Share

Bab 49 Kamera

Author: J Shara
last update publish date: 2026-10-10 18:17:45
Layar ponsel di genggaman Ucup menyala terang, menampilkan deretan pesan singkat yang belum sempat ia balas. Dinding dadanya terasa sesak oleh gemuruh cemburu yang kian menjadi-jadi. Gambar Andien bersama pria lain di Bali—meski mungkin hanya rekan kerja—terus berputar di kepalanya seperti rekaman rusak. Tanpa berpikir panjang, jari-jarinya bergerak cepat menekan tombol panggil pada nama Hana.

Hanya butuh tiga kali nada dering sebelum suara lembut di ujung telepon menyapa.

"Ya, Ucup? Tumben
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 63 Mantan istri

    "E-oh... masuk, masuk! Ya Allah, sampai lupa disuruh masuk," seloroh Mamanya gagap karena canggung. "Ayo Nak, masuk...""Iya, Bu, terima kasih," jawab Andien ramah, melepas alas kakinya dengan sopan sebelum melangkah masuk ke dalam rumah kayu yang hangat itu.Di dalam ruang tamu yang beralaskan karpet sederhana, Mama Ucup bergegas ke dapur dan kembali membawa sepinggan keripik singkong renyah serta dua cangkir teh hangat yang masih berasap."Minum dulu, Nak... maaf ya, di kampung cuma ada teh rebus begini," ujar sang Mama canggung."Wah, justru ini yang paling enak, Bu. Aroma teh tubruknya harum banget," balas Andien tulus. Tanpa ragu, ia meraih cangkir seng itu dan menyesapnya pelan, lalu mengambil sepotong keripik singkong. "Gurih banget keripiknya, Ibu bikin sendiri?"Melihat Andien yang sama sekali tidak canggung atau bersikap selektif, ketegangan di wajah Mama Ucup perlahan mencair. Syakila pun mulai berani duduk di dekat Andien, sibuk membongkar kantong oleh-oleh permen dan main

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 62 Pulang Kampung

    Pagi itu, sinar matahari belum sepenuhnya menembus celah-celah tirai saat Ucup selesai merapikan tas pakaian kecil di sudut ruang tamu. Setelah dinamika pekerjaan yang menguras tenaga dan malam tenang yang mereka lalui bersama, ada satu hal penting yang ganjal di hatinya—sesuatu yang selama ini belum sempat ia perkenalkan sepenuhnya kepada Andien.Ia menghampiri Andien yang sedang menyesap teh manisnya di teras depan."Ndien... ayo kita ke kampungku," ajak Ucup tiba-tiba, menatap Andien dengan raut wajah penuh harap namun sedikit ragu.Andien menaruh cangkirnya perlahan, agak terkejut dengan ajakan mendadak itu. "Ke kampung Abang?" tanya Andien seraya memiringkan kepala. "Jauh enggak?""Ya... kira-kira empat jam perjalanan kalau lancar," jawab Ucup pelan. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Nanti... aku kenalkan kamu sama anak saya. Namanya Syakila."Mendengar kata-kata itu, binar di mata Andien berbinar hangat. Tidak ada raut keberatan atau terkejut berlebihan di wajahnya.

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 61 Perayaan Hari Besar Ucup

    Malam harinya, riuk pikuk kawasan bisnis dan ketegangan ruang rapat Vanguard Apparel berganti dengan kehangatan sebuah kedai makan sederhana di pinggir jalan—tempat favorit Ucup dan Andien sejak dulu. Di bawah pendar lampu kekuningan dan denting piring kaleng, aroma ketan bakar gurih dan dua cangkir teh jahe hangat menemani perayaan kecil mereka. Kontrak resmi bernilai fantastis itu kini tersimpan rapi di dalam tas Ucup, namun pria itu masih sering melirik tasnya seolah takut dokumen berharga tersebut mendadak lenyap. Andien yang duduk di hadapannya terkekeh pelan, menopang dagu dengan kedua tangan seraya memperhatikan tingkah Ucup. "Masih belum percaya juga, Bang? Kontraknya nyata, kok. Tanda tangan Bang Ucup dan stempel basah Vanguard Apparel di dalamnya juga asli." Ucup menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepala dengan senyum keheranan yang tak kunjung pudar dari wajahnya. "Jujur, Ndien... rasanya masih seperti mimpi. Tadi siang waktu memegang pulpen di depan Pak Hendra,

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 60 Kharisma

    Gedung pencakar langit Vanguard Apparel berdiri megah di kawasan bisnis utama. Dinding kaca besarnya memantulkan cahaya matahari siang, memancarkan kesan elegan dan eksklusif.Ucup berdiri di depan pintu kaca otomatis gedung tersebut, merapikan kerah kemeja yang sudah disetrika rapi oleh Andien tadi pagi. Ia menghembuskan napas panjang untuk meredakan deburan di dadanya. Di sebelahnya, Andien tampil anggun dengan blazer kasual, menggenggam erat tangan Ucup untuk mengalirkan keberanian."Tenang, Bang. Ingat, mereka yang mengundang Bang Ucup ke sini karena mereka melihat potensi besar dalam diri Bang Ucup," bisik Andien lembut sambil tersenyum menyemangati.Ucup mengangguk pelan, menggenggam balik jemari Andien. "Terima kasih, Ndien. Bismillah..."Di dalam lobi utama, Dion sudah menunggu dengan senyum lebar. Setelah menyapa hangat, Dion memandu mereka bertiga menuju ruang rapat direksi di lantai tujuh belas. Langkah kaki Ucup terasa sedikit berat saat melewati lorong-lorong berkarpet te

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 59 Pintu Kesempatan yang Terbuka Lebar

    Tiga hari setelah sesi pemotretan perdana di taman luar ruangan, kehidupan Ucup berjalan seperti biasa. Namun, ada debar antisipasi yang selalu memacu jantungnya setiap kali ponsel di saku celananya bergetar. Sore itu, Ucup sedang duduk bersama Andien di sebuah kafe langganan mereka, menikmati dua cangkir kopi susu sambil mendiskusikan draf novel serta rencana masa depan.Saat Andien sedang asyik menceritakan jadwal pemotretannya minggu depan, layar ponsel Ucup menyala. Nama "Mas Dion Fotografer" tertera di sana.Ucup refleks menegakkan punggungnya. Matanya membelalak kecil. "Ndien... Mas Dion menelepon!""Angkat, Bang! Gunakan pengeras suara supaya aku bisa mendengarnya juga," sahut Andien antusias, ikut menegang.Ucup menggeser tombol hijau dengan ibu jari yang sedikit gemetar. "Halo, Mas Dion? Selamat sore!"Suara tawa renyah Dion terdengar nyaring dari seberang telepon. "Halo, Bang Ucup! Haha, tenang, Bang. Jangan tegang begitu suaranya. Apakah lagi bersama Andien?""Iya, Mas. Ini

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 58 Langkah Pertama di Bawah Sorot Kamera

    Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Udara pagi terasa sejuk menyapa ketika Ucup dan Andien melangkahkan kaki memasuki kawasan taman outdoor yang disewa khusus sebagai lokasi pemotretan. Suasana di sana cukup ramai; beberapa kru tampak sibuk merapikan tiang lampu, reflektor, serta jajaran pakaian di gantungan besi.Ucup merapikan kerah kemejanya dengan sedikit canggung. Matanya memperhatikan sekeliling dengan binar penuh rasa ingin tahu sekaligus gugup."Tenang, Bang. Enggak usah tegang gitu," bisik Andien lembut sambil memegang lengan Ucup, memberikan dorongan semangat."Iya, Ndien... Cuma ya namanya baru pertama kali, rasanya agak deg-degan juga," balas Ucup jujur.Belum sempat Andien menimpali, seorang pria berpenampilan modis dengan kamera DSLR profesional tergantung di lehernya berjalan cepat menghampiri mereka. Senyum lebar terukir di wajah pria itu."Hai! Bang Ucup!" sapa Dion ramah, lalu pandangannya beralih ke samping. "Dan... eh, Andien?"Andien tersenyum tipis dan

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 6 Kebenaran di Balik Kelambu Sutra

    ​Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 5 Topeng yang Terkelupas

    ​Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. ​"Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. ​Suara itu begitu

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 4 Siasat di Balik Kelambu

    ​Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak

  • Ah! Mau Lagi Dong, Bang Ucup   Bab 1 Permintaan

    "Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status