Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Keputusan Bramanto

Share

Keputusan Bramanto

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2025-10-09 08:00:48

Saat sedang menyantap sarapan pagi bersama keluarga. Ponsel milik Dewanto berdering.

Semua orang yang berada di depan meja makan, menatap ke arah Pensiunan Polisi itu.

Dewanto mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian melihat satu nama tertera 'Bramanto' dengan cepat ia menerima telepon masuk itu dan berbicara.

"Halo, bagaimana kabar di sana? Apa Barta sudah sampai di Bandara?" tanyanya sambil mengunyah makanan di dalam mulut.

"Penerbangan ke Singapura dibatalkan," jawab Bramanto dengan suara bergetar.

Kedua mata Dewanto membulat sempurna. Ia menghentikan suapan makanan ke mulut, lalu bertanya, "Batal? Maksudnya? Kenapa batal?"

Bramanto diam, hanya terdengar suara helaan napas panjang dari ujung sambungan telepon.

"Kenapa pengobatan ke Singapura dibatalkan? Bagaimana kondisi Barta? Dia masih membutuhkan pengobatan." Dewanto meninggikan nada bicaranya.

Semua orang di depan meja makan menatap p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Angel
kepanjangan critanya..hufft sebal
goodnovel comment avatar
Mira
ceritanya memang luar biasa.aku acung jempol sama penulisnya. benar2 berkualitas tapi bikin jantung aku sering mau copot. saya sgt yakin anda pasti seseorang yg smart.........
goodnovel comment avatar
Nuril Anwar
kucari gk ada judul yg sama apa season 2nya blm rilis?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Keinginan Elina

    "Aku akan membawa Tuan Prams ke kampung halamanku. Di sana kami akan memulai hidup baru. Aku akan merawatnya dengan baik."Elina menyampaikan niatnya pada Wylan untuk membawa Prams pergi dari Kota. Pergi dari kehidupan mewah sang Mafia.Bukan hanya itu, Elina juga meminta Wylan untuk menggantikan posisi Prams sebagai Ketua Mafia ... sementara ... sampai Edgar tumbuh besar dan siap memimpin kekuasaan ayahnya.Edgar adalah satu-satunya hak waris atas kekayaan dan kekuasaan Prams, yang kini akan pensiun dari semua itu.Kondisi Prams memang belum membaik. Pria itu masih koma. Namun, Elina akan tetap membawa calon suaminya yang akan menjalani pengobatan tradisional di kampung halaman.Rencana itu sudah disusun matang oleh Elina, setelah mendengar penjelasan Dokter tentang kondisi Prams jika calon suaminya itu berhasil melewati masa kritis."Apa Nona yakin dengan keputusan Nona?" tanya Wylan.Elina menganggukkan kepala berkali-kali. "Aku yakin. Aku akan membicarakan semua ini pada Dokter."

  • Ah! Enak Mas Dokter   Dunia Seakan Runtuh

    "Hubby!" Teriakan histeris Elina memecah keheningan kamar mewah bernuansa pink putih. Disusul suara tangis lirih Edgar.Bocah kecil itu merangkak, mendekati sang ibu lalu memeluknya erat. Tak ada kata yang terucap, Edgar hanya menangis melihat ibunya menjerit-jerit.Sementara di tempat lain, ia melihat sang ayah terbaring lemah tak sadarkan diri. Wajah tampan itu, yang selalu tersenyum meski ia sedang marah, terlihat pucat dengan bibir berbusa."Mommy ... kenapa Daddy tidak menatapku?" Edgar mendongak. Tangan mungilnya mengusap air mata sang Ibu. Elina hanya menggeleng berkali-kali. Air matanya mengalir kian deras, tak terbendung.Tatapannya tak lepas pada Prams yang tengah diberi pertolongan pertama oleh Wylan. "Daddy kenapa Mom? Kenapa Paman itu menekan dada Daddy?" Suara Edgar kian parau, nyaris habis karena menangis. Elina belum juga menjawab pertanyaan sang anak. Apa yang harus ia jelaskan pada Edgar?

  • Ah! Enak Mas Dokter   Daddy Kamu Dimana?

    Tak ada yang dapat mencegah. Anak laki-laki itu masuk ke dalam kamar melewati kerumunan orang-orang dewasa di depannya."Tuan Muda, jangan masuk." Barbara menghentikan langkah kaki saat melihat Edgar menghampiri Elina."Mommy." Edgar memeluk Elina erat, kemudian menatap sang Ibu. Keningnya berkerut saat melihat wajah ibunya merah, basah dengan air mata.Bulir bening mengalir kian deras dari kedua pelupuk mata Elina saat ia menatap wajah polos sang anak."Mommy, are you okay?"Elina menggeleng lirih, mengecup tangan kecil anaknya.Jari-jari tangan Edgar yang mungil mengusap bulir bening di wajah ibunya dengan lembut. "Mommy kenapa menangis? Mommy jangan menangis." Ia menyandarkan kepalanya di bahu Elina.Dengan lembut Elina merapatkan pelukan. Tak ada kata yang terucap. Rasanya tidak ada keberanian untuk menjawab pertanyaan dari Edgar.Bagaimana mungkin ia mengatakan kalau saat ini Daddy yang bahkan baru dikenal

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pencarian_2

    "Fucking fuck!" Wylan mengumpat. Tangannya mengepal, meninju angin. Melihat kemarahan orang kepercayaan Marco itu, lima Pelayan wanita di depannya menundukkan kepala dengan wajah pucat, takut."Bodoh! Kalian semua terkecoh oleh wanita itu!" umpat Wylan, yang langsung membungkukkan tubuh saat mendengar suara langkah kaki dari belakangElina melangkah mendekati Wylan dan berdiri di samping pria berkacamata itu.Tatapan matanya tertuju pada Pelayan wanita di depan. "Kalian semua benar-benar tidak tahu di mana teman kalian itu?" Kelima Pelayan kompak menggelengkan kepala mereka.Barbara menjawab, "Kami benar-benar tidak tahu Nona. Terakhir kali kami melihat Fuan, dia ada di kamar Nona Intan. Setelah itu kami sama sekali tidak melihat dia lagi."Elina menghela napas panjang. "Semua sudah direncanakan sebelumnya. Kemungkinan bukan hanya Fuan yang berkhianat dan membantu Intan." Wylan berspekulasi.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pencarian_1

    Mengetahui Prams hilang tanpa jejak, Elina mulai panik. Sudah hampir satu jam ia berkeliling mansion, mencari calon suaminya ke seluruh ruangan, tetapi belum menemukan titik terang sama sekali.Ketegangan semakin menjadi saat Elina mendengar kabar kalau Dokter yang datang tadi adalah Dokter Gadungan.Elina terdiam. Wajahnya pucat pasi, syok berat. Ia mengatupkan bibir rapat dengan tatapan mata kosong."Ternyata Dokter tadi bersekongkol dengan Polisi. Dia salah satu orang kiriman musuh yang ditugaskan untuk membawa Intan," jelas Wylan yang baru saja menerima laporan lanjutan dari anak buah Prams di Bandara. "Salah satu dari kita tewas mengenaskan di jalan raya. Mereka benar-benar licik. Mereka berhasil menerbangkan pesawat dan pergi setelah membuat kekacauan."Elina masih diam mematung. Kulit wajahnya semakin pucat. Perlahan bulir bening mengalir dari kedua pelupuk mata yang memerah. "Intan berhasil dibawa pergi karena kita semua lengah.

  • Ah! Enak Mas Dokter   Akhirnya Datang

    "Pesawat pribadi yang kalian tunggu sudah mendarat. Kalian bisa pulang ke negara kalian sore ini." Intan dan Adrian menghela napas panjang. Bibirnya mengucapkan rasa syukur berkali-kali. Setelah mendengar informasi pesawat pribadi yang ditunggu sudah mendarat, Adrian menggenggam jemari Intan dan mengajaknya ke landasan udara. "Kita ke sana sekarang." "Iya Pak." Keduanya melangkah cepat menuju pintu keluar. "Ehm! Pak, pelan-pelan." Intan menghentikan langkah kaki sambil memegang perut. Perjalanan yang cukup melelahkan itu membuat perutnya keram. Adrian berhenti, menatap Intan yang kesakitan. "Maaf aku .... " Ia memukul kepala sendiri. Menyadari kebodohannya karena lupa kalau Intan tengah berbadan dua. "Perut saya keram Pak," keluh Intan. "Maaf, aku ... aku terlalu bersemangat."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status