LOGINSementara di tempat lain terdengar suara benturan keras yang berasal dari sebuah meja yang ditendang hingga terbalik, iya itu suara meja yang ditendang oleh sosok pria paruh baya yaitu Tuan Kusuma, rekan bisnis gelap Tuan Kim.Dia terlihat kesal setelah mendengar kabar kedua orang suruhannya telah tertangkap, yang membuatnya semakin kesal dan marah adalah di mana kedua anak buahnya gagal menjalankan tugas mereka.Jadi sudah jelas bahwa yang mencelakai Lola adalah suruhan Tuan Kusuma. Dia memberi perintah kepada kedua anak buahnya untuk menghabisi salah satu anggota keluarga Roni sebagai bentuk pengancaman darinya karena telah berani menggagalkan rencananya.Rencana Tuan Kusuma tidak lain dan tidak bukan adalah ingin menguasai bisnis milik Tuan Kim. Orangnya sangat licik bahkan tak kalah liciknya dari Tuan Kim di saat dia masih bugar. Bahkan yang membuat Tuan Kim sakit parah sekarang adalah ulahnya. Dia ingin Tuan Kim mati dan dia yang akan menjadi penerus bisnis itu dengan menikahi cu
Tim pencari terus menelusuri sungai itu untuk mencari keberadaan Lola, di mana Bara juga ikut di dalamnya. Mereka terus mencari hingga ketemu, sampai sekitar satu jam lamanya mencari, dari kejauhan terdengar suara tangis bayi yang didengar oleh salah satu tim pencari yang paling depan.Merasa dirinya tak salah dengar, langsung segera berenang ke sana sampai akhirnya di saat dia menyorot nyala senternya ke arah sumber suara, sampai dia pun melihat sosok wanita terbaring di sana dengan bayi di dalam pelukannya.Melihat itu, dia langsung berteriak memberitahu tim pencari lainnya kalau orang yang mereka cari sudah ditemukan.Bara yang juga mendapat kabar itu seketika langsung menyeburkan diri ke sungai dan berenang secepat mungkin ke sana, karena memang satu-satunya jalan ya harus berenang dari sungai itu.Dan benar, dia melihat istrinya tergeletak tak sadarkan diri di sana dengan sebelah lengannya berlumuran darah.“Sayang....” teriak Bara naik dari sungai itu lalu memangku kepala istrin
Singkat waktu setelah semuanya terasa selesai, Roni turun dari atas Mbak Maya lalu berbaring di sampingnya. Suara napasnya seperti orang yang habis lari seratus kali keliling lapangan, begitu juga dengan Mbak Maya yang juga dibuat kelelahan.“Sekarang otakku kembali bisa bekerja setelah mendapatkan penyemangat darimu. Sayang, makasih ya. Eh, kamu istirahat saja dulu, aku ingin lanjut bekerja sebentar,” kata Roni sambil bangkit dari atas tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya, segera keluar untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.Mbak Maya hanya bisa menatapnya keluar sembari mengusap keringat di wajahnya. Dia benar-benar letih sekarang, bukan hanya karena kejadian tadi, tapi memang dia sudah capek dari awal mengurus rumah beserta bayinya. Ya, walaupun di rumah mereka pembantu banyak, akan tetapi Mbak Maya tidak suka terlalu memakai jasa pembantu mereka. Baginya, selama dia masih bisa, dia tidak akan meminta bantuan siapa pun termasuk pembantunya.Mbak Maya pun m
Roni kembali ke ruangannya untuk melanjutkan apa yang perlu dia kerjakan. Dia mulai membuka dokumen yang diberikan oleh Maria, lalu melihat bagian mana saja yang perlu dia tangani.“Maria benar-benar lumayan juga, banyak juga yang dia perbaiki dalam waktu singkat. Sepertinya aku butuh banyak bantuan darinya saat ini,” gumam Roni saat melihat hasil kerja keras Maria dalam waktu singkat menangani perusahaan yang sedang anjlok seperti sekarang.“Tapi sepertinya dia harus beristirahat dulu. Baiklah, aku akan memulai dari yang terendah dulu,” Roni menutup dokumen itu lalu mengambil yang lainnya lagi.Tapi tiba-tiba pandangannya terasa buram. Rasanya tubuhnya membutuhkan sesuatu.“Astaga, kok aku merasa aneh gini. Jangan-jangan karena semalam gak dapetin penyemangat. Bagaimana ini, kerjaanku masih banyak pula,” gumamnya.Ya, Roni merasa kurang bersemangat karena dia membutuhkan kelembutan istrinya. Ini pasti karena semalam dia harus menahan diri setelah sempat terpancing oleh Miya yang ujun
Malam harinya terlihat Roni baru bangun dari tidurnya, dia menguap masih merasa ngantuk, hanya saja perutnya juga terasa lapar harus diisi.Sekalinya tidur, Roni bisa dari pagi hingga sore, itulah mengapa tenaganya selalu kuat, dimana sekali istirahat lama tapi dibalas juga dengan kesibukan yang tiada henti yang dilakukannya."Akhirnya kamu bangun juga, ayo kita makan malam bersama, sepertinya sudah ditungguin sama Mama juga," kata Mbak Maya yang baru keluar dari kamar mandi melihat Roni sudah bangun."Baik, aku juga lapar," jawab Roni sembari bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka, setelah itu menyusul Mbak Maya ke ruang makan.Di sana sudah banyak menunggunya, kecuali Miya dan juga Meli."Meli mana?," tanya Roni saat tidak melihat salah satu di antara mereka di meja makan."Dia menginap, katanya di tempat anak-anak," jawab Mbak Maya sambil menyiapkan nasi di atas piring Roni."Dia mungkin masih rindu sama mereka, baiklah biarin saja," respon Roni."Lah, kalau Miya?
Sementara di tempat lain terlihat Bara mendekati Lola yang sedang menyusui anak mereka, terlihat dari raut wajahnya kalau dia sedang gelisah."Ada apa sayang, kenapa wajahmu terlihat gelisah sekali?," tanya Bara, yang awalnya ingin langsung memberitahu Lola soal Sera."Ini Leon dari tadi menangis terus, suhu tubuhnya agak turun dari tadi pagi, sepertinya dia gak enak badan deh," jawab Lola.Bara menjulurkan tangannya menyentuh pipi putra kecilnya, dan benar tubuh Leon terasa panas."Sepertinya dia demam deh, kamu udah beritahu Mama?," tanya Bara."Belum, Mama, aku lihat seperti banyak pikiran jadi aku gak enak kalau ganggu, gimana ini aku khawatir sekali," kata Lola, dan saat itu juga Leon kembali menangis."Sini, biar aku yang gendong, aku akan bawa ke Mama," kata Bara, iya bagaimana pun mamanya seorang mantan dokter, jadi dia pasti tahu kondisi Leon saat ini jika ia diberitahu.Saat digendong oleh Bara, tangis Leon semakin menjadi-jadi, sampai-sampai wajahnya memerah."Apa dia dari
"Kok kamu datang sendiri? Di mana Miya?" tanya Mbak Maya yang melihat Roni datang sendirian menghampiri dirinya dan Ayu."Ah… itu, Miya lagi nggak enak badan, katanya makanya dia istirahat dan nggak ikut keluar," jawab Roni sambil matanya tertuju ke arah Bara dan Xyro yang sedang bermain bola."Lah
"Papa-papa, ke sana yok. Boleh Sera mandi air laut gak?" suara Sera di atas gendongan Bara sambil menunjuk ke arah laut."Sera mau mandi ya? Kalau gitu, ayo sama Papa," ujar Bara."Lola, kamu ikut dengan kami gak?" tanya Bara kepada Lola."Enggak deh, masih terlalu pagi, pasti airnya dingin," tolak
"Sebentar Li... itu di perutmu bekas jahitan apa?" tanya Bara yang tidak sengaja melihat bekas luka jahitan di bagian perut Ali."Ah ini, ini bekas kecelakaan," jawab Ali singkat."Itu, Kak. Ali bekas kena tikam seseorang. Untung saja tidak sampai melukai organ dalam Ali, tapi pelakunya sudah ditan
"Sayang, terus lebih dimentokin lagi, iya itu bagus..." terdengar suara Mei dari dalam kamar itu, membuat langkah Bara terhenti."Buset... mereka bersemangat sekali, nggak mikirin tempat mereka di mana sekarang, kah? Astaga, bikin orang makin nggak tahan aja, sialan,bukannya bikin rasa pengen ku h







