Share

Ada Yang Berbeda

Author: Rose Bloom
last update Petsa ng paglalathala: 2023-06-13 00:53:15
"Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku, Mir." Luna berkacak pinggang di depan Amira.

Amira meliriknya sekilas, lalu kembali menata beberapa dokumen yang harus ia bawa saat pertemuan lima belas menit lagi. Luna semakin menggila, wanita itu menghentak-hentakkan kedua kakinya seperti anak kecil. Amira menghela napas panjang, dia menggertakkan gigi-giginya karena geram.

Sahabatnya itu jika keinginannya tidak terpenuhi akan terus merajuk. Amira bersendekap dada, keduanya saling melayangkan ta
Rose Bloom

Haloo Bloomy... Maaf yah Rosie lagi proses KKN jadi lama banget yang mau update. Insyaallah 2 minggu ke depan cerita ini akan tamat. Terimakasih atas dukungan kalian semuanya. Oh ya mampir yuk ke IG @byrosebloom_

| 1
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Bu Iim
ni novel mau diterusin egak thour? lama bget sampe lupa cerita sebelumnya
goodnovel comment avatar
Katmilah Totok
belum selesai cerita kok dah up 100% masih ada lanjutan nya nggak.. jangan bikin kecewa endingnya dong
goodnovel comment avatar
Indah Hayati
berharap alan bakal jujur ama amira kenapa dia nikahin kayla dari pada amira nekat mau berpisah dari nya padahal mreka saling mencintai satu ama lain semangat terus thor bikin karya nya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Menjadi Satu-Satunya

    "Kalau begitu izin membawa Amira untuk bertemu orang tua saya." Alan sangat canggung dan formal. Bahkan sampai membungkuk di depan ayah Amira. Alan dan Amira meninggalkan rumah paman dan bibi. Mereka segera menemui orang tua Alan untuk meminta restu. Setelah kepergian mereka, keheningan menyelimuti rumah paman dan bibi. Mereka berkelut dengan pikiran masing-masing. "Apa mungkin jika hubungan mereka diteruskan?" Bibi Hanum memecah konsentrasi mereka. Ayah, ibu, dan paman Amira memandangnya intens. "Apa kalian tidak khawatir?" Ya, Bibi Hanum yang sangat khawatir jika Amira dan Alan kembali bersama. Ada perasaan tidak ikhlas jika Amira yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri berbaikan dengan Alan dan keluarganya setelah Amira disakiti batinnya berkali-kali. "Mereka saling jatuh cinta," jawab Ayah Arif. "Jangan hanya karena cinta, coba pikirkan saat....""Bu, mereka sudah berjodoh. Mereka sudah ditakdirkan untuk bersama. Semesta pun merestui mereka untuk kembali bersama lagi, jika s

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Restu Keempat Orang Tua

    Alan sudah jauh lebih sehat. Butuh waktu tiga hari untuk dirawat di rumah sakit, dan juga atas ocehan Amira yang memaksa Alan untuk makan dan minum obat setiap harinya membuat pria itu lebih cepat pulih. Akhirnya hari ini Alan sudah diperbolehkan untuk pulang. Dokter juga manusia, dia bisa sakit dan lemah. Amira tidak memperbolehkan Alan untuk bekerja setelah ini sampai benar-benar tubuhnya pulih. Alan tidak membantah, dia sangat senang karena Amira sangat perhatian padanya. Bahkan selama sakit dia tidak membiarkan Amira jauh darinya, Alan bersikap manja melebihi anak kecil. Amira merapikan barang-barang Alan di kamar, lebih tepatnya di kamar yang ada di rumah mereka dulu tinggal bersama. Amira belum memutuskan untuk tinggal dan kembali dengan Alan. Selama di rumah sakit pun mereka belum mebahasnya lagi, Amira dan Alan fokus untuk penyembuhan. "Sayang," panggil Alan sedangkan Amira terus merapikan barang-barang tanpa menoleh kesumber suara. "Kamu bersiap ya, kita makan di luar." B

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Ternyata Bukan Akhir

    Drrrtttt.... Drrrttt....Getaran di ponsel Amira mengalihkan perhatiannya. Dia kesulitan mengambil ponsel karena sebelah tangannya ia gunakan untuk mendorong koper. Ada telepon masuk dari Sandi. Amira termenung sejenak, tidak biasanya Sandi meneleponnya jika bukan sesuatu yang sangat mendesak. Perlahan-lahan Amira menggeser panel hijau dari ponselnya. Suara Sandi terdengar sangat kecil, Amira tidak bisa mendengarnya karena suara mesin kereta yang terlalu bising. Amira mencoba mencari tempat yang lega, tetapi desakan dari penumpang membuatnya kesulitan bergerak. ["Halo Amira, apa kau mendengarku?"] ucap Sandi dari seberang telepon karena beberapa kali memanggil nama Amira tidak ada sahutan darinya." Aku tidak bisa mendengarmu, aku masih di stasiun di sini sangat ramai," balas Amira dengan nadanya yang keras. ["Bisakah kamu ke rumah sakit sekarang juga?"]"Apa? Tolong yang keras!"["Bisakan kamu ke rumah sakit sekarang? Dokter Alan membutuhkanmu."]Deg....Seketika jantung Amira men

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Perpisahan yang Memilukan

    "Kamu yakin akan pergi hari ini juga?"Bibi Hanum membantu Amira memasukkan barang-barang penting ke koper yang akan ia bawa ke desa. Amira hanya menganggukkan kepala, suasana hatinya sedang buruk. Apa yang dia harapkan tidak muncul juga hingga detik ini. Amira ikhlas jika kisah cintanya harus berakhir sekarang, lebih tepatnya benar-benar berakhir tanpa ada pemikiran kedua kalinya. Dia berhenti menunggu Alan dan memilih untuk pergi dari kota. Dia akan merasa nyaman jika tinggal dari desa, mungkin Amira bisa melupakan Alan jika jauh dari pria itu. "Kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting, buang jauh-jauh pemikiran buruk. Sudah jangan berpikiran buruk atau yang lainnya, yang penting kamu dan dedek bayi sehat." Bibi Hanum mengatakan seperti itu agar membuat Amira tenang. Amira hanya terkekeh kecil mendengar bibinya yang begitu cerewet sejak kemarin. Dia khawatir Amira akan berlarut-larut sedih karena Alan tidak datang lagi ke rumah ini. "Apa sudah siap?" Paman Oki yang suda

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Mungkin Saja Menyerah?

    "Paman izinkan aku bertemu dengan Amira." Alan memohon bahkan hampir bersujud di kaki Paman Oki. Namun, Paman Oki mencegah Alan melakukannya. Sebagai suami Alan sangat khawatir dengan keadaan Amira apalagi saat ini istrinya sedang mengandung. Amira pasti membutuhkan Alan di sisinya. Sayangnya, setiap datang ke rumah paman Amira, mereka tidak mengizinkan Alan untuk bertemu walau hanya satu menit saja. Paman dan Bibi Amira selalu mengusir Alan, atau mengunci rumah dan tidak menemui Alan hingga dia sendiri pergi dari rumah itu. Tampak kekecewaan yang teramat besar dari paman dan bibi Amira. Tentu saja, siapa yang tidak kecewa saat seseorang yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri disakiti hatinya berulang kali. Alan mengakui kesalahannya, jika ia disuruh bersujud pun akan ia lakukan. Alan akan merendahkan dirinya untuk menebus segala kesalahan yang telah ia perbuat pada Amira."Pergilah! Jangan datang lagi ke sini, biarkan Amira hidup tenang," ucap Paman Oki memalingkan wajahnya

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Kembalilah Dengannya

    "Amira... Amira... Tunggu dengarkan Mas dulu."Alan mengejar Amira yang baru saja turun dari mobil taxi. Hampir lima kali lebih Alan mengunjungi rumah paman dan bibi Amira, tetapi dia tidak pernah diizinkan untuk bertemu dengan Amira. Alan tidak menyerah, dia selalu datang ke rumah ini. Dan beruntungnya saat dia baru sampai, Amira pun juga baru datang entah dari mana. Alan menahan lengan Amira, wanitanya itu sama sekali tidak mau memandang Alan. Seolah tak sudi berurusan dengan Alan lagi. Alan hanya ingin membuktikan bahwa dirinya masih pria yang sama seperti awal pertama kali mereka bertemu. "Sayang, kita perbaiki lagi dari awal ya." Amira masih membelakangi Alan, tak kuasa menahan rindu Alan memeluk tubuh mungil Amira dari belakang. "Bukan kita yang harus diperbaiki, Mas. Tapi kamu sendiri yang harus diperbaiki." Amira berkata lantang, padahal dia berusaha mengontrol emosinya, sayangnya melihat Alan membuatnya muak. "Aku tahu, terus di sampingku, bimbing aku. Aku memang keterlal

  • Aku Bukan Satu-Satunya   Aku Tidak Ingin Kembali

    “Apa kamu serius?” tanya Bram untuk yang kesekian kalinya.Amira hanya menganggukkan kepala dan senyum di bibirnya begitu lebar. Tangan kanannya mematut di depan bibir, dan bibirnya mengulum es krim cokelat dengan topping chocochip di atasnya.Amira terkekeh kecil saat melihat Bram ragu-ragu menaiki j

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Aku Bukan Satu-Satunya   Dijemput Pengacara

    “Amira,” teriak seseorang yang membuat Amira menghentikan langkahnya.Amira menghadap ke sumber suara, kerut di dahinya terlihat jelas karena berusaha melihat seseorang yang kini tengah berlari ke arahnya. Amira tersenyum lebar kala seorang pria tengah tersenyum sembari membawa bungkusan kecil yang e

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Aku Bukan Satu-Satunya   Penyembuh Luka Hati

    “Kamu mau membawaku ke mana, Bram?” tanya Amira sedikit panik, sedang matanya ditutup kain. Amira berjalan sembari memegangi baju belakang Bram yang kini berjalan di depannya. Amira tidak tahu apa yang ada di depan sana dan dia tidak tahu sedang berada di mana saat ini. Bram tiba-tiba membawanya ke

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Aku Bukan Satu-Satunya   Aku Mau Itu, Bram!

    “Luna ....” Amira meneriaki nama sahabatnya, Luna pergi begitu saja saat Bram hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.Amira berusaha mengejar sahabatnya itu, tetapi Luna lebih dahulu masuk ke dalam taksi. Amira membenarkan hijabnya yang terhembus angin, dia balik badan melihat Bram yang masih berdi

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status