เข้าสู่ระบบAlatha Devlonka lelaki yang sangat tampan, ceria dan baik hati. Tapi sayang kedua matanya buta akibat kelakuan mantan kekasihnya yang selingkuh dengan lelaki lain,sehingga membuat Alatha kecelakaan dan menyebabkan kedua matanya buta. Semenjak kejadian itu Alatha menjadi lelaki dingin dan pendiam. Tak ada lagi senyum ceria terpancar di bibirnya dan tak ada lagi warna di dalam hidupnya. Tapi suatu hari seseorang yang tidak dia kenal maduk kedalam kehidupannya. Dan berhasil mengubahnya kehidupan lelaki itu menjadi ceria seperti dulu lagi. Seseorang itu adalah Aletha Alexandra.
ดูเพิ่มเติมSaka POV
Hari masih pagi saat aku melangkah meninggalkan kamar asramaku. Ada kuliah pagi hari ini, namun tak sepagi ini seharusnya. Tak ada lagi yang bisa aku kerjakan di kamar, berjalan kaki menuju kampus kupikir bisa mengisi waktu yang berjalan sangat lambat.
Saat aku keluar dari area gedung, langit mendung menyambutku. Memang sudah masuk musim penghujan, payung lipat pun sudah aku siapkan di dalam ransel belakang. Bukan apa-apa, aku membawa laptop dan akan sangat repot jika sampai basah.
Aku pun tak ingin berjalan tergesa-gesa hanya karena menghindari hujan. Aku ingin menghabiskan waktu hingga Sabtu esok hari.
Langit masih berpihak padaku, air hujan baru turun saat aku sudah berada di dalam kelas, duduk di kursi yang sama di setiap kelas. Sebelah kananku akan selalu kosong hingga jam pelajaran usai. Tak ada yang akan duduk di sana seakan semua teman sefakultasku tahu kalau di sebelah kanan kursiku adalah milik seseorang yang dahulu pernah ada.
Sedangkan di sebelah kiriku, juga bukan kursi favorit banyak orang. Hanya ada beberapa nama yang mau duduk di sana, jika sangat terpaksa. Tak banyak yang mau berbasa-basi denganku atau menanggapi basa-basiku. Aku tidak dikucilkan, aku bisa bersosialisasi, hanya saja, sejak kejadian itu, semuanya tak lagi sama.
“Saka...” Rio melambai padaku, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang mau duduk di sebelah kiriku, seperti hari ini.
“Hai,” sapaku.
“Sudah selesai tugasmu?”
“Tentu. Kamu?”
“Belum.” Rio menggaruk rambutnya.
Menyadari jam kuliah sudah hampir mulai, kami mengeluarkan laptop dari dalam ransel. Sebagai mahasiswa jurusan akuntansi semester 6, aku bukanlah mahasiswa yang pintar. Kelebihan yang aku punya adalah aku memiliki lebih banyak waktu jika dibandingkan mahasiswa lainnya sehingga aku tidak kesulitan mengerjakan tugas.
Saat mahasiswa lain menumpuk tugasnya di akhir pekan atau ketika sudah mendekati tanggal dikumpulkan, aku akan langsung mengerjakannya secepat mungkin. Nilaiku mungkin tak sempurna, namun aku selalu menyelesaikannya tepat waktu. Dengan begitu aku tetap memiliki akhir pekan untuk perjalanan ke Palagan, kota yang selama 8 bulan ini hampir tak pernah absen aku kunjungi di akhir pekan. Sebuah perjalanan menggunakan kereta yang menghabiskan setidaknya 6 jam.
Meski untuk itu aku harus sangat berhemat dalam menggunakan uang transferan dari rumah, dan bahkan mencari uang tambahan dengan menawarkan jasa dan waktuku sebagai tenaga serabutan di kafe atau restoran yang membutuhkan di kota ini. Ya, besok aku akan ke Palagan. Naik kereta paling pagi pukul 5, aku akan tiba di sana pukul 11 lebih.
Setelah makan di stasiun aku akan melanjutkan perjalanan selama setengah jam menggunakan ojek online. Kereta senja akan membawaku pulang kembali. Sekitar tengah malam, aku akan sampai kembali ke kota Sibaru ini. Memikirkannya saja, sudah membuatku bersemangat.
Seperti perkiraan, setelah makan dan membeli bunga lily, pukul 12 lebih 30 menit, aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Sebuah rumah sakit pusat rehabilitasi untuk mereka yang memiliki gangguan kejiwaan. Setelah mengisi buku tamu, aku menuju ruangan tempat Saskia dirawat.
“Kia...” Panggilku pelan pada seorang gadis yang memunggungiku. Saskia yang sedang memandangi lukisannya perlahan memutar badannya untuk melihatku.
“Arjuna,” balasnya. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. Dia bangun lalu berjalan memelukku. “Lama sekali, aku sudah menunggumu dari tadi.”
“Aku selalu datang di waktu yang sama, setelah kau makan siang,” Sahutku sambil balas memeluknya singkat. Kuganti seikat bunga lily yang sudah layu di dalam vas plastik dengan bunga yang aku bawa.
“Aku melukis dirimu, lihatlah...” dia menggandeng tanganku, menarikku untuk mendekat pada lukisannya.
Aku tersenyum, seperti lukisan-lukisannya yang lain, wajah Arjuna terpampang di sana.
“Kau menyukainya?” Tanyanya sambil memandang wajahku.
“Tentu. Bagus sekali, terima kasih.” Dia mengangguk. “Apa ini sudah selesai?”
“Iya.”
“Kalau begitu aku akan membawanya.”
Dengan cekatan aku melepas kanvas dari stand lukis kayu yang aku beli kira-kira setengah tahun lalu. Karena hanya menggunakan klip kertas, sebentar saja kanvas sudah bisa aku lepaskan lalu aku gulung. Kubuka ranselku lalu aku menarik kanvas baru yang selalu aku bawa saat berkunjung ke sini lalu aku masukkan lukisan Kia tadi ke dalam ransel.
Seperti membalik kegiatanku tadi, kini aku memasang kanvas baru pada stand lukis Saskia.
“Nah.. kau bisa melukis lagi sekarang. Apa saja cat warna yang habis?” Saskia terdiam. Itu berarti aku harus mengeceknya sendiri.
Kubuka laci meja dan melihat kumpulan cat warna yang berserakan. Semakin lama, semakin sedikit jenis warna yang Kia pakai untuk melukis. Lukisannya tetap bagus seperti dulu, hanya saja lebih suram dan... wajah Arjuna pada lukisan semakin jauh dari wajah aslinya. Hanya ada 2 warna yang sepertinya harus aku bawa minggu depan.
Untunglah Saskia tidak termasuk pasien yang bisa membahayakan jiwa sehingga masih diperbolehkan menyimpan benda-benda yang bermanfaat untuk pemulihannya. Selain itu, keluarga Kia juga menempatkannya di kamar rawat khusus. Aku bertemu dengan kedua orang tuanya beberapa kali saat menengok Saskia yang kala itu masih dirawat di rumah hingga mereka memberiku izin dengan memasukkan namaku di daftar tamu yang boleh menemui putrinya di rumah sakit.
Berjalan-jalan atau duduk di taman adalah kegiatan rutin kami. Kadang, Saskia lebih banyak terdiam, jatuh pada lamunannya sendiri. Namun sering kali juga dia lebih banyak bicara, membicarakan kejadian masa lalu bersama Arjuna sambil mengira aku adalah dirinya. Ada kalanya dia menyandarkan kepalanya di bahuku, membiarkanku mengelus rambutnya yang lurus dan panjang.
Saat pertama kali mendengar Kia menganggap diriku adalah Arjuna, aku tidak kecewa. Kami memang tidak pernah begitu dekat. Meski aku selalu menyukainya, namun aku selalu memperlakukannya tak lebih dari pacar sahabatku.
Tak pernah ada rasa marah yang aku rasakan. Aku merasa tak berhak marah pada keadaan, apalagi pada Saskia. Dia dan Arjuna telah berpacaran sejak mereka di bangku SMA.
Arjuna yang selalu ramah, jenaka, dan baik memang disukai banyak orang, apalagi oleh pacarnya sendiri. Bersama Saskia di sini, aku mengingat kembali sahabatku. Tapi semakin sering aku ke sini, semakin aku menyadari kalau yang membuatku terus datang ke sini setiap minggu adalah Saskia.
Dia tersenyum padaku dengan cara yang lain dari senyumnya dahulu. Dia menggenggam tanganku, mengamit lenganku hingga menyandarkan kepalanya padaku. Dia berbicara padaku seolah aku adalah orang yang penting baginya. Tentu... aku sadar dia melakukannya karena menganggap aku adalah Arjuna.
Tapi berada di dekatnya, yang menganggapku kekasihnya, telah menjadi candu dalam pikiran dan tubuhku. Dahulu, aku tak pernah berpikir akan menyukai Saskia seperti ini, tapi sekarang, aku yakin aku menyayanginya lebih dari yang aku sadari.
Dalam perjalanan kembali ke Sibaru, sambil membawa lukisan wajah Arjuna di dalam ranselku, aku akan merasa senang, aku akan merasa bersalah, aku akan merasa menjadi orang yang paling brengsek, sahabat yang mengambil kesempatan dari kematian sahabatnya, orang yang menikmati sakit orang lain.
Aku akan merasakan banyak hal, hingga aku sampai di kamar kos dan meletakkan gulungan lukisan kanvas Saskia ke sebuah tabung penyimpanan. Kini sudah ada 12 lukisan di sana. Aku tak pernah membukanya kembali. Aku tak bisa melihat wajah Arjuna setelah apa yang aku lakukan.
Tok.. tok.. tok Aletha yang tadinya sibuk dengan laptopnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu."Masuk!" ucap Aletha.Lelaki berkacamata yang bernama barren masuk ke ruangan Aletha sambil membawa beberapa berkas di tangannya.Aroma parfum khas Aletha menyeruak masuk sampai ke hidungnya.Aroma perpaduan antara strawberry dan blueberry berhasil memabukkan Barren dalam sekejap.Hingga suara deheman Aletha terdengar di telinga,membuat Barren sadar."Selamat Sore,bu Aletha" sapa Barren sambil tersenyum ramah.Barren ialah salah satu karyawan di perusahaan milik Papa Aletha.Aletha membalas senyuman Barren."Selamat sore,Barren.""Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aletha to the poin.Barren menyodorkan berkas itu pada Aletha."Saya di beri pesan oleh Pak Arjuna untuk memberikan berkas ini pada ibu. Kata Pak Arjuna ibu harus mengerjakan berkas berkas ini secara cepat,karena Pak Arjuna butuh sekarang,bu."Aletha membulatkan kedua matanya terkejut.Apa apaan Papa nya ini? belum lagi kelar yang
Mereka berdua baru saja sampai di Flower Garden. Lokasinya lumayan jauh dari rumah Aletha. Tempat ini adalah kesukaan Alatha dari kecil. Orangtuanya yang pertama kali mengajak nya kesini. Pertama kali melihat tempat ini dia langsung jatuh hati. Semenjak dari situ Dia sering meminta orangtua nya untuk membawa nya ke tempat ini untuk memetik bunga dan melihat keindahan jenis jenis bunga Hingga saat ini dia masih sangat menyukai tempat ini. Semenjak beranjak dewasa dia mulai terbiasa pergi sendiri kalau dia sedang punya masalah Sesekali Dia mengajak Dinda,mantan pacar nya ke sini. Dinda gadis pertama yang mengetahui tempat kesukaan nya. Dinda juga langsung menyukai tempat ini. Tempat nya yang sangat indah dan damai. Berbagai jenis dan warna bunga ada di sini membuat mata terhipnotis. Kata nya ini pertama kali nya Dinda ke sini, orangtua nya tak pernah mengajak diri nya. Karena mereka lebih sibuk ke pekerjaan mereka masing masing. Bahkan dia baru tahu kalau di Jakarta ada tempat
Bertemu dengan mu bukanlah suatu yang kebetulan, Hanya sebuah rencana yang sudah Di atur oleh kedua orangtua kita. Pertama kali melihat mu Hatiku berdesir hebat, Paras tampan mu dan sikapmu Membuatku ingin memilikimu Sebelum nya aku tak pernah mencintai seseorang, Berpacaran dengan mereka hanya Buat kesenangan ku saja Tapi, Semenjak ku mengenal dirimu Benih cinta timbul di hatiku Tanpa ku minta, Dan tanpa kusadari Tapi keadaanmu saat ini membuatmu Ragu Apakah aku tulus mencintai mu atau Hanya mempermainkan perasaan mu?
HAPPY READING..... Aku tahu,perkataan ku berhasilMenceloskan hatimu.Aku tak sadar perkataan tajam berhasilKeluar dengan sempurna dari bibirku. Maaf,Kalau itu menyakiti hatimu.Maaf,Kalau aku telah membuatmu kesaldan marah. Apa yang harus ku lakukan agar kau mau memaafkan ku? -Pagi hari telah tiba.Saat ini Alatha tengah bersiap siap mengenakan pakaian nya di bantu oleh Papa nya. Dia akan pergi ke
HAPPY READING. . . . Menyiakan nyiakan yang tulus, sama dengan kau membuang berlian
HAPPY READING. . . . Jangan menilai seseorang dari sebelah mata, karena kita tahu seperti a
HAPPY READING..
HAPPY READING. . . . I'm sorry-






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น