Share

Bab 36

Penulis: Renita April
last update Tanggal publikasi: 2026-07-12 17:23:09

"Setelah bersamaku, apa sindrom yang kamu derita sering kambuh?" tanya Karin. Ia akan berpikir ulang tentang tawaran Dewa bila sindrom tersebut masih berada di tubuh pria itu.

"Sindrom itu bisa saja kambuh bila aku sedang berada dalam keadaan kacau." Dewa menatap Karin. "Ada hal yang perlu kuceritakan."

"Dengan senang hati aku akan mendengarkanmu."

"Kondisiku seperti ini karena ayahku menikah lagi. Ibuku tiada setelah mengetahui ayah selingkuh. Dia tidak memedulikanku, aku sendirian, dan peny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 61

    Suasana terasa canggung. Karin tidak banyak bicara, pria bertopeng ini pun sama. Keduanya saling diam, meski telah berada di kamar. Si pria tidak menyebutkan nama ataupun perintah. Karin bingung sendiri tentunya. Lebih mudah bila bersama pelanggan yang congkak, setidaknya ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Contoh saja Damian. Atau pelanggan dingin, tetapi baik hati seperti Dewa. "Tuan, saya perlu mandi. Apakah Tuan bersedia menunggu?" tanya Karin."Hmm."Memangnya apa yang diharapkan? Pria ini sepertinya memang pendiam. Karin bergegas masuk kamar mandi membersihkan diri. Lima belas menit kemudian ia keluar dengan memakai kimono. Karin langsung berbaring di tempat tidur, ia tetap memakai topengnya. Namun, pria bertopeng itu belum juga mendekat. "Tuan, saya Karin.""Hmm."Laki-laki ini tidak mungkin bisu karena tadi Karin mendengar dia bicara. Lalu kenapa sekarang malah diam saja? Mendekat juga tidak. Lalu apa maunya? Apa harus digoda? Tugasnya hanya menjual asi, bukan tubuh. "

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 60

    Pesan tersebut tidak dibalas atau diberi reaksi apa pun. Karin membiarkannya begitu saja karena sekarang ada hal yang perlu ia lakukan. Pergi ke Rumah Donor Mosa, lalu ambil keuntungan dari pelanggan kaya yang membutuhkan asi. Meski merasakan nyeri di perut serta punggung belakang, Karin tetap nekat berangkat ke sana. Ia memakai pakaian biasa seperti kemeja dan celana kain. Ya, itu lebih nyaman untuk saat ini. Karin bukannya tidak punya keinginan memakai gaun atau dress seperti wanita cantik lainnya. Saat ini belum tepat. Ia terluka karena ulah pria-pria kejam itu. Malam ini ia juga merias wajah, menyamarkan mata bengkak akibat menangisi pria tak bertanggung jawab. Karin akui telah menyia-nyiakan air mata, tetapi ia sendiri juga tidak tahu kenapa kesedihan ini terus menghampirinya. Jauh di lubuk hati, Karin belum bisa melepas Teguh. Ia butuh yang namanya waktu. Setelah siap, Karin langsung pergi menuju rumah donor. Ia belum menerima pesanan apa pun hari ini. Mungkin malam ini ak

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 59

    Uang datang dan pergi dalam sekejap. Tadi malam uang itu masih ada dan sekarang lenyap. Lalu Karin menderita luka serta rasa sakit. Karin berusaha berdiri, ia menolak dibantu ketika seorang tetangga menghampiri ingin menggotongnya. Ia berjalan terhuyung masuk rumah, lalu menutup pintu rapat. Sakit di tubuh, lebih sakit lagi hati. Mendengar ucapan dari dua rentenir itu yang mengatakan jika Teguh menyuruh mereka mengambil uang darinya. Teguh tahu ia tak lagi bekerja, lalu di mana uang itu berasal? Andai uang hasil dari kerja semalam tidak ada, apa yang bakal rentenir itu lakukan padanya? Saat ini Karin hanya bisa menangis menahan dera. Ia terbaring di lantai, menatap langit-langit rumah yang di makan jamur. Kuning kehitaman, sedangkan seseorang tengah berada di rumah bagus karena kondisinya berbadan dua. Karin bukan tidak bisa hamil, ia subur, tetapi Teguh memilih wanita lain. Ya, Karin akui ia salah lebih dulu karena tidur bersama Dewa, lalu apa pantas ia diperlakukan begini. Karin

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 58

    Malam ini, 10 juta telah di tangan. Karin membawa pulang uang tersebut tanpa perasaan apa-apa. Ia mudah mendapatkannya dengan kelebihan ini. Namun, hati yang sakit masih terasa hingga ke ubun-ubun ketika melihat Teguh telah berada dalam rumah. Karin tidak mengatakan apa pun saat ia masuk. Sudah beberapa hari ini ia tahu Teguh selingkuh, lalu fakta lainnya selingkuhannya hamil, hutang dengan rentenir. Karin terlalu lelah untuk membahasnya. "Dari mana saja kamu?" tanya Teguh. "Menghibur hati," jawab Karin sekenanya. "Kita perlu bicara, Karin. Aku dan Miranda secara tidak sengaja bertemu di tempat karaoke. Waktu itu aku mabuk, dia membawaku ke rumah dan terjadilah kejadian itu. Miranda hamil, aku harus bertanggung jawab.""Oh, dalaman merah itu miliknya?" "Aku kesepian saat kamu pergi berlibur bersama Tuan Dewa. Aku hanya pergi untuk menghibur diri. Ini sama sekali bukan keinginanku, tapi kecelakaan.""Lalu uangku?" Lagi-lagi soal itu. Teguh malas membahasnya karena ia malu telah m

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 57

    "Kenapa, Karin? Kamu tampak gelisah. Aku belum memulainya, tetapi tubuhmu malah tegang." Damian terkekeh. Tangan Karin mengepal erat. Apa mau pria ini sebenarnya? Karin tidak akan membuka topengnya. Semakin Damian penasaran, maka ia bisa membuatnya mengeluarkan uang yang banyak. "Aku baik-baik saja." Karin bersikeras. Ternyata sentuhan Damian juga membuatnya terbakar oleh gairah. Bila ini diteruskan, bisa saja ia menyerahkan dirinya. Tidak akan! Karin membuang pikiran itu. Godaan ini harus ia tahan. Damian menyadari betapa keras kepalanya Karin. Wanita ini pandai menahan diri dalam permainan. Ia tidak mudah jatuh hanya karena sentuhan maupun uang. Ini sangat menarik. Damian menyukainya. Malam ini cukup sampai di sini saja. Ia sudah haus dan saatnya menikmati hidangan utama. Tenggorokkannya bergerak seperti meneguk minuman. Karin menghela napas lega karena akhirnya pria ini menyerah juga. Bila Damian meneruskan sentuhan menggodanya, Karin pun akan senantiasa melebarkan kaki.

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 56

    Karin tertawa sembari memandang Tasya yang bersikap congkak. Sikapnya ini membuat heran Lena dan rekan lainnya. Otak Karin mungkin sudah rusak karena baru saja ditampar oleh Tasya. Dia stress, bukan marah malah tertawa. "Apa kamu baik-baik saja, Karin?" Lena mencemaskannya. "Tentu saja, aku tertawa karena merasa lucu.""Perempuan gila!" Sorot mata tajam Tasya menusuk Karin. Ada kilatan kesal karena tanggapan yang wanita itu berikan tidak sesuai dugaannya. "Nona Tasya, apakah begini sambutanmu untuk junior?" Karin kembali tertawa. Lena menggeleng. Ia yakin jika Karin memang sudah gila karena baru saja ditampar oleh Tasya. Mungkin tamparan itu mengenai sarafnya. Lena prihatin, baru saja dua hari kerja sudah menderita. "Beraninya kamu mengambil klienku." Kata-katanya bernada ancaman. Karin bertepuk tangan. "Kamu menamparku karena aku mengambil pelangganmu? Oh, ternyata senior Tasya tidak ada apa-apanya. Apa kamu takut denganku?""Astaga! Apa yang dia katakan?" sahut salah satu memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status