LOGIN5 bulan kemudian. Waktu berlalu dengan cepat. Margaret sudah melakukan operasi pemasangan ring. Ray sudah mengundurkan diri secara resmi dari perusahaan dan menemani Margaret melakukan pemulihan. Mario sudah kembali menjadi CEO grup MD. Margaret sudah membeli tanah milik keluarga Ella dengan harga 300 milyar. Harga itu jauh diatas pasar karena paman dan bibi Ella sengaja menaikkan harga. Padahal, harusnya hanya 200 milyar. Sekarang, tanah itu atas nama Sisi dan tidak seorangpun tahu Margaret yang mengeluarkan uang, kecuali Ella. Tanah itu sekarang sedang dibangun. Tapi Ray dan Erick mengalami kebuntuan ketika menyelidiki kasus korupsi Mario dan Zega. Akhirnya mereka berhenti. Namun bukan berarti menyerah. Sekarang mereka meletakkan orang kepercayaan mereka di perusahaan, untuk memata-matai Mario dan Zega. Siang ini langit cerah. Secerah wajah Ella dan Poppy yang sedang melakukan aktifitas diluar rumah. Karena hari ini weekend. 5 bulan ini, setiap weekend Ella dan Poppy
Beberapa hari setelah itu Margaret masuk rumah sakit. Karena stress memperburuk kondisi jantungnya. Saat ini Ray duduk di ruang dokter yang menangani Margaret. Wajah Ray tidak setenang biasanya. Meski mulutnya tidak mengatakan sepatah katapun, tapi matanya menyiratkan kekuatiran. Dia mendengarkan penjelasan Dokter yang menangani Margaret sejak divonis jantung 15 tahun lalu. "Saya sarankan, Nyonya melakukan pemasangan ring ke empat, Tuan," kata Dokter Meilin. "Apa setelah pasang ring ke 4, istri saya masih bisa hidup normal, Dok?" tanya Ray. "Masih, Tuan Ray. Selama Nyonya tetap menjaga pola hidup sehat seperti yang selama ini kami sarankan," jawab Dokter usia 48 tahun itu. Ray menganguk-angguk. "Ya sudah, silahkan dijadwalkan. Lakukan yang terbaik untuk Istri saya." "Baik, Tuan." Usai menemui Dokter Meilin, Ray kembali ke kamar Margaret. Dia tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di sampingnya. Tapi sebelum bicara, dia menyuruh asisten pribadinya menunggu di luar kamar.
Setelah Ella keluar, Margaret merenung. Dari obrolan tadi Margaret mengetahui satu hal. Bahasa cinta Ella ternyata waktu berkualitas, bukan pelayanan seperti yang waktu itu dia duga. Karena Ella mengatakan Zega enak diajak bicara dan momong Sisi. Itu adalah bentuk menghabiskan waktu bersama. Usai mendudukkan Zega dan Ella, Margaret menyuruh pegawainya memanggil Mario. Tak lama, putra sulungnya itu datang. Margaret tersenyum. "Ibu ingin ngobrol denganmu sebentar." "Ibu mau ngobrolin apa?" jawab Mario sembari duduk setengah meter di depan Margaret. "Tentang Ella," jawab Ella. "Ella?" Mario tampak malas mendengar nama itu. Tapi bibirnya tidak berani jujur. "Ella kenapa?" "Bagaimana perkembangan dia, setelah kamu lakukan saran Ibu?" tanya Margaret. "Biasa saja." "Sekarang coba cara lain," kata Margaret. "Ajak dia quality time. Merawat Sisi bersama, ngobrol bersama, mengerjakan hal bersama, bahkan kalau perlu kamu antar kemanapun dia pergi. Hangat, dan tidak memaksa." M
Margaret menatap Ella yang duduk setengah meter di depannya dengan kepala menunduk dan bahu turun. Margaret tahu, bicara dengan Ella tidak perlu banyak-banyak, karena menantunya ini orang yang logis dan tahu etika. Kalau sampai jatuh cinta dengan Zega, pasti Zega yang menggodanya. Karena itu dia juga tidak akan memarahi Ella. "Kamu pasti tahu kenapa Ibu panggil kesini," Margaret membuka pembicaraan. "Iya, Bu. Ella janji tidak akan mengulangi," jawab Ella, dengan kepala tetap menunduk. Margaret menarik nafas. Lega dan sudah dia duga jawaban Ella akan seperti ini. "Tapi Ibu ingin tahu. Apa kamu mencintai Zega?" Margaret menggali informasi. Ella mendongak, menatap Margaret. Lalu kembali menunduk. "Ibu tidak akan marah kalaupun iya," imbuh Margaret. Ella masih tidak mau bicara. Sementara Margaret menunggu Ella jujur. Hening. Satu menit, dua menit, 5 menit berlalu. Dan Margaret tahu jawabannya meski Ella tidak mengatakan sepatah katapun. Jawabannya adalah ya. Tapi Ell
Ella merasa ada yang menggoyang-goyang bahunya. Dia membuka mata dan melihat Sisi sedang membangunkannya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ella. "Nenek mencari Ibu." Nenek? Ella sontak bangun. "Dimana nenek?" Sisi menunjuk pintu. Tepat saat suara Margaret kembali terdengar. "Ella, kamu di dalam?" tanya Margaret. Ella menatap pintu dengan horor. Dia segera membangunkan Zega. "Zega, ada Ibu, cepat sembunyi!" Ella panik. Zega tampak malas bangun. Dia memejam mata kembali. Tapi begitu sadar hari sudah siang, dia sontak bangun. "Sudah jam 8?" gumam Zega, tidak percaya. "Iya, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Ella, jujur. "Sekarang ada Ibu di luar, cepat sembunyi." "Kenapa sembunyi?" tanya Zega. "Aku belum siap kena masalah." Ella menarik Zega ke kamar mandi. "Awas kalau kamu keluar," ancam Ella lalu menutup pintu kamar mandi. Setelah itu Ella mendekati Sisi. "Sisi, bisakah kita bekerja sama?" tanya Ella. "Apa itu?" "Tidak boleh ada yang tahu Om Zega ada di sini,"
Ella mengangkat telpon Zega. Setelah rekonsiliasi dengan Zega dan cerita apa yang barusan dia alami, Zega ingin menemuinya. Terpaksa Ella membuka pintu dan membiarkan Zega masuk ke dalam kamar Sisi. Ella memindai Zega yang memakai jaket kulit warna hitam, kaos hitam polos v-neck dan celana jeans warna senada. "Kamu dari mana?" tanya Ella. "Cari yang seperti kamu diluar sana, tapi nggak ketemu." Ella terkekeh meski tahu digombali Zega. Tapi detik berikutnya Ella terkejut Zega mengunci pintu dan mematikan lampu. "Mau apa kamu?" tanya Ella, serius. "Menginap di sini." Ella tercengang. Sepertinya salah membuka pintu untuk Zega. "Jangan aneh-aneh, aku tidak mau kena masalah," kata Ella. "Justru kita harus mencari masalah, supaya Ayah dan Ibu tidak menyuruhmu kembali sama Kakak." Ella menarik nafas dan membuangnya kasar. "Sepertinya aku salah cerita ke kamu." Zega terkekeh. Ella membalik badan dan meninggalkan Zega. Tapi baru saja membalik badan, sudah ditarik ke dalam







