Share

Part 92

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-27 11:23:47

Langkah Ariyan seketika terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu. Bahunya menegang kaku, dan senyum tengil yang sejak tadi bertengger di wajahnya kini lenyap tak berbekas. Pria itu berbalik lambat, menatap Zivanya dengan sorot mata yang tak lagi santai. Ada kilat kepanikan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik sepasang manik matanya.

​“Cerai?” Ariyan terkekeh. “Kamu baru bangun dari operasi, Ziva. Otak kamu pasti masih korslet karena efek sisa anestesi. Jangan ngaco.”

​“Aku nggak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Ziva jgn percaya sm suami beracunmu Ari bs aja manipulasi smuanya Anakmu ditukar anak Aira biar bs jd pewaris tunggal hadeh plz be Smart Ziva suamimu raja iblis yg super tega halalin segala cara demi Aira bahagia
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Ziva hati hati.. gak akan semudah itu si Ariyan luluh, paling kamu di kibulin..
goodnovel comment avatar
NeaNeo
biar si anak aira gk dpt apa"..nahbgt dong ziva dr kmrn kek..km hrs bs handle balik ari..jgn lemah..km msh pny mertua yg bakal dkung km 100 %..ari gak akan brni mcm"...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 303

    Tinggal berdua, tidak ada sepotong kata pun keluar dari mulut mereka. Baik Zivanya maupun Ariyan.Ariyan tidak mengerti. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini hanya diam tanpa melakukan apa pun tapi mampu membuatnya tidak berkedip. Kenapa dia begitu indah? Dan kenapa baru sekarang Ariyan menyadarinya?“Mau bicara apa?” Zivanya yang jengah dipandangi sedemikian rupa akhirnya bertanya."Makasih udah datang ke sini. Maaf kalau aku membuang-buang waktumu. Aku mau minta maaf atas semua kesalahan dan dosa-dosaku ke kamu, Ziva. Juga sama Kaisar. Aku tahu ini nggak akan mudah buat kamu. Tapi izinkan aku untuk menebusnya. Aku benar-benar menyesal,” ucap Ariyan sungguh-sungguh dengan penyesalan yang begitu dalam.“Dengan cara apa?” respons Zivanya singkat.Ariyan menatap Zivanya lebih lekat sebelum menjawab, “Izinkan aku jadi ayah yang seutuhnya buat Kaisar. Kasih aku kesempatan buat hadir di hidup kalian lagi. Aku akan turuti apa pun yang kamu minta. Aku akan lakukan apa pun yang kamu ingi

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 302

    Zivanya duduk dengan kaku di jok belakang. Sementara Kaisar asyik berceloteh dengan Zelena. Anak itu begitu ceriwis menanyakan keadaan papanya. Setiap jawaban yang diberikan omanya tidak seketika membuatnya puas. Selalu ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya.Andai saja bukan karena Kaisar, Zivanya pasti tidak akan berada di sini. Zelena yang menyetir sesekali melirik melalui spion tengah dan mendapati Zivanya menatap ke luar jendela dengan wajah datar. Zelena tahu betul betapa berat posisi yang harus ditanggung wanita yang pernah menjadi menantunya itu. Ada rasa bersalah luar biasa yang kembali melingkupi hati Zelena. Ia merasa sangat egois karena telah memaksakan keadaan ini dengan menarik Zivanya kembali ke masa lalu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua adalah demi Ariyan, satu-satunya anak yang dimilikinya, yang diperoleh dengan pertaruhan hidup dan mati.***“Kamar Papa yang mana, Oma? Kok dari tadi nggak nyampe-nyampe? Banyak sekali kamarnya,” celetuk Kaisar sambil memandangi bagi

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 301

    Zivanya melihat ada dua panggilan tidak terjawab dari mantan mertuanya tengah malam kemarin. Ia tidak tahu karena saat itu sudah tidur.Pagi ini Zivanya terus bertanya-tanya di dalam hati. Untuk apa Mama Zelena menelepon? Apa ada sesuatu yang penting? Mungkin kalau Zelena menghubunginya pada jam biasa Zivanya tidak akan sepenasaran itu. “Ziva, kamu yang antar Kai ke sekolah ya, Mami lagi nggak enak badan,” kata Seruni yang muncul di ruang makan dengan menggunakan jaket tebal.“Omi sakit apa?” tanya Kaisar yang lahap mengunyah nugget-nya.“Omi meriang. Kepala Omi juga pusing dari semalam,” jawab wanita berambut pendek itu seraya berjalan mendekati meja makan dan mengusap kepala sang cucu dengan penuh kasih sayang. “Itu pasti karena Omi banyak makan es,” celetuk Kaisar yang membuat Seruni tertawa.Sepeninggal Seruni, Kaisar melanjutkan sarapan. Begitu juga dengan Zivanya. Hanya saja, fokusnya sama sekali tidak ada di atas meja makan. Atensinya terus-menerus tercurah pada ponsel yang t

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 300

    Zelena dan Jeandra sontak berpandangan mendengar permintaan putra mereka. Mudah untuk mewujudkannya andai kondisi Zivanya masih seperti dulu. Masalahnya, Zivanya akan menikah dengan Kaivan. Mereka tidak mungkin seenaknya saja meminta perempuan itu datang hanya untuk menyenangkan Ariyan.‘Papa Je, gimana nih?’ tanya Zelena melalui mata.Terdengar embusan napas meluncur dari mulut Jeandra yang menandakan bahwa ia juga merasa dilema oleh situasi ini.“Ari, sekarang sudah malam. Ziva dan Kaisar pasti sudah tidur,” kata Jeandra memberi alasan.“Sebentar aja, Pa. Siapa tahu Ziva belum tidur. Dulu biasanya tengah malam begini dia suka main piano,” balas Ariyan bersikeras.‘Ternyata dia ingat semuanya,’ bisik hati Zelena lega.“Tapi Papa rasa dia pasti sudah tidur. Ziva udah nggak sempat lagi main piano. Seharian dia sibuk kerja dan pasti udah capek pas nyampe di rumah.”Karena Jeandra tidak mengabulkannya, Ariyan beralih pada Zelena. Ditatapnya wanita yang sangat disayanginya itu dengan tata

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 299

    Bau antiseptik yang kini merasuk ke dalam hidung Ariyan tidak lagi berasal dari studio tato, melainkan dari sterilnya ruangan tempat Ariyan dirawat. Di dekat tempat tidurnya alat monitor jantung berbunyi dengan teratur. Perlahan-lahan, kelopak mata Ariyan pun terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh lensanya adalah wajah khawatir Zelena yang berdiri di sebelah Jeandra. “Mama,” panggil Ariyan lirih. “Iya, ini Mama,” sahut Zelena cepat sembari menggenggam tangan sang putra. Zelena merasa lega karena Ariyan ingat padanya. Tadi saat mendapat kabar dari Jodi, Zelena merasa sangat cemas. Ia takut penyakit Ariyan semakin parah dan tidak mampu mengingat apa pun. Pandangan Ariyan bergeser pada Jeandra yang tidak kalah cemas dari istrinya. “Papa…” Jeandra mengangguk. “Masih sakit kepalanya?” Ariyan menjawab dengan gelengan lemah. “Ma, Pa, aku minta maaf. Doain operasinya lancar ya, Ma, Pa.” Zelena dan Jeandra saling berpandangan. Keduanya keheranan. “Operasi apa, Nak?” “Ke

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 298

    Ariyan membuka kaus hitamnya yang basah oleh keringat. Saat ini ia sedang berada di ruang khusus trainer. Ia memandang refleksi dirinya di kaca besar di hadapannya. "Bang, tato lo itu asli keren banget," puji Jodi, salah satu trainer muda yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap lekat detail ukiran di tubuh bosnya. "Cakep, Bang. Lo bikin di mana dulu? Terus makna di balik simbol burung sama rantai putus itu apa sih? Kayak dalam banget filosofinya."Di punggung Ariyan, tepatnya di sebelah kanan, terlihat sekumpulan tato. Seekor burung yang mengepakkan sayap terbang lepas melintasi tautan rantai besi yang putus. Di bagian tengahnya ada garis-garis kompas, memayungi deretan fase bulan dan ukiran matahari yang melengkung rapi.Ariyan mengangkat tangan meraba permukaan punggung kanannya. Kulitnya terasa dingin. Tetapi ia sama sekali tidak mampu mengingat kisah, tempat pembuatan, maupun arti di balik simbol-simbol tersebut.Memutar tubuh meng

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status