LOGIN"Mbak Panda dimana rumahnya? Jauh nggak dari sini?" tanya Toni mengalihkan pembicaraan."Deket kok, Pak. Sekitar tiga kilometer saja, di dekat pasar tradisional," sahut Panda ramah sembari membetulkan letak tas kecil di bahunya.Toni mengangguk-angguk kecil mendengar penuturan tersebut. Pria paruh baya itu kemudian melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. "Apa nggak sebaiknya nginep sini aja? Mbak Panda dicariin nggak sama orang tuanya kalau nggak pulang?" tanya Toni lagi dengan raut wajah penuh perhatian."Oh, aman, Pak. Saya tinggal sendiri di toko herbal itu. Ayah dan ibu tinggal di rumah, sekitar lima kilometer dari toko," terang Panda."Tapi... saya juga sungkan kalau nginep dan merepotkan di sini," sambung Panda cepat. Perasaan tidak enak hati menyelinap di benaknya jika harus menumpang tidur di rumah orang yang baru saja ditemuinya hari ini, terlebih setelah apa yang baru saja digelarnya bersama Teja di kamar atas."Kan saya yang nyuruh n
Teja mendongak ke arah jam dindingnya yang terpasang di dinding kamar. "Tuh lihat, udah hampir jam sepuluh. Nanti kamu kemaleman pulang bawa motornya," tutur Teja mengingatkan sembari menunjuk angka di jam dinding menggunakan dagunya.Panda menghela napas, menatap jam dinding sebentar lalu kembali memandang Teja dengan berat hati. Gadis itu akhirnya mengangguk. "Lain kali ya, Ja. Aku pasti bisa bantu kamu orgasme," janji Panda bersungguh-sungguh.Teja tersenyum lembut dan mengibaskan tangannya pelan. "Iya, Nda. Santuy," sahut Teja tanpa menunjukkan kekecewaan."Tapi... tapi kamu nggak kecewa, kan? Kamu masih mau kan bantu aku?" tanya Panda beruntun, nada suaranya bergetar menahan keraguan.Gadis Tionghoa itu menatap Teja tanpa berkedip. Ia ingin meastikan bahwa teman barunya itu tak pergi meninggalkannya setelah malam ini."Kalau kamu nggak ada, siapa yang bisa bantu aku hadapi gairah tinggi ini, Ja?! Aku nggak mau cari cowok lagi, cukup kamu aja aku udah nemuin kepuasan dan kasih s
Hentakan demi hentakan Teja yang menghantam dan menghujam semakin memperkeruh gairah yang bergolak hebat di dalam ruangan itu. Suara gesekan basah dan bunyi benturan kulit beradu nyaring bersahutan. Gerakan mereka terpantul dari cermin besar yang memperlihatkan adegan intim tersebut secara gamblang dan faktual.Panda semakin mencengkeram tepi meja kayu di depannya. Otot-otot punggungnya yang mulus menegang kaku, sementara menekuk sedemkian rupa akibat menahan gelombang kenikmatan yang terus dihantamkan Teja tanpa ampun dari belakang."Ja... ush, Ja! Dikit lagi, Ja!" jerit Panda bersalut desahan berat yang tak lagi mampu ditahannya. Kepalanya terkulai ke depan, lalu kembali mendongak menatap pantulan wajah Teja yang dipenuhi peluh di dalam cermin.Teja tetap bungkam, memusatkan seluruh daya tahannya pada pengaturan napas. Kedua tangannya semakin erat memegang pinggul Panda, menarik dan mendorong tubuh gadis Tionghoa itu dengan tempo yang makin cepat, beruntun, dan sangat bertenaga.
Panda terkekeh kesal. "Palingan satu ronde udah keluar bareng. Mentok tiga menitan lah," jawabnya blak-blakan. Ia teringat kembali performa para mantan kekasihnya yang hanya membuat rasa jengkel di dadanya kembali mencuat."Habis itu harus nunggu sejam lagi biar bocilnya bangkit lagi. Uh, keburu anyep gairahku!" lanjutnya meluapkan kekecewaan atas ketidakmampuan pria-pria di masa lalunya dalam mengimbangi kapasitas gairahnya.Teja terkekeh pelan mendengar keluhan jujur dari gadis Tionghoa itu. Ia menggerakkan pinggulnya sedikit, menunjukkan bahwa kejantanannya sama sekali tidak mengendur sedikit pun meski telah menyokong dua kali puncak kepuasan Panda. "Ini kan masih berdiri. Mau lanjut lagi?" tawar Teja dengan senyuman penuh rasa percaya diri.Panda langsung mengangguk tanpa ragu sedikitpun. Matanya berbinar terang, seolah menemukan harta karun yang selama ini dicarinya. Rasa lelah akibat dua kali puncak kepuasan sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menikmati ke
Panda tak menjawab, namun, tiba-tiba ia sudah kembali bergerak. Setelah kepuasan singkatnya baru saja mereda, gairah yang membakar fisiknya ternyata sama sekali belum padam.Ia menegakkan lagi punggungnya, mengangkat bokong, memegang milik Teja, dan—"Oh, Ndaa!" pekik Teja saat merasakan miliknya sudah diarahkan masuk ke milik Panda. Sensasi jepitan hangat yang begitu ketat langsung membungkus rapat batang kekar Teja yang sejak tadi sudah menegang sempurna."Aku hyper, Ja. Satu ronde aja nggak akan pernah cukup!" tegas Panda dengan deru napas yang memburu dan tatapan mata yang dipenuhi kabut gairah.Usai mengatakan itu, Panda menjatuhkan bokongnya hingga seluruh milik Teja terbenam. Penetrasi itu terjadi sangat cepat, menyatukan kedua tubuh mereka tanpa ada celah yang tersisa.Teja memejamkan mata sejenak merasakan kehangatan jepitan milik Panda di sekujur batang miliknya. Dinding-dinding halus di dalam sana membalut erat permukaan miliknya, mengalirkan rangsangan fisik yang begit
Teja sudah membayangkan bahwa miliknya akan segera dimanjakan oleh bibir imut dan lidah basah Panda. Bayangan akan kehangatan dan kelembutan mulut gadis keturunan itu sudah tercetak di benaknya, memancing gejolak gairah yang kian sukar untuk dibendung.Namun perkiraannya itu ternyata sangat-sangat meleset jauh! Panda tidak membungkukkan badannya ke bawah untuk melakukan hal tersebut sesuai dengan dugaan Teja.Panda justru bangkit dan bergerak menduduki tubuh Teja lagi. Gerakannya yang tangkas dan cekatan membuat Teja harus kembali menahan napasnya di atas kasur empuk tempatnya berbaring.Yang berbeda, ia tak lagi duduk di perut, melainkan tepat di atas milik Teja yang menjulang. Beban tubuh Panda bergeser lebih rendah, langsung mengincar posisi paling privat dari tubuh pemuda di bawahnya."Ukh, ati-ati, Nda! Sakit kalau diduduki gitu!" keluh Teja refleks menahan bahu Panda. Wajahnya meringis menahan rasa nyeri di bagian miliknya yang tertekuk dan tertindih paksa oleh bobot tubuh
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







