เข้าสู่ระบบ"Nggak bohong? Beneran bajunya basah kena minuman? Terus, sekarang bajunya mana?"Degh!Saat ditanya ke mana bajunya, jantung Arga seolah berhenti berdetak. Pemuda itu baru ingat jika bajunya sengaja ditinggalkan di ruangan Mira atas permintaan wanita tersebut.Wajahnya yang pucat kini menjadi semakin pucat. Reaksi gugupnya terlihat jelas di mata Wulan.Begitulah ekspresi dan reaksi pemuda itu setiap kali dimarahi oleh sang istri."Bajunya mana?" tanya Wulan lagi. Tetapi kali ini jauh lebih singkat dan to the point.Arga memajukan bibir bawahnya, memasang wajah paling melas sedunia agar Wulan tidak menekannya untuk berbicara."Tolong jangan marah dan melotot kayak gini, aku gugup. Mulutku rasanya kaku, susah buat jawab omongan kamu," kata Arga. Suaranya pelan, sedangkan matanya menatap takut pada Wulan yang menatap penuh selidik.Mendengar perkataan pelan yang keluar dari mulut Arga, Wulan pun menghela napas panjang. Tangannya melepaskan baju sang suami yang dicengkeramnya.Wanita itu
Mira yang masih berada di dalam kamarnya, tampak begitu betah berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Tangannya menggenggam erat baju kaus Arga yang kotor dan basah akibat semprotan squirting-nya subuh tadi.Bibir wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia merasa sangat puas dengan permainan yang diciptakan oleh Arga."Aku beneran nggak nyangka Arga sehebat itu. Sayangnya aku nggak diizinin buat mainin penisnya dan bantuin dia sampe crot. Kalau diizinin aku bisa ngerasain gimana rasanya punya dia," kata Mira dengan bibir tersenyum.Mira lalu memejamkan mata, lalu mencium baju kaus Arga yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangannya."Walaupun nggak diizinin, dan Arga sendiri bilang kalau dia bantuin aku buat yang pertama dan juga terakhir kali, yang penting aku udah pernah ngerasain gimana nikmatnya dibikin banjir sama dia," lanjut Mira.Tak seperti Amelia, Mira jauh lebih sadar diri. Meskipun sangat ingin memiliki Arga, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak."
"Astaga, dari mana Arga dapet uang sebanyak ini? Jangan-jangan dia jual diri sama tante-tante yang dia bilang tadi?"Wulan bergumam sambil menatap uang di dalam Arga dengan mata melotot lebar tanpa berkedip. Lalu, ia menoleh, menatap sang suami yang tengkurap di atas kasur tanpa melepaskan sepatunya.Wanita itu membuka mulut dan hendak berbicara, namun dengkuran halus Arga membuatnya mengurungkan niat. Ia membiarkan suaminya yang mengantuk berat dan kelelahan itu terlelap di pagi hari itu.Melihat Arga yang terlelap begitu saja, Wulan menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Ia menutup kembali tas sang suami lalu menggantungnya di gantungan baju."Dari dulu sampai sekarang, nggak berubah sama sekali. Mudah banget molor," gumam Wulan.Setelah menggantung tas tersebut, Wulan mendekati Arga dan membuka sepatu yang melekat di kakinya secara perlahan.Banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya. Hatinya merasa curiga dan penasaran, tetapi wanita itu memilih untuk menahannya.Na
Setelah setengah jam mengobok-obok liang kenikmatan Mira, Arga pun akhirnya keluar dari klub Happy Fun tersebut. Tentunya, ia keluar dengan tubuh yang sudah bersih dari cairan squirting Mira yang membasahi bagian depan bajunya.Kini, pemuda itu memakai baju kaos oblong milik salah satu gigolo yang bekerja di klub tersebut, dilapisi dengan hoodienya. Sedangkan bajunya sendiri tinggal di ruangan Mira dan akan dibawa pulang oleh wanita itu ke apartemennya untuk dicuci.Dengan langkahnya yang santai, Arga berjalan menuju parkiran. Tak lupa, menggendong tas ranselnya yang berisi uang tip hasil kerja semalaman."Moga aja Mbak Wulan belum bangun," kata Arga. Lalu setelahnya membuka mulut lebar-lebar. "Hoam...."Arga lalu menaiki motornya dan melajukan motor tersebut meninggalkan klub Happy Fun dengan kecepatan yang cukup tinggi, menembus jalanan kota di pagi buta yang masih begitu sepi pengendara.Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih setengah jam, motor yang dikendarai
"Maaf, Ga. Aku kelepasan, nggak tahan lihat bibirmu yang menggoda banget."Mira yang memagut bibir Arga tanpa izin itu pun meminta maaf. Ia benar-benar tidak tahan untuk tidak menjamah dan menyerang Arga yang begitu menggoda di matanya.Suara wanita itu pelan, tertahan, dan terdengar bergetar. Jelas jika ia sedang berusaha mati-matian menahan hasratnya menggebu dan mengontrol tubuhnya.Bukannya marah, Arga justru menarik tengkuk Mira dengan kasar dan membalas pagutan wanita itu dengan pagutan yang beringas.Slurp!Cup!"Ngeh...." Lenguhan tertahan itu keluar dari sela-sela bibir Mira yang dibungkam oleh Arga. Sementara itu, tangannya menelusup ke baju kaus Arga dan meraba-raba punggung lebarnya menggunakan kedua telapak tangannya yang begitu mulus.Aroma alkohol dari mulut Mira beradu dengan rasa manis candu rokok di bibir Arga. Keduanya saling pagut, saling mengecap, dan saling mengeksplor satu sama lain.Deru napas Arga dan Mira yang memburu beradu dengan suara lenguhan tertahan. Me
"Aduh, Ga. Jangan digigit pentilku!" Mira yang duduk di hadapan Arga dengan posisi paha terbuka dan kepala mendongak, dibuat terkesiap oleh gigitan pemuda itu pada salah satu puting susunya. Ia memekik, tubuhnya seketika menegang dan kedua pahanya menjepit tangan Arga yang meraba-raba bagian atas vaginanya dengan jepitan yang kuat. Sesaat, wanita pemilik payudara besar brutal itu menahan napas. Berusaha mengurangi rasa terkejutnya akibat terkaman Arga yang begitu tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Merasa cukup tenang, Mira pun menyentuh dan mencengkeram lengan Arga yang lumayan kekar. "Ngeh... Ga. Katanya tadi cuma mau bantuin aku orgasme pakai tangan, kenapa sekarang bibir dan lidahmu ikutan main? Ahh...." kata Mira dengan suara tertahan dan napas tersengal. Arga yang penasaran dengan puting payudara Mira yang berukuran super itu, seolah tak mendengar saat diajak berbicara. Mulutnya mengulum puting Mira dan menghisapnya dengan hisapan yang lumayan keras. Hingga membuat bos pemilik klu







