LOGIN“Omi, Kai mau tidur di kamar Ibu.”Seruni yang sedang mengaplikasikan sincare ke wajahnya langsung menoleh pada Kaisar.Anak itu berdiri di tengah-tengah kamar dengan raut paling memelas yang bisa ia ciptakan."Tadi Omi, kan, udah bilang, Kai boleh tidur sama Ibu sama Papa tapi bukan malam ini. Ibu sama Papa lagi capek banget, Sayang. Kan, seharian tadi pesta, dadah-dadah sama tamu banyak banget. Sekarang Ibu sama Papa lagi tidur. Kai tidurnya sama Omi dan Opi dulu ya malam ini? Besok pagi baru ketemu Ibu lagi.”“Tapi Kai maunya sekarang.” Kaisar mulai merengek. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba begitu ingin bersama kedua orang tuanya.“Omi nggak suka ah Kai kayak gitu. Cucu Omi nggak kayak gini. Sekarang Kai tidur sama Omi ya?”“Jangan dipaksa kalau cucunya belum mau," sela Abi yang baru keluar dari kamar mandi. “Papi kok jadi ikut-ikutan membela Kai?” protes Seruni sambil melebarkan matanya. "Ini, kan, malam pertama anak kita. Mana bisa Kai dibiarkan ganggu Ariyan sama Ziva jam s
Zivanya membiarkan Ariyan merangkulnya lebih erat. Lelaki itu membawanya menuju Kaivan.Sebelum Ariyan sempat menyapa, Kaivan lebih dulu mengetahui kedatangannya. Lelaki itu buru-buru berdiri dan mengulurkan tangan.“Happy wedding, Guys. Semoga kapal pernikahan kalian terus berlayar dengan tenang, segelap dan sedalam apa pun samudera yang harus dilewati nanti. Bahagia selamanya ya. Dan lo, jangan sia-siain Ziva lagi.”Ariyan menyambut uluran tangan Kaivan dengan genggaman yang kokoh dan mantap. "Gue akan jadi manusia paling bodoh di dunia kalo sampai menyia-nyiakan dia. Thanks udah datang, Kai.”Ketika setelahnya berjabat tangan dengan Zivanya, Kaivan tidak mengucapkan apa pun. Tetapi matanya lebih banyak berbicara dari rangkaian kata.“Oh iya, ini Giana.”Perempuan di sebelah Kaivan sontak berdiri dan tersenyum hangat pada Zivanya maupun Ariyan. “Selamat buat kalian berdua,” ucapnya ramah sembari menyalami keduanya bergantian.Zivanya tertegun menyaksikan perempuan bergaun coklat itu
Zivanya membalas tatapan Ariyan, mencari-cari kesungguhan di raut lelaki itu. Dan ia menemukannya. Ariyan tidak berbohong. Zivanya memutuskan untuk mempercayainya. Zivanya yakin Ariyan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikannya. Karena jika rusak sekali saja maka hubungan mereka akan berakhir selamanya. “Dicari-cari dari tadi calon pengantinnya malah mesra-mesraan di sini.” Dengan refleks Ariyan membebaskan pipi Zivanya dari tangkupan tangannya kala mendengar suara Syabila diikuti Zelena yang muncul di belakangnya.“Ari, kamu kenapa ke sini? Kan, Mama bilang jangan ketemu Ziva dulu,” kata Zelena.“Abisnya nggak tahan, kangen banget sama Ziva, Ma,” jawab Ariyan menyampaikan alasan lalu terkekeh.“Kamu ini nggak bisa sabar sedikit, nanti, kan, bisa. Puas-puasin deh.” Ariyan hanya nyengir. Pasangan calon pengantin itu kemudian digiring oleh bridesmaid dan groomsmen ke ruang akad karena acara inti tersebut akan segera dimulai. Seluruh mata serentak tertuju pada keduanya k
Zivanya menatap pantulan dirinya di cermin berbingkai ukiran klasik. Gaun pengantin putih haute couture melapisi tubuhnya dengan sempurna, menyapu lantai dengan keanggunan yang tak terbantahkan. Riasan wajahnya terasa pas dan tidak mencolok, namun sanggup memancarkan kecantikan alaminya dengan sangat berkelas.Ia mengesah pelan, menyentuh permukaan gaunnya. Bagi Zivanya, semua kemewahan ini terlalu berlebihan. Jika diberi pilihan, ia hanya menginginkan prosesi sederhana, sebuah pernikahan yang hangat, dihadiri orang-orang terdekat, lalu melangkah menuju kehidupan baru bersama Ariyan. Bagi Zivanya, inti dari sebuah pernikahan bukanlah pesta semalam yang menyedot miliaran rupiah, melainkan bagaimana mereka menavigasi hari-hari setelahnya.Namun, Seruni bukanlah tipe ibu yang akan membiarkan putri cantiknya menikah biasa saja.Bagi maminya, pernikahan ini bukan sekadar tentang menyatukan dua insan, melainkan tentang pembuktian gengsi, prestise, dan menunjukkan batas kelas sosial mereka
“Pak Kaivan, ada tamu ingin bertemu Bapak. Apa mau diterima, Pak?” Kaivan yang sedang konsentrasi membaca berkas perkara mengangkat wajah dan mendapati seorang legal intern masuk ke ruangannya. “Siapa?” “Namanya Bapak Ariyan, Pak.” Jelas saja Kaivan terkejut mengetahui itu. Pena di dalam pelukan jari-jarinya hampir terjatuh. Sebelum anak magang itu berhasil membaca ekspresinya, Kaivan buru-buru mengendalikan diri. “Suruh beliau masuk. Makasih ya.” Gadis berkacamata itu menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dengan cepat untuk melaksanakan instruksi sang atasan tampan. Tinggal sendiri, Kaivan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Matanya menatap kosong ke arah pintu di hadapannya. Ariyan. Nama itu seperti gema lama yang selalu berhasil memicu riak di dadanya. Untuk apa pria itu datang langsung ke kantornya? Apakah untuk menegaskan kemenangannya? Memperingatkannya agar menjauh? Untuk memamerkan fakta bahwa Zivanya kini telah kembali sepenuhnya padanya?Ataukah ada u
Tatapan Ariyan terlihat berbeda setelah pengakuan Zivanya hari itu. Ariyan tahu Zivanya mencintainya sejak lama, sejak mereka masih remaja. Tetapi mendengar sendiri pengakuannya yang diucapkan dengan penuh perasaan membuat Ariyan menjadi trenyuh. Bagaimana tidak? Ariyan telah menyia-nyiakan Zivanya yang sangat tulus mencintai dan menyayanginya, memaafkan semua kesalahannya dan menerimanya dengan tulus. Ariyan sadar sepenuhnya, jika ini terjadi pada perempuan lain, ia yakin tidak akan pernah ada kesempatan kedua untuknya. Ariyan tidak ada habisnya memikirkan itu. Saat sedang bersama Zivanya ia sering mencuri pandang pada perempuan itu. Bahkan saat ini ia juga tengah menatap Zivanya yang berada di sebelahnya. Pandangan Ariyan akhirnya beralih dari Zivanya ketika seorang master jeweler menghampiri keduanya, membungkuk hormat, menyodorkan kotak beludru hitam berisi sepasang cincin nikah eksklusif yang dirancang secara custom. "Selamat sore, Pak Ariyan, Bu Zivanya," sapa pria itu. "
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







