Home / Romansa / Aku Rela Jadi Pengganti / 6. Kalau Jalan Pakai Mata

Share

6. Kalau Jalan Pakai Mata

Author: Nasreen
last update Last Updated: 2022-04-29 15:57:46

Andaikan Azura bisa ikut berbaring di dalam sana. Menyatu dengan tanah bersama jasad suaminya mungkin ada baiknya. Dulu Hanan pernah berjanji berbagi napas seumur hidup. Kenyataannya Tuhan lebih menyayangi Hanan. Memilih dia untuk pergi dari sisi Azura. Lebih baik bercerai, namun masih dapat melihat Hanan seutuhnya. Daripada berpisah dari jiwa raga Hanan untuk selamanya. Sangat menyakitkan tak dapat lagi mendengar, serta menyentuh suaminya lagi seperti dulu .

“Tuhan aku mencintai dia. Tak bisakah aku ikut bersamanya? Maaf bila aku menyalahi takdir yang Engkau berikan. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa dia,” ucap lirih Azura memeluk nisan suaminya.

Cairan hangat membasahi kedua pipinya hingga lembab. Azura merogoh saku celana bagian belakang. Mengambil ponsel pintar untuk menghubungi Albert.

“Pak Tua, bisa jemput aku di pemakaman Jeruk Purut?” tanya Azura lemah sembari mengelap air matanya.

“Baik, Nyonya.” Albert segera turun ke parkiran menuju area pemakaman dengan mobil.

Suara serak Azura dari telepon sudah dapat diduga Albert habis menangis. Hujan yang turun membuat Albert mempercepat laju kemudinya. Kuatir bila Azura akan menunggu lebih lama.

Setiba di pemakaman Albert turun dari mobil menggunakan payung hitam. Jalan yang berlumpur karena hujan menjadikan Albert berhati-hati melangkah. Dari kejauhan tampak Azura basah kuyup di tengah derasnya hujan.

Azura memeluk gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Air mata Azura melebur menjadi satu dengan air hujan yang terasa tawar. Hujan tidak menghalangi Azura untuk tetap meluapkan rindu di dadanya.

Azura menoleh ke belakang saat suara berat ciri khas Pak Tua terdengar. Tetesan hujan tak lagi menyentuh kulitnya karena Albert sudah memayungi Azura.

“Lebih baik kita pulang, Nak.” Albert mengangkat bahu Azura dengan sebelah tangan sedangkan tangan yang lain memayungi Azura. Hati Albert pedih melihat Azura terus menangis.

Azura berteriak melawan suara bising hujan yang mengalahkan suaranya yang kecil.

“Pak Tua, mengapa Tuhan tidak ikut mengambil nyawaku saat itu juga? Mengapa hanya dia yang di ambil? Apakah Tuhan tidak menyayangiku? hingga semua orang yang kusayangi pergi meninggalkan ku sendiri.” Tangis Azura di pundak Albert.

Azura merasa takdir kejam padanya merengut satu-satunya pemilik hatinya.

Albert menarik napas beratnya dengan pertanyaan Azura. Sulit untuk Albert menjelaskan kejadian yang terus bertubi-tubi mendera Azura. Albert sendiri belum mengalami hal buruk seperti Azura. Lalu apa yang harus Albert katakan? Tangis yang kian keras memilu.

“Nak, Tuhan itu Maha Adil. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kamu. Tidak baik kamu berprasangka buruk pada-Nya. k

Kasihan, Tuan Hanan di sana pasti Dia tidak tenang. Dia akan merasa bersalah telah meninggalkan kamu di sini. Nak, kamu tidak sendiri masih ada saya yang akan selalu melindungimu.” Albert menepuk lembut bahu Azura. Semoga ucapannya sedikit menenangkan Azura.

Albert juga merasa kehilangan sosok Hanan di sisinya. Perusahaan terasa sepi tanpa Hanan, rumah yang dulu penuh keceriaan kini suram tak berpenghuni. Sejak Hanan meninggal Azura tidak mau tinggal di sana lagi. Terlebih lagi setelah Azura menikah lagi. Rumah megah itu kini hanya sebuah raga tak berjiwa.

Azura mendongak menatap dalam Albert. Perkataan Albert bagai seorang ayah yang tengah memberi kekuatan pada putrinya. Sosok yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya.

“Ayo, kita pulang.” Menuntun Azura melewati lumpur yang mengenang.

Azura mengangguk pelan, mengusap pipi chubbynya. Tangan Azura melipat di dada, telapak tangan menggosok ke dua bahunya yang bergetar.

Langkah kaki terasa berat meninggalkan tempat ini. Azura berpaling sebentar ada rasa tak rela meninggalkan tempat itu. Albert berhenti juga sebentar membiarkan Azura memandangi tempat terakhir Hanan.

“Ikhlas, Nyonya. Itu akan membuat hati Nyonya jauh lebih baik. Percaya lah," ucapan Albert yang tahu perasaan Azura.

Albert benar selama ini Azura belum benar-benar ikhlas atas kepergian Hanan. Azura sering mengutuk dirinya penyebab kematian suaminya. Sesungguhnya siapa sebenarnya jati diri Azura? sampai ada orang yang menginginkan Azura mati. 

Semilir angin yang dibawa hujan menjadikan badan Azura mengigil kedinginan.

Albert melihat Azura kedinginan cepat menuntut Azura masuk ke dalam mobil. Melewati jalan tanah liat yang licin cukup bikin Albert kesulitan melangkah kakinya. Ia tidak mempedulikan lagi sepatu mahal basah dan kotor kena cipratan lumpur.

“Pak Tua, bagaimana cara membuat Aksha melunak dan mendapatkan kepercayaan dia?” tanya Azura yang duduk di samping Albert.

Albert tahu Azura pasti kesulitan mengendalikan Aksha yang kasar. Menaklukkan hati Aksha sangat penting untuk mencapai tujuan Azura. Berlindung di balik Aksha yang notabene seorang pengacara terkenal adalah rencana Azura sendiri. Apalagi ketika Albert mengetahui bahwa Dahlia salah satu dari mereka. Itu akan membuka jalan bagi Azura untuk mengetahui siapa mereka?

“Saya tidak tahu banyak tentang sifat Aksha. Tapi lebih baik Nyonya bersikap lembut karena keras di lawan keras tidak akan mengubah Aksha yang ada dia akan semakin kasar pada Nyonya. Biasanya laki-laki suka diperhatikan,” saran Albert sambil menyetir.

“Akan aku coba,” jawab Azura datar.

“Saya harapan, Nyonya jangan bertindak gegabah pada Dahlia. Kita belum tau pasti Dahlia salah satu dari mereka atau Dahlia hanya umpan mereka buat untuk menjebak Anda,” jelas Albert.

Azura mengangguk paham dengan ucapan Albert. Ia melepaskan kalung yang melingkari lehernya, diletakkan dalam genggamannya.

“Selidiki di mana kalung ini di buat. Aku menduga kalung ini milik kedua orang tuaku. Di lihat dari desain dan batu permata yang langka ini pasti dibuat khusus,” ucap Azura menyerahkan ke Albert.

Albert menoleh sekilas, menerima dengan tangan kiri. kalung yang berbentuk bulan sabit dengan permata biru di tengah.

"Ini memakan waktu yang lama," kata Albert.

"Aku tidak peduli selama bisa mendapatkan informasi penting. Aku bisa menunggu dengan sabar."

"Secepatnya akan saya kabari, Nyonya. Ngomong-ngomong apa sebaiknya kita mampir ke toko baju? saya lihat, nyonya kedinginan. Saya takut, Nyonya sakit." Perhatian Albert.

"Enggak usah, sebentar lagi aku sudah sampai," tolaknya.

“Turunkan aku di depan lorong itu,” pinta Azura menunjukkan tempat yang ia maksud.

"Baik."

Albert pun berhenti di depan lorong sesuai kemauan Azura. Albert tidak heran dengan Azura yang meminta turun di jalan. Ya, pasti tidak ingin dilihat Aksha.

Azura turun dari mobil dengan melihat kanan-kiri. Memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Mobil Albert pun melaju meninggalkan Azura yang masih menatap kepergian Albert.

Untung hujan sudah reda, tubuhnya mulai menggigil ketika angin menyapu badannya. Ia harus cepat sampai rumah. Sesampai di depan pagar yang tidak terkunci. Seingat Azura sebelum pergi ia sudah memastikan pagar terkunci. Apa Aksha sudah pulang dari kerja?

Tidak s

engaja Azura menabrak seseorang.

“Kalau jalan mata dipakai bukan dengkul,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Rela Jadi Pengganti   23. Bangkit

    Azura mengangkat kakinya dari dada pria itu dengan gerakan cepat dan berbalik. Berjalan mondar-mandir di hadapan pria yang masih terikat di kursi. Wajahnya penuh kemarahan, matanya menyala-nyala seperti bara api. Pria itu, dengan wajah yang semakin memerah dan kulit yang mengelupas, hanya bisa meringis kesakitan.“Kau pikir kau bisa bermain-main dengan aku, ya?” suara Azura bergetar dengan kemarahan. “Aku bertanya lagi, mengapa kau menghabisi bawahanku?”Pria itu menelan ludah, berusaha mengumpulkan kekuatannya. “Aku tidak tahu siapa bawahan yang nyonya maksud,” katanya dengan suara serak.Azura berhenti di depan pria itu, menatapnya tajam. “Jangan bohongi aku! Kau kenal Albert ?” teriaknya. Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu. “Aku tahu kau terlibat. Katakan kebenarannya, atau aku pastikan rasa sakit ini hanyalah permulaan.”Pria itu terdiam, menatap Azura dengan tatapan campur aduk antara ketakutan dan kebencian. “Baiklah,” katanya akhirnya menyerah, suaranya nyaris

  • Aku Rela Jadi Pengganti   22. Dendam Azura

    Kematian Albert pukulan terbesar untuk Azura. Albert sendiri telah dianggap orang tuanya, Azura tidak dapat menerima kenyataan. Bahwa sekali lagi hidupnya diporak-porandakan oleh sosok keji itu yang tak dikenalnya.“Siapapun dia, aku akan membalas kematianmu,” batin Azura bertekad mengepal keras tangannya.Masih di posisi sama, Aksha bergeming. Ia bingung menghadapi situasi yang ia sendiri tidak mengerti. “Zura, tenangkan dirimu. Kasihan beliau bila terlalu lama dibiarkan. Kita harus menguburkan secepatnya,” saran Aksha saat ini.Azura bangkit, menghapus bulir hangat di pipinya.“Bi Asih tolong persiapan pemakaman Pak tua. Aku akan mengurus yang lainnya,” perintah Azura kemudian berjalan naik ke lantai atas.Tatapan iba Aksha berikan kala Azura naik ke atas. Entah apa yang dipikirkan Azura yang jelas ia sejenak lupa kehadiran Aksha. Pria itu berusaha mengerti perasaan Azura yang sedang berkabung. Aksha membantu Asih mengurus segalanya.“Kenalkan saya , Aksha suami Azura.”“Sa

  • Aku Rela Jadi Pengganti   21. Kematian Albert

    Albert di bawa ke sebuah rumah kosong yang dulunya rumah orang tua Azura. Bangunan yang kokoh dahulu itu kini terbengkalai. Puing-puing dari sisa kebakaran masih melekat jelas. Kemegahan yang dulu jadi sorotan publik tinggal kenangan.“Ikat dia!” perintah Andre mengamati Albert yang pingsan.Anak buah Andre mengikat Albert di tiang beton sisa dari pilar rumah. Atap rumah sebagian hancur dan dibiarkan menganga. Angin dan hujan bisa masuk kapan saja.“Bangunkan dia!” Andre menyeret kursi kayu, ia duduk di depan Albert. Salah seorang anak buah Andre membawa ember berisi air lalu disiram ke wajah Albert. Sontak pria tua itu terbangun. Kacamata yang bertengger di hidung Albert jatuh.“Siapa kalian?” tanya Albert samar penglihatannya.Andre tersenyum sinis, bergerak mengambil kacamata milik Albert di bawah kakinya.“Kau cukup berani juga ya.” Andre memakaikan kacamata untuk Albert.Andre kembali duduk di kursi menyilang kaki dengan angkuh.“Katakan di mana Avantika Hadinata?”Sek

  • Aku Rela Jadi Pengganti   20. Malaikat Maut

    Soraya berjalan santai ke salah satu kamar yang tak di rawat. Dua tangan membawa nampan yang berisi makan siang. Setiba di kamar yang dituju, seorang pria berbaju hitam membukanya pintu untuk Soraya.“Kau selalu kaget melihat aku datang,” ucap Soraya menaruh nampan di atas nakas lalu duduk di pinggir kasur.Ruslan melebarkan bola matanya melihat Soraya duduk bersebelahan dengannya. Rasanya ingin ia cekik Soraya hingga kehabisan napas.“Aku ingin membunuhnya,” batin Ruslan menyimpan banyak kemarahan.Soraya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. “Makian apalagi yang kau lontarkan untukku di dalam hatimu, Ruslan?” Seolah-olah Soraya tahu apa yang diucapkan Ruslan dalam hatinya.“Kau membuatku muak Soraya, enyahlah kau dari hadapanku.” Hanya bisa membatin, ia tidak bisa berbicara.Ruslan mengalami stroke akibatnya lumpuh total pada bagian vitalnya. Kelumpuhan tak ada yang mengetahui ke kecuali Soraya, Andre dan beberapa anak buah Soraya. Sengaja dirahasiakan takut harga s

  • Aku Rela Jadi Pengganti   19. Infomasi Dari Barak

    Pukul satu siang, Aksha keluar dari kamarnya. Penampilannya terlihat segar sudah rapi dengan pakaian santainya. Pekerjaan dipindahkan di rumah sehingga rekannya terpaksa datang ke rumah. “Susah ya kalau lagi cinta bersemi sampai lupa keriaan,” ledek barak memeriksa apa yang harus diberikannya kepada Aksha. “Makanya nikah biar lu tau rasa enaknya,” balas Aksha mengambil file dari tangan Barak. Yang diajak bicara malah fokus arah lain. Kemunculan Azura membuat Barak terkesima pasalnya pertama kali melihat kakak ipar dengan saksama. Pria tengil itu langsung memepet ke Azura. Akibatnya, Aksha memasang mata tajam kepada temannya itu dan menyeret Barak kembali untuk duduk. “Lihati apa?” Aksha memukul kepala Barak menggunakan tumpukan file. “Hahaha, tenanglah. Aku lagi terpesona sama kecantikan kakak ipar. Gak usah cemburu gitu,” celetuk Barak mengusap kepalanya. “Cari mati nih, anak!” gumam Aksha diindahkan oleh Barak yang asyik menggoda Azura. “Silakan diminum dan dicicip camilannya,

  • Aku Rela Jadi Pengganti   18. Morning Kiss

    Paginya, Aksha berharap kalimat cerai tak pernah dilontarkan lagi oleh Azura. Sejatinya ia mulai menginginkan wanita itu hidup dengannya seumur hidupnya. Rasa memiliki berkecamuk di dada tak mau berpisah sedetik pun sampai Aksha memilih bolos dari kantor. “Pergilah kerja, aku tidak akan kemana-mana,” ucap Azura meyakinkan suaminya supaya beranjak dari ranjang. Kepercayaan diri Aksha setipis tisu. Kecemasan tidak melepaskan dirinya dari belenggu rasa takut ditinggalkan. “Tidak, Zura. Bila aku pergi kamu bisa saja meninggalkanku tanpa pamit.” Aksha menatap Azura penuh kekhawatiran kemudian memeluk Azura terlalu erat hingga istrinya merasakan sesak. “Aksha, aku kesulitan bernapas!” Aksha mendongak menyadari istri tak bisa bernapas baru lah mengurai pelukannya. “Maaf, aku kekencangan peluknya ya?” tanya Aksha polos sedangkan Azura mencebik bibirnya. “Hampir saja nyawaku melayang.” Azura mengambil napas sebanyak yang ia bisa. Aksha melintir bibir Azura yang maju lantas ditepis si p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status