เข้าสู่ระบบGalandra berdiri di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah dua orang yang berada di dalam kamar.
"Keluar!" Suaranya menggema ke seisi ruangan. Bahkan jantung Aluna nyaris copot mendengar teriakan lelaki itu. Aluna segera bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan bersama Bi Asri. Namun, Galandra menggeser tubuhnya hingga menghalangi jalan. "Bi, keluarlah. Aku ingin bicara dengan bocah ini," kata Galandra dingin, setiap kalimatnya penuh dengan penekanan. "Tapi, Tuan Muda—" "Keluar!" teriak Galandra yang lagi-lagi membuat jantung Aluna nyaris copot untuk kesekian kalinya. Gadis itu bahkan sempat berpikir bahwa dia akan mengalami serangan jantung jika terus-terusan mendengar lelaki di depannya berteriak. Setelah kepergian Bi Asri, kini tinggalah Aluna dan Galandra berdua di kamar, dengan pintu terbuka tentunya. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tubuh sedikit gemetar. Dia memilin jemarinya untuk mengurangi rasa gugup. Akan tetapi, perasaan gugup itu semakin tak terkendali saat Galandra mendekat ke arahnya. "Seratus juta. Pergi dari sini sekarang," kata Galandra langsung ke inti. Tatapannya fokus pada Aluna, menunjukkan betapa seriusnya ucapan lelaki itu. Aluna sedikit mendongak, mencoba menatap lelaki di depannya. Begitu mereka beradu pandang, untuk sesaat keterkejutan terpancar jelas di mata Galandra. Namun, lelaki itu buru-buru menyembunyikannya di balik wajah dinginnya. "Maaf, aku tidak bisa," jawab Aluna setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar. Galandra berdecih mendengar jawaban Aluna. "Kurang? Baiklah, tiga ratus juta." "Bukan begitu, Tuan Henry sudah memberikan aku kepercayaan untuk melakukan ini, mana mungkin aku membatalkannya secara sepihak," jelas Aluna, berharap lelaki di depannya mengerti. Galandra tersenyum sinis mendengarnya. "Cukup berani rupanya." Lelaki itu kembali mendekat ke arah Aluna dan mengitari gadis itu, meneliti setiap sesuatu yang melekat di tubuh Aluna dan berhenti tepat di belakang Aluna. "Aku ingin lihat bagaimana kamu akan bertahan di rumah ini," bisik Galandra tepat di telinganya. Gadis itu buru-buru menyingkir dan berbalik menghadap Galandra. Lelaki itu tertawa sinis melihat tingkah gugup Aluna. Lelaki itu maju selangkah, dan ketika berhenti tepat di depan gadis itu, tangannya terangkat mencengkeram erat rahang Aluna. Aluna terkejut bukan main, dan dari jarak sedekat ini jugalah dia bisa melihat tatapan kebencian yang terpancar dari mata lelaki itu. "Tolong ... lepaskan," pinta Aluna sembari mencoba melepaskan cengkeramannya, tetapi tenaganya kalah besar. "Akan aku lepaskan jika kamu pergi sekarang," kata Galandra, tangannya semakin erat mencengkeram rahang Aluna hingga membuat gadis itu mengerang kesakitan. "Galandra! Apa yang kamu lakukan?!" Sebuah teriakan tiba-tiba terdengar, membuat cengkeraman Galandra terlepas seketika. Ternyata pemilik suara itu adalah Tuan Henry. Aluna segera mundur menjauh sambil memegang rahangnya yang terasa sakit. Tuan Henry masuk ke kamar dan langsung menampar Galandra tepat di hadapan Aluna. Gadis itu membelalakkan mata dan menutup mulutnya, terkejut menyaksikan kejadian tersebut. "Apa yang kamu lakukan? Jangan coba-coba menyakiti Aluna!" ancam Tuan Henry sambil mengangkat jari telunjuk tepat di depan wajah putra sulungnya. Galandra tersenyum sinis, kemudian menjawab, "Pa, membawa orang yang mirip dengan Acitra bukan cara yang benar untuk memulihkan kondisi mama!" Mendengar ucapan putranya membuat Tuan Henry terdiam untuk sesaat. Di detik berikutnya pria paruh baya itu menarik napas panjang sebelum berkata dengan suara berat, "Kamu tahu apa yang dikatakan dokter? Kalau kondisinya terus seperti ini ... usianya mungkin tidak akan lama lagi. Jadi, sekalipun peluangnya hanya satu persen, papa akan tetap mencobanya." Ruangan mendadak sunyi. Galandra mengepalkan kedua tangannya, tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Aluna ikut pun terdiam. "Benarkah kondisi istri Tuan Henry sudah separah itu? Kalau begitu ... keputusan yang diambil Tuan Henry memang bukan tanpa alasan," batin Aluna. Tuan Henry mengembuskan napas pelan. Kemarahan di wajahnya perlahan mereda. "Sudahlah," ucapnya lirih. "Papa harus membawa Aluna ke rumah sakit." Pria itu menoleh kepada Aluna. "Ayo, Aluna." Aluna mengangguk pelan sebelum mengikuti langkah Tuan Henry keluar dari kamar. Galandra masih mematung di tempat yang sama. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal, sementara tatapannya terus mengikuti langkah ayahnya dan Aluna hingga kedua sosok itu menghilang di balik pintu. Aluna mengembuskan napas pelan setelah keluar dari kamar, merasa lega. Sepanjang perjalanan menyusuri rumah megah ini, pikirannya masih dipenuhi bayangan tatapan tajam Galandra. Setelah tiba di halaman depan, keduanya masuk ke dalam mobil yang telah terparkir. Tak lama kemudian, kendaraan itu perlahan meninggalkan kediaman. Suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan. Hanya suara mesin dan pendingin udara yang terdengar samar. "Maafkan sikap Galandra barusan." Suara Tuan Henry memecah kesunyian. Aluna menoleh. "Dia memang keras kepala." Tuan Henry mengembuskan napas pelan. "Sejak Acitra tiada, dia belum bisa menerima kehilangan itu. Ditambah lagi, dia sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya. Karena itulah dia menolak kehadiranmu." Aluna menundukkan kepala. Rahangnya yang tadi dicengkeram Galandra masih terasa sedikit nyeri. "Tidak apa-apa, Tuan. Aku mengerti." Tuan Henry melirik sekilas ke arahnya, lalu tersenyum tipis. "Masih memanggilku 'Tuan'?" Aluna tersentak kecil. Beberapa detik kemudian dia tersenyum canggung. "Maaf, Pa." "Nah, begitu." Senyum pria paruh baya itu tampak sedikit lebih lega. "Terima kasih karena masih mau melanjutkan semua ini." "Aku akan berusaha menjalan tugas ini sebaik mungkin." Aluna tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Tuan Henry sempat terdiam, lalu tersenyum kecil. Aluna kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan deretan pepohonan dan kendaraan. "Semoga aku tidak mengecewakan kalian ..." batinnya. Tak lama kemudian, mobil memasuki area rumah sakit. Tuan Henry memarkirkan mobil di salah satu area parkir yang tak jauh dari pintu masuk. Setelah mesin dimatikan, dia menoleh ke arah Aluna. "Ayo," ajaknya. Aluna mengangguk pelan. Keduanya membuka pintu mobil masing-masing, lalu keluar hampir bersamaan. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk rumah sakit. Jantungnya berdetak semakin cepat. Di salah satu ruangan rumah sakit inilah, untuk pertama kalinya, dia akan bertemu dengan wanita yang harus dia panggil "mama"."Ada urusan lain yang perlu kuselesaikan di luar kota. Sekalian aku akan mengajak Acit menemaniku, siapa tahu ingatannya akan pulih meski sedikit," jawab Tuan Henry.Aluna yang sedang meraih gelas hampir saja tersedak mendengar jawaban itu. Dia buru-buru menunduk, menyembunyikan ekspresi terkejutnya."Wah, Papa pintar juga mencari alasan," batinnya."Oh, begitu." Nyonya Livia mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Aluna. "Kalau begitu, jangan lupa makan dengan teratur ya, Sayang. Kalau sudah selesai, kalian langsung pulang. Mama tidak mau kamu kelelahan.""Iya, Ma. Tenang saja." Aluna menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Jangan lupa kabari Mama kalau ada apa-apa," pinta wanita itu.Aluna mengangguk patuh. "Iya, Ma!"Percakapan itu berlanjut dengan obrolan ringan hingga mereka selesai sarapan. Setelah berpamitan kepada Nyonya Livia, Aluna mengikuti Tuan Henry menuju mobil sambil membawa tas kecil yang sudah disiapkannya sejak pagi.Begitu pintu mobil tertutup, gadis itu langsung me
Tuan Henry mengangkat alis. "Apa itu?""Aku ingin Papa janji untuk tetap tenang dan mendengarkan ceritaku sampai selesai, oke?"Tuan Henry memperhatikan wajah Aluna selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Aku janji. Ceritakan saja."Aluna mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat ke pakaian yang dikenakannya."Setelah Papa pergi ke kantor, Kak Galandra membawa dua temannya. Namanya Sagara dan Abimanyu." Aluna mulai bercerita.Ekspresi Tuan Henry perlahan berubah serius, tetapi dia tidak menyela. Pria itu mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.Kemudian Aluna menceritakan tentang sebuah paper bag yang diberikan kepada dirinya."Aku gak tahu apa isinya, tapi setelah dipaksa untuk membuka, ternyata ada sebuah kotak berisi beberapa foto." Aluna menatap kedua tangannya. "Ternyata itu foto rumahku, nenek, dan adikku.""Apa?" Tuan Henry seketika menegakkan tubuh, tangannya terkepal di atas lutut. "Bocah itu benar-benar keterlaluan!""Pa, tolong jangan marahi Kak Galand
Setelah makan malam selesai, Tuan Henry segera bangkit dari kursinya."Ayo, ikut Papa," katanya sambil berjalan meninggalkan ruang makan.Aluna dan Galandra menyusul di belakangnya. Gadis itu terus memikirkan alasan mengapa Tuan Henry memanggil mereka, sedangkan Galandra berjalan dengan wajah datar.Baru beberapa langkah meninggalkan ruang makan, Galandra tiba-tiba mencengkeram lengan Aluna.Aluna tersentak dan menoleh. Galandra tidak berkata apa pun. Lelaki itu hanya menatapnya tajam, seolah hendak menyampaikan sesuatu tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.Aluna tentu memahami maksud tatapan tersebut. Dia segera menepis tangan Galandra dari lengannya.Galandra mengerutkan kening, jelas tidak senang Aluna melawannya. Akan tetapi, lelaki itu tidak melakukan apa pun lagi.Sesampainya di ruang kerja, Tuan Henry berjalan menuju meja kerjanya, sedangkan Aluna dan Galandra berdiri di hadapannya.Tuan Henry membuka sebuah map yang tergeletak di atas meja, lalu mengangkat wajah untuk me
Aluna segera mengambil ponselnya, lalu mencari nama Adnan di daftar kontak. Tanpa berpikir panjang, dia menekan tombol panggilan. Tut ... tut ... tut ... Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. ["Hai, Lun. Kebetulan banget, baru aja aku mau telepon kamu."] "Oh, ya? Ada apa, Adnan?" Aluna langsung menaikkan volume ponselnya agar suara Adnan terdengar lebih jelas. ["Aku mau ngabarin soal Nenek."] "Nenek kenapa? Nenek gapapa, kan?" tanya Aluna cemas. ["Hei, tenang, Lun. Nenek gapapa kok. Aku mau ngabarin kalo Nenek udah boleh pulang. Dokter bilang kondisinya cukup stabil, jadi gak perlu dirawat di rumah sakit lagi."] "Serius?" Mata Aluna langsung berbinar. ["Iya. Nenek juga kelihatannya udah lebih seger."] "Syukurlah." Senyum kecil muncul di wajah Aluna. "Aku kira ada apa." ["Tapi Nenek belum pulang hari ini. Katanya besok baru boleh pulang. Aku sama Gio sekarang lagi beres-beres rumah dulu. Biar nanti pas Nenek pulang, rumahnya udah rapi dan bersih."] "Oh, begitu
Aluna menggeleng pelan."Gak tahu," jawabnya jujur.Sagara masih menatapnya tajam. Lelaki itu kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa."Kami cuma ingin lihat seberapa lama kamu bisa bertahan," katanya tenang."Bertahan dari apa?" Aluna mengerutkan dahinya.Abimanyu yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari meja tersenyum tipis dan menjawab singkat, "Dari semuanya.""Aku gak paham." Aluna semakin tidak mengerti.Galandra yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya bicara."Kamu tinggal di rumahku," katanya. "Memakai kamar Acitra. Memakai pakaian Acitra. Bahkan Mama memanggilmu dengan nama Acitra."Aluna terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus menjawab apa."Aku ... aku cuma menjalankan apa yang diminta Tuan Henry," jawab Aluna akhirnya."Tapi kamu tetap menikmatinya, kan?" sahut Galandra.Aluna terdiam. Kalimat itu terasa menusuk."Sebenarnya Kakak mau apa dariku?" Aluna memberanikan diri untuk bertanya.Ruangan itu mendadak hening. Tidak ada yang langsung menjawab. Aluna akhirnya bangkit
Ada dua laki-laki asing yang sedang duduk di sofa.Keduanya langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki Aluna dan Nyonya Livia.Aluna membeku. Dia sama sekali tidak mengenal kedua laki-laki itu.Salah satu dari mereka bahkan langsung berdiri dan tersenyum ke arahnya."Hai, Acit. Long time no see," sapa lelaki berkaos cokelat.Aluna hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih dipenuhi kebingungan.Gadis itu kemudian mendekat ke Nyonya Livia dan berbisik pelan di telinga wanita itu."Ma, mereka siapa?" bisiknya."Mereka teman Kakakmu. Dulu kalian juga sangat dekat," jawab Nyonya Livia sambil mengusap pucuk kepalanya.Aluna menelan ludah.Teman Galandra?Pandangan Aluna perlahan beralih pada lelaki yang duduk santai di sofa.Lelaki itu hanya memperhatikannya dengan tenang. Sudut bibirnya bahkan terangkat membentuk senyum tipis.Aluna langsung curiga."Apa ini rencana Kak Galandra?" pikirnya.Aluna kembali menatap kedua lelaki asing itu."H-halo juga, Kak," sapanya akhirnya.Lelaki yang m







