Home / Romansa / Amnesti Sang Eksekutor / Chapter 7: Ruang Tanpa Pilihan

Share

Chapter 7: Ruang Tanpa Pilihan

Author: Adelia
last update publish date: 2026-05-01 17:00:55

Jarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara pribadi bagi kami berdua.

​Aku mencoba mengatur napas, namun dadaku naik turun dengan tidak beraturan. Tatapan Arkana tidak lagi sedingin es; ada percikan api yang menyala di sana, jenis api yang siap menghanguskanku jika aku berani melangkah lebih dekat.

​"Pak Arkana, ini kantor," bisikku parau, mencoba mengembalikan sisa-sisa kewarasanku.

​Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang besar justru berpindah dari telingaku ke tengkuk, mencengkeramnya dengan tekanan yang pas, tidak menyakitkan, namun penuh peringatan bahwa aku tidak punya jalan untuk kabur.

​"Di kantor ini, aku adalah hukumnya, Anindya," suaranya rendah, menggetarkan saraf di tulang belakangku. "Dan kamu adalah asisten pribadiku. Ingat apa yang tertulis dalam kontrak itu? Dua puluh empat jam."

​Ia sedikit merunduk, membiarkan hidungnya menyentuh ujung hidungku. Aku memejamkan mata, merasakan sensasi panas yang menjalar dari titik sentuh itu ke seluruh tubuhku. Aku membenci diriku sendiri karena di saat seperti ini, jantungku justru berkhianat dengan berdegup kencang karena gairah, bukan karena takut.

​"Kamu tadi sangat luar biasa di depan para direktur itu," ia melanjutkan, bibirnya kini nyaris menyentuh sudut bibirku. "Caramu menghancurkan argumen mereka... itu sangat seksi."

​Sentuhannya kini turun ke pinggangku, menarik tubuhku hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang keras. Aku bisa merasakan otot dadanya di balik kemeja mahal itu, sebuah kekuatan yang sangat kontras dengan keraguanku.

​Tiba-tiba, ponsel di atas meja kerja berbunyi nyaring, memecah ketegangan yang nyaris memuncak. Arkana mendesah kesal, melepaskan cengkeramannya pada tubuhku dan meraih ponsel tersebut tanpa menjauhkan wajahnya dariku.

​"Ya?" jawabnya singkat dengan nada bicara yang kembali dingin seperti semula.

​Aku mengambil kesempatan itu untuk menjauh, merapikan blus kerjaku yang sedikit berantakan dan mencoba menormalkan detak jantungku. Aku berjalan menuju jendela besar, menatap jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan di bawah sana, mencoba mencari oksigen yang seolah menghilang dari ruangan ini.

​"Siapkan mobil. Kita ke bandara sekarang," ucap Arkana setelah menutup teleponnya.

​Aku berbalik dengan kening berkerut. "Bandara? Kita punya jadwal rapat besok pagi dengan bagian audit."

​Arkana mengambil jasnya yang tersampir di kursi, memakainya dengan gerakan yang sangat efisien dan elegan. "Batalkan. Ada masalah di cabang Surabaya yang harus saya selesaikan secara langsung, dan asisten saya tidak akan membiarkan saya pergi sendirian."

​Surabaya. Itu berarti setidaknya dua atau tiga hari lagi aku akan terjebak bersama pria ini di kota yang asing bagi kami. Pikiranku langsung melayang pada tas pakaian yang belum sempat kusiapkan dan nasib departemenku yang akan kutinggalkan tanpa pengawasan.

​"Tapi saya belum menyiapkan apa pun, Pak," protesku sambil mengejarnya yang sudah berjalan menuju pintu.

​"Semua yang kamu butuhkan sudah ada di sana nanti," jawabnya tanpa menoleh, tangannya membuka kunci pintu dengan satu gerakan cepat. "Cukup bawa dirimu dan otak tajammu itu. Kita tidak punya banyak waktu."

​Selama perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Arkana sibuk dengan laptopnya, seolah kejadian intim di kantor tadi hanyalah halusinasi di kepalaku. Ia kembali menjadi mesin bisnis yang tidak memiliki perasaan, membedah laporan keuangan dengan ketelitian yang mengerikan.

​Aku hanya bisa diam, menatap keluar jendela mobil sementara pikiranku berkecamuk. Aku merasa seperti pion yang digerakkan di atas papan catur yang sangat luas. Arkana tidak hanya menggunakan tenagaku untuk bekerja; ia sedang mengisolasi aku, menjauhkan aku dari semua hal yang kukenal agar aku hanya memiliki dia sebagai satu-satunya sandaran.

​Sesampainya di terminal jet pribadi, seorang pelayan sudah menunggu dengan dua tas kecil yang aku yakini berisi kebutuhan mendesak kami. Arkana berjalan mendahuluiku dengan langkah lebar, sementara aku mengikuti di belakangnya seperti bayangan yang setia.

​Di dalam pesawat kecil yang hanya berisi empat kursi penumpang itu, suasananya terasa jauh lebih intim dan menyesakkan daripada di ruang kantor. Arkana duduk berhadapan denganku, meletakkan laptopnya dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Kenapa kamu tidak bertanya ke mana kita akan menginap?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan mesin pesawat yang mendengung halus.

​"Apakah itu penting? Saya yakin Anda sudah memesan hotel terbaik di Surabaya," jawabku datar, berusaha menahan emosiku.

​"Kita akan menginap di penthouse pribadi milik keluarga saya," ia menyandarkan punggungnya, menyilangkan kaki dengan santai. "Hanya ada satu kamar yang layak dipakai. Sisanya sedang dalam renovasi."

​Aku menegang. "Anda bercanda, kan?"

​"Saya tidak pernah bercanda soal kenyamanan saya, Anindya," senyum miring itu kembali muncul di wajahnya. "Anggap saja ini ujian lanjutan untuk profesionalitasmu. Jika kamu bisa bertahan satu ruangan denganku tanpa kehilangan akal sehat, mungkin kamu memang layak mendapatkan posisi yang lebih tinggi."

​Aku mengepalkan tangan di pangkuanku, merasa harga diriku kembali dipertaruhkan dalam permainan gila yang ia ciptakan. Ia sedang memojokkanku, sengaja menciptakan situasi di mana aku tidak punya pilihan selain menyerah pada keberadaannya.

​Pesawat mulai lepas landas, menembus awan hitam yang menggantung di langit sore Jakarta. Aku menatap keluar jendela kecil di sampingku, melihat lampu-lampu kota yang perlahan mengecil.

​Di bawah sana adalah duniaku yang hancur, rekan kerja yang membenciku, mantan kekasih yang mengkhianatiku, dan utang yang mencekik. Dan di hadapanku adalah pria yang menawarkan keselamatan dengan cara yang paling berbahaya.

​Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku mengikuti guncangan kecil pesawat. Aku tidak tahu apa yang menantiku di Surabaya, tapi aku tahu satu hal pasti: malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, dan aku tidak yakin apakah aku akan keluar dari sana dengan hati yang masih utuh.

​Arkana meraih tanganku yang berada di atas kursi, jemarinya yang hangat menyusup di antara jemariku dan menggenggamnya erat. Aku tersentak, mencoba menarik tanganku kembali, tapi ia menahannya dengan kekuatan yang tenang.

​"Berhenti melawan, Anindya," bisiknya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela pesawat. "Nikmati saja perjalanannya. Kamu akan butuh banyak energi untuk apa yang akan terjadi nanti malam."

​Aku tidak menjawab. Aku hanya membiarkan tanganku berada dalam genggamannya, merasakan panas yang merambat dari kulitnya ke jantungku. Di ketinggian ribuan kaki ini, aku benar-benar tidak punya tempat untuk lari lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 77

    Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. ​"Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 76

    ​"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. ​Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 75

    Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. ​Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. ​"Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 74

    ​"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." ​Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. ​Aku menatap punggung tegap Arkana

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 73

    ​"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." ​"Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 72

    Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. ​"Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." ​Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 3: Perjanjian Di Atas Meja

    Hujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.​Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 2: Algojo Ruang Rapat

    Aku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.​Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 4: Koneksi Yang Salah

    Lampu-lampu kota Jakarta tampak seperti aliran cahaya yang kabur dari balik jendela mobil Arkana. Aku duduk membatu di kursi penumpang, meremas jemariku yang terasa dingin sementara pria di sampingku mengemudi dengan ketenangan yang memuakkan.​Kami tidak menuju ke kantor lain, melainkan ke hotel b

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 5: Bayangan Sang Algojo

    ​Aku terbangun tepat saat cahaya abu-abu fajar menyusup melalui celah gorden kamar hotel yang asing. Kepalaku berdenyut, sisa dari ketegangan semalam yang tidak kunjung surut. Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, menyadari Arkana benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menyentuhku lebih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status