Beranda / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Itu Pasti Jebakan!

Share

Itu Pasti Jebakan!

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2025-12-05 08:00:31

Saat tiba di markas kedua. Suara teriakan Marco terdengar menggema. Langkah kakinya diayunkan dengan cepat menuju ruang kosong di bangunan terbengkalai itu.

Puluhan anak buah sang Bandar menundukkan tubuh mereka dengan wajah pucat pasi, ketakutan.

"Bangsat! Kenapa kalian bisa kecolongan? Hah!" Marco menghentikan langkah kakinya di depan pria berkacamata.

Dia adalah Raymond_orang kepercayaannya yang sudah bekerja puluhan tahun. Namun, untuk pertama kalinya Marco kec
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Haninditya Kusmaretty
biar ceritanya gak kelar2
goodnovel comment avatar
Rizky Putrie
duh knp sih kak lawan dibikin kayak punya ilmu sakti gitu, tau dr mana itu wanita malam teman dekat intan??? trus jg tau dr mana juan berhianat???
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 624: Nyaris Frustasi!

    "Harusnya ini akan mudah!" kata Darko dengan percaya diri tingkat Dewa.Di sampingnya Adrian hanya melihat pergerakan tangan Darko yang cekatan dan profesional.Darko membongkar panel digital itu dengan tangan yang mulai stabil. Ia mencolokkan kabel dari perangkat dekripsi portabelnya langsung ke papan sirkuit pintu baja.Layar laptop kecil yang ia bawa seketika dipenuhi oleh barisan angka biner yang bergerak liar.Adrian terus mengawasi di sampingnya, memegang senter taktis dengan sorot yang semakin redup.​"Bagaimana, Dark? Bisa?" tanya Adrian penuh harap.​Darko tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar laptopnya. Keningnya berkerut dalam, dan keringat mulai membasahi pelipisnya lagi.Tiba-tiba, laptopnya mengeluarkan bunyi beep panjang yang melengking pelan, disusul dengan munculnya tanda silang merah besar di layar.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 623: Menyusul

    "Whus! Whus! Whus!" Suara napas Adrian yang memburu terdengar.Waktu terus berdetak tanpa ampun, memburu Adrian yang masih terpaku di depan pintu baja tebal itu.Di luar, semburat fajar mulai memecah kegelapan Danau Hitam, mengubah langit menjadi biru kelabu yang dingin.Adrian berkali-kali mencoba memasukkan kombinasi angka yang mungkin berkaitan dengan Marco, tanggal lahir, kode lencana, hingga nomor pelarian lamanya ... namun panel digital itu terus berkedip merah, membalas dengan bunyi 'TIT' pendek yang menolak aksesnya.​"Adrian, dengarkan aku dulu." Suara Darko memecah keheningan melalui earpiece, kali ini tidak lagi terdengar dari balik meja komputernya. Ada deru angin dan suara gesekan ranting di latar belakang suaranya."Ya, bagaimana?""Kau harus .... "Suara itu terputus-putus.​"Dark? Suaramu berubah. Kau

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 622: Terkunci

    "Jangan putus komunikasi ini!" tegas Darko di tengah-tengah rasa cemasnya."Ya," sahut Adrian datar.Adrian berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu bawah yang berhasil diretas Darko.Begitu kakinya menapak di dalam ruangan, keheningan yang pekat dan aroma khas besi tua yang berkarat langsung menyambutnya.Udara di dalam sini terasa sangat pengap, dingin, dan dipenuhi debu tebal yang langsung membuat tenggorokannya terasa gatal.​Dengan menggunakan senter taktis yang disorotkan rendah ke lantai, Adrian mulai menjelajahi ruangan yang luas itu.Ini adalah bagian terdalam dari bangunan kosong yang terhubung dengan sisa-sisa jaringan bawah tanah Marco.Di sekelilingnya, deretan lemari besi tua dan sisa-sisa instalasi pipa pembuangan air tampak seperti monster logam yang membeku dalam kegelapan.​Adrian melangkah deng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 621: Nekat!

    Di tempat berbeda, Adrian tengah berusaha menyelesaikan missi berbahayanya.Saat ini ia sedang berjongkok di balik sisa-sisa pilar beton bangunan bekas pabrik pengolahan air yang lembab.Dari celah dinding yang retak, ia menempelkan teropong night vision ke matanya. Melalui pendaran visual hijau monokrom itu, Adrian mengamati situasi dengan napas tertahan.​Kondisi bangunan kosong tempatnya berada memang sunyi senyap, sesuai dengan prediksi Darko. Namun, masalah besarnya terletak tepat di seberang tembok pembatas.Pabrik pengolahan kayu yang berdiri persis di sebelah bangunan ini tampak sangat hidup.Cahaya lampu tembak menerangi setiap sudut halaman pabrik tersebut. Di sana, setidaknya ada enam orang pria tegap dengan seragam taktis hitam dan senjata laras panjang berpatroli secara berkala. Mereka adalah Vultures.​"Adrian, kau sudah di dalam?" Suara Darko b

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 620: Serba-Salah

    Lama Intan terpaku di atas sofa, membiarkan dilema hebat mengoyak batinnya.Namun, dorongan naluri seorang istri ternyata jauh lebih kuat daripada rasa takutnya.Tepat pukul setengah empat pagi, di saat langit Jakarta masih pekat dan udara malam terasa sangat menusuk, Intan bangkit berdiri. Wajahnya yang pucat kini menyiratkan sebuah ketetapan hati yang nekat.​"Ibu ... beneran mau pergi?" Mbak Lastri bertanya dengan nada sangat cemas saat melihat Intan meraih kunci mobil di atas meja.​"Saya harus pergi, Mbak. Maaf ya, saya titip Maura. Tolong jaga dia baik-baik. Saya janji tidak akan lama," jawab Intan dengan suara parau namun tegas.​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Intan melangkah ke luar dari apartemen. Di area parkir bawah tanah yang sepi, ia masuk ke dalam mobil Avanza Hitam mobil baru yang sengaja dibelikan Adrian beberapa bulan lalu agar ia bisa bepergian dengan aman

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 619: Bimbang

    "Kok belum datang?" Intan menoleh ke arah pintu apartemen, tak ada tanda-tanda orang datang.Jam dinding di apartemen terus berdetik hingga jarumnya menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.Intan menghela napas kian panjang, dengan perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya.Detik-detik berlalu. Setelah penantian yang terasa seperti berabad-abad bagi Intan, bel pintu akhirnya berbunyi pelan.Intan langsung bergegas membuka pintu dan menemukan Mbak Lastri yang berdiri dengan napas sedikit terengah-engah, ditemani suaminya yang mengantar sampai ke depan pintu unit apartemen.​"Mbak Lastri, terima kasih banyak sudah datang ke sini. Maaf merepotkan," ucap Intan lirih, dengan kedua manik mata yang berkaca-kaca.Ia menyalami suami Mbak Lastri yang kemudian berpamitan untuk menunggu di lobi bawah.​"Sama-sama, Bu Intan. Maaf sebelumnya ya B

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status