Share

Kusir Sialan!

Author: Author_Lee
last update publish date: 2026-10-31 23:11:43

Napas Jayendra memburu, dadanya naik-turun menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia menatap Kang Darna dengan pandangan tajam penuh kekecewaan, sementara abdi tua itu sudah bersimpuh gemetar di atas tanah, menciumi ujung sandal sang juragan.

"Ampun, Ndoro... Ampuni saya..." suara Kang Darna parau, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya... saya hanya termakan prasangka buruk. Saya terlalu khawatir pada keselamatan keluarga Ndoro."

Mau tidak mau, Kang Darna mengakui
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh! Kangmasku!   Kusir Sialan!

    Napas Jayendra memburu, dadanya naik-turun menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia menatap Kang Darna dengan pandangan tajam penuh kekecewaan, sementara abdi tua itu sudah bersimpuh gemetar di atas tanah, menciumi ujung sandal sang juragan."Ampun, Ndoro... Ampuni saya..." suara Kang Darna parau, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya... saya hanya termakan prasangka buruk. Saya terlalu khawatir pada keselamatan keluarga Ndoro."Mau tidak mau, Kang Darna mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan demi tetap bertahan di kediaman. Ia rela merendahkan harga dirinya supaya tetap menjadi orang kepercayaan Jayendra.Jayendra memejamkan mata sejenak, meredam badai di kepalanya. Di tengah posisinya yang sedang terpojok oleh tekanan politik dan masalah surat tanah yang raib, ia tidak punya tenaga atau bahkan waktu untuk memecat atau menghukum mati abdi setianya itu hari ini. Darna tetaplah orang lama yang tahu banyak hal tentang seluk-beluk keluarganya.Banyak sed

  • Aduh! Kangmasku!   Senjata Makan Tuan

    "Ndoro Juragan, orang yang tahu tentang Banyu sudah datang," lirih Kang Darna pads Jayendra yang tengah berdiri menatap Banyu dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Tangannya mengepal, dengan napas yang memburu. Kenyataan bahwa Banyu adalah orang yang bekerja pada seseorang yang berasal dari masalalu yang ingin ia lupakan membuatnya sangat marah. Padahal kemarin ia berharap jika pria itu akan membantunya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi selanjutnya."Kangmas!" Wening menghampiri Jayendra. Belum sempat istrinya melanjutkan kalimatnya, Jayendra sudah lebih dulu menahan Wening."Aku tidak suka dibantah, Wening. Dia hanya seorang kusir, kenapa kamu membelanya?!"Pupil mata Wening membesar, kepanikan menjalar ke wajahnya. "Kangmas, saya tidak membela Banyu atau—""Kalau begitu diam," potong Jayendra. "Tidak sepantasnya kamu membela kusir di hadapan banyak orang. Kamu itu priyayi, Wening! Istriku, nyonya rumah ini. Tapi apa hang kamu lakukan? Membela pelayan rendahan dan me

  • Aduh! Kangmasku!   Kang Darna Gelap Mata

    "Banyu pantas mendapat hukuman atas kesalahannya, Ndoro Ayu," Kang Darna berkilah. Ia bersikeras jika Banyu harus mendapat hukuman dari Juragan. "Wening, masuklah ke kamarmu atau lakukan pekerjaanmu. Jangan ikut campur urusan laki-laki!" Jayendra membentak, berusaha mengusir istrinya. "Apa maksud Kangmas mengatakan ini bukan urusanku? Kalian mau menghilangkan nyawa seseorang di rumah ini?!" Wening semakin panik, menyadari suaminya benar-benar serius dengan ancaman gilanya. Satu pertanyaan yang membuat Wening sangat penasaran. Apa alasan dibalik murkanya Jayendra? "Atau, Kangmas sudah tahu hubunganku dengan Banyu?" racau Wening dalam hati. Namun, ia kembali menampik dugaan itu. Jika Jayendra tahu tentang hubungannya dengan Banyu, suaminya pasti juga akan murka padanya. Tapi, sepertinya suaminya hanya murka pada Banyu. "Lalu, apa yang Banyu lakukan sampai memacing amarah Jayendra?" pikir Wening dalam hati. Alih-alih mundur seperti yang diinginkan suaminya, Wening justru melangkah

  • Aduh! Kangmasku!   Bukan Mata-mata

    Jayendra seolah tak ingin membicarakan nama seseorang yang akan Kang Darna sebutkan. Seperti memiliki kenangan tersendiri di dalam ingatannya. "Ngapunten, Ndoro," lanjutnya seraya tertunduk. "Tapi, kita perlu waspada, saya yakin kalau Banyu sengaja datang kemari untuk balas dendam pada nDoro Juragan. Dengan apa yang telah menimpa saudagar itu, Banyu punya alasan untuk melakukannya, Ndoro." Brak!!! Suara hantaman telapak tangan Jayendra pada pintu kayu ruang kerjanya menghentikan ucapan Darna seketika. Wajah Jayendra mendadak merah padam, urat-urat lehernya menonjol keluar menahan gejolak amarah yang selama ini terpendam. "Kamu yakin dengan ucapanmu, Darna!?" tanya Jayendra dengan napas memburu dan tangan yang bergetar. Namun ia segera menyembunyikannya dibalik punggungnya. "Saya sangat yakin, Ndoro. Kabar yang saya dapat seperti itu." Kang Darna tersenyum samar melihat respon yang diberikan Jayendra saat mendengar identitas Banyu yang sebenarnya. Kali ini ia sangat yakin jika bi

  • Aduh! Kangmasku!   memasang umpan

    Jatra makin mendekatkan posisi duduknya, memasang telinga baik-baik. Kemudian ia berbisik, "Umpan seperti apa yang Aden mau?" Banyu tertawa renyah. Ia memasukan ikan itu ke kasang dan melemparkannya ke dalam air agar ikan itu tetap hidup. Banyu beralih pada Jatra yang duduk di sampingnya. "Tentu saja informasi yang dia mau. Dia sangat ingin tahu apa benar aku memiliki hubungan dengan saudagar kota Barat." Banyu menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam. Seolah ia tengah berhadapan dengan musuhnya. "Baik, Den. Saya segera laksanakan. Jatra mulai menyeringai saat sadar ke mana arah permainan ini. "Dia bakal pikir kalau Aden ini ancaman buat Jayendra, jadi Kang Darna bisa pakai informasi itu buat menjatuhkan Aden sekaligus mengusir Sampeyan dari kediaman." "Tepat," bisik Banyu dingin. "Darna pasti tidak tahan untuk tidak membocorkan 'rahasia' ini pada Jayendra. Dan ketika Jayendra yang panik, keparat itu akan menampakan sifat aslinya." Namun ada perubahan ekspresi di wajah Jatra.

  • Aduh! Kangmasku!   Menyingkirkan Banyu

    Banyu terdiam lama. Mengamati mimik wajah dari kusir senior di kediaman. Ia melihat bagaiamana sudut mata pria itu menyipit, sama-sama menyelami manik hitam satu dama lain. "Kang Darna," katanya dengan suara yang sama pelannya, "memangnya apa yang menjadi alasan majikan saya mrminta saya untuk mengawasi juragan? Memangnya, Juragan Jayendra berbuat salah pada majikan saya?" Pertanyaan itu berhasil menampar Kang Darna. Wajahnya seketika berubah pias. Bola matanya bergerak liar dengan panik. Seolah ia menyadari sudah salah bicara pada Banyu. "Maksudku bukan seperti itu," bantah Kang Darna dengan terbata. "Saya hanya waspada. Siapa tahu kamu berniat buruk dengan juraganku. Juragan Jayendra tidak pernah berbuat salah pada siapapun." Banyu terkekeh mendengar jawaban Kang Darna. Sedetik kemudian, tawa itu lenyap dari wajah Banyu. "Berniat buruk?" ulangnya pelan. "Kalau tidak merasa bersalah, kenapa Kang Darna yang panik?" Ia menatap Kang Darna lekat-lekat. Kang Darna tidak kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status