LOGINArga yang sudah selesai melakukan oral seks bersama Wulan, keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan membuat secangkir teh sendiri sebelum menemui Mira yang duduk di teras sendirian."Sekalian donatnya dibawa, Ga. Atau, ajak Mbak Mira makan sekalian, barangkali dia mau," kata Wulan yang keluar dari kamar dengan handuk melilit tubuh telanjangnya.Mendengar suara Wulan, Arga yang berdiri di depan lemari makan dengan cangkir dan sendok di tangannya itu pun menoleh."Nanti aja makannya, nunggu kamu selesai mandi. Aku nggak mau makan bareng orang lain tanpa kamu," timpal Arga dengan wajah dan ujung rambutnya yang basah.Bibir Wulan tersenyum kecil. Lalu melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi, meninggalkan suaminya seorang diri.Sedangkan Arga sendiri, segera membuat tehnya dan keluar dari dapur. Di tangannya membawa cangkir teh dan juga sepiring donat yang sudah disiapkan sang istri sejak pagi buta.Di teras rumah itu, Mira duduk di kursi sambil memperhatikan
"Mana mungkin aku nggak puas, Sayang. Aku cuma lagi nikmatin permainan kamu sambil mikir, apa aku bisa nikmatin semuanya selama yang aku mau dan pingin? Kamu nggak akan pernah ninggalin aku, 'kan? Selamanya kamu bakalan sama aku, nemenin aku?"Wulan terdiam. Matanya menatap wajah serius Arga dengan tatapan dalam yang sulit diartikan. Lalu ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.Selanjutnya....Plak!"Apaan sih, kok ngomong kayak gitu, ngerusak suasana aja!"Tangan Wulan refleks memukul paha Arga. Ia tak senang mendengar kalimat yang dilontarkan sang suami. Sok serius, tidak sedap didengar dan merusak suasana panas mereka yang menggairahkan.Dipukul pahanya oleh Wulan, Arga seketika melongo. Bukannya terharu, istrinya itu justru memukulnya dan marah-marah. Responsnya benar-benar di luar ekspektasi."Malah dipukul," kata Arga pelan sambil mengusap-usap pahanya yang memerah lantaran ditepuk telapak tangan Wulan."Nggak asyik, bikin mood orang jadi jelek!" timpal Wulan
Kurang lebih lima belas menit Arga menggumul tubuh Wulan, memainkan apem tembemnya dan juga menghisap payudara besarnya, akhirnya wanita itu pun mencapai puncak klimaks. Wulan yang tak tahan dan dibuat terlena oleh permainan Arga, bukan hanya orgasme biasa, tetapi juga mengalami squirting hingga tubuhnya benar-benar melemas. "Gimana, Sayang. Apa rasanya masih lemes?" Arga yang duduk di samping Wulan, berbicara pelan seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Kepala Wulan mengangguk pelan. Sedangkan giginya menggigit ujung kuku jempolnya sendiri. "Aku haus, Sayang," ucap Wulan. Suaranya terdengar lemas dan pelan, sedangkan deru napasnya masih memburu. Payudaranya ikut naik turun dengan cepat, mengikuti gerak dadanya yang kempang-kempis. Cepat-cepat Arga meraih botol air mineral yang berada di pinggiran kasur, tepatnya di dekat kipas aing. Lalu membuka tutupnya dan memberikannya pada Wulan. "Minum dulu, Sayang. Pelan-pelan aja," kata Arga seraya merengkuh tubuh sa
Setelah Arga memasuki kamar dan kembali menghampiri Wulan, Mira yang merasa lemas sehabis orgasme itu pun beringsut dan kembali duduk di karpet. Wanita itu lalu membuka celana dalamnya yang terasa tidak nyaman dan lengket akibat cairan orgasmenya sendiri. Ia mengusap area vaginanya yang basah menggunakan tisu di dalam tasnya hingga kering. "Ngehh... sikap Arga makin lama makin baik. Pokoknya aku nggak boleh bikin dia kecewa. Aku bakalan naikin gajinya di klub sebelum nyerahin klub itu buat dikelola langsung ama dia," ucap Mira dengan lirih. Bibirnya tersenyum kecil, sedangkan tangannya melipat segitiga berwarna kremnya yang lembap. Setelah melipat benda itu, Mira pun menyimpannya ke dalam tas agar tidak dilihat oleh Wulan. Dan sekarang, ia yang duduk di karpet dengan kedua paha merapat itu pun tidak memakai dalaman. Menunggu Wulan dan Arga selesai bercinta dan berhubungan seks, wanita itu memutuskan untuk keluar dari kontrakan tersebut. Ia bermain ponsel di teras sambil mempe
"Butuh bantuan nggak? Hmm!" Arga yang memajukan tubuhnya dan memepet Mira yang bersandar pada tembok, berbisik pelan di telinganya. Degh! Bisikan pelan Arga, sukses membuat jantung Mira berdetak secara brutal. Wajahnya yang merah menjadi semakin merah. Bahkan tarikan napasnya terasa begitu berat. "Ga, jangan mainin aku," balas Mira seraya memejamkan mata. Ia menikmati embusan napas Arga yang terasa begitu hangat menyapu kulit leher dan daun telinganya. Sebelah tangannya yang berada di balik celana dalam cream berenda yang dipakainya perlahan melemas. Ia menarik pelan jarinya keluar dari liang sempitnya yang basah dan becek, lalu menyentuh pinggang Arga dan meremasnya agak kuat. Sementara itu, tangan Arga juga bergerak, menyentuh dan memegang pinggul Mira yang jauh lebih besar dari milik istrinya yang ramping. Lalu, ia mengangkat dress wanita itu agak tinggi hingga naik ke perut. Dan, perlahan menyentuh bagian atas vaginanya. "Pakai dua jari mana bikin puas dan sesek, Mbak. Tiga
"Akhh... Argantara! Please, jangan hajar di sana, aku nggak kuat!"Jerit kenikmatan yang keluar dari mulut Wulan membuat kedua lutut Mira melemas. Ia yang berdiri di balik pintu menyandarkan punggungnya pada tembok.Deru napas wanita itu memburu, membuat payudaranya yang besar brutal ikut naik turun.Mira menggigit ujung bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memerah seperti udang rebus, sedangkan tangannya mencengkeram dan meremas bagian bawah perutnya dengan kencang."Aduh, ngeuh... gila, permainan Arga bisa bikin istrinya teriak lepas kayak gitu," gumam Mira.Merasa tak tahan, wanita itu mengangkat rok yang dipakainya. Ia lalu menelusupkan tangan kirinya ke balik celana dalam berwarna cream berendanya.Vaginanya kini terasa basah dan lembap hanya dengan mendengar suara desahan Wulan dan juga erangan Arga.Perlahan, Mira yang bersandar pada tembok biru mengusap-usap bagian atas vaginanya. Lalu menjepit klitorisnya sendiri menggunakan dua jari."Ugh, ngeh... terus, Ga. Enak banget rasany







