تسجيل الدخولMalam semakin larut ,koridor hotel yang beberapa jam lalu masih dipenuhi suara tawa peserta pelatihan, derap langkah sepatu, dan obrolan ringan kini mulai lengang ,kesunyian merayap perlahan, digantikan oleh hening yang berat ,sesekali hanya terdengar langkah kaki petugas housekeeping yang mendorong troli linen melewati lorong panjang, suaranya bergema samar seperti detak jantung yang lelah.
Di balik salah satu pintu kamar bernomor 1204, Aruna masih berdiri mematung ,punggungnya bersandarSetelah doanya selesai, Aruna tidak langsung bangkit ,ia membiarkan dahinya tetap menempel pada sajadah, merasakan tekstur kain yang kini lembap oleh air mata ,ia tetap duduk di atas sajadah, tubuhnya membungkuk dalam posisi pasrah total ,kedua tangannya masih menutupi wajah yang basah oleh air mata, jari-jarinya gemetar halus ,dadanya naik turun tidak teratur, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari jauh dari kejaran mimpi buruk ,sesak itu belum hilang ,rasa berat di dada seolah ditindih batu besar yang tak kasatmata ,namun setidaknya tangis yang sejak tadi menyesakkan tenggorokan mulai sedikit mereda, berubah menjadi isak pelan .Di luar jendela kaca hotel yang tebal, kota masih hidup ,dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu hati sedang hancur ,lampu kendaraan terus bergerak di jalan raya bawah sana seperti aliran sungai cahaya yang tak pernah kering ,berdansa dalam kemacetan malam ,orang-orang di sana mungkin sedang tertawa bersama teman di kafe
Malam semakin larut ,koridor hotel yang beberapa jam lalu masih dipenuhi suara tawa peserta pelatihan, derap langkah sepatu, dan obrolan ringan kini mulai lengang ,kesunyian merayap perlahan, digantikan oleh hening yang berat ,sesekali hanya terdengar langkah kaki petugas housekeeping yang mendorong troli linen melewati lorong panjang, suaranya bergema samar seperti detak jantung yang lelah.Di balik salah satu pintu kamar bernomor 1204, Aruna masih berdiri mematung ,punggungnya bersandar kuat pada daun pintu kayu yang baru saja ia kunci rapat, seolah mengunci dunia luar beserta segala kenangan buruknya ,ia tidak langsung menyalakan lampu ,ruangan hanya diterangi cahaya kota yang masuk melalui jendela besar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding ,remang-remang ,sepi, persis seperti isi kepalanya saat ini ,kacau, gelap, dan kosong sekaligus ,perlahan ia melepaskan tas dari bahunya ,tali tas itu melorot, dan tas jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pela
Malam itu, setelah insiden panggilan mendadak di area lounge yang di mana Oxavio hanya meminta Aruna datang tanpa alasan jelas, membiarkannya menunggu selama dua puluh menit, lalu sekadar menanyakan konfirmasi data sepele sebelum mengusirnya kembali membuat suasana hati Aruna hancur berantakan ,rasa kesal bercampur malu karena dilihat oleh rekan-rekan lain yang mengira itu adalah momen romantis, membuat dada Aruna sesak , dan ia tidak bisa kembali ke kamar dengan perasaan seperti itu ,dinding kamar hotel yang sunyi justru akan membuatnya semakin memikirkan betapa terkendalinya hidupnya oleh pria itu ,jadi ketika jadwal pelatihan akhirnya benar-benar selesai tepat waktu pukul sembilan malam, membuat suasana para peserta lebih santai ,Aruna memilih untuk tidak langsung naik ke kamarnya .Beberapa orang memilih kembali ke kamar hotel untuk beristirahat, memanjakan diri dengan kasur empuk dan air panas ,sebagian lagi memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di area hotel yang c
Hari keenam pelatihan berlangsung cukup lancar ,setidaknya sampai pukul lima sore ,materi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal ,moderator mengumumkan istirahat ,memberikan ruang bagi peserta untuk bersantai sebelum sesi malam yang opsional ,Aruna merasa bisa bernapas lega ,otot-otot bahunya yang tegang mulai melonggar ,ia bahkan sudah merencanakan makan malam tepat waktu hanya itu ,tidak ada ambisi untuk menjadi peserta terbaik demi pujian semu ,tidak ada tugas tambahan yang disembunyikan di balik amplop putih ,ia hanya ingin makan sebelum perutnya kembali protes, menikmati hangatnya sup krim jagung atau steak sederhana tanpa rasa was-was bahwa ponselnya akan berdering memanggilnya kembali ke "penjara" pribadi. "Mbak Aruna!" Sintya muncul sambil membawa tas selempangnya, wajahnya cerah penuh harap. "Mau ikut makan?" Aruna menoleh, melihat senyum tulus rekan barunya itu ,ia tersenyum kecil "Boleh." "Serius?" Sintya tampak tidak percaya, matanya memb
Hari pertama pelatihan dimulai ,lokasi pelatihan tahun ini dipilih di sebuah hotel bintang lima di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk koridor rumah sakit tempat Aruna bekerja sehari-hari ,gedung yang megah dengan arsitektur kaca modern itu berdiri kokoh, memancarkan aura eksklusivitas yang jarang dirasakan oleh tenaga kesehatan lini depan ,peserta yang lolos seleksi berasal dari berbagai unit dan bahkan berbagai rumah sakit dalam satu grup kesehatan besar ,ada perawat dari IGD rumah sakit swasta ternama, bidan senior dari puskesmas daerah, hingga tenaga kesehatan dari cabang-cabang lain di kota tetangga. Suasana aula utama cukup ramai, dipenuhi dengung obrolan profesional dan pertukaran kartu nama ,sementara Aruna memilih duduk di barisan tengah, posisi strategis yang tidak terlalu mencolok namun juga tidak tersembunyi ,ia membuka modul pelatihan yang dicetak di atas kertas tebal berlogo emas ,matanya menelusuri kata-kata di atas kertas tanpa benar-benar membacanya ,ia tidak ter
Sejak kejadian dipanggil ke lantai atas beberapa hari lalu, anak-anak praktik seperti menemukan bahan candaan baru yang tak pernah habis ,gosip tentang "panggilan romantis" dari CEO menjadi bumbu harian di ruang VK, mengubah setiap interaksi kecil menjadi peluang untuk menggoda Aruna. "Mbak Aruna." Panggilan itu datang dengan nada bernyanyi, khas Rani yang sedang iseng. "Hm?" Aruna bahkan tidak perlu mengangkat kepala dari laporan kebidanan yang sedang dikerjakannya ,jemarinya terus menari di atas keyboard, fokus pada data pasien. "Cie." Aruna menghela napas pendek, mencoba mengabaikannya. "Cie apa sih?" tanyanya datar, meski sudut bibirnya berkedut sedikit menahan geli. "Cie dipanggil." "Itu kerjaan." Jawab Aruna singkat, matanya tetap tertuju pada layar monitor. "Cie." Rani tidak menyerah ,ia menarik kursi dan duduk bersila di samping meja Aruna, dagunya ditopang tangan, menatap wajah bi
Cairan infus menetes perlahan ,Aruna terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam ,tubuhnya masih terasa berat, namun menggigil yang sejak siang tadi menyiksanya perlahan mulai berkurang ,Nina masih duduk di kursi di samping tempat tidur ,tangannya sesekali menyentuh dahi Aruna yang masih
Sore perlahan bergeser menjadi malam ,cahaya yang sejak tadi masuk mulai memudar, meninggalkan kamar Aruna dalam remang yang tenang ,namun tidak dengan tubuhnya demamnya tidak turun justru semakin terasa membakar ,Aruna terbaring miring di atas tempat tidur dengan selimut yang ditarik hingga ke d
Pagi datang terlalu cepat ,cahaya matahari sudah menyelinap masuk melalui celah tirai ,Aruna perlahan membuka matanya ,ada sesuatu yang terasa berbeda tubuhnya terasa sangat berat seolah ada yang meletakkan beban besar di atas dadanya sepanjang malam ,Aruna mengerjapkan mata beberapa kali ,kepala
Hari-hari Aruna semakin terasa seperti lingkaran yang tidak pernah selesai ,bangun ,bekerja dan pulang ,tidur beberapa jam lalu kembali bekerja. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang sama hingga kadang Aruna sendiri tidak lagi tahu hari apa yang sedang ia jalani ,tubuhnya mulai menunjukka







