LOGIN"Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?"
"Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"
Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa.
"Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.
Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?"
"Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"
Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.
Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
"Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?"
"Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan.
"Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuruh tidur!" omelnya kesal.
Ia berniat memanggil kembali nomor suaminya, tetapi niat itu menguap seketika saat sebuah suara baru merembes keluar dari balik celah pintu.
Bukan lagi langkah kaki. Melainkan suara tawa berat yang bergema pelan.
"Hehehe..."
Rasa dingin langsung menjalar dari telapak kaki hingga ke puncak kepala Alina. Suara itu jelas milik seorang pria.
Alina melangkah mundur dengan tergesa-gesa, namun tumitnya menyenggol pot keramik hias di sudut lorong.
PRANG!
Pot itu jatuh dan berkeping-keping. Tawa dari dalam kamar mendadak terhenti total.
Suasana menjadi begitu mencekam hingga suara detak jantung Alina terdengar amat keras di telinganya sendiri.
Dari balik pintu, terdengar suara gesekan kayu dan sesuatu yang sangat berat sedang diseret mendekat ke arah pintu.
Kreeeek...
Sensasi bahaya yang membakar membuat Alina berniat balik badan dan berlari sekencang-kencangnya.
Namun sebelum kakinya sempat terayun, terdengar bunyi klak yang nyaring.
Grendel pintu yang tadinya terkunci rapat, berputar sendiri dari dalam.
Pintu itu perlahan terbuka.
Sebuah embusan udara dingin yang pekat langsung meluncur keluar, menyapu wajah Alina dan seketika memadamkan lampu lorong hingga gulita.
"ASTAGA!!"
Alina menjerit histeris.
Dengan kepanikan murni, ia menyalakan senter ponselnya dan mengarahkannya ke celah pintu yang kini terbuka lebar.
Cahaya lampu ponselnya bergetar hebat mengikuti tangannya yang tremor.
Di dalam ruangan itu, kegelapan tampak begitu pekat. Lalu, sebuah langkah keluar.
Cahaya ponsel Alina menangkap sepasang kaki berukuran raksasa.
Kulitnya legam kehitaman dengan kuku-kuku panjang melengkung yang tajam. Sosok itu mengenakan jubah kain gelap yang menjuntai berat.
Alina membeku di tempat, napasnya seolah tertahan di dada.
Perlahan dan ketakutan, ia menaikkan arah cahaya senternya.
Cahaya itu melewati betis bertotol hitam, tubuh raksasa yang amat tinggi, bahu selebar pintu, dan lengan panjang berotot yang terkulai hampir menyentuh lutut.
Hingga akhirnya, cahaya itu menyorot bagian wajahnya.
Alina melebarkan mata dengan rasa horor yang tak terlukiskan.
Sosok itu memiliki sepasang mata merah menyala bagai bara api, hidung besar membesar, serta mulut lebar dengan dua taring tajam mencuat keluar dari bibir bawahnya.
Rambutnya kusut terurai, dan di kepalanya tumbuh dua tanduk besar yang melengkung mengerikan.
Tingginya hampir menyentuh plafon rumah.
Makhluk raksasa itu menundukkan kepalanya yang menakutkan, menatap lurus ke arah Alina yang berdiri gemetar hebat bagai daun tertiup angin.
Lalu, bibir bersisik itu bergerak.
"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu, Alina."
TAK.
Ponsel di tangan Alina terlepas dan jatuh ke lantai.
Namanya... sosok mengerikan itu menyebut namanya dengan sangat jelas dan fasih, padahal Alina tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di ruangan itu.
Alina ingin berteriak memanggil bantuan, tetapi tenggorokannya terasa tersumbat.
Sosok raksasa itu mengulurkan tangannya yang besar dengan kuku-kuku hitam tajam mengarah pada Alina.
"Akhirnya," bisiknya dengan suara bass yang menggetarkan lantai. "Istri yang ditunggu-tunggu telah datang."
Alina menggelengkan kepala dengan cepat, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "T-tidak... aku... aku salah rumah..."
Hanya kalimat absurd itu yang berhasil diloloskan oleh bibirnya yang kufur kata.
Makhluk tinggi besar itu memiringkan kepalanya sedikit. Kemudian, seringai lebar terukir di wajah seramnya, memperlihatkan deretan gigi-gigi runcing yang amat mengerikan.
"Rumahmu memang rumahku."
Kesadaran Alina bertabrakan dengan kenyataan.
Pandangannya mulai berputar hebat, dadanya sesak oleh pasokan udara yang kian menipis, dan lututnya mendadak kehilangan seluruh daya.
Tawa berat yang memantul di lorong menjadi latar suara terakhir yang sanggup ditangkap indranya.
Hal terakhir yang dilihatnya sebelum semuanya menggelap adalah sosok raksasa itu melangkah maju, menjangkau tubuhnya.
Alina menjerit untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya sepenuhnya.
BRUK!
Tubuh Alina ambruk, tergeletak tak berdaya di atas lantai lorong.
Makhluk raksasa itu menghentikan langkahnya tepat di depan Alina. Ia menunduk, menatap tubuh perempuan yang pingsan itu cukup lama.
Dua bara merah di matanya meredup, lalu ia mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat dan penuh rasa kekecewaan.
"Manusia zaman sekarang," gumamnya dengan nada suara yang mendadak berubah kesal.
"Belum juga diajak mengobrol baik-baik, sudah main pingsan duluan."
Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu berjongkok di samping tubuh Alina. Satu jari besarnya yang berkuku tajam terulur dan menyentuh perlahan dahi perempuan itu.
WUSH!
Dalam sekejap mata, wujud raksasa yang mengerikan itu terurai menjadi gumpalan asap hitam pekat. Asap itu berputar-putar di udara lorong selama beberapa detik sebelum akhirnya menyusut dan menghilang.
Begitu asap itu lenyap, sesosok pria berdiri anggun di tempat yang sama.
Ketampanannya luar biasa. Wajahnya bersih sempurna dengan garis rahang yang tegas, porsi tubuh yang proporsional, dan rambut hitam pekat yang tertata rapi.
Ia mengenakan kemeja satin hitam elegan dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan sedikit bagian dadanya.
Pria itu menunduk dan menatap Alina yang terbaring pingsan dengan ukiran senyum tipis yang menawan di bibirnya.
"Bangunlah, Cantik."
Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela
Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst
"Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru
“Mas, malam ini bisa video call? Aku kangen.”Dua centang biru menyapa penglihatannya. Pesan itu sudah dibaca, tetapi dibiarkan mengantung tanpa balasan.Alina melirik jam dinding kayu di ruang tengah untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.22.17 WIB.Ponsel di atas meja makan masih membisu. Tidak ada nada dering, tidak pula vibrasi singkat yang ia harapkan sejak tadi.Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lelah dan kesepian yang mengendap saban hari.Di hadapannya, dua piring makanan masih tertutup rapat oleh tudung saji.Uap hangat dari sup ayam yang ia masak penuh ketelitian sejak sore tadi sudah lama menguap, digantikan dinginnya udara malam.Padahal, ia sengaja memasak lebih banyak porsi malam ini, berharap Rangga akan menyapa lewat panggilan video dan menemaninya makan secara virtual.Namun, harapan itu kembali berakhir menjadi keheningan yang tawar.Sejak suaminya menerima penugasan di luar negeri, Ali







