Se connecterSementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya.
"Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"
Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.
Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata.
"Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"
Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya.
"Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.
Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah maju perlahan.
Alina refleks mengangkat kedua telapak tangannya ke depan. "Jangan mendekat!"
Arkan menghentikan langkahnya. "Kenapa?"
"Karena aku bilang jangan!"
Untuk beberapa detik, keheningan yang tegang membentang di antara mereka.
Alina menatap tajam ke arah Arkan, hingga pandangannya tanpa sengaja menangkap sesuatu di dinding di belakang pria itu.
Sesuatu yang membuat darah Alina seolah membeku di tempat.
Bayangan Arkan yang terpantul di dinding sama sekali tidak menyerupai bentuk manusia.
Bayangan itu membentang jauh lebih besar, berkepala bertanduk runcing, dan memiliki lengan-lengan panjang menjuntai hingga menyentuh lantai.
Sementara Arkan berdiri santai dengan kedua tangan di saku celananya, bayangan mengerikan di dinding itu secara perlahan mengangkat satu tangan raksasanya, melambaikan kuku-kuku panjangnya ke arah Alina.
Seketika, pertahanan terakhir kesadaran Alina runtuh.
"Cukup! Aku tidak mau tahu apa-apa lagi!"
Alina berbalik badan dan langsung melesat lari keluar dari kamar itu.
Langkahnya kacau balau, nyaris tersangkut di ambang pintu sebelum ia berhasil menyelamatkan diri dengan mencengkeram kusen kayu.
Ia berlari tunggang langgang menyusuri lorong remang, melewati ruang keluarga, dan mengarah lurus ke kamar tidurnya sendiri di lantai atas.
Tujuannya hanya satu: mengunci pintu, menelepon Rangga, dan meyakinkan diri bahwa segala teror ini hanyalah mimpi buruk akibat kelelahan.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Alina langsung menerjang gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di dalam kamar tidurnya... Arkan sudah berdiri di sana.
Pria itu berdiri tenang di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ekspresinya damai, seolah-olah ia sudah berdiri menanti kehadiran Alina sejak berjam-jam lalu.
Alina terpaku di tempat.
Ia menatap pria itu. Lalu menoleh cepat ke belakang, menatap lorong gelap yang baru saja ia lewati. Kemudian kembali menatap Arkan di dalam kamar.
"K-kamu..." cicit Alina terbata-bata.
Arkan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa, Alina?"
Alina menunjuk pintu kamarnya dengan tangan gemetar hebat. "Bagaimana... bagaimana bisa kamu sudah ada di sini?! Aku berlari kencang tadi! Kamu... kamu tadi masih tertawa di kamar ujung!"
Arkan melirik jam dinding sekilas. "Kamu memang berlari."
"Lalu?!"
"Aku berjalan."
Alina merasa otaknya hampir korsleting. "T-tapi, jaraknya cukup jauh! Butuh waktu untuk sampai ke sini!"
"Menurutmu begitu?" tanyanya sambil menaikan alisnya.
"INI RUMAHKU! AKU SANGAT TAHU JARAKNYA!" pekik Alina putus asa.
Sementara Arkan hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
Alina berniat melancarkan protes lagi, namun bayangan bertanduk di dinding dan tembok retak yang baru saja ia saksikan kembali berkelebat di kepalanya, memadamkan seluruh keberaniannya.
Wajahnya semakin pucat pasi.
Arkan kemudian melangkah maju satu langkah kecil.
Alina langsung menggeleng kuat-kuat, air matanya nyaris tumpah. "Jangan... kumohon, jangan mendekat!"
Arkan berhenti, mengamati paras Alina yang sudah kehilangan seluruh rona merahnya. "Alina, aku bahkan belum melakukan apa pun kepadamu."
"Justru itu masalahnya! Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan padaku!"
Arkan mengembuskan napas panjang, tampak lelah menghadapi kepanikan Alina.
Alina mundur selangkah lagi, hingga punggungnya menubruk daun pintu kamarnya sendiri.
Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Titik-titik hitam menari di penglihatannya, dan ruang di sekitarnya terasa berputar hebat.
"Tidak... kumohon, jangan… jangan bunuh aku," bisiknya lemah.
Ia berusaha mati-matian mempertahankan sisa kesadarannya. Jemarinya mencengkeram erat gagang pintu, namun lututnya sudah kehilangan seluruh daya topang.
Arkan baru saja membuka mulut untuk berbicara ketika tubuh Alina melorot jatuh ke lantai, terkulai lemas tak berdaya.
Hening.
Arkan menatap perempuan yang kembali jatuh pingsan di hadapannya itu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya pria itu mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas.
"Dasar manusia lemah," gumam Arkan pelan.
Ia lantas berjongkok di samping Alina, berniat memeriksa wajah pucat perempuan itu, lalu menghela napas pasrah.
"Baru diajak bicara sedikit saja sudah pingsan lagi. Kalau begini terus, kapan aku bisa menjelaskan isi perjanjian itu padanya?"
Keesokan harinya, Alina membuka matanya dengan pelan. Rasa berat masih membebani kelopak matanya, menyisakan pening ringan di area pelipis.Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke kanan dan ke kiri, menyisir setiap sudut kamar tidurnya.Semuanya tampak normal. Lemari pakaian berdiri tenang di tempatnya, meja rias tersusun rapi, dan tidak ada jejak retakan atau aura mencekam seperti yang ia rasakan kemarin malam.Alina mengangkat kedua tangannya, lalu menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Sensasi hangat di kulitnya menyadarkan otaknya yang sempat linglung."Mimpi. Itu pasti cuma mimpi buruk karena aku kecapekan," gumamnya pada diri sendiri.Ia menganggukkan kepala berkali-kali, mengaitkan alasan rasional demi menenangkan jantungnya yang mulai berdetak lekas.Mana mungkin ada makhluk bertanduk, tembok retak yang ajaib, atau pria tampan tak kasatmata yang berkeliaran di rumahnya? Semua itu terlalu absurd untuk kenyataan.Rangga benar, ia hanya butuh istirahat yang cukup.Dengan helaa
Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela
Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.
Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst
"Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru







