Se connecterSulit untuk tidak emosi menyikapi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Cukup sudah Zivanya menginjak-injak harga dirinya. Jadi, Ariyan memutuskan untuk menampakkan diri.Ariyan berdeham cukup keras yang membuat keduanya terperanjat.Zivanya hampir menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya. Sementara Kaivan hanya bisa tersentak kaku di atas bantalnya. Ia mencoba menoleh ke sumber suara, namun gerakan mendadaknya menarik jahitan di pipinya. Ia mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran sprei saat rasa pening dan nyeri hebat kembali menghantam kepalanya akibat kehadiran Ariyan yang tiba-tiba.Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Posturnya tegak, angkuh, dan penuh dominasi.“Enak buburnya, Kai?” tanya Ariyan dengan suara yang terdengar sangat tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja menyaksikan istrinya memberikan perhatian luar biasa pada pria lain. Ariyan melangkah masuk lebih dalam. Ia melihat mangkuk
Setelah sekuriti menyeret Ariyan keluar, ia dimintai keterangan awal karena kegaduhan yang terjadi. Lantaran tidak bersikap kooperatif, ia diteruskan ke kantor polisi. Tapi tidak lama. Setelah pengacaranya datang Ariyan langsung dibebaskan. Meski demikian batinnya terasa jauh lebih terkurung daripada sebelumnya. "Bapak beruntung. Pak Kaivan tidak melapor dan menuntut Bapak. Dia bilang ini hanya kesalahpahaman antar sahabat,” kata Andre, pengacara Ariyan. Ariyan berhenti melangkah. Rahangnya mengeras. "Kesalahpahaman?" "Iya. Dia bahkan tidak meminta visumnya diproses untuk hukum. Dia sengaja melepaskan Bapak.” Andre melanjutkan sambil membukakan pintu mobil untuk Ariyan. Ariyan masuk ke dalam mobil dengan perasaan terhina yang luar biasa. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Kaivan. Kaivan bukan sedang berbaik hati. Kaivan sedang menunjukkan bahwa dia lebih berkelas daripada Ariyan. Kaivan ingin Zivanya melihat bahwa di saat Ariyan menggunakan otot, Kaivan menggunakan
Aroma rumah sakit yang khas menusuk indra penciuman Zivanya saat ia berdiri mematung di sudut ruang instalasi gawat darurat. Matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok yang terbaring di atas bed rumah sakit. Kaivan kini tampak ringkih di bawah sorot lampu neon yang dingin. Dokter jaga sedang membersihkan robekan di rahang Kaivan. Zivanya berjengit kecil setiap kali kapas berlumur cairan steril menyentuh luka Kaivan, seolah rasa perih yang dirasakan Kaivan menjalar ke kulitnya sendiri. Ia masih mengenakan tank top hitamnya. Blazernya yang mahal kini hanyalah segumpal kain tak berbentuk yang tergeletak di kursi tunggu, kaku karena darah yang mengering. Bahunya yang terbuka terasa dingin kena embusan AC rumah sakit, namun ia tidak peduli. Rasa bersalah di dadanya jauh lebih membekukan daripada suhu ruangan ini. "Luka di bagian dalam pipi cukup dalam, perlu dua jahitan kecil agar pendarahannya benar-benar berhenti," beritahu dokter tanpa menoleh. "Benturannya sangat keras. Untungn
Ariyan tidak langsung menyerang. Ia menarik kursi di hadapan Kaivan lalu duduk, menyandarkan punggungnya dengan angkuh dan melipat tangan di depan dada. "Nyali lo beneran dari baja ya, Kai?" Ariyan membuka percakapan. “Gue pikir lo bakal gemeteran dan sembunyi di balik meja bos lo." Kaivan tetap tenang. Ia meletakkan cangkir kosongnya di atas piring kecil. Sebenarnya Kaivan sudah menduga Ariyan akan mencarinya. Tadi sebelum sarapan ia menerima telepon dari Zivanya yang menjelaskan permasalahannya. "Gue nggak punya alasan buat sembunyi. Dan sejak kapan lo peduli sama nyali gue? Tapi tunggu... tunggu… lo pengen ketemu gue pagi-pagi pasti ada yang penting. Mau gue pesenin kopi nggak? Atau teh hangat manis? Biar hidup lo nggak pait-pait amat.” Ariyan terkekeh, namun matanya tidak bergerak sedikit pun dari wajah Kaivan. "Gue peduli karena lo udah lancang. Lo pikir dengan status lo sebagai pengacara, lo bisa seenaknya masuk ke wilayah gue? Lo pikir lo bisa menyentuh apa yang jadi
Ariyan memacu mobilnya membawa emosi yang menggila. Tujuannya adalah lantai 30 gedung Emerald Tower, tempat kantor Suryanegara Law Firm berada. Ia tahu Kaivan hanyalah seorang associate muda di sana. Tapi fakta bahwa Kaivan bekerja di salah satu firma hukum paling berpengaruh di negeri ini menunjukkan bahwa lelaki itu punya otak yang encer dan nyali yang sangat besar untuk menyentuh Zivanya. Tadi sebenarnya Ariyan sudah datang ke apartemen Kaivan, tapi rivalnya itu tidak ada. Iya, rival. Ariyan tidak akan sudi menyebutnya lagi sebagai sahabat. Mana ada sahabat yang berkhianat walau apa pun alasannya. Dan Ariyan tahu persis, Kaivan adalah seorang pengacara yang rajin dan disiplin. Sepagi ini ia pasti sudah berada di kantornya. Sementara itu di salah satu sudut Koffie & Co., sebuah coffee shop yang terletak di lantai dasar Emerald Tower, Kaivan duduk berhadapan dengan salah satu rekannya, Adit. Kaivan menyesap flat white-nya perlahan-lahan, sementara di hadapannya terdapat piri
Sulit untuk dinarasikan dengan kata-kata bagaimana ekspresi Ariyan saat itu. Tapi yang jelas membuat Zivanya harus memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Zivanya berusaha sekuat mungkin menyembunyikan rasa takut melihat betapa murkanya suami egoisnya. “Hamil? Kamu hamil karena bajingan itu?!” teriak Ariyan marah. Ia meremuk test pack di tangannya lalu membantingnya ke lantai. “Jangan sebut dia bajingan. Karena bajingan yang sebenarnya adalah kamu,” jawab Zivanya berusaha setenang mungkin meski perasaannya ketar-ketir membayangkan apa yang akan dilakukan Ariyan selanjutnya. Zivanya lalu mengangkat dagunya. "Kamu yang kasih izin aku pergi dengan laki-laki lain, kan? Kamu bilang kamu nggak akan melarang. Inilah hasilnya. Anak yang ada di rahimku ini adalah buah dari kebahagiaan yang kamu izinkan itu." Ariyan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Zivanya bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh suaminya. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menegang, menc







