MasukAqilah merebahkan tubuh di atas ranjang. Mengambil bantal, meletakkan di atas dada lalu memeluknya. Matanya menatap nanar langit-langit kamar Keyla."Ada apa? Kak Aqilah ada masalah?" Meski belum bercerita, Keyla bisa membaca dari raut wajah Aqilah. Kakaknya itu sedang tidak baik-baik saja."Kapan ya, Key, aku bisa hamil kayak kamu?"Aqilah menoleh, melihat kearah Keyla yang duduk di tepi ranjang dengan tatapan sendu."Sebentar lagi," Keyla mengusap punggung tangan Aqilah yang ada di atas bantal. Dia sudah tahu perihal kebohongan Aqilah soal kehamilan. Kakaknya itu sendiri yang telah bercerita. "Pasti sebentar lagi, Kak Aqilah bakal hamil juga." Dia menggeser duduknya, mendekati Aqilah. Meraih tangan kakaknya itu, lalu meletakkan di atas perutnya. "Kata orang, hamil itu bisa nular. Siapa tahu, dengan ngusap perut aku, Kak Aqilah bisa ketularan hamil.""Ngaco kamu, Key." Aqilah bangun sambil terkekeh pelan. "Ya kali batuk atau flu, bisa nular.Ada-ada aja kamu.""Diaminin aja lah, Kak.
Bian yang baru pulang, langsung kena omel ibunya. Wanita yang telah melahirkannya 25 tahun silam itu, memprotesnya yang baru pulang ketika pukul 8 malam."Kerja ya kerja, Mas, tapi gak kayak gini caranya. Istri kamu itu lagi hamil muda, butuh perhatian."Tak beda dengan Aqilah, Bian juga kaget ibunya mengatakan Aqilah tengah hamil muda. Mulutnya menganga, dia reflek menatap Aqilah, tapi yang ditatap malah menunduk.Ya, Aqilah takut menatap Bian, karena semua masalah ini berawal darinya. Dari omongan seorang wanita cemburu, yang tidak difikirkan dampaknya."Banyakin waktu buat Aqilah. Kasih perhatian lebih, jangan cuma mikir uang. Contoh alm. Ayah kamu. Dulu saat Ibu hamil kamu, ibu bahkan gak dibolehin nyentuh kerjaan sedikitpun, semua ayah kamu yang kerjain. Hamil itu gak mudah, Mas. Badan rasanya gak enak, melar, cepat capek, dah gitu gak kilat prosesnya, 9 bulan." Bu Diah masih terus mengomeli Bian, sedang Ayu hanya menahan tawa saja sejak tadi. Aqilah, jangan ditanya lagi, dia sed
Aqilah menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Menyandarkan punggung sambil memejamkan mata. Lelah, seharian ini dia dan tim bekerja ekstra keras. Meski tidak lembur sampai malam, tapi proyek yang sedang dia tangani memang sangat menguras fikiran.Ini pertama kalinya dia kerjasama dengan Rangga. Dia harus sempurna, jangan sampai lengah dan Rangga bisa melihat kekurangannya. Karena itu juga, rasanya bebannya makin berat.Dia hampir tertidur saat mendengar bunyi bel. Itu jelas bukan Bian, karena kalau dia pasti bisa langsung masuk. Dengan langkah malas, dia kedepan, membuka pintu. Kantuknya langsung hilang begitu melihat siapa yang datang."Ibu."Betapa terkejutnya Aqilah melihat kedatangan Bu Diah dan Ayu. Dia langsung mencium punggung tangan mertuanya tersebut."Masuk, masuk, ayo masuk." Dia membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan mereka masuk.Bu Diah memperhatikan setiap sudut apartemen Aqilah. Ayu pernah cerita kalau apartemen yang dihuni abangnya sangat bagus, ternyata Ayu tidak
Saat berada di eskalator, tawa yang ditahan sejak tadi akhirnya meledak. Bian tak sanggup lagi menahannya. Sumpah, dia tak pernah mengira jika Aqilah bisa berbuat seperti tadi saat sedang cemburu. Apa tadi, pura-pura hamil? Astaga, sampai sebegitunya. Cinta kadang memang gila, membuat seseorang tiba-tiba out of the box."Apa yang lucu?" Aqilah bersedekap sambil cemberut menatap Bian."Kamu." Bian menarik gemas hidung mancung Aqilah, yang langsung ditepis oleh cewek itu. Kebetulan, eskalator sedang sepi, jadi tak terlalu risih takut dilihat orang.Padahal lagi kesel, malah dibilang lucu, makin ngeselin kan?"Kamu kalau cemburu lucu, Qill. Hamil? Astaga!" Bian masih tertawa sambil mengusap perut rata Aqilah, dan lagi-lagi langsung disingkirkan tangannya oleh wanita yang sedang marah karena cemburu itu."Ketawa aja terus. Iyalah, situ kan happy, ketemu mantan." Aqilah melengos, lalu berjalan lebih dulu saat sudah menuruni eskalator."Yang, tungguin dong." Bian berjalan cepat, menyusul Aq
Bian masuk ke dalam kamar. Masih sempat dia lihat, Aqilah yang buru-buru berbalik memunggungi pintu begitu dia masuk. Istrinya itu hanya sedang kesal, tidak marah, dia meyakinkan diri sendiri. Berjalan ke arah ranjang, lalu naik dan memeluk Aqilah dari belakang."Hadap sini dong," bujuknya. "Mas kan pengen lihat wajah cantik istri Mas." Gak papalah, dibilang bermulut manis, modus, gombal atau apalah, namanya lagi membujuk si dia yang merajuk.Bukannya berbalik, Aqilah malah berusaha melepaskan belitan tangan Bian di pinggangnya. Menepis kasar, khas orang yang sedang marah."Maaf. Jangan ngambek dong." Bian tak lagi memaksa memeluk. Hanya mengusap pelan bahu hingga lengan bagian atas Aqilah. Sentuhan lembut dengan harapan, hati Aqilah juga ikut melembut. "Bukannya gak mau pakai ART seperti saran kamu, tapi emang belum butuh, itu aja. Nanti kalau butuh, Mas juga pasti bakal nyari ART.""Belum butuh gimana?" sahut Aqilah agak nyolot, tanpa membalikkan badan. "Mas kerepotan, terus nyuruh
"Siapa dia tadi, Qill?" tanya Bian saat keduanya sudah ada di dalam mobil."Bukan siapa-siapa, gak penting." Aqilah menghela nafas berat, menyandarkan punggungnya di sandaran jok. Moodnya mendadak buruk gara-gara Jimmy."Mantan kamu?" Sepertinya Bian masih penasaran."Aku gak pernah pacaran, mana mungkin tiba-tiba punya mantan.""Lalu, siapa?""Mas! Bukan siapa-siapa, gak penting." Aqilah tampak kesal dengan pertanyaan Bian yang masih seputar tadi."Ya sudah kalau gak mau cerita." Bian menghidupkan mesin mobil, setelah itu meninggalkan bandara.Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan apapun diantara mereka. Bahkan Bian yang hendak mengajak Aqilah mampir makan, urung karena melihat mood wanita itu yang berantakan.Sesampainya di rumah, Bian langsung menuju dapur. Rasa laparnya tak lagi bisa ditahan."Mas mau ngapain?" Aqilah heran melihat Bian yang pulang-pulang bukannya istirahat atau nyantai, tapi langsung ke dapur."Masak. Kita belum makan apa-apa sejak pagi, kamu pasti lapar juga kan
"Apa, Nikah!" pekik Aisyah. "Jangan becanda Aqilah." Mana mungkin dia tak syok saat Aqilah tiba-tiba bilang mau menikah. Bukankah baru kemarin putrinya itu bilang tak mau nikah. Kemarin juga Keyla bilang jika Aqilah tidak cocok dengan pria pilihan papanya. Lalu, kenapa mendadak malam ini, dia bilang
"Astaghfirullah! Kontrakan saya kamu buat mesum, hah?" H. Imam geleng-geleng sambil mengelus dada. Dia sudah sangat lama mengenal Bian, bahkan sejak masa Ayah Bian yang mengontrak tempat ini untuk bengkel. Tidak menyangkah kelakukan pemuda itu seperti ini. "Eng-enggak, Pak. Sumpah. Demi Allah, kam
Aqilah menatap kepergian Keyla dengan tatapan sulit diartikan. Kadang dia juga merasa kasihan pada adiknya itu. "Sudahlah. Biarkan dia pergi. Ayo ngobrol di ruangan papa," ajak Harun sambil menggandeng lengan Aqilah. Aqilah menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan papanya.
Aqilah langsung mendelik kesal. Saat ini, dia sedang tidak ingin becanda. Sedang di kejar waktu. Dia mulai mengotak-atik ponsel yang sejak tadi dia pegang. Menelepon Sita. "Telepon siapa, Mbak? Jangan telepon polisi, saya bukan maling." "Berisik," bentak Aqilah yang sedang kesal karena pangggilann







