MasukAqilah meremat jemari, menunduk sambil menggigit bibir bawah. Nyesel tadi masuk jebakan Bian untuk memilih dare. "Bisa ganti gak?" tanyanya pelan."Kenapa?" Bian mengangkat dagu Aqilah, membuat wanita yang pipinya bersemu merah tersebut menatapnya."Em....""Gak mau?"Aqilah diam saja, tak bilang iya ataupun tidak. Membuat Bian menghela nafas, lalu tersenyum."Tidur yuk, udah malem." Kalimat tersebut membuat Aqilah kaget. Padahal dia fikir Bian akan menggunakan modus lain kalau sampai dia menolak. Atau lebih tepatnya, sedikit memaksa. Tapi ternyata, suaminya itu malah merapikan bantal lalu menepuk-nepuk perlahan."Sini, rebahan disini. Jangan terlalu minggir. Kasihan lantainya kalau kejatuhan kamu, berat.""Ish, nyebelin banget sih," Aqilah mendelik kesal diledeki seperti itu. Sedang Bian, malah cengengesan, seperti puas melihatnya kesal.Aqilah merebahkan tubuhnya di tempat yang disiapkan Bian barusan. Matanya masih menatap Bian ragu-ragu. Mungkinkah pria itu marah karena merasa perm
Aqilah menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa melihat Bian yang sangat bersemangat naik ke atas ranjang. Ah... kenapa sebahagia ini rasanya melihat pria itu. Apalagi saat Bian yang sudah duduk di atas ranjang melambaikan tangan ke arahnya, vibes nya kayak mau diajak malam pertama aja. "Qill, kok malah bengong disitu sih?" panggil Bian. "Udah lewat tengah malam. Katanya besok jadwalnya padet." Ya, besok Aqilah harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh WO. Fitting terakhir, perawatan, dan juga belajar dansa. Heis, menyebalkan sekali yang terakhir itu. Memang gak boleh ya, acara dansanya diskip aja. Dengan jantung berdebar, Aqilah berjalan menuju ranjang. Saat mau naik, dia baru ingat jika sedang memakai daster. Kalau saja tahu akan tidur dengan Bian, dia pasti akan pakai piyama celana panjang. Lebih safety. Yaelah PD banget, kayak mau dipain aja. Bian berbaring saat Aqilah naik ke atas ranjang. "Sini." Dia merentangkan lengan agar Aqilah bisa menggunakannya se
Ayu mengajak Aqilah menuju tempat teman-temannya berkumpul. Tepatnya di halaman sebuah TPQ yang tak jauh dari rumahnya. Disana sudah ada beberapa cewek dan cowok yang sedang sibuk mengurusi nasi kotak. Nasi-nasi tersebut berasal dari warga yang memberi dengan sukarela."Banyak nih hari ini." Ayu memperhatikan tumpukan nasi kotak diatas meja. Dia yang datang bersama Aqilah, menarik perhatian teman-temannya."Lumayan," sahut Dinar. "Seratus lebih.""Siapa tuh, Yu?" tanya Jamal yang langsung mendekat melihat ada yang bening-bening."Gak usah macem-macem ya," Ayu melotot. "Ini Kakak ipar aku.""Oh... Istrinya Bang Bian," sahut Maya. "Cantik banget," pujinya."Pantesan Jenni di eliminasi. Spek Bang Bian yang kayak gini," celetuk Jamal.Jenni? Siapa dia? Aqilah bertanya dalam hati. Nanti sesampainya rumah, wajib dia tanyalangsung pada Bian. Kok mendadak gerah gini cuacanya. Panas."Biasanya berapa kotak yang dibagikan, Yu?" tanya Aqilah."Jumlahnya gak tentu, tergantung berapa banyak yang ny
Keduanya sama-sama salah tingkah setelah ciuman itu. Wajah Aqilah memerah, dia malu. Begitupun dengan Bian yang jantungnya masih berdebar meski ciuman pagutan bibir mereka sudah terlepas."A-aku mau ke toilet." Aqilah membalikkan badan dan buru-buru jalan. Dia ingin keluar dari situasi canggung itu. Mungkin menepi sebentar di kamar mandi bisa membuat jantungnya kembali normal. Tapi.... tapi kenapa seperti ada yang salah. Dimana pintu kamar mandinya?Bian tergelak melihat Aqilah bingung mengedarkan pandangan. "Gak ada toilet di kamarku."Sial, Aqilah menepuk pelan keningnya sendiri. Sumpah, jadi makin malukan. Dia kembali membalikkan badan, wajahnya terlihat merah padam. Bisa-bisanya dia lupa hal itu. Padahal jelas-jelas tadi sore, dia mandi di toilet yang ada dilantai bawah, dekat dapur."A-aku ke toilet dulu." Dia berjalan menuju pintu, namun saat hendak meraih handle, Bian menarik lengannya. Pria itu mendekat berdiri tepat di depannya. Buru-buru dia menunduk, menghindari tatapan Bia
Terdengar suara berisik yang berasal dari dapur rumah Bu Diah sore itu. Selain suara spatula yang beradu dengan penggorengan, pisau yang beradu dengan talenan, juga suara canda tawa anak dan menantunya. Aqilah duduk di kursi makan, sibuk memotong sayur, sementara Ayu, dia sedang menyiapkan bumbu. Kebetulan di rumah Bian, meja makan berada dalam satu ruangan dengan dapur. Bian juga ada disana, duduk di sebelah Aqilah, tapi tak melakukan pekerjaan apapun, sibuk dengan ponsel dan hanya sesekali ikut bicara. Sementara Bu Diah, dia sedang menggoreng ikan. "Gak sabar deh, pengen segera acara resepsi Abang sama Kak Aqilah. Pasti mewah banget pestanya," ujar Ayu. Belum apa-apa, dia sudah membayangkan akan berada di tempat yang megah dan indah. Yang setiap sudutnya terlihat estetik untuk dijadikan tempat selfie. Belum lagi soal makanan, hem..... sudah pasti enak-enak semua. Hari itu saat acara akad saja, makanannya sudah luar biasa enaknya. "Gak tahu sih, Yu, mewah apa enggak. Soalnya gak ik
Mungkin hampir seluruh wanita ingin yang namanya pesta pernikahan alias resepsi. Ingin menjadi ratu dalam sehari. Membuat momen indah yang tidak akan terlupakan. Namun berbeda halnya dengan Aqilah. Dia sama sekali bahkan tidak berminat dengan yang namanya resepsi. Buang-buang uang dan waktu, juga buang tenaga. Mending kerja, itu yang selalu ada di kepalanya.Tapi siang ini, ia dibuat mati kutu saat papanya mendesak untuk melangsungkan acara resepsi yang persiapannya sudah 99 persen. Tinggal 3 hari lagi."Udahlah, Pah, batalin aja kalau memang Keyla gak bisa," saran Aqilah. "Ya gak bisa gitu, Qill. Undangan sudah disebar, masa iya batal. Semua yang ada di luar kota bahkan luar negeri sudah dapat undangan. Masa iya batal disaat menjelang hari H. Lagian gak ada salahnyakan, kamu yang duduk di pelaminan gantiin Keyla. Toh di undangan, tertera nama kamu juga, gak hanya Keyla."Dulu saat mencetak undangan, Harun dan Aleya memang memasukkan nama dua pasang mempelai. Meski sejak Awal Aqilah
Aqilah terbangun oleh suara alarm di ponselnya. Meski sudah terbiasa bangun pagi, dia tetap memasang alarm untuk jaga-jaga agar tidak sampai kesiangan. Setelah menunaikan kewajiban, dia langsung bersiap-siap ke kantor. Dia memang tak ambil cuti meski sebenarnya bisa. Tak mau saja nanti pekerjaanya
Keyla dan Aisyah berada di dalam kamar Aqilah, membantu gadis itu berkemas. Ada Bian juga disana, yang juga melakukan hal yang sama."Kenapa gak tinggal disini sementara waktu dulu sih, Qill? Keyla bentar lagi mau ke NTT, ikut Dave internship. Mama gak ada temannya dong." Aisyah masih berusaha memb
Suasana meja makan pagi ini, sedikit berbeda dari biasanya. Hal itu tentu saja karena kehadiran anggota keluarga baru.Pagi ini sudah ada Aqilah dan Bian yang duduk manis di tempat masing-masing. Namun mereka belum memulai sarapan karena masih menunggu Keyla dan Dave.Aqilah berdecak sebal, waktuny
Setelah acara inti selesai, dilanjutkan dengan acara lainnya termasuk ramah tamah. Bagitu semua tamu pulang, Harun baru menceritakan apa yang menimpa dirinya dan Pak Sholeh. Demi menghindari jalur rawan macet, Harun meminta Pak Sholeh mencari jalan alternatif lain agar cepat sampai. Dia sudah tak







