MasukAku berjalan tertatih-tatih, setiap langkah terasa menyakitkan. Jalanan yang biasanya ramai kini terasa sunyi dan panjang, aku menoleh ke belakang takut jika Razik dan teman-temannya mengejarku. Tapi tidak ada, hanya ada aku sendirian dengan luka-luka di tubuhku.
Aku mencoba menahan air mata, tapi tidak bisa. Aku merasa begitu lemah dan tak berdaya aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak bisa pulang, aku takut jika orang tuaku melihatku dan marah. Aku tidak bisa ke mana-mana, aku terlalu takut. Aku hanya bisa berjalan, tanpa tahu ke mana. Di sebuah gang sepi, aku berhenti. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan aku ingin lari, tapi aku tidak punya tempat untuk pergi. Aku ingin melawan, tapi aku tahu aku tidak bisa. Aku hanya bisa menangis menahan rasa sakit dan putus asa. Aku membuka pintu kos, lalu menguncinya dari dalam aku tidak peduli dengan yang lain, aku hanya ingin menangis. Aku menjatuhkan diriku di kasur membiarkan luka-luka di tubuhku terasa perih. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku menangis, membiarkan air mata membasahi bantal. Aku merasa sangat marah. Aku tidak bisa mengalahkan mereka, Aku terlalu lemah aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Aku hanya bisa bersembunyi di kamar kosku, berharap mereka tidak menemukanku. Aku menutup mataku, membiarkan kegelapan menelanku. Aku berharap semua ini hanya mimpi buruk. Aku merasa seperti pecundang, semua keberanian yang kumiliki hanyalah ilusi. Aku mencoba melawan, tapi aku hanya dikalahkan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Aku menghapus air mata dan bangkit dari kasur. Aku tahu, menangis tidak akan mengubah apa pun. Rasa sakit dan amarah yang kurasakan harus disalurkan ke dalam sesuatu yang lebih produktif. Aku membuka laptopku, jemariku gemetar saat mengetik kata kunci di mesin pencari. "Bela diri otodidak." Ribuan hasil muncul, aku membaca satu per satu mencari tahu mana yang paling cocok untukku. Aku tahu, ini bukan cara yang paling aman tapi aku tidak punya pilihan lain, aku harus belajar dan aku harus menjadi kuat. Aku menghabiskan sisa malam dengan membaca, menonton video, dan mencoba beberapa gerakan dasar. Kakiku masih sakit, tapi aku tidak peduli aku hanya ingin membalas dendam. Aku ingin membuktikan pada mereka bahwa aku bukan pecundang. Aku tahu, ini tidak akan mudah. Tapi aku tidak akan menyerah aku akan berlatih, dan suatu hari nanti aku akan kembali, dan mereka akan melihat betapa bodohnya mereka telah menggangguku. Aku menggeser-geser layar, dari satu video ke video lainnya, tapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku. Semuanya terlihat sama lalu, mataku tertuju pada sebuah kanal yang tidak memiliki banyak penonton. Namanya "Paman Ayam." Aku terkejut saluran itu tidak memiliki banyak penonton, tapi setiap videonya sangat bagus. Ada tutorial tentang bagaimana cara memukul dengan benar, bagaimana cara menangkis, bahkan bagaimana cara melarikan diri dari musuh yang lebih besar. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ada sesuatu yang istimewa dari kanal ini. Aku merasa bahwa ini adalah jawabanku, ini adalah jalan keluar dari penderitaanku. Aku menonton semua video mencoba meniru gerakan-gerakan itu aku memukul bantal, menendang udara, dan berlari mengelilingi kamarku. Kakiku terasa sakit, tapi aku tidak peduli, Aku hanya ingin menjadi kuat. Aku tahu, ini tidak akan mudah tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan menjadi kuat, dan mereka akan menyesali perbuatan mereka. Malam itu, kamarku yang sempit berubah menjadi sasana latihan pribadi. Aku putar kembali video-video dari kanal Paman Ayam setiap gerakan dari cara mengepalkan tinju yang benar hingga kuda-kuda dasar, aku tiru dengan saksama. Keringat membanjiri wajahku dan napasku memburu, tapi aku tidak peduli rasa sakit di otot-ototku terasa seperti api yang membakar, tapi aku tahu ini adalah harga yang harus kubayar. Aku melayangkan pukulan ke udara membayangkan wajah-wajah mereka. Razik, Ojan, Febri, dan Teddy. Aku tidak lagi merasa takut yang ada hanyalah amarah yang membara. "Aku harus menjadi lebih kuat," gumamku. Lalu, gumaman itu berubah menjadi teriakan. "Aku harus menjadi lebih kuat!" Aku tidak akan membiarkan mereka mengalahkanku lagi. Aku akan kembali, dan membuat mereka menyesali perbuatan mereka. Aku berlatih hingga pagi tiba. Matahari terbit, menyinari kamarku yang berantakan, tapi aku tidak peduli aku hanya merasa bangga. Aku telah melampaui batas diriku, aku telah mengambil langkah pertama menuju balas dendam. Aku tahu ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan sulit, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan terus berlatih dan suatu hari nanti, aku akan menjadi lebih kuat dari mereka semua. Matahari sudah meninggi saat aku terbangun. Kepalaku terasa berat dan mataku sulit terbuka, aku melirik jam dinding sudah lewat jam masuk sekolah, aku melewatkannya. Aku merasa lega, aku tidak harus menghadapi mereka. Tapi di sisi lain, aku merasa bersalah aku tahu bolos sekolah bukanlah hal yang baik. Namun, tubuhku terasa sangat lelah setelah latihan semalam aku hanya ingin tidur. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri, aku telah membuang kesempatanku. Tapi aku tidak bisa menyerah, aku tidak bisa membiarkan semua usahaku sia-sia. Aku tahu, aku harus lebih kuat dan Aku harus lebih berani. Aku terbangun di sore hari, Matahari sudah mulai condong ke barat. Aku tahu aku tidak bisa membuang-buang waktu lagi, aku mengambil ponselku membuka kembali kanal Paman Ayam. Sebuah video baru berjudul "Latihan Maraton 10 KM untuk Membangun Ketahanan" muncul. Tanpa ragu aku mengganti bajuku, memakai sepatu lari, dan keluar dari kos. Aku mulai berlari langkah pertama terasa berat, tapi aku tidak peduli aku hanya melihat jalan di depanku, membayangkan wajah-wajah busuk mereka. Satu kilometer, dua kilometer... Paru-paruku mulai terasa sesak, lakiku terasa kaku dan keringat membanjiri wajahku. Namun setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku membayangkan kembali saat mereka menertawakanku pada saat mereka menghajarku. "Balas dendam," gumamku. Kata itu menjadi motivasiku. "Balas dendam."Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng
Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"
Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas
"Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis
Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj
Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.