Compartilhar

Part 92

last update Data de publicação: 2026-05-27 11:23:47

Langkah Ariyan seketika terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu. Bahunya menegang kaku, dan senyum tengil yang sejak tadi bertengger di wajahnya kini lenyap tak berbekas. Pria itu berbalik lambat, menatap Zivanya dengan sorot mata yang tak lagi santai. Ada kilat kepanikan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik sepasang manik matanya.

​“Cerai?” Ariyan terkekeh. “Kamu baru bangun dari operasi, Ziva. Otak kamu pasti masih korslet karena efek sisa anestesi. Jangan ngaco.”

​“Aku nggak
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (8)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Ziva hati hati.. gak akan semudah itu si Ariyan luluh, paling kamu di kibulin..
goodnovel comment avatar
NeaNeo
biar si anak aira gk dpt apa"..nahbgt dong ziva dr kmrn kek..km hrs bs handle balik ari..jgn lemah..km msh pny mertua yg bakal dkung km 100 %..ari gak akan brni mcm"...
goodnovel comment avatar
delima
harusnya enggak yah Thor soalnya ziva udh liat anaknya Aira... harusnya ziva bs bedakan .anak Aira udh cukup bulan waktu lahir sedangkan anak ziva prematur
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 95

    Tiga tahun kemudian…Hujan rintik-rintik yang turun di luar sana mengirim hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Membuat siapa pun lebih memilih berdiam diri di dalam rumah ketimbang berkeliaran di luar.Di atas sofa besar abu-abu, Zivanya duduk tenang dengan sebuah buku di pangkuannya. Namun, pandangannya tidak benar-benar tertuju pada deretan kalimat di sana. Matanya bergerak mengikuti sosok mungil bertubuh sehat dan aktif yang sedang asyik menyusun balok-balok mainan di atas karpet bulu.​Kaisar Rajata Arsjad. Bocah laki-laki itu telah tumbuh dengan sangat menggemaskan di usianya yang menginjak tiga tahun. Fase catch up growth pasca kelahiran prematurnya berjalan sempurna berkat perawatan terbaik yang Zivanya berikan. Kaisar tumbuh menjadi anak yang cerdas, dengan sepasang mata bulat yang jernih dan rambut hitam legam yang selalu tertata rapi. Dia adalah segumpal cahaya di tengah hidup Zivanya yang penuh duri.Tak lama kemudian terdengar ​suara samar mobil yang memasuki halaman

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 94

    Pertanyaan mamanya membuat Ariyan semakin tegang. Ia benar-benar tidak tahu apa jawabannya. Ariyan tidak pernah mempersiapkan diri untuk ini, karena anak ini seharusnya tidak pernah ada di dalam hidupnya.Menyadari Zelena terus menatapnya, Ariyan berdeham sembari mengatur ekspresinya agar tetap terlihat wajar.“Aku dan Ziva memang sudah sepakat, Ma. Kalau anak laki-laki, Ziva yang kasih nama. Kalau anak perempuan, aku yang kasih nama.”Zelena manggut-manggut mendengar penjelasan putranya. Senyum di wajah wanita itu semakin merekah lebar saat memandangi wajah mungil cucunya.​“Bagus kalau begitu, adil. Berarti yang kedua nanti semoga perempuan ya. Biar gantian kamu yang kasih nama. Biar lengkap ada sepasang, abangnya ganteng, adiknya cantik.”​Mendengar kata ‘yang kedua’ dan 'anak perempuan', perut Ariyan mendadak mulas. Ia langsung terbayang wajah Aira dan bayi perempuan mereka yang juga baru lahir. Ariyan hanya memberikan nama terbaik untuk anak perempuannya bersama Aira, bukan dari

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 93

    “Aku mau ketemu anakku dulu. Aku mau lihat dia,” kata Zivanya. Ia ingin memastikannya. “Dia di NICU, Ziva.” “Aku tahu. Tolong antar aku ke sana.” “Kamu aja sendiri. Aku panggil perawat. Minta tolong dia yang antar,” tolak Ariyan keberatan. Memikirkan bayi itu saja sudah membuat dadanya sesak oleh kebencian. Bayi itu bukan anaknya dan sumber petaka baginya. Bayi yang membuatnya kehilangan enam puluh persen saham perusahaannya dalam sekejap, dan bayi yang memaksanya bertekuk lutut di bawah kendali Zivanya. Baginya, anak itu bukan darah daging yang patut dirayakan, melainkan sebuah kutukan berwujud manusia. ​Zivanya hanya bisa menahan perasaan melihat penolakan yang begitu nyata dari suaminya sendiri. ​Tepat setelah Ariyan menekan tombol panggilan, seorang perawat masuk. Ia dengan sigap membantu menyiapkan kursi roda untuk Zivanya setelah Ariyan menyampaikan maksudnya. Namun, tepat saat perawat itu mulai mendorong kursi roda Zivanya menuju pintu kamar, daun pintu terbuka dari luar.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 92

    Langkah Ariyan seketika terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu. Bahunya menegang kaku, dan senyum tengil yang sejak tadi bertengger di wajahnya kini lenyap tak berbekas. Pria itu berbalik lambat, menatap Zivanya dengan sorot mata yang tak lagi santai. Ada kilat kepanikan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik sepasang manik matanya.​“Cerai?” Ariyan terkekeh. “Kamu baru bangun dari operasi, Ziva. Otak kamu pasti masih korslet karena efek sisa anestesi. Jangan ngaco.”​“Aku nggak pernah sewaras ini seumur hidupku, Ariyan,” balas Zivanya langsung. Suaranya kini terdengar begitu datar dan tenang. Tidak ada lagi emosi meledak-ledak. Zivanya sadar, berteriak hanya akan membuat jahitan perutnya semakin nyeri dan membuat Ariyan merasa menang. “Ceraikan aku. Kamu silakan bersama perempuan sialan itu, dan biarkan aku pergi bersama anakku.”​Ariyan melangkah kembali mendekati tempat tidur Zivanya, kali ini dengan rahang yang mengatup rapat. “Aku belum bisa menceraikan kamu. Kamu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 91

    Setelah duduk, Ariyan mengambil jemari dingin istrinya untuk kemudian mengunci dalam genggaman. Ia juga mengecupnya berkali-kali dengan gerakan yang tampak emosional.​"Aku minta maaf. Aku benar-benar ngerasa bersalah,” ucapnya penuh kesedihan.​Zivanya hanya mematung, merasakan kulitnya meremang mual karena sentuhan pria itu.​Ariyan mengembuskan napas berat. Ia memandang Seruni dan Zelena sekilas dengan gurat penyesalan yang mendalam sebelum kembali menatap Zivanya. "Tapi kamu juga bandel, Sayang. Udah kubilang berkali-kali, nggak usah nekat nyusul aku ke site. Jalur ke sana itu sepi, rawan, apalagi cuaca lagi hujan deras dan kamu lagi hamil tua. Aku ngerti orang hamil tuh suka aneh. Aku paham kamu kangen sama aku. Tapi aku bakal pulang kok. Coba kalau kamu nurut dan nunggu di rumah, kejadiannya nggak akan seperti ini. Andai kamu tahu, aku hampir gila mikirin kamu.”Zivanya menahan diri untuk tidak merotasi bola matanya mendengar untaian kata yang meluncur lancar dari bibir Ariyan.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 90

    Percakapan Zivanya dan Zelena terhenti saat pintu kembali dibuka. Seruni muncul bersama Syabila. Wajah mereka juga sama sedihnya dengan Zelena. Mengetahui sang putri telah sadar, Seruni langsung mendekati Zivanya dan memeluknya. “Aku baik-baik aja, Mi. Nggak usah sedih,” bisik Zivanya lirih. Ia mencoba mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat demi menenangkan sang mami. ​Seruni melonggarkan pelukan, mengusap air mata yang membasahi pipinya sendiri, lalu menatap Zivanya dengan pandangan yang penuh oleh rasa bersalah. “Bagaimana bisa Mami nggak sedih, Ziva? Kamu mengalami kejadian mengerikan, dan cucu Mami harus berjuang sendirian di dalam sana.” ​”Aku nggak nyangka ada orang sejahat itu sama ibu hamil,” kata Syabila menimpali. ​Zivanya tidak berkomentar. Ia membiarkan adik dan maminya menumpahkan rasa khawatir mereka. Namun, di tengah kepungan rasa sayang dan kesedihan dari wanita-wanita terdekatnya itu, mata Zivanya bergerak liar menyapu seisi ruangan. Ia merasa ada yang ku

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status