingkuh, Mon."Cairan bening berlomba-lomba terjun bebas hingga mendarat di pipi, bahkan di hijab yang kukenakan. Aku tak bisa membohongi perasaan jika hati ini terluka, sangat terluka."Menangislah sepuas kamu, tapi cukup hari ini. Setelah ini kamu harus menyelidiki suami kamu. Kalau perlu bayar mata-mata untuk mengikuti Tama."Aku tidak mampu menjawab, hanya air mata yang terus jatuh membasahi pipi. Bahkan perkataan Monica tak mampu kucerna. Kepalaku buntu, aku tidak mampu memikirkan apa pun selain pengkhianatan suamiku."Sudah cukup, ayo kita pulang!"Monica menyalakan mesin, perlahan kendaraan roda empat miliknya berjalan meninggalkan mall. Lalu lalang kendaraan silih berganti menyalip mobil ini."Kamu baik-baik saja, Lin?" Monica milirikku lalu kembali fokus menatap depan."Kamu mau jawaban jujur atau bohong, Mon?""Tidak usah kamu jawab, Lin. Aku sudah tahu apa yang kamu rasakan."Hening, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami. Aku terlalu sibuk menata hati yang terlanjur hancur berantakan.Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya kami berhenti tepat di halaman rumahku."Aku langsung pulang, ya, Lin. Masih ada urusan." Aku mengangguk lalu melangkah gontai menuju rumah.Rumah masih kosong saat aku tiba. Ya, jelas Mas Tara belum sampai, dia pasti tengah asyik memadu kasih dengan daun muda itu. Sakit, jika apa yang kulihat adalah kenyataan. Apa aku sanggup menerima kenyataan ini?Aku merebahkan tubuh di atas ranjang, kutenggelamkan wajah di atas bantal. Satu demi satu cairan bening nan hangat kembali jatuh. Aku terisak, menangisi nasib percintaan ini. Rasa lelah membuat rasa kantuk itu datang. Perlahan aku menutup mata hingga akhirnya terlelap ke alam mimpi."Sayang...."Sebuah tangan menyentuh pipi lalu berjalan ke leher."Sayang, kamu kenapa tidur tengkurap seperti ini?"Perlahan aku membuka mata, seketika cahaya tertangkap oleh retina. Namun saat kubuka terasa mengganjal. Kenapa ini?Dengan lembut Mas Tara membalikkan badan ini. Ia tautkan dua alis kala menatapku."Kamu nangis, Sayang? Kenapa?" Dia membantuku bersandar. Dengan lembut ia selipkan rambut di balik telinga. Kemudian menatapku lekat.Dadaku bergemuruh, rasa marah dan kecewa kembali hadir. Satu persatu air mata jatuh. Aku tak sanggup menyembunyikan perasaan ini. Masihkan ia bertanya jika dia sendiri yang menancapkan duri di hati?Memang benar perkataan orang jika kelembutan tak bisa menjamin ia akan tetap setia. Keharmonisan tak menjamin ia tidak bermuka dua. Kini perkataan itu terbukti, suamiku memiliki tambatan hati lain."Lho, kok nangis lagi. Kenapa Alin sayang?""Tadi kamu ke mana, Mas?" tanyaku dengan suara bergetar."Ke mana? Kamu itu lucu. Aku tadi meeting di luar dengan Pak Leo. Kamu lupa?""Pak Leo dengan seragam sekolah maksudmu?" ucapku tapi hanya di dalam hati. Entah kenapa mulut ini menjadi kelu. Haruskah aku berkata melihat dia bersama gundik kecilnya?Aula kampus penuh sesak dengan para wisudawan dan wisudawati berserta keluarga yang duduk rapi menunggu acara wisuda dimulai. Hari ini lengkap kebahagiaan mereka karena akhirnya Aksa resmi menyandar gelar seorang arsitek dengan nilai yang memuaskan walaupun bukan yang terbaik. Dengan penuh perjuangan dia menyelesaikan skripsi yang tertunda hampir setahun lamanya. Lagi-lagi suasana haru menyelimuti hati Hayu saat sang suami dipanggil maju ke depan dan menerima piagam pernghargaan dari kampus. Lelaki itu melambaikan tangan kepada keluarga setelah selesai di wisuda. Dia kembali duduk dan memeluk sang istri dengan haru. Juga mama dan papanya. Anak-anak tidak diizinkan masuk dan menunggu di luar ruangan bersama baby sitternya. Danu dan Sarah juga sama, berada di depan karena keluarga yang boleh masuk dibatasi dari pihak kampus. Sehingga mereka berdua mengalah dan membantu menjagak cucu-cucu. Danu sudah pensiun dari jabatannya beberapa bulan terakhi sehingga waktunya lebih banyak santai u
The Clariston, Nusa Dua Bali. Aksa memasuki ballroom hotel itu dengan langkah pasti. Di sampingnya ada Hayu yang menggandengan lengan lelaki itu dengan mesra.Dia belakangnya ada Ada Setya dan Rani yang menggandeng Ammar. Ada juga Danu dan Rani yang menggendong Adinda. Lengkap semua yang datang menghadiri opening hotel berbintang 5 dimana setahun yang lalu, Aksa mendapatkan tender untuk men-designya.Wajah-wajah berseri terlihat dimana-mana. Semua orang menikmati hidangan yabg disajikan. Para tamu benar-benar dijamu, bahkan beberapa orang mendapatkan fasilitas menginap gratis. Aksa termasuk salah satunya."Hai, Aksa. Apa kabar?" Salah satu rekannya sesama arsitek menyapa. Lalu mereka berjalan menuju yang lain. Lengkap 5 orang saling berkumpul dan bercerita. "Ini Hayu, ya?" tanya salah seorang di antara mereka. "Iya, saya istri Aksa.""Cantik banget. Pantas aja Aksa galau terus waktu pisah. Malamnya gak ada yang ngelonin."Gelak tawa menggema di ruangan itu. Hayu hanya bisa tersipu
Aksa dan Hayu melangkah masuk ke dalam gedung itu dengan bergandenga tangan. Dua minggu setelah kedatangan Vita dan Bayu, hari ini mereka berada disini untuk menyaksikan momen sakral itu.Vita meminta Hayu untuk mendampingi saat akad nikah berlangsung karena sahabatnya itu tidak bisa menjadi pengiring pengantin. "Di sebelah mana?" tanya Aksa kepada salah satu kerabat mempelai yang berdiri menyambut tamu di depan. "Lurus, belok ke kanan, Pak."Aksa mengucapkan terima kasih dan akhirnya menemukan sebuah pintu di ujung. Begitu terbuka, tampaklah ratusan orang memenuhinya. Untunglah acara belum dimulai dan masih bersiap-siap.Kemarin, mereka memboyong anak-anak untu dititipkan ke rumah Mama Sarah dan menginap disana. Sehingga hari ini, biaa tepat waktu datang menghadiri pesta pernikahan."Silakan duduk. Mbak Hayu, ya?" tanya salah seorang kepada mereka."Benar.""Saya adiknya Kak Vita. Pesannya kalau Mbak Hayu datang, kursi di sebelah depan sudah disiapkan.""Terima kasih, ya."Mereka d
Hujan deras membasahi pemakaman hari ini. Eyang, sosok yang menjadi panutan dalam keluarga mereka berpulang. Semua orang berduka, begitu juga Hayu dan Aksa. Setelah 40 hari masa nifas dan mengadakan syukuran aqiqah, Eyang pun mengembuskan napas yang terakhir.Dia tutup usia dan meninggalkan banyak kenangan bersama anak cucu. Saat mereka mendatanginya, eyang hanya tersenyum dan mengusap wajah Hayu. Mungkin sudah lupa, bahkan berkata juga tidak ada, seperti lupa kepada orang-orang disekitarnya."Ayo kita pulang." Aksa merengkuh tubuh istrinya dan mengajak Hayu masuk ke mobil. Hujan semakin deras, seperti ikut menangisi kepergian eyang.Ada yang datang, ada yang pergi meninggalkan dunia ini. Seperti saling berganti dan mengisi. Kelahiran dan kematian merupakan awal dan akhir kehidupan manusia. Bagiamana kita menjalani masa di antara keduanya, semoga pilihan yang terbaik yang diambil.***Butik ramai hari ini. Hayu sampai kewalahan melayani pembeli. Sementara itu Ammar dan Adinda justru m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews