LOGIN"Sstt!" Desisan halus lolos dari tenggorokan Wening ketika Banyu mendorong tubuhnya semakin dalam. Rasa sempit dan desakan yang teramat kuat membuat jemari Wening makin dalam meremas punggung Banyu, menyisakan bekas kemerahan di sana.
"Pelan-pelan, Banyu." Banyu berhenti sejenak, membiarkan tubuh Wening beradaptasi dengan ukuran pusakanya yang merenggangkan kepasrahan wanita itu. Ia memagut bibir Wening lembut, mengalihkan rasa nyeri yang te"Ampun, Ndoro. Maaf, saya—" Mbok Suti tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Kanjeng Ibu sudah lebih dulu memotong. "Sudah sana cepat kasih tahu junjunganmu itu untuk segera bersiap!" Tanpa menunggu balasan dari Mbok Suti, Kanjeng Ibu segera meninggalkan area dapur. Tentu saja dengan penasaran kesal yang masih melekat. Mbok Suti buru-buru mendekat pada Wening yang masih duduk di dapur belakang. Meskipun ia juga tahu jika majikannya itu sudah dengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. "Siapa Nyi Lekang, Mbok?" Banyu bertanya karena penasaran. Atau mungkin juga ia mewakili apa yang ada di pikiran Wening saat ini. Mbok Suti menarik napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Banyu. Namun, ia sempatkan menggeser irisnya pada Ndoro ayu-nya yang juga tengah menanti jawabannya. Mbok Suti terlilhat ragu, namun bagaimanapun juga ia tetap harus menyampaikan pesan dari majikannya. "Nyi Lekang itu... Mak urut, Banyu. Biasanya ngurut wanita yang lama belum juga di karuniai keturunan.
"Mbakyu Kanti!" Teriakan Sani dari dalam dapur membuat Kanti reflek kembali menutupi bahunya dengan selendang. Lalu menatap Sani dengan senyum. "Kenapa Nyimas?" balas Kanti saat gadis itu menghampirinya. "Mbakyu sedang apa disini? Dicari Kanjeng Ibu." Sani melirik Banyu yang duduk bersimpuh di bawah. "Ah, hanya duduk-duduk saja di sini. Kenapa Ibu mencariku?" balas Kanti dengan sedikit terbata. Lalu beranjak dari kursi bambu dan memeluk lengan Sani dan membawanya pergi meninggalkan Banyu. Sepeninggalan kedua gadis itu, Banyu mendongak perlahan. Ia menatap punggung Kanti yang semakin menjauh. "Menarik sekali putri dari keluarga Broto ini," gumam Banyu. *** "Sarapan dulu, Ndoro. Jangan terlalu banyak pikiran," bisik Mbok Suti pada Wening yang sedang melamun di dapur. Wening mendesah kasar. Sebenarnya ia juga tidak ingin banyak pikiran. Namun, keadaan yang membuatnya selalu berpikir. Rasanya setiap apa yang ia lakukan selalu saja salah di mata ibu mertuanya. "Tid
Wening tertegun sejenak. Sorot mata Banyu yang mendalam dan penuh empati itu seolah menjadi satu-satunya kehangatan di tengah dinginnya rumah besar ini. Namun, sadar akan posisinya sebagai istri seorang terpandang, Wening dengan cepat melengos. Ia menyapu air matanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya sebelum ada abdi lain yang melihat. Pintu kamar berderit pelan. Di dalam ruangan yang senyap itu, Wening akhirnya luruh di balik pintu, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara. Sementara itu di halaman, Banyu masih mematung. Tatapan matanya yang tadi tajam kini berubah menjadi guratan tekad yang makin bulat. Kemudian berlalu sambil menuntun kuda kembali ke kandang. Begitu Mbok Sumi datang dan memberikan segelas minuman, Banyu menyesap teh panas itu perlahan. "Kamu masih betah di sini?" bisik wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu. Seolah ada kekhawatiran yang tersimpan di dalam sorot matanya. Banyu menoleh pada wanita itu. Tatapannya datar seolah tak ada emosi. "Ya, t
Sena hanya bisa tersenyum makin serba salah. Keheningan yang canggung sempat menyergap area paseban sebelum akhirnya istri Sena—seorang wanita berparas manis dengan anggun menyuguhkan cangkir-cangkir teh hangat ke atas meja. "Silakan diunjuk, Kanjeng Ibu, Mbakyu," tutur istri Sena lembut, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak pekat. Jayendra menyesap tehnya perlahan, sementara matanya sempat melirik ke arah Wening. Dilihatnya sang istri hanya menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas pangkuan. Kebaya yang dikenakannya makin kusut akibat remasan jari-jari yang gemetar menahan kesedihan. Tidak ada pembelaan yang bisa keluar dari mulut Wening. Di mata keluarga Adiguna suara seorang anak petani seperti dirinya hanyalah angin lalu yang tak bernilai. "Kalau saja dulu Kangmas Adiguna mendengarkan pendapat saya, mungkin Jayendra sudah dikaruniai banyak anak." Pembahasan itu mas
"Kangmas memang sengaja pilih yang berbadan bagus. Supaya bisa diandalkan," balas Sani seraya melirik punggung Banyu. Kanti mendekatkan wajahnya, kemudian berbisik, "Kalau pria seperti ini ada di rumah Nyai, pasti banyak Nyonya yang antre minta dipuaskan." Sani tertawa melengking mendengar gurauan Kanti. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa Banyu yang duduk di depan bisa mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut gadis-gadis priyayi tersebut. Sementara itu, Wening berpura-pura tuli. Tidak disangka, putri kedua keluarga Broto ternyata mengetahui tempat hiburan para Nyonya, batin Wening. "Kalau di rumah Nyai ada pria macam ini, tentulah aku yang harus pertama mencobanya," ujar Sani. Kalimat itu mungkin terdengar seperti candaan biasa. Namun bagi Banyu, itu adalah sebuah penghinaan. Ia menggenggam erat tali pengendali kudanya. Cih! Ini yang disebut wanita terhormat? Banyu tampak tenang mengendalikan kuda, tetapi hatinya mendengus geram. Pembicaraan adik majikannya i
"Mbok, kapan nyimas Kanti pergi dari sini?" bisik Marni pada Mbok Suti yang sedang menyiangi kangkung di pawon. Wanita paruh baya itu menoleh pada Marni, lalu pandangannya beralih pada Banyu yang duduk tidak jauh dari tempatnya. "Kenapa kamu tanya seperti itu?" "Karena ku tidak menyukainya, Mbok," bisik Marni dengan wajah cemberut. Ia memutar bola matanya malas. "Loh, apa urusannya kamu yang tidak menyukai Nyimas Kanti? Kita ini cuma abdi, lagipula Nyimas Kanti itu kan tamu Ndoro Juragan, mau sampai kapan Nyimas kanti ada di rumah ini ya bukan urusan kita," jawab Mbok Suti. "Saya cuma kasihan sama Ndoro Ayu, MBok," jawab Marni beralasan. Marni menunjuk ke arah pendopo samping dengan dagunya. "Lihat, Ndoro Juragan ada di rumh tapi perhatiannya ke Nyai Kanti. Ndoro Ayu seperti tidak dianggap." Banyu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Marni. Di sana, menampakan Jayendra sedang bersenda gura







