Share

Topeng yang Retak (2)

Penulis: Amelia afsheen
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 22:01:40

Oxavio tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa ia terlihat begitu kacau pagi itu ,ia mengira itu sekadar kelelahan biasa atau efek samping dari "drama Korea" yang klise itu ,baginya Aruna hanyalah variabel yang sedang mengalami gangguan kecil, bukan manusia yang jiwanya sedang berdarah-darah.

Ia berjalan kembali menuju aula utama, langkah kakinya ringan namun hatinya masih diselimuti awan kelabu ,suasana sudah jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya .

Materi sesi kedua akan segera
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Sebelum Badai

    Hari-hari kembali berjalan sebagaimana mestinya atau setidaknya begitulah yang Aruna rasakan ,sebuah ilusi kestabilan di atas permukaan air yang tenang.Sejak jadwal dinasnya diubah menjadi shift malam secara permanen, hidupnya seperti berputar dalam lingkaran yang sama setiap hari ,monoton ,terprediksi dan melelahkan.Berangkat ketika langit gelap, disambut oleh lampu jalan yang menyala ,pulang saat matahari baru menampakkan diri, menyilaukan mata yang sudah terbiasa dengan kegelapan lalu berusaha mencuri waktu tidur di siang hari, meski tirai tebal di kamarnya tidak pernah mampu membendung kebisingan dunia luar sepenuhnya , tubuhnya perlahan mulai mengikuti ritme baru itu ,jam biologisnya bergeser, menyesuaikan diri dengan paksaan namun tetap saja ada rasa lelah yang berbeda ketika seseorang dipaksa hidup berlawanan dengan alam ,tubuh manusia dirancang untuk aktif di siang hari dan istirahat di malam hari ,melawan itu berarti melawan kodrat.Matanya lebih mudah sembab,

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Waktu yang Terus Berjalan

    Waktu terus berjalanHari berganti minggu, lalu minggu berganti bulan ,Aruna tidak lagi menghitung berapa kali ia harus menelan kecewa ,ia juga tidak lagi bertanya mengapa hidupnya harus berjalan seperti ini ,ada hal-hal yang memang tidak mampu ia ubah yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan.Sesekali, ketika rasa lelah itu terasa terlalu sesak memenuhi dada, ia mengingat satu yang selalu menjadi pegangan hidupnya ,bahwa Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa ujian tetapi Allah selalu menjanjikan bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan.Mungkin bukan hari ini ,bukan besok namun Aruna percaya, suatu hari nanti kebahagiaan akan menemukan jalannya sendiri menuju dirinya ,kepercayaan itulah yang membuatnya tetap mampu tersenyum setiap mengenakan seragam kebanggaannya.Rutinitas rumah sakit kembali berjalan sebagaimana mestinya ,Shift pagi ,Shift siang ,Shift malam semuanya berputar tanpa pernah benar-benar berhenti.Aruna kembali menikmati hari-harinya di r

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tak Terlihat

    Malam telah larut ketika Aruna akhirnya kembali ke kamar ,langkahnya pelan, nyaris terseret ,seharian bekerja setelah pelatihan seharusnya sudah cukup membuat siapa pun lelah namun bagi Aruna, yang menguras tenaganya bukan hanya pekerjaan fisik di ruang VK.Bayangan yang ia lihat sore tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti, seperti pita rusak yang macet pada adegan yang sama ,ibunya yang tertawa lepas ,Ayah Oxavio yang menyentuh lengan ibunya dengan akrab ,pemandangan itu seperti pecahan kaca tajam yang terus berulang menusuk ingatannya, melukai setiap kali ia mencoba mengalihkan pandangan ,dadanya dipenuhi sesak yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata ,rasa dikhianati oleh darah sendiri ,rasa jijik pada takdirnya ,ia hanya ingin mandi membersihkan diri dari debu kota dan noda batin ,lalu berbaring menutup mata ,berharap tidur mampu mencuri semua pikirannya, walau hanya untuk semalam ,menghilangkan kesadaran akan siapa dirinya sebenarnya ,anak dari wanita yang masih me

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Rahasia yang Belum Berakhir

    Hari pertama kembali bekerja berakhir cepat ,mungkin karena sepanjang hari ia benar-benar tenggelam dalam rutinitas ,otaknya terlalu sibuk memproses data medis , memeriksa tekanan darah pasien pre eklampsia ,membantu persalinan normal yang berjalan lancar namun melelahkan ,melengkapi rekam medis yang tertunda , sesekali bercanda renyah dengan Rani dan anak-anak praktik lain, mendengarkan cerita lucu mereka tentang guru pembimbing yang galak .Ia hampir lupa pada semua hal yang menguras pikirannya selama pelatihan. Saat jam kerja selesai dan langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, Aruna merapikan mejanya ,menata pulpen, menyusun berkas, dan mematikan komputer.Nina, yang sedang mengganti sepatu kerjanya dengan sandal jepit nyaman, menoleh dari loker sebelah."Mau langsung pulang?"Aruna menggeleng, memasukkan kunci loker ke dalam tas."Nggak.""Mau ke mana?""Mau beli beberapa perlengkapan.""Apa?""Skincare sama sabun ,stok di ru

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kembali ke Ruang VK

    Aroma khas rumah sakit kembali menyambut Aruna ,bau antiseptik yang samar, serta suara roda brankar yang berdecit pelan di lantai terasa begitu akrab di hidung dan telinganya.Suara panggilan perawat dari ruang perawatan, derap langkah tergesa tenaga kesehatan, dan bunyi monitor jantung yang berdetak ritmis ,semuanya adalah simfoni rutinitas yang selama beberapa hari terakhir ia rindukan tanpa sadar.Beberapa hari meninggalkan rutinitas ini ternyata cukup membuatnya merindukan kekacauan yang teratur ini , Aruna tersenyum kecil, bahunya yang tadinya kaku mulai rileks ,akhirnya kembali ke zona nyamannya.Ia baru saja melangkahkan kaki memasuki koridor menuju ruang VK ketika sebuah suara nyaring, penuh energi, dan sedikit sumbang terdengar dari kejauhan."MBAK ARUNAAA!"Aruna refleks menoleh, hampir menjatuhkan tas kerjanya ,belum sempat bereaksi, Rani sudah berlari kecil menghampirinya, sepatu sneakers-nya berdecit di lantai ,wajah gadis itu berseri-seri, matanya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Perjalanan Pulang

    Pelatihan resmi berakhir menjelang sore , satu per satu peserta mulai meninggalkan ballroom hotel ,suara roda koper bergesekan dengan lantai menciptakan simfoni perpisahan yang khas, diselingi ucapan salam perpisahan, pelukan hangat, dan janji-janji untuk bertemu lagi di kesempatan lain.Aruna berdiri di depan lobi, agak menjauh dari kerumunan ,ia menggenggam map berisi sertifikat pelatihannya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya benda nyata yang ia miliki saat ini, ia mengembuskan napas panjang"Akhirnya benar-benar selesai"Rasa lega itu datang perlahan, bercampur dengan kelelahan ,namun di balik rasa lega itu, ada kecemasan kecil ,karena pulang berarti kembali ke rumah ,kembali ke realitas yang sebenarnya."Bu Aruna."Pria muda dengan seragam rapi, menghampirinya dengan langkah cepat namun sopan."Mobil sudah siap."Aruna mengangguk pelan ,wajahnya datar, topeng profesionalisme yang belum sempat ia lepaskan sepenuhnya."Terima kasih."Ia m

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Tatapan yang tak biasa

    Hari di Pratama Medical Center berjalan seperti biasa Koridor rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa, bunyi roda ranjang pasien yang didorong perawat, dan percakapan pelan antara keluarga pasien yang menunggu kabar dari dalam ruangan ,Bagi banyak orang, suasana itu terasa menegangka

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Delapan Tahun Kemudian

    Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Racun yang dipaksakan

    Malam itu terasa berbeda ,Aruna menyadarinya bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Langit sudah gelap ketika ia pulang dari perpustakaan sekolah seharian ia sengaja pulang lebih lama, Rumah selalu terasa lebih aman ketika ibunya belum membawa tamu Namun begitu ia membuka pintu, ia la

  • Aku ,Target balas dendam CEO   luka yang dibawa pulang.

    Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status