Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 204. Pojat Pinggang

Share

204. Pojat Pinggang

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-24 18:28:57

Teja mendongak ke arah jam dindingnya yang terpasang di dinding kamar.

"Tuh lihat, udah hampir jam sepuluh. Nanti kamu kemaleman pulang bawa motornya," tutur Teja mengingatkan sembari menunjuk angka di jam dinding menggunakan dagunya.

Panda menghela napas, menatap jam dinding sebentar lalu kembali memandang Teja dengan berat hati.

Gadis itu akhirnya mengangguk. "Lain kali ya, Ja. Aku pasti bisa bantu kamu orgasme," janji Panda bersungguh-sungguh.

Teja tersenyum lembut dan mengibaskan tanganny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   618. Saling Menatap

    Desy mendongakkan wajah jelitanya yang putih mulus. Seberkas pendar kebahagiaan menyeruak jernih di dalam sepasang mata bulatnya. Dengan jemari lentik yang masih menempel di dada berotot Teja, gadis belia itu memberanikan diri bertanya dengan suara parau dan lembut."Mas... Mas Teja sudah mau sekarang?" bisiknya dengan nada suara yang teramat halus dan manja, bibir mungilnya yang basah sedikit terbuka menggoda.Teja mengangguk pelan. Binar mata keemasannya memancar penuh kehangatan, menatap dalam ke balik manik mata bening sang dara yang berada di dekapannya."Aku sudah mulai menemukan kedekatan batin denganmu, Des," tutur Teja tulus.Pengabdian yang ditunjukkan Desy sejak fajar menyingsing, kepatuhan alaminya, serta kebahagiaan haru saat melihat adiknya sekolah telah mengunci keyakinan Teja. Ikatan batin yang ia persyaratkan kini telah terjalin sempurna.Mendengar pengakuan jujur dari pria yang dipujanya, rona merah merona merekah indah di sepanjang pipi tirus hingga ke ceruk leher

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   617. Mengalun Merdu

    Petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, mengamati berkas dan mewawancarai Desan dengan lembut. Setelah berdiskusi mengenai riwayat pendidikan dan perkembangan fisik sang bocah, panitia memutuskan bahwa Desan harus mengikuti kelas penyetaraan awal dari tingkatan terdasar agar fondasi belajarnya kokoh dan terstruktur."Tidak apa-apa ya, Desan? Yang penting kamu bisa belajar lagi, punya teman-teman baru, dan meraih cita-citamu," tutur Teja menenangkan, mengusap pelan kepala bocah itu.Desan mengangguk dengan binar mata bulat yang memancarkan semangat membara. "Nggak apa-apa, Mas Teja! Aku mau belajar yang rajin biar pinter kayak Mas Teja!"Karena proses administrasi yang dibantu penuh oleh pengaruh dan jaminan Teja berjalan amat cepat, pihak sekolah langsung mengizinkan Desan bergabung di kelasnya hari itu juga. Seorang guru wanita yang ramah menuntun Desan menuju ruang kelas seraya membawakannya seragam baru dan perlengkapan tulis yang sudah disiapkan sekolah.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   616. Sesuai Janji

    Masih sangat pagi saat Teja mendengar suara kesibukan di rumah klinik itu.Alunan gesekan gagang pel pada lantai keramik dan benturan halus peralatan rumah tangga membelah keheningan fajar yang masih diselimuti udara dingin. Teja membuka mata sedikit dan mendapati Desy yang sedang mengepel lantai.Wanita muda itu sudah mengganti pakaian dengan daster berbahan kaos yang pendek agar leluasa bergerak.Daster rumahan berpotongan sederhana berwarna merah muda itu membungkus tubuh molek Desy dengan amat pas. Batas bawah daster yang berada di atas lutut memperlihatkan sepasang paha mulusnya yang seputih porselen, mengayun anggun seiring dengan gerakan tangan halusnya yang cekatan mendorong tongkat pel ke kanan dan ke kiri. Kaos tipis daster itu memunculkan lekuk punggung ramping dan ketegasan gumpalan dadanya dari samping."Jam berapa ini, Des? Kamu ngapain?" gumam Teja serak.Desy menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menyapukan helai rambut panjangnya yang dikuncir kuda ke belakang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   615. Mimpi Yang Damai

    Pemuda berambut gondrong itu membuang napas panjang, menuruti kemauan sang gadis dengan senyuman tipis. Tubuh tegap berotot milik Teja rebah perlahan di atas kasur empuk, menjejaki sisi ranjang yang masih lowong di sebelah sang dara jelita.Sekuat tenaga ia mempertahankan diri agar tidak menjamah wanita muda di sampingnya itu.Bagi seorang pria perkasa yang memiliki tingkat ketahanan fisik melampaui manusia biasa, menahan gelombang gairah di depan sesosok dara belia yang hanya terbalut lingerie hitam transparan adalah ujian batin yang tidak main-main. Teja mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memusatkan konsentrasi pikiran pada sirkulasi tenaga dalam di dalam tubuhnya agar hawa murni di pembuluh darahnya tidak meledak tak terkendali.Jemari kekar Teja menyambar pinggiran kain selimut tebal bernuansa krem tersebut, mengibaskannya ke atas hingga menutup rapat batas leher mereka berdua. Teja berharap kegelapan di balik kain selimut dapat memblokir pemandangan keindahan tubuh seputih pors

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   614. Memakai Selimut

    "Desy? Kamu kok pakai itu?" tanya Teja dengan suara seraknya yang agak tertahan, matanya nanar memandangi keindahan tubuh di hadapannya."Iya, Mas. Biar Mas bisa menilai bagus dan cocok nggaknya," jawab Desy polos dan manja.Gadis berusia dua puluh tahun itu berdiri pasrah di bawah temaram lampu dinding kamar. Senyuman tipis dan merona nampak merekah di paras cantiknya, sementara sepasang mata bulat beningnya memancarkan cahaya dahaga yang masih tertahan.Mata Teja nanar menatap buah dada dan puting Desy yang terlihat samar menggoda dibalik kain lingerie terawang itu.Bahan sutra hitam yang teramat tipis dan transparan itu menempel sempurna pada kulit seputih porselen milik sang dara. Belahan dadanya yang curam terpampang begitu indah, memamerkan gumpalan dada mengkal yang membusung anggun seiring hembusan napasnya yang agak cepat. Puncak merah mudanya yang mengeras kaku membayang begitu jelas di balik lapisan kain menerawang, memicu desir kehangatan halus pada sirkulasi Murni Qi t

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   613. Butuh Pendapat

    Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status