Masuk
Arkan menyugar rambutnya yang basah, menatap pantulan dirinya di cermin ruang ganti. Di luar sana, ribuan penggemar masih meneriakkan namanya setelah konser tunggal yang sukses besar. Namun, di dalam ruangan itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan saat ia melihat notifikasi di ponselnya.
“Pulang jam berapa? Aku sudah masak makanan kesukaanmu untuk merayakan anniversary kita yang kedua.” – Maya. Arkan hanya menghela napas, tidak membalas pesan itu. Ia justru beralih mengunggah foto selfie mesranya dengan Clara, penyanyi duetnya malam itu, dengan takarir yang memancing gosip para fans. Setahun Berlalu dalam Bayang-bayang Malam itu, Arkan pulang saat jarum jam menunjuk angka dua pagi. Maya masih setia menunggu di meja makan, meski lilin-lilin sudah meleleh habis. “Arkan, kamu bilang bakal usahain pulang sebelum jam sepuluh,” suara Maya parau. Arkan meletakkan kunci mobilnya dengan kasar. “Konsernya pecah, May. Aku harus ikut after-party sama label dan sponsor. Kamu tahu sendiri, karirku lagi di puncaknya. Aku nggak bisa main pergi gitu aja.” Maya menatap suaminya lekat. “Sampai kapan kita harus sembunyi? Kontrakmu bilang kamu dilarang pacaran, tapi kita ini sudah menikah, Arkan. Aku istrimu, bukan asisten pribadimu yang cuma bisa kamu panggil saat kamu butuh sandaran.” Arkan mendekat, memeluk Maya dari belakang dan membisikkan kata-kata manis yang selama ini selalu menjadi obat penawar. “Sabar ya, Sayang. Satu tahun lagi. Setelah kontrak ini selesai, aku akan bawa kamu ke atas panggung dan bilang ke dunia kalau kamu adalah milikku. Aku lakuin ini demi masa depan kita.” Retakan yang Semakin Lebar Tiga bulan kemudian, sebuah video viral menunjukkan Arkan dan Clara sedang makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Mereka tampak berpegangan tangan dengan mesra. “Itu strategi marketing, Maya! Kamu nggak paham dunia hiburan!” bentak Arkan saat mereka bertengkar hebat di ruang tengah. “Strategi marketing sampai harus ciuman di depan kamera? Kamu pikir aku buta?” balas Maya dengan air mata yang mulai mengalir. “Kamu selalu bilang aku nggak paham, tapi yang aku tahu adalah suamiku lebih banyak menghabiskan waktu dengan wanita lain daripada denganku!” “Aku kerja buat kita!” suara Arkan meninggi, memenuhi setiap sudut ruangan. “Kalau aku nggak bangun chemistry sama Clara, album kita nggak bakal laku. Kamu mau kita jatuh miskin lagi kayak dulu? Aku sudah kasih kamu apartemen mewah, mobil, perhiasan. Apa itu belum cukup?” Maya tersenyum kecut di sela tangisnya. “Aku nggak butuh semua ini kalau harganya adalah harga diriku sebagai istri. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.” Titik Terakhir Suatu sore, Arkan pulang dengan wajah yang sangat dingin. Tidak ada lagi pelukan hangat atau kecupan di kening. Ia hanya meletakkan sebuah map cokelat di atas meja. Maya membukanya. Tangannya gemetar saat membaca baris pertama: Surat Gugatan Cerai. “Apa-apaan ini, Arkan?” “Aku sudah lelah, May. Kita bertengkar setiap hari. Kamu terlalu menuntut, sementara aku butuh fokus total untuk tur duniaku bulan depan,” ucap Arkan tanpa menatap mata Maya. “Agensiku bilang, citra 'single' lebih menguntungkan. Dan jujur, aku merasa lebih bebas tanpa harus merasa bersalah setiap kali aku pulang terlambat.” Maya merasa dunianya runtuh. “Kamu... kamu mau buang aku demi popularitas?” “Bukan cuma itu. Kita sudah nggak sejalan. Kamu nggak bisa jadi pendamping aktor dan penyanyi besar. Kamu butuh orang biasa, bukan aku,” lanjut Arkan tajam. Maya bersimpuh di kaki Arkan, harga dirinya sudah hilang entah ke mana. “Tolong, Arkan... jangan. Aku janji nggak akan komplain lagi. Aku akan diam di rumah, aku nggak akan tanya kamu di mana. Tolong jangan cerai...” Arkan berlutut, memegang bahu Maya agar wanita itu berdiri. Ia menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sisa cinta, namun lebih banyak ego di sana. “Maafkan aku, Maya. Aku mencintaimu, dulu dan mungkin sampai sekarang. Tapi aku lebih mencintai mimpiku,” bisik Arkan serak. Ia mengecup bibir Maya untuk terakhir kalinya, sebuah ciuman yang terasa sangat pahit. “Apartemen ini dan tabungan atas namamu sudah aku siapkan. Kamu nggak akan kekurangan materi,” ucap Arkan sebelum berbalik pergi membawa kopernya, meninggalkan Maya yang meraung dalam kehampaan, menyadari bahwa di panggung kehidupan Arkan, ia hanyalah sebuah peran figuran yang sudah selesai masanya.Pertemuan di Ambang Takdir Libur semester akhirnya tiba, membawa janji yang ditepati. Sebagai hadiah atas prestasi gemilangnya, Maya membawa putranya, Arkan kecil, menuju kota besar. Di dalam gerbong kereta yang melaju, bocah itu tak henti-hentinya bertanya tentang hotel, kolam renang, dan kemegahan kota. Maya hanya terkekeh, mencubit gemas hidung putranya, meski di dalam hati ada debar kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Setelah tiga jam perjalanan, mereka tiba di Stasiun Angsana Raya. Maya tertegun sejenak; stasiun ini telah banyak berubah. Delapan tahun lalu, ia meninggalkan tempat ini dengan air mata dan luka yang menganga, duduk di bangku kayu yang kini telah berganti kursi besi modern. Ia tersentak saat tangan kecil Arkan menggoyang lengannya, membawanya kembali ke realita. Karena lapar, mereka singgah di sebuah warung sederhana dekat terminal. Di sana, seorang gadis penjual es teh tampak histeris menatap layar ponselnya. Gadis itu berteriak kegirangan menonton adegan r
Prestasi dan Perayaan yang Berbeda Dunia “Dan... peringkat pertama diraih oleh... Rafandra Arelio!” Tepuk tangan meriah membahana di aula sekolah. Hari itu adalah momen istimewa—acara kenaikan kelas sekaligus perpisahan siswa kelas enam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bocah yang akrab disapa Rafa itu kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih gelar juara umum. Maya, ibunya, berjalan menuju panggung dengan perasaan haru yang membuncah. Di atas panggung, ia tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Rafa memamerkan medali emasnya dengan bangga. “Mama, Rafa peringkat satu lagi!” seru bocah itu kegirangan saat mereka turun dari panggung. “Anak Mama memang hebat,” puji Maya sambil mengelus rambut putranya. “Mama janji, ya, bawa Rafa ke kota,” tagih Rafa dengan mata berbinar. Maya terkekeh pelan, mengiyakan janji yang sudah ia ucapkan berulang kali. Namun, di tengah kebahagiaan itu, telinga Maya menangkap bisik-bisik dari barisan belakang. Para orang tua murid sedang membicarakanny
Bayang-Bayang di Balik Layar Gedung Eunoia Entertainment dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan klarifikasi. Di tengah kilatan lampu kamera, Arabella Jolie, aktris cantik berusia dua puluh tujuh tahun, baru saja turun dari mobil mewah. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kedekatannya dengan Rendra—terutama foto kencan yang viral belakangan ini—terus dilemparkan padanya. "Ka, apa benar pria itu Narendra? Apa kalian HTS atau sudah tunangan?" seru salah satu wartawan. Arabella hanya tersenyum tipis, menutupi rasa lelahnya dengan ketenangan profesional. "Maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Silakan tanyakan langsung pada aktor yang bersangkutan," ucapnya tegas sebelum melangkah masuk ke dalam gedung di bawah pengawalan ketat bodyguard. Di ruang pribadinya, Arabella menghela napas panjang. Mira, sang manajer, segera mengingatkannya tentang jadwal syuting sore ini untuk film The Winter Love. Arabella hanya mengangguk; ia tahu emosinya harus tetap terjaga karena adegan yang akan d
Layar televisi di ruang tamu menampilkan berita hiburan yang sedang memanas. Sosok aktris papan atas, Arabella Jolie, dikabarkan tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran mewah dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker dan kacamata hitam. Spekulasi liar bermunculan, menyebutkan bahwa pria itu adalah Narendra Arvanka, aktor berbakat sekaligus lawan main Arabella yang tengah naik daun. Namun, hingga detik ini, agensi Eunoia Entertainment masih memilih untuk bungkam. Arkan, yang pagi itu terpaksa absen sekolah karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total, bersandar lesu di sofa. Ia menatap layar dengan bosan sebelum akhirnya mematikan televisi tersebut. Baginya, gosip orang dewasa tidak ada apa-apanya dibandingkan petualangan di film kartun. Di rumah yang sunyi itu, ia hanya ditemani neneknya yang sedang terlelap di kamar, sementara Maya pergi mengantar pesanan dagangan ke desa tetangga. Arkan menatap keluar jendela, membayangkan kehidupan di balik gedung-gedung
Delapan tahun telah berlalu, namun keriuhan di lapangan sekolah itu masih terasa sama bagi anak-anak kecil yang sedang mengejar bola. Di antara debu yang beterbangan, terdengar teriakan semangat yang saling bersahutan. “Ayo! Oper bolanya ke sini!” “Ian! Kasih ke aku!” “Arkan! Tendang sini!” Bugh! Suara benturan keras terdengar, disusul jeritan kesakitan. Arkan, bocah laki-laki berambut crew cut, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tendangannya yang terlalu bertenaga meleset dari sasaran dan justru menghantam telak kaki temannya, Adit. Bocah itu terjatuh sambil meringis, memegangi kakinya yang mulai memerah. “Woi! Kamu bisa main nggak sih!?” bentak salah satu anak. “Maaf… tadi katanya aku disuruh tendang,” jawab Arkan gugup. Jemarinya mulai dimainkan pelan-pelan—sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa cemas dan tertekan. Adit yang masih merintih di tanah menatap Arkan dengan penuh kekesalan. Baginya, Arkan selalu menjadi sosok yang menyebalkan hanya karena anak itu ter
Suara ketukan palu hakim bergema di ruang sidang yang dingin, memutus ikatan suci yang pernah Maya agungkan. Detik itu juga, napas Maya terasa terhenti. Statusnya kini berubah—bukan lagi istri sang bintang besar, melainkan seorang wanita yang dibuang dalam kesunyian. Di lobi pengadilan, Maya berpapasan dengan Herman dan Santi, orang tua Arkan. Santi menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan. “Akhirnya drama ini selesai juga,” sindir Santi tajam. “Sudah kubilang sejak awal, Arkan itu berlian. Dia butuh wadah emas, bukan tanah liat sepertimu. Sekarang dia bebas terbang tinggi tanpa beban.” “Ma, sudah,” tegur Herman pelan, meski ia juga tak melakukan apa pun untuk membela Maya. “Aku bicara kenyataan, Pa. Arkan pantas mendapatkan wanita yang setara dengannya, seperti Clara, bukan perempuan tanpa latar belakang ini.” Maya hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Ia lalu melirik ke arah Arkan yang berdiri agak jauh. Pria itu tampak sibu







