Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Api yang Tidak Pernah Padam

Share

Api yang Tidak Pernah Padam

last update publish date: 2026-05-29 09:02:45

Kamar itu terasa terlalu sempit udara di dalamnya seperti menahan sesuatu yang belum selesai ,tirai bergerak pelan terkena angin malam dari celah jendela yang sedikit terbuka namun hawa di ruangan itu tetap terasa pengap seolah kemarahan yang memenuhi kamar itu memiliki bentuk sendiri ,Oxavio masih berdiri di depan Aruna rahangnya tegang kalimat terakhir Aruna masih menggantung di udara seperti luka yang belum sempat ditutup.

“Aku tidak melawan… karena aku harus membayar kesalahan ibuku.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Istirahat yang Dipaksakan

    Ruang VK masih dipenuhi suara napas berat seorang ibu yang sedang berjuang melewati kontraksi terakhirnya ,Aruna berdiri di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan pasien dengan lembut ,sesekali ia mengusap punggung tangan wanita itu untuk menenangkannya. "Tarik napas pelan, Bu..." Suaranya tetap lembut meski tubuhnya sendiri belum benar-benar pulih. "Bagus... sedikit lagi."Ibu itu mengangguk cepat sambil menahan kontraksi yang datang semakin kuat ,jemari tangannya mencengkeram sprei ranjang hingga buku-buku jarinya memutih"Sakit, Bu Bidan..." suaranya bergetar.Aruna mengusap lembut lengan ibu itu, berusaha menenangkan."Saya tahu bu ,sedikit lagi ,tarik napas yang panjang, lalu hembuskan perlahan ,bayinya sebentar lagi lahir."Ibu itu mengikuti arahan Aruna meski napasnya masih memburu ,keringat membasahi pelipisnya, sementara kedua tangannya masih mencengkeram sprei ranjang erat-erat seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Keras Kepala ?

    Alarm ponsel berbunyi pukul lima pagi ,suara itu memecah keheningan kamar yang masih gelap ,Aruna membuka mata perlahan ,tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin, tetapi belum benar-benar pulih ,kepalanya masih berat ,sendi-sendinya masih terasa nyeri dan ada lemas yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya ,Aruna berbaring beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar mencoba mengumpulkan tenaga. Semalam ia akhirnya tertidur setelah berjam-jam bergulat dengan demam, kelelahan, dan pikirannya sendiri ,Aruna mengangkat tangannya perlahan lalu menyentuh dahinya dan ya panasnya sudah turun "Syukurlah " ucapnya dalam hati ,meski begitu tubuhnya masih terasa kosong seperti baterai yang baru terisi separuh ,Aruna mengembuskan napas pelan kemudian duduk perlahan di tepi tempat tidur ,dunia di sekelilingnya seolah berputar pelan hingga ia harus memejamkan mata sesaat ,ia memejamkan mata sampai rasa berputar itu mereda. "Masih kuat." gumamnya ,

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Jejak Amarah

    Setelah percakapan yang tidak menghasilkan apa pun itu berakhir, Nina akhirnya pergi dengan suara mesin mobil yang semakin menjauh meninggalkan halaman ,Oxavio masih berdiri di teras rumah, tatapannya kosong mengarah ke depan sementara kata-kata Nina terus terngiang di kepalanya ,ia tidak menyukai kenyataan bahwa seorang bawahan berani berbicara seperti itu kepadanya lebih dari itu, ia tidak menyukai kenyataan bahwa sebagian ucapan Nina justru terus berputar di kepalanya ,dengan gerakan pelan, ia mengusap wajahnya kasar lalu mengembuskan napas panjang ,Oxavio akhirnya melangkah menuju lantai atas ,langkah kakinya terdengar di sepanjang lorong yang sepi ,entah karena ingin memastikan kondisi Aruna atau karena alasan lain yang bahkan tidak ingin ia akui pada dirinya sendiri.Saat tiba di depan kamar, ia mendorong pintu yang tidak terkunci ,tatapannya langsung menemukan Aruna ,perempuan itu ternyata belum tidur ,ia bersandar di kepala tempat tidur dengan selimut menutupi sebagian t

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Percakapan di Ujung Malam

    Malam semakin larut ,setelah memastikan cairan infus Aruna mengalir dengan baik dan suhu tubuhnya mulai sedikit turun, Nina akhirnya keluar dari kamar dengan langkah pelan, sebelum pergi ia sempat menarik selimut Aruna hingga menutupi bahunya ,Nina memandang sahabatnya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ,ia melihat Aruna benar-benar kehabisan tenaga bukan hanya tubuhnya tetapi juga hatinya, ia keluar pintu kamar tertutup perlahan ,rumah itu kembali sunyi ,Nina menuruni tangga menuju lantai bawah namun sesampainya di dekat pintu depan, langkahnya justru berhenti entah kenapa ia belum ingin pulang ,perasaannya masih tidak tenang ,ia akhirnya berdiri di teras rumah sambil memeluk tas di dadanya . Udara malam terasa cukup dingin jarum jam terus bergerak ,lima menit ,sepuluh menit hingga akhirnya pintu rumah kembali terbuka ,Nina menoleh Oxavio keluar seorang diri langkahnya terlihat tenang namun ada sesuatu pada wajahnya yang membuat Nina yakin pria itu juga belum benar-bena

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Harga dari Bertahan

    Cairan infus menetes perlahan ,Aruna terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam ,tubuhnya masih terasa berat, namun menggigil yang sejak siang tadi menyiksanya perlahan mulai berkurang ,Nina masih duduk di kursi di samping tempat tidur ,tangannya sesekali menyentuh dahi Aruna yang masih panas tetapi setidaknya tidak sepanas beberapa jam yang lalu"Untung turun sedikit," gumam Nina pelan.Aruna membuka matanya perlahan ,kelopak matanya terasa berat."Hm.""Hm apanya?" Nina mendengus pelan. "Kalau aku nggak datang, kamu mau gimana?"Aruna tersenyum tipis ,senyum kecil yang tampak lelah."Minum obat."Nina langsung memutar matanya."Terus pingsan sendirian di kamar?"Aruna terkekeh pelan namun tawa kecil itu berubah menjadi batuk ringan, Nina langsung menyodorkan air digelas"Nah kan."Aruna menerima gelas itu dengan tangan yang masih lemas."Makasih.""Makasih lagi."Nina menggeleng pelan pandangan matanya beralih p

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Batas Tubuh

    Sore perlahan bergeser menjadi malam ,cahaya yang sejak tadi masuk mulai memudar, meninggalkan kamar Aruna dalam remang yang tenang ,namun tidak dengan tubuhnya demamnya tidak turun justru semakin terasa membakar ,Aruna terbaring miring di atas tempat tidur dengan selimut yang ditarik hingga ke dada ,keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara tubuhnya menggigil tanpa bisa ia kendalikan ,sesekali giginya beradu pelan ,tangannya mencengkeram ujung selimut ,kepalanya semakin berat seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam ,Aruna membuka mata perlahan pandangannya sedikit buram ,langit-langit kamar terlihat bergoyang sebentar sebelum akhirnya kembali fokus ,ia mengembuskan napas pelan ,tenggorokannya kering ,tubuhnya terasa nyeri sampai ke tulang-tulang ,dengan susah payah ia berusaha bangun ,tangannya mencoba menekan kasur ,otot-otot lengannya menegang , baru setengah duduk pandangan di depannya langsung menghitam ,kepalanya berputar ,perutnya terasa mual ,refleks ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status