分享

Part 239

last update publish date: 2026-07-07 19:11:39

Malam itu, setelah Kaisar akhirnya terlelap di kamarnya, Zivanya duduk di beranda bersama Kaivan. Segelas jus buah yang disuguhkan Kaivan sama sekali tidak disentuhnya. Jari-jemari Zivanya saling bertautan, meremas satu sama lain. Ia juga duduk dengan tidak tenang.

“Ada masalah?” tanya Kaivan yang bisa membaca kegelisahan perempuan itu.

​Zivanya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan apa yang mengganjal di dalam hatinya sejak kemarin. "Ini tentang Kaisar. Du
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (8)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
itulah resiko punya pacar single parents Kai, kamu harus faham dan banyakin stok sabar..
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
udh dibilangin mundur aja malah cari penyakit Kaivan, kamu terlalu berharga kamu terlalu baik, kalopun mau jadi pelindung Kaisar gak harus pacarin emaknya..
goodnovel comment avatar
Gadis
ayoooo move kaivan cari jodohmu yg lain drpd cuma jd bayangan doang
查看全部評論

最新章節

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 297

    Kaisar Fitness berjarak tidak jauh dari rumah Ariyan. Kaivan tiba di sana dalam lima belas menit. Itu pun ia menyetir pelan-pelan karena terjebak kemacetan.Kaivan menatap tulisan Kaisar Fitness yang terukir di gedung dari balik kemudi. Ia merasa haru sekaligus kasihan.Setelah menata kembali emosinya, Kaivan keluar dari mobil dan mendorong pintu kaca pusat kebugaran tersebut.Embusan pendingin udara yang bercampur dentuman musik bertempo sedang dan menyambut kedatangannya. Suasana di dalam tampak hidup dan sangat profesional. Beberapa trainer berseragam khusus terlihat sedang mendampingi para member, sementara deretan peralatan fitness kelas atas tertata rapi di tempatnya.Kaivan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan hingga akhirnya matanya tertuju pada satu titik di area free weights.Di sana, Ariyan sedang berdiri di depan cermin besar. Lelaki itu tampak sedang memberikan instruksi teknik gerakan deadlift kepada salah seorang trainer muda. Kaivan tertegun di tempatnya berdiri.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 296

    [Kai, orang percetakan nelepon aku. Katanya sampel undangan pernikahan kita udah selesai dicetak. Mereka minta kita ke sana sebentar buat approval desainnya sebelum diproduksi massal.]Kaivan mengembuskan napas setelah membaca chat dari Zivanya. Setelah berpikir beberapa detik, ia memutuskan untuk membalas.[Kamu aja ya. Aku ada sidang sebentar lagi. Terus sorenya juga masih ada meeting sama klien. Kalau menurut kamu desainnya udah oke, aku juga oke. Aku percaya sama pilihan kamu.]Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengetik.[Maaf ya nggak bisa nemenin.]Setelah menekan tanda kirim, Kaivan menyandarkan punggungnya di kursi. Satu helaan napas kembali lolos dari bibirnya.Hatinya sebenarnya ingin selalu berada di samping Zivanya, terlebih setelah kejadian menguras emosi kala itu. Namun, tuntutan pekerjaannya sebagai pengacara tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Jadwal sidang hari ini sudah tertata ketat dan melibatkan nasib kliennya.Tak sampai satu menit, layar ponselnya kembal

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 295

    Perkataan lugas Ariyan membuat semua orang refleks memandang padanya dengan berbagai ekspresi.Kaivan hanya bisa membisu di tempatnya berdiri. Sebagai sahabat yang pernah sangat dekat dengan Ariyan, posisi Kaivan saat ini sungguh membuatnya serba salah. Ada gumpalan rasa bersalah, canggung, sekaligus iba melihat kondisi Ariyan. Ia hanya mampu menunduk, membiarkan jemarinya terkepal rapat di samping tubuh tanpa berani membalas tatapan menantang dari mantan suami calon istrinya itu.Kaisar yang berada dalam dekapan Ariyan mulai merasa tidak nyaman dengan aura tegang yang tercipta. Anak kecil itu meliuk-liuk gelisah, mengulurkan tangannya ke arah Zivanya. "Ibu... Kai mau turun. Kai nggak mau gendong lagi.”"Tolong turunin Kaisar,” kata Zivanya yang melangkah mendekat dan bermaksud mengambil alih sang putra.Alih-alih melepaskan, Ariyan malah semakin mengeratkan dekapannya.“Ariyan, tolong lepasin Kaisar.” Zivanya mengulangi permintaannya dengan lebih tegas.Ariyan bergeming menatap Zivan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 294

    Suasana di kediaman Abi hari itu terasa jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Kaisar tampak begitu ceria dan tertawa saat Kaivan yang membantu memasangkan tali sepatunya sesekali menggelitik pinggangnya.Seruni yang biasanya selalu melempar tatapan dingin atau kalimat sinis, hari ini tampak jauh lebih tenang. Setelah mendapat teguran keras dari suaminya, wanita itu memilih untuk tidak banyak bicara.“Udah siap, Jagoan?” tanya Kaivan lembut seraya menepuk pelan bahu Kaisar.Kaisar mengangguk antusias, melompat kecil lalu menggenggam jemari Kaivan erat-erat. “Siap, Ayah! Kai mau coba kue yang ada coklatnya banyak!”Hari ini mereka semua dijadwalkan untuk food tasting atau mencicipi menu catering pernikahan Zivanya dan Kaivan yang tinggal tidak lama lagi.“Ayo, semuanya sudah siap?” Abi muncul dari arah dalam. “Jangan sampai kita terlambat, pihak catering sudah menyiapkan tempat khusus buat kita.”“Sudah, Pi. Yuk,” sahut Zivanya seraya mengambil tasnya.Mereka melangkah berir

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 293

    Malam semakin larut, tetapi Zivanya masih duduk di beranda sendiri. Ia menunggu Abi pulang, menagih janji pada papinya itu.Saat mobil Abi memasuki halaman, Zivanya refleks berdiri dari duduknya. Tidak sabar ingin segera berbicara.“Belum tidur?” sapa Abi yang terlihat lelah.“Aku nunggu Papi.”“Tumben Papi ditungguin? Ada maunya pasti,” kekeh Abi sambil merangkul Zivanya membawa masuk ke dalam rumah.“Papi udah ngomong sama Mami?” tanya Zivanya di sela-sela langkah mereka.“Belum. Tahu sendiri Papi baru pulang.”“Jadi kapan dong Papi ngomongnya?”“Setelah ini Papi akan langsung ngomong.”“Janji ya, Pi? Aku nggak mau lagi Mami bikin huru-hara.”Abi mengangguk sambil tersenyum tipis. “Sekarang kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Jangan dipikirin lagi. Biar Papi yang urus Mami.”Mereka kemudian berpisah menuju kamar masing-masing. Zivanya menaiki tangga ke lantai dua, sementara Abi ke kamarnya di lantai satu.Abi mendapati Seruni sedang mengaplikasikan skincare. Istrinya itu menatapnya

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 292

    Cerianya suara musik di dalam mobil yang membawanya pulang sama sekali tidak mampu meredam keributan di dalam kepala Ariyan. Sepanjang jalan, percakapan dengan Zivanya dan sebuah nama yang asing itu—Aira—terus terngiang tanpa bisa dihentikan.‘Nggak mungkin!’ batinnya kembali menggelegar, mengulang kalimat sengit yang ia lontarkan beberapa saat lalu. Kalimat penyangkalan yang tadi ia cerca pada Zivanya masih menyisakan rasa panas yang membakar dadanya. Ariyan punya kriteria. Ia tahu seleranya sendiri. Mana mungkin ia pernah menaruh hati pada perempuan yang usianya delapan tahun lebih tua? Semakin keras ia berusaha menepisnya, semakin besar ganjalan di dadanya. Ariyan tidak sabar agar ia bisa sampai di rumah dan bisa menanyakannya langsung pada Zelena mengenai siapa sebenarnya si Aira-Aira itu.Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Ariyan melangkah turun dengan tergesa.“Ma! Mama! Mama di mana?” Ariyan memanggil sembari mencari Zelena ke setiap bagian rumah tersebut.Sepi. Ariyan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status