Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 204. Pojat Pinggang

Share

204. Pojat Pinggang

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-24 18:28:57

Teja mendongak ke arah jam dindingnya yang terpasang di dinding kamar.

"Tuh lihat, udah hampir jam sepuluh. Nanti kamu kemaleman pulang bawa motornya," tutur Teja mengingatkan sembari menunjuk angka di jam dinding menggunakan dagunya.

Panda menghela napas, menatap jam dinding sebentar lalu kembali memandang Teja dengan berat hati.

Gadis itu akhirnya mengangguk. "Lain kali ya, Ja. Aku pasti bisa bantu kamu orgasme," janji Panda bersungguh-sungguh.

Teja tersenyum lembut dan mengibaskan tanganny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   383. Bagai Terbelah

    Bianca terbaring terlentang dengan dada yang masih berombak cepat. Napasnya tersengal manis, menatap lampu kristal di atap kamar suite itu dengan pandangan yang masih sedikit kabur oleh sisa-sisa kenikmatan. Namun, kehangatan hawa murni Qi biru keemasan yang sempat disalurkan Teja saat proses pelepasan tadi justru bekerja ajaib. Rasa lelah di persendian tubuhnya menguap cepat, berganti dengan gelombang gairah baru yang mendadak membakar selangkangannya kembali.Gadis cantik berambut bob itu melirik ke arah batang besar Teja yang masih berdiri tegak, mengkilap oleh lelehan cairan orgasmenya tadi. Keperkasaan prianya yang tak kunjung kendur itu seolah memanggil-manggil naluri kewanitaannya untuk kembali ditaklukkan."Sayang... Aku udah nggak capek lagi," bisik Bianca lembut sembari menyunggingkan senyum manja. Ia menyapu peluh bening di pelipisnya, lalu menatap lurus mata Teja dengan tajam. "Istirahatnya udah cukup. Ayo hajar aku lagi, Ja. Jangan kasih ampun!"Teja terkekeh pelan,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   382. Membawa Terbang

    Penyatuan raga di atas ranjang empuk suite room itu kian memuncak dalam irama pergulatan yang kian membara. Teja terus menggenjot pinggulnya dengan ritme stabil, memanfaatkan dorongan bertenaga yang disokong oleh ketahanan fisik luar biasa serta aliran hawa murni Qi pekat yang terus memancar dari dalam tubuhnya.Setiap hentakan perkasanya menghantam dinding rahim Bianca dengan benturan tinggi, menciptakan sensasi gesekan hangat yang memabukkan seluruh indra sang dara. Lelehan cairan pelumas alami dari liang kewanitaan Bianca kian membanjir, menjadi pelumas sempurna yang memperlancar serbuan demi serbuan dari sang master pijat muda legendaris.“Ohh-ah, Teja, terusss. Tusuk yang cepet, Sayang! Uuh!“ desah Bianca dengan begitu liar menikmati setiap ronjokan oejal yang diberikan batang besar milik Teja.Suara perpaduan kulit meletup renyah seiring dengan kecipak basah di selangkangan mereka, menggema memenuhi ruangan berkarpet tebal tersebut.Tak puas hanya mengocok bagian bawah tubuh w

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   381. Berkaca-kaca

    Pagutan bibir keduanya kembali pecah dengan kadar keliaran dan gairah yang jauh melampaui momen sebelumnya. Bianca menyapa cumbuan Teja dengan gelora gairah yang meluap-luap, menarik tengkuk prianya agar kian merapat tanpa menyisakan celah sekecil apa pun di antara wajah mereka. Lidah basah Bianca menjulur lincah, membelit lidah Teja sembari meneguk setiap hembusan napas hangat yang keluar dari rongga mulut sang master bela diri dan pijat tersebut.“Uhm-ahm!“ suara kecapan basah berpsdu deaahan dari bibir Bianca menggema renyah di dalam keheningan suite room itu. Teja meremas pinggul ramping Bianca yang polos tanpa sehelai kain, menekan belahan bokong sekal wanitanya agar terus bergesekan dengan batang perkasanya yang sudah menegang keras sempurna.Pendar hawa murni Qi kebiruan bercampur keemasan dari tubuh Teja terpancar halus secara otomatis, menyelimuti permukaan kulit mereka berdua. Kehangatan misterius itu membakar seluruh simpul saraf gairah Bianca, membuat liang merekah di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   380. Mengarungi Samudra

    "Lho, katanya tadi mau ngurus legalitas perusahaan? Kok malah mau ngajak perayaan?" tanya Teja heran sembari menyunggingkan senyum tipis, menatap lurus ke dalam bola mata bening Bianca yang semakin berbinar penuh goda."Itu sih gampang, Ja!" jawab Bianca santai sembari melepaskan gelayutan tangannya dari tengkuk Teja.Gadis cantik berambut bob itu melangkah anggun menuju sofa cokelat mewah di tengah ruangan. Ia kemudian membuka tas tangan bermerek miliknya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dengan gerakan lincah."Kirim foto kartu identitasmu ke aku, biar notaris kepercayaan ayah yang beresin!" seru Bianca sembari menatap prianya penuh keyakinan. Sebagai putri pengusaha gurita bisnis perhotelan, jalur birokrasi dan legalitas hukum adalah hal kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan satu telepon.Teja segera mengangguk lalu mengoperasikan ponselnya, mengambil foto KTP miliknya yang tersimpan rapi di dalam galeri, lalu mengirim foto kartu identitasnya tersebut ke ponsel Bianca melalui

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   379. Bergerak Cepat

    "Gimana hasilnya, Ja, sukses?" tanya Budi saat Teja dan Bianca tiba kembali di kamar hotel Teja.Pria paruh baya itu langsung bangkit dari kursi begitu melihat pintu kamar ganda suite dibuka. Raut wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang amat besar menanti kejelasan nasib perusahaan baru mereka."Lancar kan komunikasi sama Pak Jim?" timpal Buan ikut antusias, melangkah cepat mendekat ke arah Teja dan Bianca dengan binar mata penuh harapan.Teja mengulas senyum tipis sembari menganggukkan kepalanya. Pria berambut panjang itu melangkah santai melintasi karpet tebal, lalu merapikan posisi kemejanya."Aman terkendali, Pak Buan, Pak Budi. Setelah ini kita akan punya kantor baru," jawab Teja tenang, menyalurkan kabar gembira yang seketika mencairkan ketegangan dua mantan pelatih senior tersebut."Aih, syukurlah! Aku seneng dengernya!" Budi tertawa lebar, menepuk tangannya sekali sembari menggeleng-gelengkan kepala karena kagum akan efisiensi kerja Teja yang teramat cepat.Teja mengedarkan pan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   378. Momen Berharga

    Jim melotot kaget mendengar itu!Mata pria tua yang baru saja sembuh itu terbeliak lebar, menatap Teja seolah-olah pemuda di hadapannya itu baru saja menceritakan sebuah cerita horor.Kerutan di keningnya memadat seketika, menahan rasa terkejut yang teramat sangat atas pengakuan polos namun brutal tersebut.Begitu juga dengan Bianca yang ikut kaget karena tak menyangka jika Teja akan seberani itu mengutarakan pada ayahnya. Bianca membelalakkan matanya, memegangi lengan Teja dengan cengkeraman halus yang sedikit gemetar. Hatinya berdebar kencang, takut kalau-kalau pengakuan jujur prianya itu justru akan memancing amarah besar dari sang ayah yang sangat menyayanginya."Te-Teja, apa maksud kamu? Kamu punya banyak pacar begitu?" tanya Jim tergagap sendiri, tak siap mendengarkan pernyataan kontroversial seperti itu dari seorang pemuda yang mendekati putrinya. Suaranya agak bergetar, berusaha mencerna rentetan fakta yang terlampau liar bagi ukuran interaksi antar keluarga seperti itu."A

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status