LOGINMenghela napas dalam, Dirga menggeleng dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan ibunya yang mematung dengan wajah bingung.
"Ga, maksud kamu apa? Tadi kamu bilang apa?" Wanita baya itu mengekor Dirga dari belakang, berhenti di ruang tamu dan melihat anaknya berpamitan pada Dewanto."Aku berangkat, Pa," ucap Dirga menundukkan tubuh tingginya, mencium punggung tangan sang ayah yang duduk bersandar di kursi favorit."Kapan sidang dimulai?" tanya Dewanto, sedikit mendongak."Mungkin agak siang. Aku harus cepat-cepat ke sana," jawab Dirga, menegakkan tubuh lalu menoleh ke arah wanita paruh baya yang mematung di pembatas ruang tamu.Wajah Ratna masih seperti awal mendengar ucapannya tadi, bingung dan gelisah.Ratna menghampiri, "Kamu tadi ngomong apa, Ga. Mama ngga ngerti kamu ngomong apa tadi?" tanyanya penasaran. Meskipun dia mendengar, tetapi pikirannya tidak ingin menerima ucapan Dirga tadi.Yang ditanya hanya diam denElina menatap Prams yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajah yang biasanya keras kini tampak rapuh dan pucat.Napas pria bertato itu terdengar berat, tersengal-sengal oleh alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.Tangan Prams yang kasar dan penuh bekas tinta itu terkulai lemah di samping tubuhnya.Elina menghela napas lirih, dadanya sesak menahan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan."Tolong sadar Hubby. Aku di sini menunggu kamu. Kembalilah Hubby."Mata Elina yang merah berusaha menahan buliran bening yang menggenang di pelupuk. Jemari tangannya gemetar saat menyentuh selimut putih yang menutupi tubuh Prams."Tolong bertahanlah,” bisik Elina lagi dengan suara melemah. Suara itu nyaris tak terdengar di antara bunyi alat medis yang berdengung monoton.Elina mengusap lembut pipi Prams. Air matanya tak dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajah cantik yang lelah itu.Sua
Indonesia~Baru saja Barta mendapat telepon dari Bramanto dan berbicara panjang lebar tentang rencana kepulangan Dylan dua hari lagi."Beritahu Istri kamu ya Nak, biar dia bisa membantu bibinya menyiapkan acara penyambutan kepulangan Dylan nanti," ucap Bramanto. "Iya Pa, pasti. Makasih informasinya. Aku nggak sabar ingin secepatnya melihat keponakan aku pulang.""Papa juga. Kita doakan saja semua lancar. Dua hari lagi mereka pasti pulang.""Amin Pa, Amin," senyum Barta. "Ya sudah, Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa. Sudah dulu ya." Bramanto mengakhiri telepon.Setelah telepon diakhiri, Barta buru-buru mencari istrinya yang tak terlihat di dalam kamar Utama.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Sisca memang selalu bangun lebih pagi dari ayam tetangga. Sementara Ibu mertuanya pasti sedang mengajak cucu Kesayangan berjemur di taman komplek.Barta melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat f
"Silakan duduk Nak Adrian, dan .... " Fandi menggantung ucapan, menatap Intan sambil menggaruk kerutan kening, berusaha mengingat nama wanita muda di depannya.Melihat itu, Adrian langsung memahami. "Namanya Intan, Pak Fandi," ucapnya mengenalkan. "Dia wanita yang berhasil melenyapkan Prams. Berkat dia masalah kita semua selesai."Fandi membuka mulut sedikit dengan tatapan kagum. Dengan cepat ia melangkah mendekati Intan lalu mengulurkan tangan. "Jadi kamu yang namanya Intan?" senyumnya. "Neng Geulis yang berjuang sendiri di Hong Kong. Makasih ya Neng. Makasih banyak."Intan hanya tersenyum, menyambut uluran tangan pria baya itu."Makasih banyak Neng. Kalau bukan karena kamu, nggak mungkin semua masalah ini berakhir. Makasih nyak.""Sama-sama Pak, makasih juga sudah menjemput saya." Intan menundukkan kepala.Diam-diam Adrian terus memperhatikan wanita cantik itu. Senyum di bibirnya mengembang, mengagumi sikap sopan dan
"Mas."Setibanya di Rumah Sakit terbesar di Amerika, Dirga langsung disambut pelukan dan tangisan khawatir istrinya. "Kamu baik-baik saja 'kan Mas? Aku khawatir sama kamu." Pelukan itu semakin erat.Dirga mengusap lembut punggung Kesayangan. Matanya melirik Adrian dan Intan yang diajak masuk ke kamar perawatan oleh Fandi. "Aku baik-baik saja Sayang," jawabnya sambil mengecup jenjang leher Febby. Memejamkan mata, menikmati harum khas wanita Kesayangan yang dirindukan setengah mati.Febby melepas pelukan, menatap suaminya dengan kedua manik mata berkaca-kaca. "Aku khawatir Mas. Aku pikir kamu nggak akan sampai ke sini. Aku dengar ada badai yang membuat Pesawat kamu gagal landing."Dirga mengangguk sambil menghela napas dalam. Sejujurnya ia juga berpikiran yang sama.Ada ketakutan dan sedikit trauma yang membekas saat mengingat turbulensi yang sempat dialami di perjalanan menuju Hong Kong. Beruntung saat kembali ke Amerik
Perjalanan menuju Amerika masih panjang. Setelah puas beristirahat, Adrian memutuskan berkeliling Pesawat Pribadi milik Fandi. Dari kejauhan ia melihat ruang kamar tidur Intan. Sepertinya wanita cantik itu masih terlelap. Sementara di ruang VVIP, kemungkinan Dirga juga masih menjelajahi mimpi. Tak ingin mengusik ketenangan orang lain, Adrian melanjutkan perjalanan mengelilingi kabin Pesawat. Melangkah perlahan, Adrian mengedarkan pandangan di setiap sudut mewah yang memanjakan mata, sambil tersenyum kagum. Langkah kakinya tak henti menyusuri lorong Pesawat Pribadi milik Fandi, matanya tak lepas dari setiap detail mewah yang tersaji. Dinding Pesawat berbalut kayu gelap berkilau, dengan panel-panel emas yang menghias di sudut-sudutnya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng dengan senyuman terkagum-kagum. Matanya menyempit saat melihat silau lamp
"Aku akan membawa Tuan Prams ke kampung halamanku. Di sana kami akan memulai hidup baru. Aku akan merawatnya dengan baik."Elina menyampaikan niatnya pada Wylan untuk membawa Prams pergi dari Kota. Pergi dari kehidupan mewah sang Mafia.Bukan hanya itu, Elina juga meminta Wylan untuk menggantikan posisi Prams sebagai Ketua Mafia ... sementara ... sampai Edgar tumbuh besar dan siap memimpin kekuasaan ayahnya.Edgar adalah satu-satunya hak waris atas kekayaan dan kekuasaan Prams, yang kini akan pensiun dari semua itu.Kondisi Prams memang belum membaik. Pria itu masih koma. Namun, Elina akan tetap membawa calon suaminya yang akan menjalani pengobatan tradisional di kampung halaman.Rencana itu sudah disusun matang oleh Elina, setelah mendengar penjelasan Dokter tentang kondisi Prams jika calon suaminya itu berhasil melewati masa kritis."Apa Nona yakin dengan keputusan Nona?" tanya Wylan.Elina menganggukkan kepala berkali-kali. "Aku yakin. Aku akan membicarakan semua ini pada Dokter."







