Share

Bab 4

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2025-11-04 09:11:32

Tria menekanku dengan kasar. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, sementara bibirnya menutup mulutku tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menghindar. Nafasku tercekat. Kepalaku seketika kosong, seolah seluruh pikiranku tersapu bersih dalam satu tarikan napas.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Ketika cengkeramannya semakin kuat, tubuhku membeku. Aku ingin menjerit, ingin memanggil siapa pun, tetapi suaraku tidak keluar. Yang ada hanyalah rasa takut yang menjalar dari ujung kepala hingga kakiku.

Saat kesadaranku kembali sedikit demi sedikit, aku menyadari pakaianku telah berantakan. Kain yang tadi menutupi tubuhku kini robek dan terlepas. Mataku membesar, jantungku berdetak begitu kencang hingga terasa menyakitkan.

Aku mencoba mendorong tubuhnya. Tapi tenagaku gemetar, tidak sebanding dengan kekuatan yang menekanku. “Paman… tolong…” suaraku bergetar, penuh permohonan.

Namun Tria tidak mendengarnya.

Ia menarik tubuhku dan melemparkanku ke atas ranjang kecil di sudut ruang dengan kasar. Tatapannya kosong, seolah yang berdiri di hadapanku bukan lagi Paman yang selama ini kukenal. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasionalitas, hanya dorongan yang tak bisa ia kendalikan.

Tanda pasangan di tubuhnya bereaksi hebat terhadap tanda pasangan yang baru saja muncul di punggungku. Reaksi itu merampas kesadarannya sedikit demi sedikit, menenggelamkan logika dan nurani yang seharusnya menghentikannya.

Aku menjerit dan menangis, memohon pertolongan. Air mata mengalir tanpa henti, membasahi pipiku dan sprei ranjang. Namun Tria sama sekali tidak menggubrisnya. Baginya, suara tangisku hanya gema samar yang tenggelam di balik dorongan tanda pasangan yang menguasai tubuhnya.

Ketika akhirnya Tria tersadar sesaat, semuanya telah terlambat.

"R-Raiya..." panggilnya dengan suara lirih.

Melihat wajahku yang basah oleh air mata ketakutan dan rasa sakit, tubuhnya seakan membeku. Ada kilatan kesadaran di matanya. Tangannya gemetar, seolah ingin menjauh dan melepaskan diri.

Namun sebelum ia berhasil, tanda pasangan di punggungnya kembali bereaksi.

Kesadarannya kembali direnggut.

Ia terus memaksaku hingga tubuhku menyerah sepenuhnya dan kehilangan kesadaran. Namun bahkan ketika aku tak lagi sadar, tubuh Tria tidak berhenti. Dorongan itu terus menguasainya, menenggelamkan sisa kemanusiaan yang berusaha bangkit.

Aku sempat terbangun dalam keadaan setengah sadar. Rasa nyeri yang menusuk membuatku meringis. Namun saat aku menyadari bahwa semua ini nyata, bahwa aku masih terjebak dalam mimpi buruk yang sama, tubuhku tidak lagi kuat menahannya.

Aku kembali tak sadarkan diri.

Dua hari berlalu.

Selama dua hari itu, Tria tidak membiarkanku meninggalkan ranjang sedikit pun. Tanda pasangan itu memaksanya untuk terus berada di sisiku, seolah takut kehilangan sesuatu yang bahkan tubuhnya belum pahami sepenuhnya.

Ketika akhirnya tubuhnya merasa puas dan gejolak tanda pasangan itu mulai mereda, kesadarannya perlahan kembali.

Ia terkejut saat menyadari tubuhnya masih terhubung erat dengan tubuhku. Dengan panik, ia berusaha melepaskan diri.

Tria terduduk lemas di sisi ranjang.

Tatapannya jatuh pada tubuhku yang terbaring lemah dan tak berdaya. Bekas luka memenuhi hampir seluruh tubuhku. Tubuhku yang belum sepenuhnya dewasa tampak rapuh dan penuh tanda penderitaan.

Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.

Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini. Tidak tahu bagaimana harus menebus perbuatan yang telah menghancurkan hidup seseorang yang sudah ia rawat sejak bayi.

Ia merutuki dirinya sendiri berulang kali.

Setelah lama terdiam, Tria memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan tubuhku terlebih dahulu. Tangannya gemetar ketika mengangkatku, seolah takut sentuhan kecil saja bisa melukaiku lebih jauh.

Ketika ia turun dari rooftop, Anton dan para pengawal lainnya menunggu di depan pintu dengan wajah tegang.

“Kalian mengetahuinya?” tanya Tria dengan suara dingin.

“Ya, Tuan,” jawab mereka serempak.

“Kalian tidak mencoba menghentikanku?”

Anton menunduk sebelum menjawab, “Tuan… sebelum semuanya terjadi, Tuan sendiri yang memerintahkan kami untuk tidak ikut campur dan tetap menunggu di luar.”

Amarah menyala di mata Tria. “Panggil Dokter Cha ke kamarku. Kalian akan menerima hukuman saat kita kembali ke Amelo.”

“Baik, Tuan.”

Tria membersihkan tubuhku dan menggantikan pakaianku dengan yang baru, ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Setiap gerakannya penuh keraguan dan penyesalan.

Dokter Cha datang tak lama kemudian. Ia terkejut melihat kondisiku. Tanpa perlu banyak penjelasan, ia sudah mengerti apa yang telah terjadi.

“Tubuh Raiya mengalami kelelahan parah dan kekurangan cairan,” kata Dokter Cha setelah memeriksaku. “Aku sudah memberinya infus. Ini salep dan obat untuk mengurangi rasa sakit. Kau bisa membantunya mengenakan ini.”

Tria menerima obat itu tanpa berkata apa-apa.

Ia berjaga di sisiku sepanjang malam.

Keesokan paginya, aku terbangun. Namun begitu melihat Tria, ketakutan kembali menyeruak. Aku berteriak histeris, tubuhku gemetar hebat.

Tria mencoba menenangkanku, tetapi usahanya sia-sia.

Akhirnya, dengan terpaksa, ia menyuntikkan obat penenang agar aku kembali tertidur.

Hal itu terus berulang selama dua hari.

Bahkan aku sempat mencoba melompat dari balkon ketika melihat Tria mendekat. Beruntung, refleksnya lebih cepat. Ia menarik tubuhku dan memelukku erat, meski aku terus meronta dan berteriak.

Dengan suara berat dan mata yang basah, Tria akhirnya menjelaskan semuanya.

“Raiya… maafkan Paman,” ucapnya. “Semua ini salah Paman.”

Aku masih terisak, napasku tersengal.

Tria menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian.

"Malam itu, Paman tidak mampu mengendalikan tanda pasangan kita dengan baik,” lanjutnya. “Tanda pasangan kita muncul… dan Paman kehilangan kendali.”

Suaranya bergetar. “Maaf karena telah memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Paman mohon, jangan pernah mencoba bunuh diri lagi. Paman, tidak bisa kehilangan kamu.”

Air mata menetes di wajah Tria. Keletihan dan penyesalan tercetak jelas di sana.

Aku berhenti meronta perlahan. Mata kosong dua hari terakhir kini menunjukkan kilatan emosi. Dengan suara pelan dan ragu, aku bertanya,

“Maksud Paman… kita adalah pasangan?”

Tria mengangguk. “Benar.”

Ia menggenggam bahuku hati-hati. “Tolong jangan tinggalkan Paman. Apa pun akan Paman lakukan, tapi jangan sakiti dirimu lagi.”

Aku terdiam sebelum bertanya lagi, mataku sedikit berbinar,

“Maksud paman… kita bukan bangsa Voremon yang cacat?”

Anggukan Tria berat, seolah mengakui sesuatu yang tak pernah ia harapkan.

“Tapi umur kita?” Aku menelan ludah. “Bukankah jodoh Voremon maksimal terpaut lima tahun? Paman tidak salah?”

Tanpa jawab, Tria melepaskan pakaiannya. Tangannya gemetar saat meminta aku memastikan tanda itu sendiri.

Aku terdiam. Air mata mengalir pelan, tanpa suara.

Tria menegaskan, “Kita akan menikah. Paman tidak akan lari dari tanggung jawab. Tetua Voremon sudah paman dihubungi. Dua hari lagi kita kembali, setelah akta nikah di dunia manusia selesai dibuat.”

Aku menatap Tria dengan saksama. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketergantungan yang begitu jelas di matanya. Aku menggenggam ujung baju Tria tanpa sadar. Lalu mengangguk.

Setelah memastikan aku tidak lagi berniat mengakhiri hidup, Tria membawaku kembali ke tempat tidur. Bekas luka di tubuhku memang telah menghilang, tetapi rasa nyeri di bagian bawah tubuhku masih tertinggal, mengingatkan pada kejadian yang belum sepenuhnya bisa kuterima.

Dua hari kemudian, pesta pernikahan kami digelar dengan sangat mewah di pulau milik bangsa Voremon, setelah sebelumnya mengurus akta nikah di dunia manusia. Seluruh bangsa Voremon hadir untuk memberi ucapan selamat.

Tria dikenal sebagai Voremon terkaya di pulau itu, seseorang yang menggelontorkan kekayaan pribadinya demi kehidupan layak bagi bangsanya. Pesta ini digelar di kediaman keluarga Harya, keluarga asal Tria, dengan kemewahan yang sulit dibayangkan.

Setelah janji pernikahan diucapkan, jamuan besar diselenggarakan. Dana sebesar dua ratus triliun dolar dihabiskan demi menjadikan pesta ini tampak sempurna.

Namun di tengah senyum dan ucapan selamat, aku merasakan sesuatu yang ganjil.

Tatapan salah satu tetua Voremon tertuju padaku, tajam, dingin, seolah menilai.

Dan saat itu aku sadar, pernikahan ini bukanlah akhir dari konflik, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 39

    Semua orang menatap Raiya dengan ekspresi rumit, terkejut, tegang, dan sulit percaya.Raiya tak menghiraukan keterkejutan mereka, ia mengalihkan pandangannya dari Dokter Cha ke Zack.“Zack, Aku sudah lama sekali tidak melihat Rena dan Randy. Aku merindukan mereka. Bisakah kamu memanggil mereka untuk menemaniku beberapa hari ini? Tidak akan lama… aku janji.”Air mata Raiya mengalir pelan. Di telinga Raiya sendiri, kata-kata itu terdengar seperti rindu biasa. Namun bagi yang lain, itu terdengar seperti permohonan terakhir sebelum kematian menjemput.Suasana di sekeliling mereka dengan cepat berubah menjadi sunyi.“Zack…” panggil Raiya lagi.Zack tidak sanggup membalas tatapannya. Ia menoleh ke samping, air matanya jatuh tanpa suara.“Aku akan memanggil mereka,” katanya akhirnya. “Karena itu, kau tidak boleh memikirkan apa pun lagi, oke?”“Kamu akan baik-baik saja. Aku dan Dokter Cha sedang berusaha mencari penawar untuk tubuhmu.”Anton mengangguk dan menimpali, “Kami juga sedang berusah

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 38

    Anton datang tidak lama kemudian. Beberapa detik setelahnya, Dokter Cha juga menyusul dengan langkah tergesa. Namun keduanya langsung membeku begitu melihat keadaan Raiya di dalam ruangan.Tubuh Raiya terkulai lemah di atas ranjang operasi. Wajahnya pucat tanpa warna, sementara napasnya terdengar begitu tipis hingga nyaris tak terasa. nDan sesuatu yang seharusnya melindunginya, kini telah pergi.Raiya baru sadar keesokan harinya. Saat kelopak matanya terbuka perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah Zack yang duduk diam di kursi yang ada di sisi tempat tidurnya. Pria itu menatapnya tanpa berkedip, seolah-olah takut ia akan kembali menghilang jika lengah sesaat.Raiya mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi.“Raiya… kamu sudah bangun?”Raiya terdiam, menatap Zack dengan wajah yang terlihat bingung. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya masih juga terasa berat.“Zack, bagaimana bisa kamu ada di sini?”Zack segera berdiri dan membantu Raiya

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 37

    Raiya tertegun. Ia mendongak, menatap Tria dengan tatapan yang penuh dengan ketidakpercayaan. Nafasnya tercekat, ada sesuatu yang menghantam dadanya dari dalam.Ia tidak pernah membayangkan bahwa pamannya, pasangan Veromon-nya sendiri, akan mengucapkan hal seperti itu. Kata-kata itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga menghancurkan sesuatu yang selama ini ia pegang dengan erat.Raiya memalingkan wajah ke samping, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan.“Paman…” suaranya gemetar. “jika aku melakukannya, jika aku menuruti kemauan paman, apakah hutangku pada paman karena paman telah membesarkanku selama dua puluh tiga tahun ini akan lunas?”Ia tidak sanggup mengucapkan semua itu sambil menatap Tria. Tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya yang hampir runtuh.Keheningan itu memenuhi ruang kamar mereka. Dan tak ada jawaban yang datang.Tria ingin mengatakan bahwa ia salah bicara. Ingin menarik kembali semua kalimat yang baru saja keluar

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 36

    Napas Raiya tercekat. Tubuhnya mulai bergetar hebat, seolah-olah rasa dingin perlahan merayap keluar dari dalam tulangnya sendiri.“Nggak...” bisiknya lirih.Dengan tangan gemetar, ia meraih jubah mandi lalu mengenakannya seadanya sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Langkahnya terburu-buru. Napasnya terdengar kacau dan tidak beraturan.Raiya segera membuka laci meja di samping tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari nama Tria. Jemarinya langsung bergerak menuju kontak Dokter Cha.Raiya tidak tahu banyak tentang bangsa Veromon. Sejak bayi, ia telah hidup di dunia manusia. Dan dari bangsanya sendiri, orang yang benar-benar ia kenal hanyalah Tria dan Dokter Cha.Karena itu, hilangnya tanda pasangan di punggungnya terasa jauh lebih mengerikan daripada yang mampu ia pahami. Namun sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil.Klik.Pintu kamarnya perlahan terbuka. Dengan penuh kesadaran Raiya langsung menoleh menatap sosok yang kini berdiri tegak di depan pin

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 35

    Raiya meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menekan satu nama yang selalu ia harapkan kehadirannya.Sekali, dua kali dan berkali-kali. Namun tak satu pun dari panggilannya yang dijawab.Jemarinya menggenggam ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memucat. Bibirnya bergetar pelan, terus memanggil nama Tria di tengah isak yang tertahan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, Raiya tertidur dalam keadaan seperti itu.Saat pagi datang, ia terbangun dengan rasa kram yang menusuk di seluruh tubuhnya dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar duduk. Ia terdiam sejenak di atas tempat tidur, hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anton datang membawa sarapan ke dalam kamarnya dan Tria.“Paman belum pulang?” tanya Raiya lirih begitu melihatnya.Anton terdiam beberapa sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan.Begitu melihat jawabannya, Raiya hanya mengangguk. Tak ada pertanyaan lain yang lolos dari bibirnya.Hari demi hari terus berlalu dengan kehen

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 34

    Kamu mengandung anak Tria?”Raiya kembali menoleh, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Dokter Cha terdiam. Tubuhnya bersandar perlahan ke belakang, sementara rahangnya menegang samar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.“Bagaimana bisa?” suaranya rendah, tak percaya.“Umurmu masih kurang tiga tahun untuk bisa mengandung keturunan bangsa Veromon, Raiya.”Nada suaranya bergetar, antara logika dan ketakutan.“Raiya… jelaskan padaku.”Raiya menyentuh perutnya tanpa sadar, gerakan itu refleks dan penuh kehati-hatian.“Dokter Pras,” ucapnya pelan.“Paman mencari bantuan dari Dokter Pras. Selama ini, Paman kesulitan mengendalikan hasratnya padaku… dan akhirnya ia meminta bantuannya.”“Dokter Pras bilang, jika aku bisa segera melahirkan anak paman, hasrat paman padaku akan segera hilang.”Tangan Raiya tetap berada di atas perutnya, memastikan bahwa sesuatu yang seharusnya ada di sana masih tetap ada.Tatapan Raiya perlahan beralih ke arah jendela, lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status