Share

Saatnya Membalas

Penulis: Author_Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 23:04:47

"Ada apa, Mbok?" tanya Wening merasa cemas karena wajah Mbok Suti mendadak pucat pasi. Telapak tangan wanita sepuh itu bahkan berubah dingin seperti es. "Mbok? Simbok tidak apa-apa?"

Mbok Suti yang mulai bisa menguasai rasa terkejutnya menoleh cepat ke arah Wening. Dengan suara terbata-bata, ia menjawab pertanyaan dari wanita muda itu. "Ti-tidak apa-apa, Ndoro Ayu. Saya hanya... tiba-tiba merasa pusing saja."

Mbok Suti terpaksa berbohong. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaan yang masih beru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Semakin Geram

    "Ada masalah di sini?" tanya pria berkumis tebal itu dengan suara berat. Namanya Sarjo, orang kepercayaan Jayendra yang terkenal paling teliti sekaligus tak segan menggunakan kekerasan. "Tidak ada," jawab Wening dingin, melipat kedua tangannya di depan dada dengan keangkuhan seorang nyonya rumah. "Apa saya harus melaporkan setiap kegiatanku padamu?" "Bukan begitu, Ndoro Ayu," sahut Sarjo dengan nada bicara yang menyiratkan rasa tidak percaya. "Juragan hanya berpesan agar saya memastikan Ndoro Ayu tetap aman di dalam rumah dan tidak diganggu oleh siapa pun." Wening berdecak kesal. Sangat muak dengan pria-pria asing yang tiba-tiba berkeliaran di dalam area kediaman. "Apa kamu melihatku di ganggu? Saya hanya ingin pergi ke pasar tapi kalian menahanku!" "Maaf, Ndoro Ayu. Kami hanya menjalankan perintah Juragan—" "Saya tidak peduli!" potong Wening geram. Tanpa mengatakan apapun lagi, Wening beranjak meninggalkan pria berkumis yang menyebalkan itu. Sepeninggal Wening, Sarjo tidak lang

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Memperketat Penjagaan

    Mbok Suti menggeleng cepat. Matanya berkaca-kaca menahan cairan bening yang hampir menerobos pertahanannya. "Tidak, Banyu. Simbok tidak lupa dan tidak akan pernah lupa. Simbok juga tidak akan pernah memaafkan apa yang mereka lakukan pada Gendhuk." Tangis itu akhirnya pecah. Mbok Suti tidak sanggup menahan gejolak dendam yang sudah mengakar di dalam hatinya. Kebencian yang selama ini ia tahan kini meledak sejadi-jadinya. Seorang ibu yang kehilangan putrinya dengan cara tidak adil—ditambah putrinya mati secara terhina—membuat Mbok Suti meradang. Wanita paruh baya yang biasanya bersikap lembut itu kini meluapkan amarahnya pada Banyu. Banyu merengkuh wanita paruh baya itu ke dalam dekapannya, mencoba menenangkannya dari gejolak perasaan yang sangat menguras emosi. "Sebentar lagi, Mbok. Bersabarlah sedikit lagi. Saya akan membalas apa yang mereka lakukan pada Arum dengan lebih keji. Saya janji." Mbok Suti mengurai pelukan Banyu, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan menuntut. "P

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Saatnya Membalas

    "Ada apa, Mbok?" tanya Wening merasa cemas karena wajah Mbok Suti mendadak pucat pasi. Telapak tangan wanita sepuh itu bahkan berubah dingin seperti es. "Mbok? Simbok tidak apa-apa?" Mbok Suti yang mulai bisa menguasai rasa terkejutnya menoleh cepat ke arah Wening. Dengan suara terbata-bata, ia menjawab pertanyaan dari wanita muda itu. "Ti-tidak apa-apa, Ndoro Ayu. Saya hanya... tiba-tiba merasa pusing saja." Mbok Suti terpaksa berbohong. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaan yang masih berupa tebakan di kepalanya. Ia teramat takut jika kalimat yang terucap dari mulutnya justru menyeret orang yang tak bersalah ke dalam bahaya. "Pusing? Kalau begitu, Simbok istirahat saja dulu di kamar. Untuk pekerjaan dapur, biar dikerjakan oleh pelayan yang lain," tutur Wening lembut. "Tidak usah, Ndoro. Saya baik-baik saja," tolak Mbok Suti sungkan. Bagaimanapun, ia tidak benar-benar pusing, hanya kaget yang datang mendadak. "Jangan membantah, Mbok. Ini perintah," sela Wening tegas namun penuh

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Mencari Penyusup

    Jayendra menghentikan ucapannya seketika. Matanya yang menyalang langsung tertuju pada pintu yang terdorong terbuka. Wajah pria itu mengeras, memperlihatkan raut tegang bercampur murka karena pembicaraan rahasianya telah terganggu—bahkan mungkin terdengar. "Siapa di sana!" teriak Jayendra dengan suara tertahan. Napasnya memburu menanti seseorang yang mungkin akan muncur dari balik pintu. Kang Darna yang berdiri di dekat meja langsung merapat ke dinding, menunduk dalam-dalam dengan raut wajah pucat pasi. Ia tahu betul betapa berbahayanya rahasia yang baru saja terlontar dari mulut tuannya. Dengan satu gerakan dagunya, Jayendra memerintahkan Kang Darna untuk memeriksa siapa yang ada di balik pintu. Namun, saat Kang Darna keluar untuk memeriksa, tidak ada satu orangpun yang berada di luar ruangan. Tepat sebelum Wening masuk ke ruang kerja Jayendra, seseorang menarik tubuhnya untuk menjauh. Pria itu adalah Banyu yang tidak ingin Wening ikut terseret ke dalam masalah Jayendra. Kang

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Upeti Pesanan

    Langkah-langkah lebar dan tergesa Jayendra yang menjauh dari gudang menandakan satu hal, yaitu kepanikan mulai memakan akal sehat pria itu. Orang yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya akan menjadi sangat berbahaya, sekaligus ceroboh. Saat ia menyadari ada benang yang terputus tanpa sepengetahuannya. "Den Bagus" sebuah suara berbisik pelan dari balik pintu bilik yang sedikit terbuka. Jatra menyelinap masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, menyapu pandangannya ke sekeliling sebelum mendekati Banyu. "Bagaimana dengan mereka?" tanya Banyu tanpa memalingkan pandangan dari jendela. Menatap pria muda yang baru saja datang. "Semuanya selamat dan sudah berada di rumah perbatasan selatan desa milik Anda, Den. Tempatnya aman, tidak ada satu pun warga atau orang-orang Jayendra yang melihat kami semalam," jawab Jatra rendah, ada nada lega yang menyusup di antara ketegangannya. Banyu meletakkan cangkir tanah liatnya ke atas nampan kayu dengan denting halus yang hampir tak

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Mencari Bayangan

    Kediaman Jayendra kacau sejak pagi. Namun tidak ada yang tahu tentang kekacauan itu selain pemilik rumah. Langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian udara pagi, Banyu tahu, itu adalah langkah milik Kang Darna yang datang untuk mengecek keadaan gudang. "Andai saya bisa melihat secara langsung bagaiamana raut wajah Jayendra saat ini. Alangkah senangnya hati ini," gumam Banyu yang tengah duduk di kursi bambu di bawah pohon nangka. Sedangkan Kang Darna yang membawa berita itu, masih berdiri di depan pintu kamar Jayendra dengan wajah gelisah yang bercampur ketakutan. Sudah sejak tadi pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar sang Tuan. Namun nampaknya sipemilik kamar belum juga keluar. Atau... Mungkin pria itu masih berselimut mimpi di pagi yang kacau ini. Hingga akhirnya pintu kayu mahoni itu berderit kasar, disusul dengan terikan si empunya kamar. "Masih pagi sudah bikin ribut. Ada apa?!" Tangan Kang Darna bergetar, berkeringat dingin. Begitu juga dengan wajah tuanya. Bibirnya berget

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status