FAZER LOGINMata Melan seketika membelalak. Namun, sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya seperti biasa."Kamu buat aku kaget aja, Fer!" gerutu Melan pelan. Entah sejak kapan dan bagaimana caranya Ferdi bisa tiba-tiba ada di sana.Ferdi yang melihat sikap aneh perempuan di depannya pun sontak menaikkan sebelah alisnya. "Kamu ngelamun? Lagi mikirin apa?" tanyanya. Namun, Melan hanya menjawab dengan gelengan."Masih mikirin dua orang sialan itu?"Kali ini Melan mengalihkan pandangannya dari komputer kasir pada mata Ferdi. Ia menghela napas pelan, muak jika harus membahas Ardian dan Lila lagi."Udahlah. Kamu ke sini mau pesan apa? Aku lagi kerja, Fer."Ferdi menatap Melan sejenak. Ia yakin ada yang tengah dipikirkan oleh perempuan itu. Namun, lagi-lagi Melan tidak mau terbuka padanya.Padahal, apa kurangnya? Setelah semua yang ia lakukan untuk Melan, apa itu belum cukup membuat perempuan itu percaya padanya?Ferdi kemudian memesan secangkir latte, lalu bergegas mencari tempat duduk karena sudah te
Ternyata dugaan Lila benar bahwa Ardian akan menemui Melan. Terbukti kini mobil laki-laki itu sudah masuk ke basement Mercure Tower. Setelah mobil Ardian tak terlihat, gegas Lila membawa mobilnya ke basement juga. Kemudian, melangkah cepat menuju lobi.Entah keberuntungan apa yang menyertai Lila hari ini. Tanpa perlu mencari ke unit, Ardian dan Melan ternyata sedang berdiri di lobi. Melan tampak menatap Ardian dingin, berbanding terbalik dengan laki-laki itu yang menatap Melan penuh permohonan.Cih!Lila benar-benar muak melihat Ardian yang seolah mengemis maaf dan cinta dari Melan. Padahal, selama ini ia sudah merelakan semuanya untuk laki-laki itu.Tanpa menunggu lebih lama, Lila melangkah mendekat pada mereka."Mas," panggilnya.Melan dan Ardian sontak menoleh dengan ekspresi berbeda. Ardian tampak terkejut, sedangkan Melan hanya menatap datar seolah kedatangan Lila bukan kejutan."Lila? Buat apa kamu ke sini?" tanya Ardian sembari menahan emosi. Ia menatap tajam sang kekasih.Lila
"Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena
"Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d
Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka
"Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian
Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b
"Melan, tunggu!"Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar."Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"Ardian maju selangkah
"Kamu yang harus menggugat cerai dia." Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara it
"Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k







