Share

Surya Kabur?

last update publish date: 2025-12-29 07:45:31

Beberapa saat yang lalu...

Ruangan di gudang tua itu sempit dan lembap, dengan bau besi berkarat yang bercampur debu menusuk hidung, membuat napas terasa sesak.

Shasa dan Maya terduduk di lantai, punggung mereka bersandar pada dinding dingin. Tangan keduanya terikat erat.

Tubuh Shasa gemetar hebat, isaknya tak kunjung reda.

“M-Ma…” suara Shasa pecah, bergetar penuh ketakutan. “A-apa… apa kita bakal mati di sini?”

Jantung Maya berdegup kencang. Ia m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 165

    Kedua polisi itu tidak menghentikan langkah mereka, seolah teriakan Kayra hanyalah suara latar yang tak berarti. Mereka tetap berjalan mantap dan tegas, mendorong kursi roda Amira keluar dari ruangan.“Tidak! Lepaskan aku!” jerit Amira semakin histeris. “Aku nggak salah! Aldean, dia yang menjebakku!”“BERHENTI!” Kayra berlari mengejar. “BERANI KALIAN BAWA MAMAKU?!”Namun langkah para polisi tetap tidak goyah.Klek.Pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Dalam hitungan detik, mereka semua menghilang dari sana menyisakan keheningan yang berat.Ruangan itu kini seperti kehilangan suara. Tak ada lagi teriakan, tak ada lagi tuduhan. Hanya napas yang tertahan dan tatapan yang saling menghindar.Beberapa staf yang tadi sempat merekam perlahan menurunkan ponsel mereka. Layar dimatikan satu per satu. Tak ada yang berani menyimpan rekaman terlalu lama. Semua berusaha menghindari risiko yang bisa muncul.Vita berdiri diam di tempatnya, diikuti yang lain. Tak seorang pun berani membuka suara. D

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 164

    Amira tetap diam, mulutnya seakan terkunci. “Mama, katakan! Kenapa diam aja?!” Teriakan Kayra membuat Amira terkejut. Napasnya semakin tidak teratur. Matanya bergerak cepat, mencari celah, mencari jalan keluar. Dan seperti biasa, ia memilih untuk bermain. “Kay…” suaranya melemah, rapuh. “Mama nggak nyangka, gara-gara Celine Papa kamu bisa berubah sejauh ini…” Air matanya mulai menetes, tubuhnya sedikit membungkuk di kursi roda. “Sampai-sampai dia tega menuduh Mama seperti ini. Padahal Mama korban. Mama yang disakiti, tapi…” Amira tak melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya pecah, pundaknya bergetar naik turun. Kayra segera mendekat. “Ma… tenang, aku di sini.” Ia menoleh tajam ke arah Aldean. “Pa! Cuma demi Celine Papa tega memperlakukan Mama kayak gini?! Papa keterlaluan!” Aldean tidak bereaksi. Tatapannya tetap dingin, seolah semua itu tak lagi berarti. Beberapa detik berlalu, ia memandang Amira dalam diam. Namun kali ini, diamnya berbeda—diam yang penuh rasa muak, benar-bena

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 163

    Kayra menoleh tajam ke arah Celine. Tatapannya berubah dingin dan kejam, penuh kebencian yang dalam dan membara. “Ini semua karena kamu, Cel…” suaranya rendah namun penuh tekanan. “Aku nggak akan pernah maafin kamu.” Detik berikutnya, Kayra melangkah cepat, tangannya langsung mencengkeram lengan Celine dengan kasar. “Akh—!” pekik Celine pelan. Beberapa staf terkejut. Begitu pula dengan Vita, yang membulatkan mata tak percaya. Kayra menarik Celine lebih kasar. “Berhenti pura-pura!” bentaknya tepat di depan wajah Celine. “Kamu pikir dengan diam kamu bisa lolos, hah?!” Celine tidak melawan, tidak menepis. Dia bahkan tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya tetap tenang, dan justru itu membuat Kayra semakin kehilangan kendali. “Ngaku, Celine!” teriak Kayra. “Ngaku kalau ini semua salah kamu!” Tangan satunya terangkat, siap menampar. Namun sebelum itu terjadi— “Cukup.” Satu suara rendah dan dingin memotong udara seperti pisau. Seketika, tangan Kayra terhenti di udar

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 162

    Suasana semakin memanas. Beberapa staf mulai ikut bersuara. “Iya. Kalau benar begitu… Celine harus dipenjara.” “Gila sih… nggak nyangka Celine sejahat itu.” “Berani banget dia...” Suara-suara itu berubah menjadi tekanan. Namun di tengah itu, Vita melangkah maju. “Ini tidak masuk akal.” Semua langsung menoleh ke arahnya. Vita menatap Kayra tanpa ragu. “Celine bukan orang seperti itu, Nona Kayra.” “Kamu tahu dari mana?!” bentak Kayra. “Saya sangat mengenalnya.” Suara Vita tegas. “Dan saya yakin dia tidak akan melakukan itu.” “Naif.” Satu kata dari Kayra, tajam dan meremehkan. Namun Vita tidak mundur. Ia tetap berdiri di samping Celine, satu-satunya rekan yang tidak goyah. Sementara itu, Celine tetap diam. Tidak membela diri, tidak menyangkal. Bukan karena tidak mampu, tapi karena dia tahu itu tidak akan ada gunanya. Amira terlalu licik. Kayra terlalu buta untuk melihat kebenaran. Tatapan Celine perlahan bergeser, menuju satu orang. Aldean. Pria itu masih b

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 161

    Aldean masih berdiri di tempatnya. Tatapannya yang semula tertuju pada Kayra perlahan bergeser ke arah Amira.Hening menyelimuti ruangan.Tak ada yang berani bersuara, bahkan napas pun terdengar terlalu keras di ruangan itu. Amira menyambut tatapan Aldean dengan tenang. Bibirnya tersungging tipis, seolah tidak ada yang perlu ia khawatirkan.Ia tetap yakin, tetap merasa aman. Karena menurutnya tak ada seorang pun selain dirinya dan Celine yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah waktu itu. Dan Celine juga tidak memiliki bukti apa pun.Pikiran itu membuat Amira merasa menang.Sekarang, tatapannya pada Aldean berubah lebih lembut, seolah ia adalah korban di tengah semua ini.“Mas Aldean…” ucapnya lirih, tapi terukur. Ekspresinya seolah-olah dibuat rapuh. Tanpa rasa malu, ia masih terus bersandiwara. “Aku nggak mau masalah ini jadi lebih besar.”Ia menunduk sedikit.“Tapi di sini… Celine memang bersalah. Dia yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadaku.”

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 160

    Dalam sekejap suasana berubah. Tawa mengejek terhenti. Bisik-bisik cemoohan lenyap. Beberapa staf yang tadi masih tersenyum sinis langsung membeku di tempat. Perlahan, satu per satu dari mereka menoleh ke arah pintu. Dan detik itu juga, wajah mereka berubah pucat. Aldean melangkah masuk lebih jauh. Pelan dan terukur. Tak. Tak. Tak. Suara langkahnya menggema di ruangan yang sunyi. Setiap langkah terasa menekan, seolah-olah menginjak harga diri semua orang yang tadi berani menghina Celine. Ia berhenti. Tatapannya menyapu ruangan, satu per satu, tanpa terburu-buru. Namun cukup untuk membuat semua orang menunduk, tak berani menatap balik. “T-Tuan Aldean…” Seorang staf berbisik nyaris tak terdengar. Kepalanya tertunduk hormat. Vita refleks berdiri tegak di tempatnya. Tubuhnya menegang. “Selamat siang, Tuan…” sapanya dengan sopan, namun suaranya terdengar gugup. Tak ada yang berani bergerak lagi. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Semua orang seperti tertangkap bas

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Bantu Aku Cari Tahu, Om

    Celine terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena ragu, tapi karena ada satu hal kecil yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.“Eh… Om,” panggilnya akhirnya. “Tapi sebelum itu, aku mau nanya dulu sama Om.”Aldean mengangkat alis. “Nanya apa?”Celine menatap Aldean, sorot matanya pen

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Ruang Bawah Tanah

    Pintu baja ruang kendali berdiri kokoh seperti benteng terakhir Surya. Panel digital di sisinya berkedip merah, menandakan sistem pengunci tingkat tinggi masih aktif, terhubung langsung dengan seluruh jaringan pertahanan vila. Evan berdiri paling depan, senapan tergenggam erat di tangan, rahangny

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 159

    Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 158

    Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia d

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status