تسجيل الدخولKeesokan harinya, Alina membuka matanya dengan pelan. Rasa berat masih membebani kelopak matanya, menyisakan pening ringan di area pelipis.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke kanan dan ke kiri, menyisir setiap sudut kamar tidurnya.
Semuanya tampak normal. Lemari pakaian berdiri tenang di tempatnya, meja rias tersusun rapi, dan tidak ada jejak retakan atau aura mencekam seperti yang ia rasakan kemarin malam.
Alina mengangkat kedua tangannya, lalu menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Sensasi hangat di kulitnya menyadarkan otaknya yang sempat linglung.
"Mimpi. Itu pasti cuma mimpi buruk karena aku kecapekan," gumamnya pada diri sendiri.
Ia menganggukkan kepala berkali-kali, mengaitkan alasan rasional demi menenangkan jantungnya yang mulai berdetak lekas.
Mana mungkin ada makhluk bertanduk, tembok retak yang ajaib, atau pria tampan tak kasatmata yang berkeliaran di rumahnya? Semua itu terlalu absurd untuk kenyataan.
Rangga benar, ia hanya butuh istirahat yang cukup.
Dengan helaan napas lega, Alina menyibak selimut, lalu beranjak dari ranjang. Rasa lapar mulai menggerogoti perutnya yang kosong sejak sore kemarin. Ia berniat turun ke lantai bawah untuk menyeduh teh hangat dan membuat sarapan sederhana.
Namun, ketika tangannya memutar engsel dan membuka pintu kamar, langkahnya membeku seketika.
Arkan sudah berada di sana.
Pria itu berdiri tepat di ambang pintu, bersandar santai pada kusen kayu. Wajah tampannya dihiasi senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Tanpa dosa, ia mengangkat sebelah tangan dan melambaikannya pelan.
"Selamat pagi, Alina."
Alina menahan napasnya dalam-dalam. Tenggorokannya mendadak mengering, dan udara di sekitarnya terasa lenyap.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah, menatap sosok di depannya tanpa berkedip sedikit pun.
"J-jadi... kamu beneran nyata?" bisik Alina, suaranya nyaris terputus di udara.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, menggaruk dagunya yang tegas dengan kekehan halus.
"Kan aku sudah jelaskan dengan sangat jelas semalam," jawab Arkan santai. "Aku ini nyata. Tapi kamu malah hobi sekali pingsan."
Alina meringis pelan. Tangannya terangkat, menggaruk rambutnya yang sedikit berantakan dengan raut wajah putus asa.
Kenyataan menghantamnya tanpa ampun, bahwa jin berwujud pria tampan ini benar-benar ada di rumahnya, dan kejadian mengerikan semalam bukanlah bagian dari bunga tidur.
Menolak untuk tenggelam dalam histeria yang sama seperti semalam, Alina memutuskan untuk mengacuhkan keberadaan pria itu.
Ia melangkah melewatinya begitu saja, berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong menuju area dapur di lantai bawah.
Namun, usahanya untuk bersikap cuek sama sekali tidak mempan. Arkan mengekor di belakangnya tanpa suara langkah kaki yang berarti.
Begitu Alina sampai di dapur dan membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan, ia dikejutkan oleh pemandangan di sampingnya.
Arkan kini sudah melompat dan duduk santai di atas kabinet dapur. Pria itu mengunyah sebuah apel merah yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya, sementara kedua kakinya yang panjang bergelantungan santai di udara.
"Harusnya kamu berterima kasih," kata Arkan di sela kunyahan apelnya.
Suaranya bergema ringan di ruangan dapur yang sunyi. "Aku tidak akan pernah keluar dari kamar usang di ujung lorong itu kalau kamu tidak membukanya semalam."
Alina menghentikan gerakannya di depan kulkas, mendengarkan dengan raut kaku.
"Dan mungkin," lanjut Arkan sambil mengamati apel di tangannya, "takdirmu memang sudah ditentukan malam kemarin untuk jadi takdirku."
Kata 'takdir' yang diucapkan Arkan dengan begitu mudah langsung memicu letupan emosi di dada Alina.
Rasa takut yang sejak tadi mengepungnya kini menguap, berganti menjadi amarah yang membakar.
Alina langsung menoleh tajam ke arah pria yang sedang duduk di kabinet itu.
"Jangan sembarangan bicarakan takdir!" seru Alina tegas, menunjuk Arkan dengan telunjuknya.
"Aku ini sudah punya suami! Aku mencintai suamiku! Jadi jangan sok tahu soal takdir atau pura-pura tahu jalan hidupku! Mana mungkin juga jin bisa bersatu sama manusia? Itu sama sekali tidak masuk akal!"
Mendengar semburan amarah Alina, Arkan bukannya tersinggung, ia justru menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh geli.
Ia mengambil gigitan kecil lagi dari apelnya sebelum kembali menatap Alina.
"Kamu mungkin memang mencintai Rangga," ujar Arkan dengan nada tenang yang sangat provokatif. "Tapi suamimu kan belum tentu."
Napas Alina tercekat. "Apa maksudmu?!"
"Kalau memang dia mencintaimu," Arkan menurunkan pandangannya, menatap Alina lurus-lurus dengan sorot mata yang mendadak serius.
“Kenapa dia tega mentakdirkanmu untuk jadi takdirku? Kenapa dia menyerahkanmu ke rumah ini untuk menjadi orang yang menemaniku sepanjang hidupku?"
Kalimat itu menghantam dada Alina bagai gumpalan es padat. Rasa panas dingin menjalar dari tengkuk hingga ke jemari kakinya.
Namun, Alina menolak untuk terlihat goyah di depan makhluk asing ini. Ia tidak boleh terpengaruh oleh adu domba atau teka-teki gila yang terus dilemparkan Arkan.
Alina memutar bola matanya dengan napas terengah pendek. Ia melangkah mendekati kabinet, lalu berkacak pinggang di depan Arkan.
Ditatapnya wajah tampan pria itu dengan pandangan datar dan penuh ketegasan.
"Kalau begitu, berhenti bicara pakai teka-teki!" gertak Alina, menyuarakan seluruh rasa penasaran yang menyiksanya sejak semalam.
"Jelaskan padaku sekarang juga. Apa yang sebenarnya sudah keluarga Rangga lakukan padamu? Perjanjian gila apa yang sudah mereka buat denganmu?!"
Keesokan harinya, Alina membuka matanya dengan pelan. Rasa berat masih membebani kelopak matanya, menyisakan pening ringan di area pelipis.Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke kanan dan ke kiri, menyisir setiap sudut kamar tidurnya.Semuanya tampak normal. Lemari pakaian berdiri tenang di tempatnya, meja rias tersusun rapi, dan tidak ada jejak retakan atau aura mencekam seperti yang ia rasakan kemarin malam.Alina mengangkat kedua tangannya, lalu menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Sensasi hangat di kulitnya menyadarkan otaknya yang sempat linglung."Mimpi. Itu pasti cuma mimpi buruk karena aku kecapekan," gumamnya pada diri sendiri.Ia menganggukkan kepala berkali-kali, mengaitkan alasan rasional demi menenangkan jantungnya yang mulai berdetak lekas.Mana mungkin ada makhluk bertanduk, tembok retak yang ajaib, atau pria tampan tak kasatmata yang berkeliaran di rumahnya? Semua itu terlalu absurd untuk kenyataan.Rangga benar, ia hanya butuh istirahat yang cukup.Dengan helaa
Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela
Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst
"Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru







