LOGIN"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"
Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan."
"Arkan?"
"Ya."
"Nama lengkap?"
Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?"
"Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"
Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"
Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar.
"Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!"
"Aku tidak menyusup, Alina."
"Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!"
"Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."
Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"
Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Namun bagi Alina, aura keberadaan pria itu mendadak membesar mengintimidasi. Reflex, Alina makin merapatkan tubuhnya ke lemari sampai betisnya tertahan kayu jati.
Arkan melirik pergerakan defensif Alina, lalu sengaja menghentikan langkahnya dalam jarak aman.
"Aku sudah menghuni rumah ini sebelum kamu menjadi istri Rangga," ucap Arkan pelan, namun setiap katanya menekan udara ruangan. "Bahkan sebelum kamu mengenali nama suamimu itu."
Alina menatap pria bernama Arkan itu dengan tatapan tak percaya. "Itu omong kosong. Rumah ini dibeli dan dibangun oleh keluarga suamiku."
"Benar."
"Jadi, kamu ini kerabatnya? Saudara Rangga yang disembunyikan?"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia berbalik pelan menuju meja kayu kecil di dekat jendela.
Jemari tangannya yang panjang menyentuh permuka sebuah benda porselen yang berdebu, sebuah cangkir tua bertotol bunga yang warnanya sudah pudar dimakan usia.
"Fondasi rumah ini sudah berdiri dan berakar jauh sebelum keluarga suamimu mematok tanahnya," bisik Arkan sambil menatap cangkir tersebut.
Alina menyipitkan mata, mencoba mencerna kalimat terselubung itu. "Kalau memang kamu punya hak di sini, kenapa Mas Rangga tidak pernah cerita? Kenapa kamar ini dikunci dan dilarang dibuka?"
"Mungkin suamimu punya alasan sendiri untuk bungkam."
"Alasan apa?!"
Arkan meletakkan kembali cangkir tua itu ke meja tanpa menimbulkan suara sedikit pun. "Itu bukan sesuatu yang berada dalam kapasitasmu untuk diketahui saat ini."
Alina menghembuskan napas kasar. Kekesalannya sudah berada di ubun-ubun.
Pria ini luar biasa menyebalkan, muncul secara tidak rasional, berganti wujud dari raksasa menjadi pria tampan, berbicara dengan nada superlatif, dan secara terang-terangan menolak memberikan jawaban yang masuk akal.
Rasa takut Alina perlahan tergeser oleh kesadaran pragmatis: ada sesuatu yang sangat tidak beres di rumah ini, dan itu melibatkan Rangga serta kamar terlarang ini.
Ia melirik ke arah pintu kamar yang menganga. Ia harus keluar, mengambil ponselnya di lorong, dan menelepon Rangga atau polisi.
"Baiklah," kata Alina tegas, mulai menggeser kakinya berputar menuju ambang pintu.
"Aku tidak tahu kamu ini makhluk apa atau apa urusanmu dengan tanah ini. Tapi yang jelas, sekarang aku adalah pemilik sah rumah ini bersama suamiku. Jadi, keluar sekarang!"
Arkan sama sekali tidak bergeming.
Alina sontak menghentikan langkahnya di dekat pintu, lalu menoleh ke belakang. "Kamu dengar kata-kataku tidak?"
"Dengar."
"Lalu kenapa masih berdiri di situ bagai patung?"
"Karena aku tidak akan pergi dari sini."
Alina menatapnya dengan mulut sedikit terbuka karena tak percaya atas ketegaran pria itu.
"Apa?"
"Aku bilang, aku tidak akan pergi."
"Kenapa?! Atas dasar apa kamu menolak?!"
Arkan perlahan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitamnya. Ia berdiri tegap, menatap Alina dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Karena kamu tidak memiliki otoritas ataupun hak untuk mengusirku."
Alina hampir saja tertawa getir karena merasa pernyataan itu begitu absurd. "Aku tidak punya hak? Ini rumahku! Namaku dan suami ada di sertifikat!"
"Rumahmu?" Arkan mengulang kata itu, nada suaranya seolah sedang mengeja sebuah lelucon lucu. "Kamu baru mendiami tempat ini selama delapan bulan, Alina."
"Lalu apa hubungannya delapan bulan dengan hak milik?!"
"Hubungannya adalah... aku sudah mendiami tempat ini berabad-abad sebelum delapan bulanmu yang singkat itu."
Alina tertegun. Kata berabad-abad bergema aneh di telinganya.
"Dan itu tidak memberimu hak untuk menjadi hantu penyusup di rumah orang!" tangkis Alina berusaha tidak goyah.
"Memangnya kamu tahu, siapa yang sebenarnya mengizinkanku menetap di ruangan ini?" tanyanya pelan.
Keheningan merayap cepat. Alina membeku.
Arkan menatapnya lekat-lekat. Ada kilatan misteri yang begitu dalam di manik matanya—sebuah isyarat bahwa pria itu memegang kunci rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari Alina.
"Aku tidak membutuhkan izin darimu untuk berada di sini," lanjut Arkan dingin namun tenang.
"Dan aku tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan keberadaanku padamu."
Kesabaran Alina runtuh sepenuhnya.
"Oke! Kalau begitu aku akan telepon Mas Rangga sekarang juga! Biar dia yang seret kamu keluar!"
Arkan mengangguk santai. "Silakan."
"Aku juga bakal menelepon polisi!"
"Silakan."
Alina mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, napasnya memburu. "Berhenti menjawab dengan kata 'silakan'!"
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan mereka dimulai, Arkan melepaskan tawa tulus, sebuah tawa pendek yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
Alina memandangi pria itu dengan campuran rasa jengkel, bingung, dan kekhawatiran yang makin menumpuk.
Belum pernah ia bertemu dengan sosok yang begitu tenang, begitu acuh, dan begitu percaya diri saat diancam hukum.
Dan memori tentang sosok wujud raksasa bermata merah itu kembali melintas perlahan.
Bagaimana jika wujud pria tampan di depannya ini hanyalah sebuah topeng ilusi? Bagimana jika makhluk mengerikan itu siap menerkamnya kapan saja?
Bulu kuduk Alina kembali meremang. Ia menelan ludah yang terasa kesat, memadatkan sisa-sisa keberaniannya untuk menanyakan inti dari seluruh kejadian mengerikan malam ini.
"Sebenarnya... apa maumu dariku?" tanya Alina pelan.
Tawa Arkan mereda seketika.
Wajah tampan pria itu berubah menjadi amat serius.
Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, Arkan menatap Alina tanpa berkedip sedikit pun, seolah-olah ia telah menantikan pertanyaan itu terucap dari bibir Alina sejak awal.
Alina menyusut mundur setengah langkah, merasa aura di sekitarnya mendadak memberat.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" ulang Alina, kali ini dengan nada yang hampir menyerupai bisikan bergetar.
Secercah senyuman perlahan terukir kembali di bibir Arkan. Pria itu mengulurkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh pelan.
Namun tawa kali ini tidak berisi ejekan, melainkan sebuah kepuasan mendalam yang meletup-letup.
Arkan menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali menatap Alina dengan binar mata hitamnya yang berkilat aneh.
"Akhirnya," bisik Arkan penuh penekanan.
Alina mengerutkan keningnya, merasa ketakutan dan penasaran bertabrakan di dalam dadanya.
"Akhirnya apa?"
Arkan mengambil satu langkah maju mendekati Alina. Hingga membuat wanita itu refleks tersentak mundur hingga tumitnya menempel pada bingkai pintu.
Arkan tidak mengejarnya lebih jauh, ia hanya berdiri di sana dengan senyum misterius yang kian mengembang.
"Akhirnya kamu menanyakan hal yang sejak awal memang ingin kudengar."
Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela
Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst
"Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru
“Mas, malam ini bisa video call? Aku kangen.”Dua centang biru menyapa penglihatannya. Pesan itu sudah dibaca, tetapi dibiarkan mengantung tanpa balasan.Alina melirik jam dinding kayu di ruang tengah untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.22.17 WIB.Ponsel di atas meja makan masih membisu. Tidak ada nada dering, tidak pula vibrasi singkat yang ia harapkan sejak tadi.Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lelah dan kesepian yang mengendap saban hari.Di hadapannya, dua piring makanan masih tertutup rapat oleh tudung saji.Uap hangat dari sup ayam yang ia masak penuh ketelitian sejak sore tadi sudah lama menguap, digantikan dinginnya udara malam.Padahal, ia sengaja memasak lebih banyak porsi malam ini, berharap Rangga akan menyapa lewat panggilan video dan menemaninya makan secara virtual.Namun, harapan itu kembali berakhir menjadi keheningan yang tawar.Sejak suaminya menerima penugasan di luar negeri, Ali







