Compartilhar

BAB 22 || DIUSIR?!

Autor: s_uci17
last update Data de publicação: 2026-01-08 14:41:34

Kirania baru tahu jika ternyata ucapan seseorang dapat mempengaruhi pikiran, mengisi setiap ruang otak, dan memaksa jantung berdetak lebih cepat saat mengingat ucapannya. Padahal malam itu, ia pikir Arsenio hanya sedang melantur karena efek mabuk, ternyata tidak.

Sejak Arsenio mengatakannya lagi tadi pagi, Kirania seolah kehilangan konsentrasi. Seperti sekarang, disaat dua temannya mengoceh di video call, ia malah sibuk melamun.

"KIRA, LO DENGERIN GUE GAK SIH?!"

Kirania tersentak, suara melengk
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 33 || BERHALUSINASI

    "Buka mulutnya." Arsenio menyuapkan daging kepiting kepada Kirania yang sejak tadi hanya diam. Kirania menggeleng. "Kira gak laper," jawabnya, bergumam pelan. "Saya gak nanya kamu lapar atau enggak. Yang saya mau kamu makan," ucap Arsenio tegas dan tidak ingin dibantah. Kirania kembali ke sikap diam membisunya, membuat Arsenio lagi-lagi menghela napas berat—mencoba bersabar, tapi juga gemas dengan sikap gadis kesayangannya ini. Walau begitu ia tidak bisa bersikap lebih keras dari ini, karena itu akan semakin merusak mood Kirania yang sudah buruk. "Kamu masih marah sama saya? Hm?" tanya Arsenio lembut, seraya mengusap kepala belakang Kirania tak kalah lembutnya. Kirania diam, tidak bergeming. Untuk beberapa saat kendepan, ruangan VIP restoran itu diselimuti keheningan. Ya, Arsenio memang sengaja memesan ruangan VIP, agar tidak terganggu dengan kebisingan pengunjung restoran, dan agar lebih privasi saja. "Sebenarnya saya tidak tahu pasti, apa kesalahan yang sudah saya perbuat. Ta

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 32 || MOOD KIRANIA

    Ini sudah empat jam berlalu sejak Arsenio dan Jeff diusir, keduanya masih di sini—duduk di depan ruangan rawat Kirania, tanpa pertengkaran apalagi obrolan. Sesekali Arsenio akan berdiri, dan mengintip ke dalam ruangan, lewat celah kaca persegi di pintu."Tuan?"Suara yang tiba-tiba hadir di tengah keheningan itu, membuat Arsenio dan Jeff menoleh secara bersamaan. "Siska? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsenio, keningnya mengernyit samar—merasa heran dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. "Saya tadi di telpon Non Kira, Tuan. Katanya dia minta dijemput di sini," jawab Siska, setelah sempat membungkuk singkat kepada Jeff. "Non Kira kenapa, Tuan?"Mendengarnya, Arsenio menghela napas kasar. Sepertinya gadis itu benar-benar akan menghindarinya setelah ini. "Ck." Arsenio berdecak, seraya meraup wajahnya gusar. "Kira di dalam, kau masuk saja.""Baik, Tuan." Selang sepuluh menit kemudian, Siska kembali keluar dari dalam ruangan, dengan Kirania di sampingnya. Mata Arsenio dan Jeff l

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 31 || DIUSIR KIRANIA

    "Bagaimana kondisinya, Dok?" "Tidak ada luka yang serius. Tapi mungkin nanti ketika bangun, pasien akan merasa pusing karena efek benturan keras di kepalanya. Setelah infusnya habis, bisa langsung pulang.""Anda yakin? Dia tadi dipukul cukup keras, saya khawatir jika ada retakan di tempurung kepalanya atau di tulang wajahnya."Tinju yang Jeff layangkan tadi diperuntukkan untuknya, jadi ia tahu persis betapa kerasnya pukulan itu. "Agar Anda lebih tenang, saya akan melakukan CT SCAN untuk memastikan apakah ada retakan tulang, atau luka dalam di kepala atau wajah pasien. Jadi Anda tidak perlu khawatir." Arsenio akhirnya bisa bernapas lega. "Terimakasih." "Saya permisi dulu. Nanti akan ada suster yang datang untuk mengompres luka memar di wajah pasien."Setelah kepergian dokter tersebut, Arsenio duduk di kursi samping ranjang. Matanya tak lepas dari wajah Kirania yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajah gadis itu yang biasanya mulus tanpa cela, kini ternodai oleh luka lebam di

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 30 || "YA, AKU SUKA KIRANIA!"

    "Jeff!"Mengabaikan panggilan Helena, Jeff masuk ke dalam ruangannya. Menggeram, dan meraup wajahnya penuh kekalutan. Dadanya bergemuruh naik turun, pikirannya kacau bukan main akan kondisi Kirania—dan Helena datang disaat yang tidak tepat. "Fuck!" umpat Jeff, tanpa dapat ditahan menendang sofa di dekatnya.Tepat saat itu Helena masuk dengan tatapan tajam penuh interogasinya. "Itu tadi Kira, kan?" tanyanya to the point. Jeff tidak menjawab, bahkan masih membelakangi Helena, sambil mengatur napasnya yang memburu. "Jeff, jawab! Itu tadi Kira, kan?" desak Helena, sambil merenggut lengan Jeff dengan kuat hingga berbalik menghadapnya. "Dia ngapain di sini? Dan ini ...." Helena langsung gagal fokus pada luka sobek di sudut bibir Jeff. Ia baru akan menyentuh luka itu, saat Jeff sudah lebih dulu menjauhkan wajahnya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jeff datar. "Kamu bahkan belum jawab pertanyaan aku yang tadi, Jeff." Helena menggeram tertahan, sorot matanya menajam. "Itu tadi Kirania, kan

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   29 || KIRANIA DI ANTARA 2 PRIA

    "Dia ngapain di sini?" tanya Jeff, sembari menatap tajam ke arah orang yang datang bersama Kirania. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Memang hanya pria itu yang selalu mengintili Kirania kemanapun gadis itu pergi. "Kenapa? Ada masalah?" Arsenio menyahut santai, sambil melipat tangannya di dada. "Kau pikir aku akan membiarkan Kirania hanya berdua dengan singa birahi sepertimu, hm?" sambungnya sinis. "Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Jadi lebih baik kau pergi sekarang. Karena kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan di sini," ucap Jeff, seraya meraih tangan Kirania untuk dibawa masuk. Kaki Arsenio terulur menahan pintu yang hendak ditutup, dan ikut menahan tangan Kirania yang lain. "Bersamaku ... atau tidak sama sekali," serunya dingin. Hening, dan atmosfer sekitar langsung berubah drastis. Suasana tegang memenuhi udara, membuat Kirania yang berada di tengah-tengah keduanya, menahan napas. Andai saja ia punya kantong doraemon, ia pasti sudah mengeluarkan alat yang bisa mem

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 28 || GAIRAH TERTAHAN

    Arsenio sedang duduk di sofa ruang tengah, saat Kirania baru saja turun dengan piyama tidur lengan pendeknya. Pria itu sempat melirik sekilas, sebelum kembali fokus pada layar laptopnya. Sejak pengusiran Devanka, Helena dan Jeff—Arsenio memang tinggal di penthouse sekarang. Pria itu merasa lebih aman jika Kirania tinggal bersamanya. Berhubung Kirania merasa terganggu dengan label menumpang—meskipun Arsenio tidak pernah beranggapan begitu, jadilah sekarang Arsenio yang tinggal di penthouse, daripada membiarkan gadis itu ngekost. "Om," panggil Kirania, mengambil duduk tepat di sebelah Arsenio, dengan jarak yang cukup dekat. "Hm." Arsenio menyahut, tapi tidak menoleh."Bantuin Kira dong. Kira ada tugas matematika bisnis, terus ada beberapa soal yang Kira gak ngerti." "Kamu gak lihat saya lagi ngapain?" balas Arsenio, dengan nada suara datar. "Emang lagi ngapain?" Kirania balik bertanya.Ia mencondongkan tubuhnya, bermaksud untuk melihat layar laptop Arsenio. Tapi pria itu tiba-tiba

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 18 || OBAT PERANGSANG?!

    "Turun!" "Gak mau!" "Aku bilang turun, Kirania!" "Kira gak mau! Kira mau pulang!" Kirania menjerit, suaranya parau, napasnya terengah. Ia mempertahankan posisinya untuk tetap duduk di jok mobil. Mati-matian menahan rasa takutnya terhadap Jeff yang membawanya ke tempat hiburan malam, alias

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 17 || TERTANGKAP OLEH JEFF

    Sebelum meninggal dunia, Pradipta sangat ingin Kirania kuliah di luar negeri. Sebagai anak tunggal, Kirania sering kali manja, penakut dan kurang berani menghadapi tantangan. Pradipta berharap, dengan Kirania kuliah di luar negeri akan menjadi kesempatan bagi Kirania untuk belajar mandiri dan meng

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 16 || "KAMU HARUS PERCAYA PADAKU."

    "Nghhh ...." Arsenio memegang kepalanya yang terasa berdenyut, karena efek alkohol yang ia konsumsi semalam belum benar-benar hilang. Dengan perlahan ia bangun dari posisi berbaring, lalu duduk di ujung ranjang—guna mengumpulkan kesadaran secara sepenuhnya. Kepalanya masih terasa pusing, dan lingl

  • Aku (Bukan) Gadis Pemuas   BAB 15 || "KIRANIA, AYO MENIKAH?"

    Senja menyingsing, sinarnya yang lembut menyusup ke celah tirai kamar Kirania, mengusik tidurnya yang nyenyak. Ia membuka mata, mengangkat tangan untuk melindungi mata dari sorotan cahaya, dan perlahan-lahan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status