Share

Bab 5

last update publish date: 2026-10-28 17:43:13

Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.

Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.

Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah.

"Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.

Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."

Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?"

"Kamu."

Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Aku?"

Arkan mengangguk kecil, tanpa beban.

"Jangan bercanda! Aku bahkan tidak mengenalmu!"

"Tapi, aku tahu."

"Terus kalau kamu tahu, kenapa kamu menungguku?!" tanya Alina sengit.

"Karena penghuni rumah ini di masa lalu sudah memberikan janji padauk, bahwa suatu hari nanti, seseorang akan dikirim ke sini untuk menemaniku."

Alina mengerjap cepat berkali-kali. Otaknya mendadak terasa lambat merespons.

Menemaninya?

Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar, lalu kembali menatap manik mata hitam Arkan.

Ada sensasi tidak nyaman yang mendadak melilit dinding perutnya, menciptakan rasa mual yang asing.

"Maksudmu... keluarga suamiku yang menjanjikan seseorang kepadamu?" cecar Alina.

"Tepat sekali."

"Dan orang yang dijanjikan itu..." Alina menelan ludah dengan susah payah. "...siapa?"

Arkan tersenyum tipis, sorot matanya menatap Alina lurus-lurus. "Kamu."

Seketika, sekujur tubuh Alina terasa bagai disiram air es di tengah malam yang pekat.

"Apa?!"

"Kamu yang akan menemaniku di sini,” ulang sang jin tersebut.

"Tidak!" tolak Alina sambil geleng-geleng dengan cepat.

Sanggahan itu meluncur begitu cepat, nyaris seperti jeritan protes dari insting bertahan hidupnya. Arkan mengangkat sebelah alisnya. "Tidak?"

"Tentu saja tidak! Kamu pikir aku ini apa, hah? Aku manusia, tahu! Aku punya suami!"

Arkan memiringkan kepalanya, mengamati reaksi Alina dengan tenang. "Aku tidak pernah mengatakan kamu bukan manusia."

"Tapi caramu bicara itu memperlakukanku seperti barang kiriman!"

Kali ini, Arkan memperhatikan perubahan gestur Alina dengan saksama.

Perempuan itu telah mundur tiga langkah ke belakang, sementara kedua tangannya bergerak gelisah mencengkeram ujung baju sendiri.

"Tenanglah, Alina. Kamu belum perlu berteriak sekeras itu."

"Bagaimana bisa aku tenang?! Kamu bilang aku harus menemanimu! Memangnya aku ini melamar pekerjaan di sini?!"

Arkan terdiam sejenak. Sudut bibirnya berkedut, menahan geli. "Kalau kamu ingin menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan, aku bahkan bisa memberimu kamar yang jauh lebih nyaman dari ini."

"AKU TIDAK MAU!" teriak Alina, suaranya menggema pecah di dalam ruangan sempit itu.

Arkan menghela napas panjang, bagaikan seorang orang dewasa yang sedang menghadapi anak kecil pembuat ulah.

"Ada perjanjian lama antara penghuni awal rumah ini dan aku. Sesuai janji itu, seseorang seharusnya datang untuk menjadi temanku. Tapi sampai bertahun-tahun lamanya, janji itu terus ditunda."

Alina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak logika gila yang sedang dipaparkan pria itu.

"Perjanjian apa?! Aku tidak tahu apa-apa!"

"Sebenarnya itu bukan urusanmu."

"Bagaimana bisa bukan urusanku kalau sekarang kamu mengincarku?!" tanya Alina dengan tatapan wajah cemasnya.

Arkan terdiam, memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Dan kebisuan itu justru memicu ketakutan terdalam Alina.

Tunggu dulu...

Sebuah pikiran buruk melintas cepat di kepalanya. "Ini... ini pesugihan, ya? Keluarga suamiku melakukan pesugihan?!"

Ingatannya mendadak menyambar berbagai kisah mistis yang pernah ia dengar atau tonton; tentang keluarga kaya raya yang memelihara makhluk gaib demi harta, tentang tumbal manusia yang harus diserahkan, dan tentang perjanjian darah yang menuntut bayaran setelah bertahun-tahun dinikmati.

Wajah Alina yang tadinya memerah karena amarah, mendadak berubah pucat pasi.

"Jangan bilang... aku dijadikan tumbalnya?!"

Alina kembali melangkah mundur sampai punggungnya membentur dinding dingin.

"Ya Tuhan... aku belum mau mati! Aku masih muda! Aku bahkan belum sempat pergi liburan ke Jepang!" racau Alina histeris.

Arkan mengerutkan keningnya, tampak terusik oleh kata-kata terakhir Alina. "Kenapa harus ke Jepang?"

"Karena itu impianku!" jawab Alina spontan.

"Lalu siapa yang melarangmu pergi ke sana?" tanya Arkan dengan santai.

"KAMU!"

Arkan berkedip sekali. Dan untuk sepersekian detik, ekspresi bingung melintas di wajah tampannya.

Sebelum akhirnya, ia meledakkan tawa.

Awalnya hanya berupa dengusan pendek, tetapi sedetik kemudian tawa itu berubah menjadi derai lepas yang mengguncang tubuhnya.

Arkan bahkan harus memegangi perutnya sendiri, sementara Alina menatapnya dengan mata melotot ngeri.

"Apa yang lucu?! Aku sedang ketakutan setengah mati!"

Namun Arkan tidak segera menghentikan tawanya. Suara tawa berat itu bergema memenuhi seluruh penjuru ruangan, membuat udara di dalam kamar terasa mendadak bergetar hebat.

Cangkir-cangkir porselen di atas meja mulai bergetar, lalu berjatuhan pecah. Bola lampu tua di langit-langit berayun kencang ke kiri dan ke kanan.

KRAAAK!

Alina terkesiap, menoleh cepat ke sisi sampingnya.

Sebuah retakan tipis namun panjang mendadak muncul di permukaan tembok, tepat di sebelah lemari kayu tempatnya bersandar.

Matanya membelalak sempurna.

“ASTAGA!!” serunya sambil menunjuk retakan itu dengan jari yang gemetar hebat. "T-temboknya retak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 6

    Sementara Arkan masih terbahak-bahak, seolah gravitasi dan struktur bangunan di sekitarnya tidak ada apa-apanya."Berhenti! Kumohon, berhenti tertawa!"Namun seruan Alina justru membuat tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi. Retakan di tembok kian memanjang, membelah cat putih dengan suara berderak mengerikan.Alina hampir menangis, air matanya mendesak turun di pelupuk mata."Arkan! Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal perjanjian itu! Kalau keluargaku atau keluarga Rangga punya utang atau janji denganmu, selesaikan saja dengan mereka! Jangan libatkan aku!"Mendengar keputusasaan yang kentara di suara Alina, Arkan akhirnya mereda. Ia mengusap sudut matanya, seolah baru saja menikmati tontonan komedi paling menggelikan seumur hidupnya."Kamu benar-benar mengira aku berniat menjadikanmu tumbal?" tanya Arkan dengan sisa senyum di bibirnya.Alina megap-megap mengambil napas, dadanya naik turun tak beraturan. "Lalu apa lagi kalau bukan itu?!"Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru mela

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 5

    Arkan masih menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sementara Alina menatapnya dengan sisa-sisa kecurigaan dan rasa ngeri yang merayap di sekujur tulang belakang.Perempuan itu tiba-tiba merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya, sejak detik pertama pintu itu terbuka tadi, ia melarikan diri keluar rumah dan mencari pertolongan tetangga.Bukannya malah terjebak di dalam kamar terlarang, berdebat kusir dengan sosok asing berwajah rupawan yang mengaku sudah menempati bangunan ini sejak zaman entah berantah."Kenapa kamu tertawa?" tanya Alina sengit, mencoba menutupi getaran panik di suaranya.Arkan menyandarkan sebelah bahunya santai pada permukaan lemari kayu. "Karena akhirnya, orang yang sudah lama kutunggu-tunggu datang juga."Alina mengerutkan dahi, garis-garis kebingungan terukir jelas di wajahnya. "Orang yang ditunggu-tunggu siapa maksudmu?""Kamu."Jawaban itu mendarat begitu telak, membuat Alina terdiam sesaat. Ia menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk yang gemetar. "Ak

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 4

    "Kamu siapa? Kenapa bisa ada di dalam rumahku? Dan bagaimana caramu masuk ke kamar terkunci ini?"Pria itu mendongak, menatap Alina tegak lurus. "Namaku Arkan.""Arkan?""Ya.""Nama lengkap?"Arkan mengerutkan keningnya halus. "Untuk apa?""Supaya aku punya data jelas saat melaporkanmu ke polisi!"Senyum tipis Arkan kembali terukir, kali ini membawa nuansa misteri yang pekat. "Kamu yakin polisi manusia bisa membantumu?"Alina terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar seperti sindiran, tetapi juga mengandung peringatan samar."Aku tidak peduli!" tegas Alina meyakinkan dirinya sendiri. "Kamu masuk tanpa izin, memecahkan barang, dan menyusup. Itu tindak pidana!""Aku tidak menyusup, Alina.""Lalu apa namanya kalau bukan menyusup?!""Aku sudah berada di tempat ini jauh sebelum kamu melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini."Kening Alina berkerut makin dalam. "Apa maksudmu? Jangan bicarakan teka-teki!"Arkan mulai bergerak berdiri. Gerakannya teratur, tenang, dan dipenuhi keanggunan alami.

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 3

    Sensasi pertama yang menyapa Alina ketika kesadarannya berangsur pulih adalah denyut nyeri yang menyengat di pelipisnya.Sensasi kedua adalah sesosok wajah pria.Terlalu dekat.Begitu dekat hingga Alina bisa merasai pendar napas tipis pria itu dan melihat dengan teramat jelas sepasang iris hitam pekat yang sedang mengamatinya tanpa berkedip.Pria itu bertumpu pada kedua kakinya yang berjongkok, satu tangannya menopang chin line yang tegas, menatap Alina seolah-olah perempuan itu adalah sebuah spesimen langka yang menarik untuk dipelajari.Alina memaku dalam keheningan total selama tiga detik.Pria itu pun bertolak diam, tak menunjukkan niat untuk bergeser sedikit pun.Hingga kemudian, logika Alina menyadari satu hal krusial: ujung hidung mereka nyaris saling bersentuhan."AAAAAA!"Seketika, insting bertahan hidup Alina meledak. Ia merangkak mundur sekuat tenaga hingga punggungnya terbentur keras pada pintu lemari kayu jati di belakangnya."Astaga! Kamu... k-kamu siapa?!" jeritnya hyst

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 2

    "Pul—apa? Aku masih di kantor, Alina. Kamu ini kenapa, sih?""Ada suara asing dari kamar belakang, Mas!" bisik Alina hysteris. "Tadi ada suara ketukan keras, terus sekarang ada suara langkah kaki di dalam!"Hening sejenak di ujung telepon. Hening yang sangat tak biasa."Jangan mendekati kamar itu," ujar Rangga kemudian.Alina mengerutkan kening, rasa heran mulai mengikis ketakutannya. "Lho? Memangnya kenapa?""Aku bilang, jangan didekati. Kunci pintu kamarmu di lantai atas sekarang, lalu tidur!"Nada suara Rangga berubah menjadi sangat tegas dan penuh penekanan.Tidak ada tawaran penjelasan, tidak ada rasa cemas atas keselamatan istrinya. Alina justru merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi."Mas, kamu sebenarnya tahu sesuatu tentang kamar ini, kan?""Alina, lakukan saja apa yang aku katakan!"TUT... TUT... TUT...Sambungan diputus sepihak. Alina menatap layar ponselnya yang menggelap dengan ketidakpercayaan."Ya ampun. Suami macam apa ini? Istrinya ketakutan setengah mati malah disuru

  • Ada Jin Tampan di Rumahku   Bab 1

    “Mas, malam ini bisa video call? Aku kangen.”Dua centang biru menyapa penglihatannya. Pesan itu sudah dibaca, tetapi dibiarkan mengantung tanpa balasan.Alina melirik jam dinding kayu di ruang tengah untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.22.17 WIB.Ponsel di atas meja makan masih membisu. Tidak ada nada dering, tidak pula vibrasi singkat yang ia harapkan sejak tadi.Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lelah dan kesepian yang mengendap saban hari.Di hadapannya, dua piring makanan masih tertutup rapat oleh tudung saji.Uap hangat dari sup ayam yang ia masak penuh ketelitian sejak sore tadi sudah lama menguap, digantikan dinginnya udara malam.Padahal, ia sengaja memasak lebih banyak porsi malam ini, berharap Rangga akan menyapa lewat panggilan video dan menemaninya makan secara virtual.Namun, harapan itu kembali berakhir menjadi keheningan yang tawar.Sejak suaminya menerima penugasan di luar negeri, Ali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status