MasukKehamilan sembilan bulan ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah Zivanya bayangkan, bahkan jika dibandingkan dengan saat mengandung Kaisar dulu.Pagi itu ia terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dilindas truk. Kedua pergelangan kakinya bengkak, punggungnya pegal, pinggangnya seakan mau patah. Belum lagi hidungnya yang tersumbat akibat flu ringan yang sudah tiga hari tidak kunjung pergi. Setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, anak di dalam perutnya yang sudah turun rendah menekannya hingga ia meringis."Pelan-pelan ya." Ariyan sudah berada di sisinya bahkan sebelum Zivanya sempat mengeluh. Kedua tangannya yang besar menyangga punggung Zivanya, membantunya bangun dari tempat tidur sedikit demi sedikit. "Kita duduk dulu. Tarik nafas. Jangan langsung berdiri.""Aku kayak paus terdampar," ujar Zivanya dengan suara serak sengau."Paus paling cantik yang pernah aku lihat," balas Ariyan tanpa berpikir, membuat Zivanya tertawa lemah di antara batuknya.Tiga bulan terapi di Munch
Hari-hari di Munchen berlalu dengan cepat tanpa terasa. Musim berganti, cuaca pun berubah. Salju tipis mulai turun melapisi pepohonan dan atap-atap bangunan bergaya Bavaria di sepanjang jalan Klinikum der Universitat Munchen.Di usia kehamilannya yang kini berada di bulan kedelapan, perubahan fisik Zivanya semakin nyata. Perutnya kini membuncit anggun. Bergerak sedikit saja menuntut energi ekstra. Pinggangnya kerap kali pegal luar biasa, kram di betis sering menyerang di tengah malam, dan kapasitas paru-parunya terasa menyempit membuat napasnya sering kali pendek-pendek. Namun, seluruh keletihan fisik itu menguap setiap kali ia duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, menyaksikan Ariyan yang sedang melatih memorinya. Pada awalnya mereka memang stay di hotel. Tetapi karena Zivanya ingin suasana yang lebih privat, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen selama berada di sana.Malam itu, Ariyan duduk menghadap meja dengan puluhan kartu bergambar dan deret angka kompleks yang
Penerbangan dari Santorini menuju Munchen memakan waktu lebih lama dari yang mereka bayangkan, dengan transit singkat di Athena sebelum akhirnya mendarat di Bandara Munchen beberapa jam kemudian. Sepanjang perjalanan, Zivanya memperhatikan Ariyan yang tampak agak gelisah. Matanya sesekali menerawang keluar "Dari tadi aku lihat kamu nggak tenang. Kamu nggak apa-apa?" tanya Zivanya, menggenggam tangan Ariyan. Ariyan menoleh dan memberi senyum tipis. “Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu nggak apa-apa? Capek nggak? Mau aku pijitin punggung atau pinggangnya?” “Boleh deh.” Zivanya mengatur posisi agar Ariyan bisa memijitnya. Lelaki itu melakukannya dengan telaten seolah-seolah sudah sangat berpengalaman. Setelah lima jam penerbangan, pendarat yang mereka naiki akhirnya mendarat dengan selamat. Setelah beristirahat di hotel keduanya langsung ke rumah sakit karena sudah membuat janji temu sebelumnya, "Kamu lahir di rumah sakit ini?” tanya Zivanya yang teringat cerita Ariyan s
Angin malam berembus lembut. Sinar bulan terpantul di atas permukaan air laut yang tenang, membiaskan cahaya yang menimpa dinding-dinding bangunan putih khas Yunani. Di tepi balkon, Ariyan berdiri membisu. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap lurus ke hamparan samudera yang gelap. Ariyan melamun sangat dalam. Pikiran dan jiwanya seolah terlempar jauh dari keindahan Santorini yang ada di depannya.Zivanya muncul dari dalam. Sejak tadi ia perhatikan Ariyan terus melamun. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat heningnya Ariyan. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Ucapan yang tidak sengaja tadi pasti membuat Ariyan sedih dan insecure. Padahal Ariyan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik dengan segala keterbatasannya.Zivanya menelan ludah, mengatur napasnya yang agak berat karena beban perutnya yang membuncit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat
Zivanya terbangun ketika merasakan usapan di perutnya yang kini sudah membola di usia kehamilan enam bulan lebih. Bentuk tubuhnya telah berubah, lekuk keibuannya kian nyata, dan sensitivitas kulitnya meningkat drastis.Ariyan tidur miring sambil memeluknya dari belakang. Dadanya yang bidang menempel ketat di punggung mulus Zivanya, sementara satu tangannya yang besar melingkar posesif, jemarinya terus membelai lembut permukaan perut Zivanya tanpa henti.“Morning, ibunya Kai,” sapa Ariyan dengan suara khas bangun tidur, tepat di tengkuk Zivanya. Ia mendaratkan ciuman-ciuman kecil nan hangat di sepanjang garis leher dan bahu istrinya yang terbuka.Sensasi bibir hangat Ariyan yang menyapu kulit sensitifnya membuat Zivanya meremang. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya sedikit untuk memberikan akses lebih luas bagi suaminya. “Kamu udah lihat hp? Udah ingat kita di mana?” tanya Zivanya deg-degan. Kondisi memori Ariyan selalu membuatnya khawatir setiap pagi.“Udah,” jawab Ariyan sedik
"Ziva, quickie yuk!" celetuk Ariyan tiba-tiba mengagetkan Zivanya. Ada senyum terkulum di bibirnya bersamaan dengan tatapannya yang seduktif. "Quickie di mana, Ari?" Zivanya sih oke-oke saja. Jangan katakan kalau Ariyan mengajak melakukannya di mobil. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang ke rumah usai belanja di mall. "Kita check in di hotel, gimana? Mumpung masih sore." "Astaga, kan bisa di rumah. Kenapa harus di hotel?" Zivanya tertawa merespon ajakan suaminya. "Sensasinya beda, Yang.” “Yang?” Mata Zivanya sontak melebar. “Ayang maksudnya bukan sayang.” Ariyan cepat-cepat meralat sebelum istri cantiknya meledak. “Sama aja sih nggak ada bedanya.” Zivanya menyedapkan tangan di dada dengan ekspresi cemberut. Ariyan tertawa lepas, suara tawanya memenuh kabin mobil yang melaju tenang di jalanan sore. Pria itu sekilas menoleh, memandangi Zivanya. Eksoresi cemberutnya di mata Ariyan terlihat seribu kali lipat lebih menggemaskan. Dengan tangan kirinya yang bebas dari kemudi, A
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







