ANMELDENRaven, Leona, dan Alverine masih belum memahami alasan Garrick mengutus beberapa pengawal untuk menutup jalan keluar dari ruang makan setelah Dylen membawa Eira pergi.“Pasti mereka menyembunyikan sesuatu,” gumam Leona dari tempat duduknya.Sebagai seseorang yang mudah curiga, perubahan sikap mereka tentu saja membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.“Sebaiknya jangan berspekulasi sebelum ada penjelasan,” timpal Raven dengan tenang.“Kenapa Papa belum ke sini?” Alverine tidak merengek. Ia hanya kebingungan di sela-sela sarapannya ketika melihat lima pengawal berdiri tegak di pintu masuk ruang makan. Ia menoleh kepada Raven. “Apa jangan-jangan ada perang di luar sana, Dame?”Pikiran buruk yang sama seperti Leona rupanya mulai memenuhi kepala anak kecil itu.Raven menggeleng pelan. “Tidak ada perang. Tunggu Papa saja, ya.”Namun, Leona tetap tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri. Ia tidak bermaksud berpikir buruk. Hanya saja, berbagai kemungkinan terus bermunculan tanpa b
"Kau berhak marah, Rhys. Mereka menyembunyikan sesuatu darimu. Aku juga. Apa yang kau rasakan terhadapku tidak pernah menjadi kebohongan hanya karena Velian berada di dalam tubuhku. Aku tetap Eira. Dan dia tetap Velian. Kami hanya terjebak dalam satu tubuh.”Mereka menyembunyikannya bukan karena ingin mengkhianati Rhys, tetapi karena mereka takut apa yang akan terjadi jika Rhys mengetahui semuanya sebelum mereka menemukan cara mengembalikan Velian.Eira meminta Rhys tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah. "Kalau kau ingin membenciku setelah semuanya selesai, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi jangan hukum mereka sebelum kau mendengar seluruh kebenarannya.”Rhys tidak langsung percaya. Karena setelah mengetahui bahwa “Eira yang selama ini bersamanya ternyata juga ditempati Velian”, pertanyaan terbesar Rhys justru, “Kalau begitu ... selama aku mencintaimu, siapa yang sedang mencintaiku?”Eira menjawab dari dalam cermin, “Aku.”Rhys menundukkan kepala. “Sejak kapan...?” Suaranya
Dylen langsung menyambar tangan Velian dan menariknya bangkit dari kursi. Ia membawanya menjauh dari meja makan tanpa memberi kesempatan untuk bertanya.Keterkejutan, kekhawatiran, dan kepanikan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak dihiraukannya. Yang ada di pikirannya hanya satu: mereka harus pergi sebelum terlambat.“Dylen, tunggu!” seru seseorang.Namun Dylen terus menarik Velian.Bahkan ketika Garrick segera mencekal lengannya, berusaha menghentikannya sebelum ia membawa Velian pergi, Dylen akhirnya berterus terang. “Pamanku akan membuka segel buku itu.”Garrick mengerutkan kening. Dylen menatapnya dengan wajah tegang. “Dan Rhys akan menemukannya.”Velian yang sejak tadi hanya mengikuti tarikan Dylen tiba-tiba membeku. Matanya melotot lebar. Napasnya tercekat. “R-Rhys?!”Di tengah pelarian mereka, Velian berteriak dengan napas tersengal. “Rhys ke kamar Eira! Gimana dong?!”“Lari saja!”Dylen mempercepat langkahnya. Namun, berlari mengenakan gaun jelas bukan perkara mudah. V
Dytheron menghadap Dylen. Tatapannya tenang, tetapi ada ketegasan yang tidak memberi ruang untuk dibantah.“Temui Velian.”Dylen menatapnya, menunggu kelanjutan perkataan sang penyihir tua.“Katakan kepadanya, sebelum takdirnya berakhir di sini, dia harus kembali ke dunianya.”Dylen terdiam.“Velian tidak seharusnya berada di Morwenia,” lanjut Dytheron. “Apa pun alasan yang membawanya kemari, tempat ini bukan miliknya.”Tatapan Dytheron mengeras. “Kehidupan Eira adalah milik Eira. Begitu pula kehidupan Velian adalah milik Velian.”Ia menarik napas pelan sebelum menambahkan, “Tidak seorang pun seharusnya hidup menggantikan kehidupan orang lain.”Dylen bergegas menuju kediaman Rhys di Morwenia menggunakan mobil. Kendaraan itu melaju secepat kilat, membelah jalan tanpa memberi banyak waktu untuk berhenti. Ia mengejar waktu—sebelum perkiraan Dytheron berubah menjadi kenyataan.Rhys akan mengetahui rahasia ini. Tak seorang pun bisa mencegahnya jika dia menganggapnya sebagai pengkhianatan.
“Lalu mengapa jantung Eira terhubung dengan Kristal Marindor?” Kali ini Dylen benar-benar berharap mendapatkan jawaban.Dytheron tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Kristal Marindor yang bercahaya terang di hadapan mereka.“Eira hanya pion.”Dylen mengerutkan kening.“Pion untuk apa?”“Untuk membangkitkan inti magis emas Alverine.”Dylen terdiam. “Bagaimana mungkin?”“Karena inti magis emas tidak bisa bangkit hanya karena pemiliknya dilahirkan dengan kekuatan tersebut.” Dytheron akhirnya menoleh kepadanya. “Ia membutuhkan pemicu yang mampu menghubungkan kekuatan itu dengan sumber kehidupan Morwenia.”“Kristal Marindor?”Dytheron mengangguk. “Dan jantung Eira menjadi penghubungnya.”Dylen mulai memahami, tetapi semakin ia memahami, semakin tidak masuk akal semuanya terdengar.“Jadi sejak awal ... Eira memang diperlukan?”“Ya.”“Untuk menyelamatkan Morwenia?”Tatapan Dytheron menjadi berat. “Bukan. Eira diperlukan agar kekuatan Alverine dapat bangkit. Selama jantung E
Dylen meminta Dytheron menceritakan kisah di balik duel antara dirinya dan Maren Shawn dahulu kala.Setelah mengantar Eira, Alverine, dan Garrick hingga ke depan bangunan Akademi Marindor, Dylen mengikuti langkah pamannya. Mereka berjalan melewati lorong-lorong akademi hingga akhirnya berhenti di salah satu sisi Kristal Marindor—kristal raksasa yang akhir-akhir ini kembali memancarkan cahaya terang dan stabil.Dytheron bergeming. Tatapannya tertuju lama pada kristal tersebut. Sementara itu, Dylen bersedia menunggu. Ia tahu pamannya tidak akan bercerita sebelum siap membuka kembali sejarah yang selama ini sengaja dikubur.“Jauh sebelum kalian lahir,” akhirnya Dytheron bersuara, “ada sebuah keluarga yang dikutuk oleh takdir karena menyalahgunakan kekuatan.”Dylen mengerutkan kening.“Mereka menggunakan kekuatan itu untuk menguasai wilayah Celesthaven.” Tatapan Dytheron masih tertuju pada Kristal Marindor. “Masa itu merupakan salah satu sejarah paling kelam di Morwenia, sebelum makar dan
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







