Compartilhar

AIP 59

last update Data de publicação: 2026-10-24 15:43:06

Opa Hendra sedikit bingung saat Ferdi malah membagikan lokasi sebuah rumah sakit ketika ia dan Lila baru tiba di bandara. Keduanya saling pandang sejenak, sebelum Lila membuka suara dengan kesal.

"Sudah aku bilang, dia pasti bohong, Opa!" decaknya, merasa sudah dibodohi oleh laki-laki itu.

"Sabar. Kita ikuti saja dulu. Kalau memang dia bohong, dia sendiri yang akan tanggung akibatnya."

Keduanya keluar dari bandara ditemani dua orang pengawal. Menumpangi mobil sewaan yang kemudian melesat membe
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
lullaby_dreamy
yah ke'enakan dong Lila manfaatin kondisi Ardian (kalo bnran amnesia) utk nikahi dia . kynya blm ada karma apa² sm dua makhluk pulu² ini . Lila cm batal n' nahan malu doang krn batal smentara prnikahannya, sdgkn Ardian cm trluka n' amnesia . kurang greget .
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Aku Ingin Pisah   AIP 60

    "Huaa ... Papa ...."Melan melongokan kepalanya ke samping saat mendengar suara itu. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Anak siapa yang menangis di luar malam-malam begini?"Jangan-jangan ....""Huaaa ... Papa di mana? Papa ...."Degh!Suara itu makin jelas hingga membuat Melan refleks berdiri dari duduknya."Siapa di sana?" teriaknya.Namun, tak ada satu pun yang menjawab. Merasa penasaran, ia melangkahkan kakinya ke halaman, lalu membuka pagar.Tidak ada siapa-siapa. Hanya angin malam yang berembus menerbangkan rambutnya."Mungkin cuma perasaanku saja," gumam Melan, lalu memilih untuk kembali menutup pagar.Akan tetapi, belum sempat ia mengunci pagar besi tersebut, suara isak tangis yang sangat pelan terdengar dari balik tembok pagar kontrakannya. Dan kali ini terasa lebih nyata."Aku mau Papa ...."Entah kenapa naluri Melan kali ini mendorong kakinya untuk kembali melangkah keluar pagar. Dan betapa terkejutnya ia ketika menundukkan pandangan, seorang bocah tengah menangis sembari men

  • Aku Ingin Pisah   AIP 59

    Opa Hendra sedikit bingung saat Ferdi malah membagikan lokasi sebuah rumah sakit ketika ia dan Lila baru tiba di bandara. Keduanya saling pandang sejenak, sebelum Lila membuka suara dengan kesal."Sudah aku bilang, dia pasti bohong, Opa!" decaknya, merasa sudah dibodohi oleh laki-laki itu. "Sabar. Kita ikuti saja dulu. Kalau memang dia bohong, dia sendiri yang akan tanggung akibatnya."Keduanya keluar dari bandara ditemani dua orang pengawal. Menumpangi mobil sewaan yang kemudian melesat membelah jalan malam kota."Sebaiknya kita ke hotel dulu, baru pagi nanti ke rumah sakit. Kamu masih perlu istirahat," ujar Opa Hendra yang ditujukan pada cucunya.Lila sebenarnya enggan. Tapi rasanya terlalu bersemangat datang ke lokasi yangg telah dibagikan Ferdi pun hasilnya belum tentu sesuai. Bisa saja laki-laki itu memang mempermainkannya karena memiliki dendam."Oke," jawab perempuan itu pada akhirnya.Sementara di sebuah rumah sakit, Ferdi yang baru saja bisa terlelap terpaksa kembali membuka

  • Aku Ingin Pisah   AIP 58

    Ferdi berdecak kesal karena hari-harinya malah digunakan untuk menunggu Ardian yang belum sadar, alih-alih mencari Melan. Padahal ia sudah merancang beberapa persiapan dengan matang. Sayangnya, semua itu harus terkubur sia-sia karena kebodohan sepupunya.Saat itu kota diguyur hujan deras, nyaris tanpa henti sejak sore hari. Namun, ia harus tetap mengantar Ardian ke bandara untuk pulang dan menikah esoknya dengan Lila. Ferdi harus memastikan sang sepupu benar-benar pulang, karena itu ia rela pergi meski malam masih diguyur hujan.Awalnya perjalanan mereka menggunaakan angkutan khusus dari desa ke kota aman-aman saja. Hingga saat baru tiba di kota, mesin mobil tersebut mendadak tidak mau menyala. Ferdi dan Ardian yang tidak bisa lagi membuang waktu, memutuskan untuk mencari kendaraan umum lain. Mungkin taksi jika ada yang melintas.Keduanya turun dari mobil dan memilih berteduh di sebuah halte sembari menunggu taksi. Hanya beberapa saat mereka menunggu karena tenyata sebuah taksi melint

  • Aku Ingin Pisah   AIP 57

    Pernikahan itu tidak pernah terjadi. Hari yang harusnya penuh kebahagiaan malah berubah jadi ajang bisik-bisik karena pengantin pria tidak pernah datang.Suasana kediaman Opa Hendra berubah jadi kacau. Setelah menunggu Ardian sampai satu jam dan mulai mendengar bisik-bisik tak mengenakan, Lila segera berlari menaiki tangga menju kamarnya, tanpa memedulikan apa-apa. Sementara Opa Hendra berusaha menenangkan suasana dan menyatakan pernikahan Lila dan Ardian batal digelar hari ini, dan akan secepatnya digelar di hari lain. Meskipun ia sendiri tidak tahu laki-laki itu ada di mana sekarang.Setelah semua orang bubar, Opa Hendra murka. Pria tua itu menghancurkan apa pun yang ada di dekatnya dengan sekuat tenaga yang ia punya. Tak peduli meski tangannya terasa sakit setelahnya.Ia benar-benar marah. Ia ingin menghajar Ardian jika saja laki-laki itu ada di hadapannya."Cari Ardian sekarang dan bawa ke hadapanku! Jangan kembali sebelum kalian berhasil menyeretnya ke sini!" perintahnya dengan s

  • Aku Ingin Pisah   AIP 56

    "Mas Ardian nggak bisa dihubungi, Opa!" Lila berteriak frustasi karena sudah dua hari ini tidak ada kabar dari sang calon suami, sementara pernikahan mereka akan digelar esok hari.Pyaar!Perempaun itu melempar benda apa pun yang ada di dekatnya, hingga kini ruang tengah sudah penuh dengan pecahan kaca dan barang-barang lain.Belum puas melampiaskan emosi dengan melempar barang-barang, ia mengambil ponselnya dan membuat rekaman suara untuk Ardian."Kamu pikir bisa kabur dari tanggung jawab, Mas?! Kamu pikir bisa kabur dengan tenang sama perempuan sialan itu?! Aku nggak akan biarkan kalian hidup tenang! Kalau sampai besok nggak datang ke acara pernikahan kita, aku pastikan kamu nggak akan pernah lihat anak ini lahir, Mas! Aku akan bunuh dia!"Ia mengirim rekaman suara itu pada Ardian, berharap ketika dibuka nanti, laki-laki itu akan sadar dan kembali padanya. "Jangan bicara sembarangan, Lila. Ardian pasti datang," tegur Opa Hendra.Jujur saja, ia pun ikut pusing dan risau atas perginy

  • Aku Ingin Pisah   AIP 55

    Ardian dan Ferdi tiba di Kota X tepat pukul 12 malam. Mereka langsung menuju lokasi perkampungan yang cukup jauh dari bandara dan pusat kota. Dengan menggunakan angkutan khusus, butuh waktu sekitar 2 jam agar mereka tiba di sana.Lelah memang. Tapi Ardian dan Ferdi tampak tak mau kehilangan waktu satu detik pun sehingga mereka sama sekali tidak beristirahat sejak semalam. Baru ketika mobil angkutan yang membawa mereka berhenti di sebuah kedai yang masih buka, mereka beristirahat sejenak.kali ini Ardian duduk di kursi kedai yang reyot, nyaris rubuh saat ia duduki. Di depannya, kursi yang diduduki Ferdi tampaknya bernasib sama. Di tengah mereka, sebuah meja kayu yang kusam dan sedikit bedebu menjadi satu-satunya tempat untuk mereka meletakkan kepala.Tidak ada piliha. Semua ini demi Melan."Kopinya, Tuan."Keduanya terpaksa mengangkat kpala saat pemilik warung mengantarkan dua cangkir kopi. Mereka mengambil bagian masing-masing, lalu meneguknya sedikit."Apa tempatnya masih jauh?" tany

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 2

    "Kamu yang harus menggugat cerai dia." Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara it

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 1

    "Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status