LOGINAsap tipis beraroma vanilla-mint membubung meliuk-liuk di udara sebelum perlahan memudar di bawah pendar lampu set lokasi syuting yang remang. Sutradara muda itu—Pak Niel—menghentikan hisapan rokok elektriknya. Matanya yang tajam menatap Ucup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada sesuatu dari pria itu yang mendadak mengunci perhatiannya. Bukan sekadar wajah yang tampan atau potongan tubuhnya yang terawat dan atletis, melainkan sebuah aura alami yang tenang, polos, namun menyimpan daya tarik yang sulit dijelaskan.Ucup yang menyadari dirinya tengah ditatap sedemikian rupa merasa risih. Ia mengernyitkan dahi, menggeser tumpuan kakinya sedikit ke belakang."Hai... kau... pacarnya Andien, ya?" tanya Pak Niel santai, menunjuk Ucup dengan ujung rokok elektrik di tangannya."Iya. Saya pacarnya Andien," jawab Ucup dengan nada suara mantap dan tegas, mencoba memotong tatapan selidik sang sutradara.Bersamaan dengan jawaban itu, Andien yang berdiri di sampingnya dengan cepat menyusupkan jema
Sinar matahari pagi menyelusup melalui celah gorden sutra yang setengah terbuka, menimpa wajah Ucup yang masih diselimuti kantuk. Aroma teh melati yang menyengat halus melayang di udara, membawa kehangatan yang kontras dengan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Di tepi ranjang, Hana duduk bersandar dengan begitu tenang. Tangannya yang lentik memegang cangkir porselen putih, memutar sendok kecil dengan gerakan ritmis hingga menimbulkan denting halus yang berulang-ulang. Hana memiringkan kepalanya, melempar senyum tipis yang sulit diartikan begitu menyadari mata Ucup mulai terbuka. "Hana? Kenapa...?" suara Ucup terdengar serak, parau oleh sisa tidur dan kebingungan yang menumpuk. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi kesadarannya untuk pulih sepenuhnya. Lingkungan asing ini, kemewahan kamar yang tak biasa, dan sosok Hana di hadapannya—semua menyentak ingatan Ucup tentang malam sebelumnya. Darahnya seakan berhenti mengalir. Sebuah nama mendadak menghantam pikirannya ba
Langkah kaki Ucup terasa kian berat saat menaiki satu per satu anak tangga menuju teras rumah Hana. Angin malam berembus dingin menusuk kulit, namun keringat dingin tetap menetes di pelipisnya. Dalam keheningan yang mencekam, ingatan tentang jeritan kekecewaan Andien yang ditinggalkannya begitu saja terus bergema di telinga, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Tangan Ucup yang gemetar hebat terangkat, lalu menekan bel pintu yang berdenting pelan.Tak berselang lama, pintu kayu jati berlapis ukiran itu terbuka perlahan. Sosok Hana berdiri di sana, anggun dibalut gaun malam satin berwarna merah maroon yang begitu seksi, melekat pas memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang elok."Seperti biasa, kau tidak pernah terlambat, Ucup," ucap Hana dengan senyum tipis yang memikat, merapatkan tubuhnya di ambang pintu.Tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun, Ucup melangkah masuk dengan tubuh lemas. Ia menghempaskan diri di sofa kulit yang empuk dan luas, membiarkan tubuhnya tenggelam di sana. W
Langkah pintu terdengar berat ketika Ucup memutar gagang pintu rumah pemberian Arief yang mereka tempati. Suara derit kayu tua menyambut kedatangannya di tengah sunyinya malam. Wajah Ucup tampak muram, dahinya berkerut dalam memikul beban pikiran yang tak kasat mata. Langkah kakinya gontai, seolah setiap pijakan menguras seluruh tenaganya yang tersisa dari kerasnya hari itu.Belum sempat Ucup melepas lelah atau sekadar mendaratkan tubuh di pinggir ranjang, dua lengan halus tiba-tiba melingkar hangat di pinggangnya dari belakang. Aroma harum tubuh Andien menyergap indra penciumannya, menyebarkan rasa hangat yang menenangkan sekaligus menyiksa batin Ucup.Andien menyandarkan pipinya yang lembut di punggung tegap Ucup yang masih bersimbah keringat dingin."Ucup... aku kangen..." bisik Andien pelan, suaranya sarat gairah yang lama terpendam, diiringi helaan napas hangat yang menerpa leher Ucup.Ucup terpaku. Tubuhnya kaku, tak langsung membalas pelukan hangat itu. Ada kepahitan yang tiba-
Keringat dingin merembet cepat dari batas rambut Ucup, menetes melewati pelipis lalu membentur kerah kemeja kainnya yang kusam dan mulai mendingin. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Sambil berpura-pura merapikan kemeja tipisnya yang kini terasa makin mencekik dada bidangnya, otak Ucup berputar keras mencari kebohongan atau alibi baru. Namun, takdir seolah tak memberinya napas. Arief sudah lebih dulu memutar layar ponselnya dan menyodorkannya tepat beberapa senti di depan muka Ucup. "Tuh, lihat sendiri, Cup! Gimana menurutmu? Cantik banget, kan?" ujar Arief dengan cengiran lebar yang membentang dari telinga ke telinga—sebuah ekspresi percaya diri yang mendadak terlihat begitu menyebalkan di mata Ucup. Mata Ucup terpaksa menatap layar digital yang menyala terang itu. Di sana, terpampang foto profil W******p seorang wanita berambut hitam bergelombang yang sedang tersenyum anggun, menyender santai pada kap mobil Porsche merah yang mengilat. Darah Ucup serasa berhenti menga
Dering lonceng di pintu kafe kecil itu menyambut kedatangan Ucup. Pria itu melangkah masuk dengan santai, mengenakan kemeja kain lusuh yang warnanya sudah agak memudar. Namun, bahan kemeja yang tipis itu justru mencetak jelas lekuk dada bidang serta otot-otot lengannya yang kekar, hasil kerja keras yang tak bisa disembunyikan. "Hai, Ucup!" teriak Arief dari meja pojok, melambaikan tangan sambil melayangkan cengiran khasnya. Ucup menarik kursi di seberang Arief lalu menghembuskan napas lega. "Hai, Rief... Lama enggak ketemu. Dari mana aja kamu?" "Biasalah, Cup... nyari cewek," jawab Arief santai sambil menyenderkan punggung. Pandangannya menatap Ucup dari atas ke bawah sebelum tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, gimana sama tante-tante itu? Masih tahan aja kamu ya?" "Ya masihlah," sahut Ucup singkat. Arief menyipitkan mata, tatapannya mendadak penuh selidik. "Hm... kok responsmu gitu? Jangan-jangan kamu beneran naksir sama tante-tante tua itu?" Ucup tidak langsung menjawab. Ia hanya
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu
Cahaya matahari pagi menyusup lancang melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menghujam tepat ke kelopak mata Ucup. Rasa pening yang luar biasa menghantam tempurungnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa kak
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, suasana mendadak berubah menjadi sangat intim. Ucup bisa merasakan panas tubuh Hana merambat melalui telapak tangannya. Wanita di hadapannya ini bukan lagi sosok asing yang ia takuti, melainkan sebuah teka-teki indah yang ingin ia pecahkan malam ini. Han







