Share

Bab 3

last update publish date: 2026-10-28 17:34:24

Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.

Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.

Terlalu dekat.

Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.

Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.

Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.

Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.

Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan.

"AAAAAA!"

Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya.

"Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hysteris.

Pria itu hanya menyunggingkan sebelah alisnya.

Alih-alih kaget atau panik oleh teriakannya yang memecah malam, sudut bibir pria itu justru terangkat tipis, memamerkan senyum santai yang keterlaluan.

"Sudah bangun rupanya," ujarnya halus. Suaranya berat dan bergema tenang.

Tangan Alina bergerak cepat memeluk bantal kusam yang tergeletak di samping tempat tidur.

Ia mengacungkannya ke depan dada bagai sebuah perisai tempur paling mutakhir yang ia miliki saat ini.

"Jangan mendekat!" gertak Alina dengan napas memburu.

Pria itu melirik bantal di tangan Alina, lalu mengamati Alina kembali. "Kamu berniat memukulku dengan benda empuk itu?"

"Iya! Memangnya kenapa?! Kamu pikir aku takut?!" seru Alina, walau suaranya sedikit melengking menutupi panik.

Sepasang mata hitam itu mengintip Alina dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum akhirnya kembali terkunci pada paras Alina yang pucat.

"Kamu gemetar sekali, cantik."

Alina buru-buru melirik kedua tangannya sendiri. Benar saja. Jemarinya yang mencengkeram bantal berguncang hebat.

Namun, tak mau harga dirinya jatuh di depan penyusup ini, Alina menegakkan dagu dan memasang raut seraut mungkin.

"Aku... aku kedinginan! Bukan takut!" sungut Alina menahan gengsi.

"Suhu ruangan ini tergolong hangat, Alina."

"Diam!"

Pria itu melepaskan tawa kecil, suara tawa yang terdengar bagai gesekan kain sutra, begitu renyah namun terkesan meremehkan.

Dada Alina bergolak panas oleh amarah yang bercampur aduk dengan rasa linglung.

Ia tidak tahu siapa lelaki ini, bagaimana caranya bisa masuk ke rumah tanpa memicu alarm, atau mengapa ia bisa terbangun di dalam kamar yang selama delapan bulan ini selalu terkunci rapat.

Dan yang paling membuat logikasinya berantakan: pria di hadapannya ini terlalu tampan untuk ukuran sesosok penyusup yang baru saja membuatnya pingsan karena ketakutan.

Rambut hitamnya sedikit acak-acakan namun tetap bertekstur estetis, kulitnya bersih tanpa cela, hidungnya menjulang tajam, dan rahangnya terukir begitu maskulin.

Kemeja hitam melilit tubuh berototnya dengan dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka.

Penampilannya lebih cocok menjadi model pria papan atas di sampul majalah ketimbang orang asing misterius yang mengintai di sudut rumah orang pada pukul sepuluh malam.

Alina sempat terpaku sesaat oleh visualisasi itu.

Namun, memori beberapa menit lalu menghantam kepalanya bagai gada keras.

Kaki besar berlipat kuku tajam. Tubuh raksasa setinggi langit-langit. Mata merah menyala bagai bara. Taring mencuat. Dan suara mengerikan yang menyerukan namanya.

Seketika, seluruh daya tarik visual pria itu berubah menjadi rasa teror yang murni. Alina menunjuk pria itu dengan jemari yang makin bergetar hebat.

"T-tunggu! Kamu... kamu makhluk yang tadi, kan?!"

Pria itu memiringkan kepalanya sedikit. "Makhluk yang tadi?"

"Jangan pura-pura amnesia!" seru Alina, nada suaranya makin tinggi seiring meningkatnya keberanian yang dipaksakan.

"Kamu yang keluar dari kamar ini! Badanmu raksasa, matamu merah, gigimu taring semua, terus kepalamu punya tanduk mengerikan! Aku lihat semuanya! Jangan pikir kamu bisa menipuku cuma karena sekarang kamu ganti baju dan pakai wajah tampan ini!"

Pria itu terdiam sejenak. Sorot matanya mengerab, menatap Alina tanpa ekspresi.

Alina menghembuskan napas lega sekilas, mengira pria itu akhirnya akan bungkam dan mengakui perbuatan sihirnya.

Namun, yang terjadi berikutnya justru di luar dugaannya.

Pria itu mendongak, lalu meledakkan tawa lepas. Bukan lagi kekehan pelan, melainkan tawa kaya yang membuat bahunya yang tegap berguncang hebat.

Alina melongo, rasa terhina menumpuk di dadanya. "Apa yang lucu?!"

"Kamu," sahut pria itu di sela tawanya.

"Kurang ajar!"

"Maaf, maaf."

Pria itu mengangkat satu tangannya, mencoba meredakan tawanya walau lengkungan di bibirnya masih tercetak jelas.

"Aku hanya tidak menyangka kamu sanggup mengingat detail sejelas itu setelah tergeletak pingsan di lantai."

Darah serasa merambat naik menumpuk di wajah Alina. Rasa malu dan marah membuat keberaniannya mendadak berlipat ganda. Ia meraih bantal kedua di dekatnya.

"Aku pukul beneran kamu, ya!"

"Silakan."

Jawaban yang terlontar begitu mudah itu justru membuat genggaman Alina pada bantal melonggar.

Pria di hadapannya sama sekali tidak mengindikasikan bahaya atau ketakutan.

Ia justru menggeser posisinya, duduk santai di lantai kayu dengan menyilangkan kaki, seolah-olah ruangan ini adalah ruang tamunya sendiri.

Alina menarik napas panjang, mengacuhkan bantal itu dan memaksakan kakinya untuk berdiri.

Walau lututnya masih terasa agak lemas, ia menolak untuk terus terlihat lemah di posisi bawah. Ia menyandarkan bahunya di lemari guna menopang keseimbangan.

"Sekarang jawab pertanyaanku dengan benar," tegas Alina, berusaha mengontrol Getaran suaranya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 6

    Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 5

    Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 4

    "Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 3

    Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 2

    "Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 1

    “Mas, malam ini bisa video call? Aku kangen.”Dua centang biru menyapa penglihatannya. Pesan itu sudah dibaca, tetapi dibiarkan mengantung tanpa balasan.Alina melirik jam dinding kayu di ruang tengah untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.22.17 WIB.Ponsel di atas meja makan masih membisu. Tidak ada nada dering, tidak pula vibrasi singkat yang ia harapkan sejak tadi.Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lelah dan kesepian yang mengendap saban hari.Di hadapannya, dua piring makanan masih tertutup rapat oleh tudung saji.Uap hangat dari sup ayam yang ia masak penuh ketelitian sejak sore tadi sudah lama menguap, digantikan dinginnya udara malam.Padahal, ia sengaja memasak lebih banyak porsi malam ini, berharap Rangga akan menyapa lewat panggilan video dan menemaninya makan secara virtual.Namun, harapan itu kembali berakhir menjadi keheningan yang tawar.Sejak suaminya menerima penugasan di luar negeri, Ali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status