Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 236. Ajari Aku, Mbak!

Share

236. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-10-31 21:49:03

"Ga, lihat deh. Itu kok kayak...."

Arga yang sedang mengunyah satenya menoleh dan menatap ke mana arah tunjuk sang istri.

Saat melihat orang yang ditunjuk oleh Wulan, Arga justru melongo dan menatap cengo.

"Anaknya Bu Nur, kan, itu? Yang nomor dua?" tanya Wulan dengan pelan, tetapi tak ditanggapi oleh Arga. "Iya, kan?" lanjut Wulan.

Tak mendapatkan tanggapan dan respons dari Arga, Wulan pun menoleh, menatap wajah cengo suaminya itu.

Bibirnya seketika tercebik saat melihat ekspresi wajah sang su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   236. Ajari Aku, Mbak!

    "Ga, lihat deh. Itu kok kayak...."Arga yang sedang mengunyah satenya menoleh dan menatap ke mana arah tunjuk sang istri.Saat melihat orang yang ditunjuk oleh Wulan, Arga justru melongo dan menatap cengo."Anaknya Bu Nur, kan, itu? Yang nomor dua?" tanya Wulan dengan pelan, tetapi tak ditanggapi oleh Arga. "Iya, kan?" lanjut Wulan.Tak mendapatkan tanggapan dan respons dari Arga, Wulan pun menoleh, menatap wajah cengo suaminya itu.Bibirnya seketika tercebik saat melihat ekspresi wajah sang suami yang cengo. Benar-benar seperti orang bodoh."Sayang, kamu denger aku nggak sih? Aku ngomong lho sama kamu!" kata Wulan sambil menepuk pelan pipi tirus Arga."Aku denger, Sayang. Tapi mataku lagi lihatin anak Bu Nur nangis-nangis tuh!" timpal Arga, menunjuk dua orang remaja yang sedang terlibat cekcok menggunakan moncong bibirnya.Mendengar perkataan Arga yang mengatakan jika salah satu dari remaja itu memang benar-benar anak Bu Nur, Wulan pun angguk-angguk kepala."Berarti beneran anaknya B

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   235. Ajari Aku, Mbak!

    "Sekali lagi ngomong buruk ataupun nyindir-nyindir Wulan, saya pastikan kalau hidup Bu Nur dan keluarga nggak akan pernah tenang!"Degh!Mendengar ancaman Arga yang tidak main-main, terkesiap Bu Nur dibuatnya. Bahkan, wanita jelek bertubuh subur itu langsung berbalik dan memasuki kontrakannya.Wajah Arga yang memerah dan mata melotot tajam benar-benar menakutkan untuk dilihat.Setelah Bu Nur memasuki rumah, Arga menoleh dan menatap Wulan yang tertunduk di sampingnya. Ia lalu meraih jemari sang istri dan menggenggamnya dengan amat erat, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan."Omongan perempuan itu nggak usah didengerin, Sayang. Kamu kan tahu sendiri kalau mulutnya emang busuk," kata Arga. Suaranya pelan dan terdengar menenangkan hati Wulan.Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arga, Wulan pun mengangkat wajah dan memaksakan senyumannya. Kepalanya lalu mengangguk pelan."Aku nggak masalah kok denger omongan Bu Nur, aku cuma takut kamu terpengaruh dan pergi ninggalin aku," kata

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   234. Ajari Aku, Mbak!

    Di rumah mewah berlantai dua milik Amelia, tampak ia yang menghabiskan waktu semalaman berhubungan seks dengan ketiga pengawalnya, baru membuka mata saat matahari mulai meninggi.Digangbang semalaman oleh tiga orang pria, membuat tubuh janda seksi itu terasa remuk redam dan energinya terkuras habis.Jika bukan buatan Tuhan, mungkin tubuh Amelia benar-benar remuk dan liang vaginanya sudah robek lantaran digilir oleh para pengawalnya."Ssttt... aww, perihnya."Amelia yang membuka mata, mendesis kala beringsut dari posisinya yang meringkuk di atas sofa.Vaginanya terasa begitu perih, dan mungkin saja lecet karena diobok-obok Gatot dan kedua temannya. Bahkan, kulit tubuhnya yang mengalami merah kebiruan seperti lebam juga terasa sakit."Ugh... sialan. Ke mana Gatot, Rusdi, dan Wanto? Enak banget mereka, setelah puas ngewe malah pergi gitu aja," gerutu Amelia sembari turun dari atas sofa dengan gerakan yang amat perlahan.Wanita itu memungut dress dan pakaian dalamnya yang berserak di lant

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   233. Ajari Aku, Mbak!

    "Kita telepon Mbak Mira sekarang, gimana?"Wulan menanggapi perkataan pelan bernada serius yang keluar dari bibir Arga dengan gelengan kepala. Sementara itu, tangannya meraih gelas berisi air dan meneguk isinya sedikit."Nggak mau telepon?" tanya Arga dan diangguki kepala oleh Wulan. "Nanti ngira aku bohong lagi?" lanjutnya seraya menatap wajah sang istri dengan tatapan yang dalam dan tanpa berkedip."Nggak, aku nggak mau telepon dan aku percaya sama kamu. Aku tanya kayak gitu karena aku sayang sama kamu, aku peduli dan aku nggak mau kamu terjerumus, salah jalan kayak orang-orang di luaran sana karena uang, Ga. Aku sayang kamu...."Bibir Arga tersenyum kecil. Tangannya mendorong piring yang ada di hadapannya, lalu merengkuh tubuh Wulan dan membawa kepala sang istri ke dalam dekapannya."Nggak akan, Sayang. Selagi kamu ada di sampingku, aku nggak akan salah jalan dan ngelakuin hal-hal buruk di luaran sana. Kamu rumahku, satu-satunya perempuan yang aku punya dan cinta," ucap Arga. Suara

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   232. "Ajari Aku Mbak!

    "Nggak bohong? Beneran bajunya basah kena minuman? Terus, sekarang bajunya mana?"Degh!Saat ditanya ke mana bajunya, jantung Arga seolah berhenti berdetak. Pemuda itu baru ingat jika bajunya sengaja ditinggalkan di ruangan Mira atas permintaan wanita tersebut.Wajahnya yang pucat kini menjadi semakin pucat. Reaksi gugupnya terlihat jelas di mata Wulan.Begitulah ekspresi dan reaksi pemuda itu setiap kali dimarahi oleh sang istri."Bajunya mana?" tanya Wulan lagi. Tetapi kali ini jauh lebih singkat dan to the point.Arga memajukan bibir bawahnya, memasang wajah paling melas sedunia agar Wulan tidak menekannya untuk berbicara."Tolong jangan marah dan melotot kayak gini, aku gugup. Mulutku rasanya kaku, susah buat jawab omongan kamu," kata Arga. Suaranya pelan, sedangkan matanya menatap takut pada Wulan yang menatap penuh selidik.Mendengar perkataan pelan yang keluar dari mulut Arga, Wulan pun menghela napas panjang. Tangannya melepaskan baju sang suami yang dicengkeramnya.Wanita itu

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   231. Ajari Aku, Mbak!

    Mira yang masih berada di dalam kamarnya, tampak begitu betah berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Tangannya menggenggam erat baju kaus Arga yang kotor dan basah akibat semprotan squirting-nya subuh tadi.Bibir wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia merasa sangat puas dengan permainan yang diciptakan oleh Arga."Aku beneran nggak nyangka Arga sehebat itu. Sayangnya aku nggak diizinin buat mainin penisnya dan bantuin dia sampe crot. Kalau diizinin aku bisa ngerasain gimana rasanya punya dia," kata Mira dengan bibir tersenyum.Mira lalu memejamkan mata, lalu mencium baju kaus Arga yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangannya."Walaupun nggak diizinin, dan Arga sendiri bilang kalau dia bantuin aku buat yang pertama dan juga terakhir kali, yang penting aku udah pernah ngerasain gimana nikmatnya dibikin banjir sama dia," lanjut Mira.Tak seperti Amelia, Mira jauh lebih sadar diri. Meskipun sangat ingin memiliki Arga, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status