LOGINBanyak tamu hadir memberi ucapan selamat kepada kami. Wajahku terasa kaku karena harus terus tersenyum, hampir kram karena terlalu lama menahan ekspresi. Setiap kali ada yang menatapku, aku tersenyum dan mengangguk, tapi hatiku tetap berdebar tak menentu.
Dua hari terakhir terasa begitu melelahkan, dan kini di tengah pesta yang megah ini, ketegangan itu masih membekas di setiap detak jantungku. Aku merasa seolah semua mata tertuju padaku, menilai setiap gerakan, setiap senyum, dan setiap kata yang aku ucapkan. Melihatku kelelahan, Tria akhirnya mengizinkanku beristirahat sebentar di ruang ganti. Tubuhku tersandar sejenak di kursi empuk yang tersedia, dan aku menutup mata, menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Meski tubuhku beristirahat, hatiku tetap berdebar, seolah menolak berhenti meski aku ingin melupakan beberapa hari terakhir yang penuh tekanan. Aku merasakan campuran lega dan cemas, lega karena bisa duduk sebentar, tapi cemas karena masih ada banyak hal yang belum aku pahami tentang situasi ini. Setelah beberapa menit menenangkan diri, aku kembali ke aula pernikahan. Pandanganku tertumbuk pada Tria yang sedang bercengkrama akrab dengan seorang wanita dewasa. Sesuatu bergetar di hatiku, campuran rasa penasaran, cemburu, dan sedikit takut. “Paman… ini siapa?” tanyaku, suaraku bergetar sedikit. Tria melepaskan tangan wanita itu dengan kikuk begitu mendengar suaraku. Ia berjalan menghampiriku, menggandeng lengan kecilku dengan lembut, penuh kasih sayang, seolah ingin menenangkan perasaan yang jelas terlihat bergejolak di wajahku. “Raiya, ini Manda. Teman Paman waktu Paman masih tinggal di pulau ini. Manda, ini istriku, pasangan Voremonku, Raiya,” ucap Tria sambil tersenyum tipis. “Hai, Raiya. Aku Manda, teman Paman kamu. Aku nggak menyangka kamu adalah pasangan Voremon Tria. Rasanya seperti keajaiban bisa melihatmu di sini,” kata Manda dengan suara hangat, sambil tersenyum ramah. “Hai, Bibi,” jawabku, sedikit ragu tapi mencoba menenangkan diri. “Raiya… ini kado dari Bibi. Bisa kamu pakai saat malam pertama dengan Paman. Aku jamin, Paman pasti senang melihatmu pakai ini. Dulu dia juga bantu aku pilih yang seperti ini saat menikah dengan mendiang suamiku,” jelas Manda sambil menepuk bahuku dengan lembut. Aku menatap Tria, tatapanku penuh tanda tanya. Tria segera menjelaskan, tergesa. “Bibi dulu hanya punya Paman, jadi Paman yang bantu dia pilih pakaian malam pertamanya. Jangan terlalu dipikirkan,” katanya, sedikit tergagap. Wajah Tria sedikit gugup. Aku masih ragu, tapi aku tahu ia tak akan melakukan sesuatu yang salah padaku. Lagi pula, Voremon dikenal pasangan yang setia. Tria sudah merawatku selama 18 tahun, dan aku tak pernah melihatnya dekat dengan wanita lain selain diriku. “Ah… Tria, maaf, aku terlalu banyak bicara. Jangan marah ya. Aku memang suka bicara. Lihat Raiya, rasanya seperti melihat putriku sendiri. Kamu tidak marah kan?” ucap Manda, menatapku dengan lembut. “Raiya anak yang pengertian, dia nggak akan marah. Kamu tenang saja,” jawab Tria sambil menepuk pelan punggung tanganku. Suaranya hangat dan menenangkan, seolah mencoba meredakan gelombang cemas yang kurasakan di dada. Aku hanya tersenyum tipis. Pesta pun berakhir. Tria membawaku ke kediamannya di pulau Voremon, kediaman paling mewah di pulau itu. Kunjungan pertamaku ke sini adalah saat aku berumur tujuh tahun, untuk merayakan Tahun Baru bangsa Voremon. Rumah ini selalu membuatku kagum, dengan taman yang rimbun dan danau Wesyra yang menenangkan, namun kali ini ada rasa aneh yang menyelimuti rumah megah itu, tidak ada seorang pun pelayan yang menyambut kami. “Paman… pelayan tidak ada yang bekerja hari ini?” tanyaku, suara penuh rasa ingin tahu. “Hari ini… kamu ingat tugas kita kan? Jika mereka ada, mereka akan mendengar,” jawab Tria dengan senyum tipis, matanya berkilat mengisyaratkan sesuatu. Wajahku merona, sadar akan tanggung jawab sebagai pasangan Voremon. Hatiku campur aduk antara gugup, malu, dan sedikit takut. “Ugh… Paman… sepertinya aku sedang haid. Bisa kita tunda lain kali saja?” pintaku, suaraku terdengar lirih. Tria mengangkatku tanpa sepatah kata, membawaku ke kamar pengantin. Tangannya hangat dan kuat, tapi lembut, dan aku merasa aman meski masih ragu. Aku bisa merasakan ketegangan yang sama di matanya, seolah ia juga ingin memastikan semuanya berjalan dengan benar kali ini. “Paman… aku..” “Jangan bohong. Haid terakhirmu baru selesai minggu lalu,” jawabnya tegas, tapi nadanya tetap lembut. “Tapi aku… biarkan aku mandi dulu…” ujarku ragu. Tria tahu Raiya sedang gugup, tapi kali ini dia ingin langsung menyentuhnya. Meskipun pengalaman pertama mereka buruk, Tria bertekad melakukannya dengan sungguh-sungguh saat ini. Rasa jijik yang masih tersisa di hatinya perlahan berubah setelah mereka mengucap janji setia di hadapan ratusan bangsa Voremon, menjadi sesuatu yang Tria sendiri tak sepenuhnya mengerti." Kami pun mulai, dan Tria melakukannya dengan cara yang memang terasa jauh lebih lembut dari pada malam itu. Matahari sudah tinggi saat ia akhirnya berhenti setelah melihatku demam. Keesokan harinya, aku terbangun dengan demam yang sudah turun. Tria memelukku di sisi tempat tidur, dan aku merasakan ketenangan yang aneh tapi menyenangkan. “Paman… aku lapar,” gumanku lirih. “Tunggu sebentar, Paman buatkan bubur jagung kesukaanmu,” jawabnya sambil tersenyum. “Aku ikut, aku mau lihat Paman masak,” kataku, mencoba bangkit tapi terhuyung karena rasa sakit. Tria cepat menangkapku. Tangannya kuat, tapi lembut, seakan bisa merasakan setiap ketakutanku. “Bukankah Paman sudah bilang tunggu?” “Paman… sakit… aku tak mau lagi… aku takut,” bisikku, hampir menangis. “Apakah sesakit itu? Maaf, kemarin Paman tidak mampu menahan diri lagi…” ucapnya lirih, penuh penyesalan. Tangisku pecah, akhirnya ia menggendongku ke dapur dan menyiapkan bubur jagung, setiap gerakannya penuh ketulusan dan kepedulian yang bisa kurasakan. “Bubur jagung untuk Tuan Putri sudah jadi,” kata Tria sambil meletakkan mangkuk di hadapanku. “Paman, aku mau cepat mencicipi, aku lapar!” seruku antusias. “Biar Paman bantu suapin ya. Kamu cukup diam,” jawabnya sambil tersenyum hangat. Aku makan dua mangkuk penuh, disuapi Tria, sebelum dia membawaku ke halaman rumah untuk melihat Danau Wesyra. Tria benar-benar memperlakukanku seperti putri di negeri dongeng, lebih dari sekadar seorang keponakan. “Paman… jika sudah tua nanti, aku mau tinggal di sini. Boleh? Aku mau punya anak dua, taman kecil di samping danau, sore hari memancing dan main ayunan,” kataku penuh harap. “Kenapa tanya begitu? Rumah ini juga milikmu. Mau buat apa, itu hakmu. Untuk anak… cuma dua saja?” tanya Tria sambil tersenyum. “Paman… anak dua itu merepotkan. Paman mau berapa?” tanyaku sambil merengek lucu. “Sepuluh, boleh,” jawabnya santai. “Tidak! Kalau mau sepuluh, kita adopsi saja. Aku nggak mau!” seruku sambil mendorongnya. Tria tertawa lepas melihat ekspresiku. “Baiklah, kita mulai dengan dua dulu, nanti kalau kurang kita buat lagi,” katanya sambil mengelus punggungku. Aku menatap Tria cemberut, tapi ada getaran halus di hatiku yang membuatku merasa… aman. Saat matahari memantul di permukaan danau Wesyra, sebuah rasa aneh merayap ke dadaku. Tria duduk di sampingku, tangannya masih menempel di punggungku, tapi aku menangkap kilatan kekhawatiran di matanya, sesuatu yang ia coba sembunyikan dariku. “Paman… ada apa?” tanyaku pelan. Tria tidak menjawab, dadanya naik-turun, seolah ada sesuatu yang menekan, sesuatu yang hanya ia rasakan. Dan di saat itu, aku tahu, bahwa meski dunia luar tampak damai, ada sesuatu yang… menunggu kami, tersembunyi di balik kedamaian itu.Anton datang tidak lama kemudian. Beberapa detik setelahnya, Dokter Cha juga menyusul dengan langkah tergesa. Namun keduanya langsung membeku begitu melihat keadaan Raiya di dalam ruangan.Tubuh Raiya terkulai lemah di atas ranjang operasi. Wajahnya pucat tanpa warna, sementara napasnya terdengar begitu tipis hingga nyaris tak terasa. nDan sesuatu yang seharusnya melindunginya, kini telah pergi.Raiya baru sadar keesokan harinya. Saat kelopak matanya terbuka perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah Zack yang duduk diam di kursi yang ada di sisi tempat tidurnya. Pria itu menatapnya tanpa berkedip, seolah-olah takut ia akan kembali menghilang jika lengah sesaat.Raiya mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi.“Raiya… kamu sudah bangun?”Raiya terdiam, menatap Zack dengan wajah yang terlihat bingung. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya masih juga terasa berat.“Zack, bagaimana bisa kamu ada di sini?”Zack segera berdiri dan membantu Raiya
Raiya tertegun. Ia mendongak, menatap Tria dengan tatapan yang penuh dengan ketidakpercayaan. Nafasnya tercekat, ada sesuatu yang menghantam dadanya dari dalam.Ia tidak pernah membayangkan bahwa pamannya, pasangan Veromon-nya sendiri, akan mengucapkan hal seperti itu. Kata-kata itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga menghancurkan sesuatu yang selama ini ia pegang dengan erat.Raiya memalingkan wajah ke samping, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan.“Paman…” suaranya gemetar. “jika aku melakukannya, jika aku menuruti kemauan paman, apakah hutangku pada paman karena paman telah membesarkanku selama dua puluh tiga tahun ini akan lunas?”Ia tidak sanggup mengucapkan semua itu sambil menatap Tria. Tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya yang hampir runtuh.Keheningan itu memenuhi ruang kamar mereka. Dan tak ada jawaban yang datang.Tria ingin mengatakan bahwa ia salah bicara. Ingin menarik kembali semua kalimat yang baru saja keluar
Napas Raiya tercekat. Tubuhnya mulai bergetar hebat, seolah-olah rasa dingin perlahan merayap keluar dari dalam tulangnya sendiri.“Nggak...” bisiknya lirih.Dengan tangan gemetar, ia meraih jubah mandi lalu mengenakannya seadanya sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Langkahnya terburu-buru. Napasnya terdengar kacau dan tidak beraturan.Raiya segera membuka laci meja di samping tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari nama Tria. Jemarinya langsung bergerak menuju kontak Dokter Cha.Raiya tidak tahu banyak tentang bangsa Veromon. Sejak bayi, ia telah hidup di dunia manusia. Dan dari bangsanya sendiri, orang yang benar-benar ia kenal hanyalah Tria dan Dokter Cha.Karena itu, hilangnya tanda pasangan di punggungnya terasa jauh lebih mengerikan daripada yang mampu ia pahami. Namun sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil.Klik.Pintu kamarnya perlahan terbuka. Dengan penuh kesadaran Raiya langsung menoleh menatap sosok yang kini berdiri tegak di depan pin
Raiya meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menekan satu nama yang selalu ia harapkan kehadirannya.Sekali, dua kali dan berkali-kali. Namun tak satu pun dari panggilannya yang dijawab.Jemarinya menggenggam ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memucat. Bibirnya bergetar pelan, terus memanggil nama Tria di tengah isak yang tertahan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, Raiya tertidur dalam keadaan seperti itu.Saat pagi datang, ia terbangun dengan rasa kram yang menusuk di seluruh tubuhnya dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar duduk. Ia terdiam sejenak di atas tempat tidur, hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anton datang membawa sarapan ke dalam kamarnya dan Tria.“Paman belum pulang?” tanya Raiya lirih begitu melihatnya.Anton terdiam beberapa sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan.Begitu melihat jawabannya, Raiya hanya mengangguk. Tak ada pertanyaan lain yang lolos dari bibirnya.Hari demi hari terus berlalu dengan kehen
Kamu mengandung anak Tria?”Raiya kembali menoleh, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Dokter Cha terdiam. Tubuhnya bersandar perlahan ke belakang, sementara rahangnya menegang samar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.“Bagaimana bisa?” suaranya rendah, tak percaya.“Umurmu masih kurang tiga tahun untuk bisa mengandung keturunan bangsa Veromon, Raiya.”Nada suaranya bergetar, antara logika dan ketakutan.“Raiya… jelaskan padaku.”Raiya menyentuh perutnya tanpa sadar, gerakan itu refleks dan penuh kehati-hatian.“Dokter Pras,” ucapnya pelan.“Paman mencari bantuan dari Dokter Pras. Selama ini, Paman kesulitan mengendalikan hasratnya padaku… dan akhirnya ia meminta bantuannya.”“Dokter Pras bilang, jika aku bisa segera melahirkan anak paman, hasrat paman padaku akan segera hilang.”Tangan Raiya tetap berada di atas perutnya, memastikan bahwa sesuatu yang seharusnya ada di sana masih tetap ada.Tatapan Raiya perlahan beralih ke arah jendela, lalu
“Anton!” panggil Raiya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Tatapannya menajam, dipenuhi kecemasan yang perlahan berubah menjadi ketakutan.“Paman... apa dia menemui wanita itu? Bibi Manda?”“Nona... Mungkin tuan hanya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Tolong jangan berpikir terlalu jauh. Tuan hanya mencintai nona seorang.”Tubuh Raiya menegang seketika, air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.“Kenapa? Kenapa Paman masih menemuinya? Bukankah aku sudah mengandung anaknya? Bukankah hasrat itu seharusnya sudah hilang?”Raiya menatap Anton dengan tatapan putus asa. “Kenapa, Anton?”“Nona, tolong...” Anton melangkah mendekat ke arah Raiya. “Kondisi nona sedang hamil. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.”Raiya tidak menanggapi nasehat Anton, ia hanya menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan menahan sesak yang memenuhi dadanya. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali.“Anton, antar aku ke kediaman Bibi Manda.







