LOGINSetelah mendapat izin dari Wulan, Arga pun benar-benar mencoba kembali bekerja di klub malam milik Mira.Di sore menjelang malam hari tersebut, tepatnya pada pukul enam, Arga yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi, bersiap untuk berangkat ke klub. Ia berpamitan pada Wulan yang sedang melipat pakaian di atas kasur."Aku berangkat sekarang ya, biar nggak kemaleman sampai klub. Tinggal di rumah tidurnya jangan malam-malam, dan kalau ada yang ketuk pintu jangan dibukain. Satu lagi, kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau kabarin Dion, soalnya aku udah bilang ke dia kalau mulai malam ini aku bakalan kerja di klub!"Wulan yang dipamiti oleh Arga, mengangkat wajahnya dan mengangguk. Sedangkan bibirnya tersenyum kecil pada sang suami."Eum, iya. Kamu kerja aja yang tenang, aku bisa jaga diri kok!" kata Wulan dengan suaranya yang terdengar santai dan tenang."Aku bawa kunci cadangan biar nggak bangunin kamu. Jadi tidur aja yang nyenyak," lanjut Arga dan kembali direspons anggukan
"Rencananya aku mau balik lagi kerja di klub, gimana menurut kamu?!"Wulan yang melerai pelukannya, mendongak dan menatap wajah Arga yang terlihat begitu serius saat berbicara.Wanita itu menggigit bibir. Sedangkan matanya yang menatap sendu sang suami tanpa berkedip."Tanpa kartu identitas, aku susah cari kerjaan, Sayang. Mentok kerja kuli panggul di pasar kayak Dion. Jadi buat sekarang ini, cuma kerja di klub aku bisa dapat duit yang gajinya besar. Itu pun bisa tanpa kartu identitas karena sebelumnya aku udah pernah masuk ke sana. Kalau belum pernah, mana mungkin bisa!" kata Arga menjelaskan. Suaranya santai, terdengar tenang dan serius. Mendengar perkataan sang suami, Wulan semakin erat menggigit bibirnya. Keningnya berkerut, membuat alisnya bertaut. Sedangkan matanya yang menyipit masih saja menatap Arga tanpa berkedip."Kamu mau balik kerja ke klub, padahal kan Bos ka—""Aku tahu dia berani ngelakuin hal yang nggak pantas kayak gitu karena pengaruh temennya, Sayang. Dia juga uda
"Kalau kamu nggak percaya dan ngerasa udah aku khianatin, atau bahkan jijik sama aku, aku pasrah. Aku bakal pergi dari sini sekarang, dan bakalan urus perceraian kita secepatnya." Arga berbicara pelan sembari melepaskan tangannya yang sejak tadi menarik-narik kain yang melilit tubuh polos istrinya. Nada bicara pemuda itu terdengar pasrah. Bahkan air mukanya terlihat sedih. Ia lalu menghela napas pelan dan kembali menundukkan kepalanya. Keadaan di dalam kamar tersebut menjadi hening. Wulan yang masih saja membuang muka, sama sekali tak memberikan reaksi apapun. Ia tetap diam di posisinya tanpa bergerak sedikitpun. Setelah beberapa saat diam, Arga beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Wulan. Lalu hendak melangkah pergi.Melihat pergerakan Arga, Wulan segera menoleh dan menatap sang suami. "Jangan pergi, Ga!" katanya, masih dengan wajah memerah. Sedangkan nada suaranya terdengar gemetar. Namun, Arga sama sekali tak mengindahkan perkataan Wulan. Arga tetap keluar dari kamar t
"Aku pernah coli sama cewek lain waktu itu.""Apa?!"Kalimat pengakuan yang keluar dari mulut Arga membuat mata Wulan spontan membelalak lebar. Saking lebarnya seolah mau keluar dari tempatnya berada dan melompat ke wajah Arga. Dadanya seketika bergemuruh hebat, dan hatinya terasa nyeri.Wajah wanita itu memerah. Jelas jika ia benar-benar kaget mendengar perkataan sang suami. Sedangkan Arga sendiri, kini hanya bisa meringis dan menundukkan kepalanya.Pemuda itu takut pada Wulan yang menatapnya dengan mata melotot. Bahkan, ia meremas ujung baju kaus yang dipakainya dengan amat erat."Kamu coli sama cewek lain? Kamu selingkuhin aku, Ga?" tanya Wulan. Ia yang semula memekik, kini merendahkan nada bicaranya. Tetapi matanya masih saja melotot menatap Arga tanpa berkedip.Dikatakan selingkuh, Arga menggelengkan kepalanya pelan. Menyangkal kalimat sang istri."Kalau nggak selingkuh, terus apa? Jangan-jangan, uang yang kamu kasih ke aku selama ini kamu dapet dari jual diri? Iya?!"Gluk!Arga
"Hoam... kejadian waktu itu apa, Ga?" Degh! Arga yang mendongak, terkejut bukan main mendengar suara Wulan yang berasal dari belakangnya. Matanya yang terpejam seketika terbuka dan melotot. Bahkan, dadanya kini berdegup dengan kencang. Pikirnya, sejak kapan Wulan bangun? Dan apakah wanita itu mendengar obrolannya dan Mira? Dengan gugup, Arga menoleh dan menatap Wulan yang sedang melangkah pelan ke arahnya. Ia meneguk ludah bersusah payah, sedangkan wajahnya memerah. "Sa-sa-sayang, kamu kok bangun lagi?" tanya Arga tergagap tanpa menjawab pertanyaan sang istri lebih dulu. Wulan membuka mulutnya lebar-lebar, lalu melanjutkan langkah menuju rak dan mengambil sebuah gelas. Selanjutnya, ia mendekati Arga dan meraih teko air di atas meja. "Aku tiba-tiba ngerasa haus, jadi kebangun. Niatnya mau minta ambilin air minum, tapi kamu nggak ada di kamar," kata Wulan. Suaranya terdengar serak, sedangkan matanya terlihat begitu mengantuk. Mendengar jawaban sang istri, Arga angguk-angg
"Astaga, dia malah telepon balik. Aku harus bilang apa ke dia sekarang?"Arga bergumam sembari menatap layar ponselnya yang menyala dan bergetar di pinggiran kasur. Ia bingung harus beralasan apa pada Mira saat ditanya. Di pinggiran kasur, Arga pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Pemuda itu pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan sebelum akhirnya menyambar ponselnya, lalu segera beranjak keluar dari kamar tersebut, meninggalkan sang istri yang sudah tertidur lelap.Arga berjalan keluar kamar sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar yang terbuka. Lalu, melangkah menuju dapur dan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi.Sebelum mengangkat panggilan dari Mira, Arga kembali menarik napas dalam-dalam dan kali ini mengembuskannya dengan kasar melalui hidung."Huft... nggak ada pilihan lain, aku harus buang harga diriku jauh-jauh demi Mbak Wulan," kata Arga sembari menggeser tombol gagang panggilan berwarna hijau di layar ponselnya.Begitu panggilan tersebut diang







