공유

Mencari Bayangan

작가: Author_Lee
last update 게시일: 2026-09-30 22:03:10

Kediaman Jayendra kacau sejak pagi. Namun tidak ada yang tahu tentang kekacauan itu selain pemilik rumah. Langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian udara pagi, Banyu tahu, itu adalah langkah milik Kang Darna yang datang untuk mengecek keadaan gudang.

"Andai saya bisa melihat secara langsung bagaiamana raut wajah Jayendra saat ini. Alangkah senangnya hati ini," gumam Banyu yang tengah duduk di kursi bambu di bawah pohon nangka.

Sedangkan Kang Darna yang membawa berita itu, masih berdiri di d
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Upeti Pesanan

    Langkah-langkah lebar dan tergesa Jayendra yang menjauh dari gudang menandakan satu hal, yaitu kepanikan mulai memakan akal sehat pria itu. Orang yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya akan menjadi sangat berbahaya, sekaligus ceroboh. Saat ia menyadari ada benang yang terputus tanpa sepengetahuannya. "Den Bagus" sebuah suara berbisik pelan dari balik pintu bilik yang sedikit terbuka. Jatra menyelinap masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, menyapu pandangannya ke sekeliling sebelum mendekati Banyu. "Bagaimana dengan mereka?" tanya Banyu tanpa memalingkan pandangan dari jendela. Menatap pria muda yang baru saja datang. "Semuanya selamat dan sudah berada di rumah perbatasan selatan desa milik Anda, Den. Tempatnya aman, tidak ada satu pun warga atau orang-orang Jayendra yang melihat kami semalam," jawab Jatra rendah, ada nada lega yang menyusup di antara ketegangannya. Banyu meletakkan cangkir tanah liatnya ke atas nampan kayu dengan denting halus yang hampir tak

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Mencari Bayangan

    Kediaman Jayendra kacau sejak pagi. Namun tidak ada yang tahu tentang kekacauan itu selain pemilik rumah. Langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian udara pagi, Banyu tahu, itu adalah langkah milik Kang Darna yang datang untuk mengecek keadaan gudang. "Andai saya bisa melihat secara langsung bagaiamana raut wajah Jayendra saat ini. Alangkah senangnya hati ini," gumam Banyu yang tengah duduk di kursi bambu di bawah pohon nangka. Sedangkan Kang Darna yang membawa berita itu, masih berdiri di depan pintu kamar Jayendra dengan wajah gelisah yang bercampur ketakutan. Sudah sejak tadi pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar sang Tuan. Namun nampaknya sipemilik kamar belum juga keluar. Atau... Mungkin pria itu masih berselimut mimpi di pagi yang kacau ini. Hingga akhirnya pintu kayu mahoni itu berderit kasar, disusul dengan terikan si empunya kamar. "Masih pagi sudah bikin ribut. Ada apa?!" Tangan Kang Darna bergetar, berkeringat dingin. Begitu juga dengan wajah tuanya. Bibirnya berget

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Gudang Rahasia

    "Tidak ada orang. Apa kamu yakin kalau ada orang yang masuk?" tanya seseorang dengan tubuh besar berkepala botak. "Atau otakmu yang ngelantur karena matamu yang sudah ngantuk?" "Aku yakin, ada orang yang masuk kemari," balas pria berkumis dengan nada kesal. Tapi, yang dikatakan temannya itu benar. Malam ini matanya terasa berat sekali. Padahal seharian ia sudah tidur. Jantung Banyu berdebar begitu kencang saat pria berkumis itu mendekati tempat persembunyiannya di antara tumpukan karung yang berisi cengkeh. Belati di tangannya tergenggam erat pada tangan kanannya. Sepenuhnya bersiap jika pria itu menemukannya. "Jangan bersuara!" teriak pria itu akhirnya pada orang-orang yang ada di bilik sempit itu. Setelah memastikan tidak ada orang lain, pria berkumis itu kembali bergabung dengan pria botak yang duduk di sudut ruangan. Pria botak itu menenggak satu sloki tuak yang tersimpan di bumbung. "Bagaiamana? Apa ada orang?" tanya pria botak dengan nada mencibir yang disertai dengan tawa

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Kemungkinan Terburuk

    Sesuai dengan rencana yang telah ia susun, malam ini Banyu akan mencari tahu rahasia di balik bangunan misterius di samping kediaman. Begitu sang surya tenggelam dan malam merayap kian larut, Banyu bersiap menjalankan misinya. Tak lupa ia juga meminta Jatra untuk bersiaga, kalau-kalau ia membutuhkan bantuan. Karena mereka tidak tahu apa yang Jayendra simpan di bangunan itu. "Tentu, Den. Saya akan bersiaga di kebun," jawab Jatra patuh. Tadi sore, ia sengaja mengamati bangunan tersebut dari balik pintu belakang saat suasana sedang sepi. Benar saja, berdiri sebuah bangunan berdinding semen yang letaknya persis menempel pada kediaman utama. Setelah mereka-reka posisinya, Banyu menebak bangunan itu terletak tepat di samping ruang kerja Jayendra. Sore tadi, ia juga sempatkan menggali informasi tentang bangunan itu sebelum ia melancarkan aksinya malam ini. "Itu hanya gudang milik Jayendra. Saya bahkan tidak pernah diperbolehkan masuk atau sekadar melihat bagian dalamnya. Yang saya ta

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Tempat Rahasia

    "Sing eling, Marni. Sing eling!" seru Mbok Suti pada gadis yang tengah tersesat itu. Ia tidak menduga jika gadis lugu dan polos itu kini berubah menjadi gadis penuh ambisi untuk menjadi istri seorang Juragan. "Justru karena saya eling, Mbok!" bantah Marni. Ia tersentak berdiri dari bibir dipan bambu. "Marni juga ingin hidup lebih baik. Marni tidak mau selamanya hidup menjadi pelayan yang selalu direndahkan!" "Ndoro Wening tidak pernah merendahkan kita, Nduk. Ndoro selalu baik dan pengertian. Tidak pernah menuntut atau meminta macam-macam. Ndoro juga tidak pernah merendahkan kita—" "Bohong!" potong Marni. "Apa Simbok tadi tidak dengar? Ndoro Wening ngatai Marni gundik? Katanya Marni tidak pantas untuk berada setara dengan Ndoro? Simbok tidak dengar?!" Plak!! Wanita paruh baya itu kehilangan kesabarannya. Ia tidak pernah semuak ini menghadapi pelayan muda seperti Marni. Mata Marni terbelalak. Tidak menyangka jika Mbok Suti tega menamparnya. "Simbok berani tampar saya? Demi wanita

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   Apa Kamu Pantas?

    "Wening, kamu tidak apa-apa?" tanya Jayendra dengan nada panik. Ia memeriksa pipi istrinya yang sedikit kemerahan akibat beradu dengan telapak tangan Marni. Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Wening justru melempar pandangannya ke arah Banyu yang berdiri di samping Mbok Suti. Tangannya menepis tangan Jayendra saat pria itu hendak menyentuhnya. Membuat pria yang masih menjadi suaminya itu menahan napasnya. Namun ia tak mempermasalahkan. Ia justru berbalik badan, beralih pada Marni. "Marni! Beraninya kamu menampar istriku?!" hardik Jayendra, suaranya menggelegar memenuhi area dapur kediaman. Marni panik seketika. Tubuhnya gemetar hebat, matanya melebar tak percaya melihat tatapan murka Jayendra. "Ndoro Juragan... Ndoro Ayu yang lebih dulu menampar Marni dua kali! Ndoro Ayu juga mengatakan kalau Marni ini gundik! Marni hanya membela diri—" "Kamu pikir kamu pantas!?" Jayendra mencengkeram bahu Marni dan mendorongnya hingga gadis itu hampir tersungkur menjauh dari Wening. "Kamu ha

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status