MasukDeru mobil sampai berhenti di halaman rumah. Risa dan Damar segera turun dengan wajah lelahnya. Sementara Sara tetap anteng di gendongan Risa.
“Bisa?” tanya Damar menatap Risa yang tengah membuka seatbealtnya.
Risa mengangguk. “Bisa, sebentar.”
Damar keluar terlebih dahulu, berlari ke sisi sebelahnya dan membuka pintu untuk Risa. “Ayo,” ujarnya. “Tasnya biar kubawa.”
Risa mengangguk, melangkah terlebih dahulu ke dalam rumah, meninggalkan Damar yang masih membereskan perlengkapannya.
Damar mengikuti dari belakang, mengikutinya hingga ke kamar, menyimpan perlengkapan dan tas mereka.
“Sara tidur?” tanyanya mengamati.
Risa mengangguk,” Iya, Mas,” balasnya, menerima tas dan segera menyimpan di atas meja.
“Aku ambilin air hangat. Kamu kompres lagi.” Ia melangkah menuju dapur, meninggalkan Risa begitu saja.
Risa menoleh, ia bergegas mengikuti langkahnya dari belakang. “Mas nggak capek?” tanyanya, mencoba memberhentikan langkah Damar.
“Enggak.”
“Tapi, makasih, Mas. Aku bisa sendiri,” tolak Risa sopan.
Damar menghela napas panjang, “Aku nggak nawarin, kamu nggak perlu nolak.” Ia menyiapkan mangkuk berisi air panas, tanpa menoleh pada Risa. “Lagi pula cuma air panas.”
“Terima kasih,” ujarnya, melihat mangkuk yang hampir penuh oleh air panas.
Saat ia hendak mengambil alih mangkuk itu, Damar menahan tangan Risa sebentar. Tidak menyentuh, hanya mengisyaratkan dengan alisnya.
“Panas,” ucapnya singkat. Ia memindahkan mangkuk itu ke meja makan agar Risa mudah mengambilnya.
Risa mengangguk sekali lagi. “Makasih.”
Damar hanya membalas dengan lirikan singkat. “Istirahat. Nanti kalau perlu apa-apa, panggil aku aja.” Lalu ia berjalan pergi menuju ruang TV, langkahnya tegap, dingin, dan berwibawa, membuat siapapun yang menatapnya, akna terpesona.
Risa hendak membawa mangkuk itu ke kamar, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara TV menyala. Ia menoleh sebentar, menemukan Damar tengah duduk di sofa, tubuhnya sedikit bersandar, tangan kiri memegang remote, tangan kanan diletakkan di sandaran belakang. Posisi santai, tapi dari caranya menarik napas ... ia tidak benar-benar tengah bersantai.
Risa melanjutkan langkahnya melewati sofa. “Mas, aku ke kamar dulu.”
Damar mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Ya.”
Tapi ketika Risa melewati dirinya, Damar sempat melirik—sekejap saja—mengamati cara Risa membawa mangkuk panas itu. Ia menghela napas tipis saat melihat Risa berhenti di depan pintu kamar seperti menahan tengah menahan nyeri.
Bukan suara yang dicemaskan. Hanya gerakan yang ditunjukkan. Dia masih sakit.
Namun ia tidak mengatakan apa pun. Tidak memanggil, atau bertanya. Ia hanya mengikuti dengan tatapannya sampai pintu kamar tertutup rapat.
Di dalam kamar, Risa duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka sedikit kancing blusnya, mengambil kain kecil, dan mencelupkannya ke air hangat. Wajahnya menegang ketika ia menempelkan kompres itu ke dadanya, rasa nyeri sekaligus panas bercampur jadi satu.
“Sssh,” desisnya tertahan.
Ia menggerakkan tangannya dengan hati-hati, memastikkan tak jika ini tak membuat keadaannya semakin parah.
“Aw, panas,” kagetnya, ia menjauhkan kain itu dan mengusap pelan. Menghilangkan rasa panas.
Setelah beberapa menit, ia merasakan nafasnya sedikit tenang, walaupun masih sedikit bengkak, tapi rasa nyerinya mulai menghilang. Ia merapikan ulang bajunya dan keluar kamar dengan membawa mangkuk yang hampir kosong. Langakhnya begitu pelan, hampir dipenuhi keraguan.
Damar masih berada di sofa, satu kakinya disilangkan di atas kaki lainnya. Ia tidak menoleh saat mendengar pintu kamar terbuka—tapi tubuhnya sedikit terkejut, seolah ia selalu menajamkan indera pendengarannya.
Risa mendekati meja makan dan meletakkan mangkuk di sana. “Mas, airnya sudah kupakai. Nanti aku beresin.”
“Taruh aja dulu,” jawab Damar, tanpa menoleh dari televisi. “Aku yang beresin.”
Risa menatapnya beberapa detik. “Mas ... dari tadi kamu udah bantuin aku. Aku yang nggak enak.”
“Ris,” panggilnya menoleh, suaranya tegas tak ingin disanggah. “Kalo aku keberatan, aku bilang sama kamu.”
Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa terdengar menenangkan bagi Risa.
Risa mengambil napas sejenak. “Baik.”
Ia kembali melangkah ke kamar, tapi tiba-tiba Damar mematikan TV dan memanggil namanya. “Ris.”
Risa berhenti. Menoleh.
“Kamu udah mendingan?” tanyanya, nadanya datar.
“Masih sedikit nyeri,” jawab Risa jujur. “Tapi udah nggak separah tadi.”
Damar mengangguk. “Bagus.”
Beberapa detik terdiam. Lalu, tanpa menatap langsung, ia kembali menambahkan, “Kalau tengah malam kambuh, bangunin aku.”
Risa mengerjapkan matanya. “Mas bisa tidur aja. Aku—”
“Mas ...,” lirih Risa hampir tak terdengar, “aku ... pusing ...,” ujarnya, merasakan pandangannya buram.Damar langsung menegang. “Risa?”Kelopak mata Risa berkedut, tubuhnya condong ke depan, hampir jatuh dari sofa. Damar sigap meraih bahunya, menahan tubuh itu sebelum benar-benar ambruk.“Risa!” amar menguncang tubuh Risa beberapa kali, mencoba membuatnya tetap tersadar. “Hei. Jangan merem. Dengar aku.”Tangan Risa meraih udara kosong, gemetar, lalu jatuh lemas ke pangkuannya.“Mas ... aku ... nggak bisa napas ...,” bisiknya parau.Damar membeku sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan rasa takutnya—lalu langsung mengangkat wajah Risa dengan kedua tangannya.“Risa, buka mata. Sekarang.”Risa mencobanya ... tapi pandangannya kabur. Badannya dingin. Kepalanya terasa ringan.“Mas ... gelap ...”Tubuhnya terkulai.Damar menahan napas meliat Risa yang semakin lemah.“RISA!”Risa membuka mulutnya sedikit, seperti ingin bicara—tapi tak ada suara yang keluar.Tubuhnya tiba-tiba jatuh penuh
Damar menepis tangan Risa dari pompa itu dengan cepat—keras—pompa itu jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras. Damar bergegas menggeser tubuhnya, menghalangi Risa menggapai pumping itu.“RISA!” bentaknya.Risa tersentak, menatap nanar pumping miliknya yang kini teronggok di balik badan Damar. “Mas! Kenapa—”“Karena kamu nyakitin diri sendiri,” jawabnya datar. Sangat datar.Risa mendongak, berlinang air mata. “Aku cuma mau ngeluarin ASI! Tadi udah keluar! Harusnya bisa lebih banyak—”“Risa.”Bentakan Damar tajam. Mengiris. Dingin. “Kamu perahnya sembarangan. Ritmenya nggak bener. Kamu maksa perah ASI sampai merah,” ujar Damar melihat sekilas area dada Risa, melihat sebagai kakak ipar yang cemas, bukan pria bernafsu.Risa menggeleng keras, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak karuan. “Awas! Aku harus isi botolnya! Kalau aku nggak perah, nanti ASI-nya makin sedikit—Mas nggak ngerti—”“Aku ngerti.”Damar jarang—sangat jarang—menaikkan suara.Wajahnya mengeras. Rahangnya
Damar mendongak perlahan—sangat perlahan—seolah Risa baru saja menamparnya dengan pertanyaan itu. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia mengembalikan fokusnya pada Risa.“Jangan paksa aku buat jawab pertanyaan yang bahkan kamu sendiri tahu itu nggak benar,” ucapnya dingin.Nada suaranya rendah, serak, tapi tetap stabil. Tidak ada belaian. Tidak ada pelukan. Hanya ketegasan yang terus menusuk.Risa menggigit bibirnya, bahunya bergetar. “Tapi Mas nggak jawab ... berarti—”“Tuhan, Risa.”Damar mengusap wajahnya sendiri—frustasi—lalu menunduk, seperti menahan amarah yang sudah mencapai batas.“Kalau kamu ngomong kayak gitu terus,” ia menatap Risa tajam, “kamu bukan cuma nyakitin diri kamu sendiri. Kamu nyakitin Sara juga.”Risa terdiam. Napasnya tercekat.“Dia butuh kamu. Ibu kandungnya.”Damar mencondongkan tubuh sedikit, memnyadarkan Risa, tapi suaranya menekan dada Risa seperti beban.“Kamu masih bertahan di sini, masih berani buat nyoba, masih mau nyusuin dia walaupun sakitnya seteng
"Udah?" Damar memicingkan matanya, menatap Risa yang tengah merapikan tas milik Sara."Iya," jawab Risa singkat.Damar mengangguk, tangannya membuka pintu mobil dengan mudah dan meninggalkan Risa yang masih meredakan debaran di dadanya."Duh, gimana ya?" gelisah Risa, ragu. Ia menatap keluar, mendapati Damar yang tengah menunggunya di depan sana. "Sara, Nak ... kamu harus kerja sama sama Mama ya, Sayang," ujarnya menata Sara, menepuk gadis mungil itu penuh kasih syaang.Tok. Tok.Ketukan di jendela samping membuatnya terkejut, lebih terkejut lagi ketika mendapati Damar yang sudah membuka pintu mobil. "Aku bawain," ujarnya satai.Risa terpaku, matanya tak henti menatap Damar dengan perasaan sungkan. Sedetik kemudian, pandangan mereka bertemu, membuat keduanya sedikit canggung."Ayo," ujar Damar, memperingati."E-eh," jawabnya terkesiap. "I-iya, Mas," lanjutnya. Ia keluar mobil, dan berjala di sisi Damar yang kini melambatkan langkahnya."Dokter udah nunggu," lirih Damar membuat Risa mem
Damar langsung berhenti.Ia menoleh cepat, kaget mendengar kata itu keluar dari mulut Risa dalam kondisi seperti ini. Matanya membesar sejenak, wajahnya refleks memanas, jelas tidak siap dengan arah pembicaraan itu.g“Ris—” suaranya terdengar patah.Ia berkedip pelan, mencoba memproses, lalu buru-buru menggeleng sambil menegakkan duduknya.“Ris, itu ... nggak boleh,” ucapnya pelan tapi tegas.Risa menatapnya, bingung dan makin panik. “Nggak boleh?” tanyanya menahan malu.“Iya.” Damar menelan ludah, mencoba membuat suaranya lebih stabil. “ASI bengkak nggak boleh dihisap orang dewasa. Malah bisa bahaya buat kamu. Bisa tambah infeksi,” katanya tanpa jeda.Risa mengembuskan napas yang lelah. “Terus aku harus gimana ... Mas? Sakitnya tambah parah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.Melihat itu, ekspresi Damar langsung melunak. “Aku bantu pakai cara yang aman.”Risa mendongak, menatap Damar penuh tanya. “Mas yakin?”Damar menarik napas besar, menahan canggung dan panik dalam dirinya. “Aku c
“Eum, Mas—”Damar membalikkan badannya, memunggungi Risa. "Aku nggak lihat."“Ini masih panas, Mas.” kata Risa mengeram.Tangannya dicelupkan sebentar sebelum benar-benar mencelupkan handuk hingga basah.“Sebentar. Aku tambahin air dulu,” ujar Damar cepat. Membuat Risa meremas handuk dengan cepat.Risa tersenyum kecil. Sementara Damar berlari ke dapur, Risa membuka kancing piyamanya, mengompresnya perlahan. “Ssshhh ..,” rintihnya menahan nyeri. Satu menit. Dua menit. Rasanya tak kunjung reda, ia menyerah. Tangannya masih menempelkan handuk hangat di dada ketika suara langkah perlahan mendekat ke arahnya.Damar muncul sambil membawa mangkuk air hangat baru—nyaris penuh sampai bibirnya—seakan begitu terburu-buru sampai tidak sempat menjaga langkahnya.“Ris—” Ia langsung mendekat, membuat mangkuk hampir tumpah karena tangannya yang gemetar. Damar terdiam dua detik, matanya jelas panik melihat piyama Risa yang setengah terbuka. Lalu matanya memejam seraya melangkah ke arahnya.Handuk d







